meta model
NLP -

Apa itu Meta Model? Seni Bertanya dalam ilmu NLP

Membaca pikiran bawah sadar seseorang dengan bantuan tools NLP

Meta model adalah singkatnya seni dalam menggali informasi dengan pertanyaan. Namun akan kita bahas lebih lengkap dengan tulisan di bawah ini.

Sebelum kalian penasaran, saya akan menjawab apa manfaat dari meta model ini. Dengan meta model, kita bisa menguak informasi lebih mendalam tentang apa yang di ucapkan oleh orang lain. Maka tak heran kalo banyak pengajar NLP menyebutnya sebagai teknik membaca pikiran. Ya.. karena pada dasarnya kita mencoba mengeluarkan pikiran sesungguhnya ketika seseorang mengucapkan sesuatu. Dan saya lebih senang menyebutnya membaca alam bawah sadar sesorang.

Mengapa? maka dari itu baca tulisan ini sampai habis.

Oke, Sekarang kita kembali ke awal, tentang sejarah. Jadi sebelumnya kita telah membahas apa itu NLP, dan kita tahu bahwa sebenarnya inti dasar NLP adalah modelling terhadap fenomena yang manusia alami.

Kalau kalian belum membaca part 1, silahkan baca Apa itu NLP

 

Sejarah Meta Model

Oke kembali lagi, nah meta model ini adalah salah satu model awal dari ilmu NLP itu sendiri, buah hasil pengamatan pendiri NLP … Richard Bandler dan John Grinder terhadap 2 orang ahli terapi yang luar biasa.

Virginia Satir seorang family therapist dan Fritz Perls seorang Gestalt Therapist.

virginia satir
virginia satir
Fritz Perls
Fritz Perls

Apa yang diamati dari mereka? ternyata salah satu hal yang membuat mereka luar biasa adalah kepiawaiannya dalam melontarkan pertanyaan kepada klien, atau lebih jelasnya berupa komentar atau pertanyaan susulan setelah si klien mengatakan sebuah pernyataan.

Yang mana komentar atau pertanyaan susulan ini lebih membuka wawasan si klien mengenai hal yang mungkin saja belum ia sadari sebelumnya.

 

Pengertian Meta Model

Manusia merekam sebuah realita menjadi satu kesatuan utuh, namun ketika kita mengungkapkannya secara verbal. Maka yang terjadi adalah ketidak lengkapan informasi secara keseluruhan karena telah termakan oleh proses yang sudah kita bahas sebelumnya, Distortion, Deletion dan Generalization.

Dan di sini Meta model adalah sebuah teknik linguistik untuk membantu seseorang melengkapinya kembali.

Jadi intinya, kita ingin melengkapi informasi dari pernyataan seseorang, yang mana pernyataan itu sebenarnya telah di potong sedemikian rupa oleh pikirannya, entah itu “distorsi”, “penghapusan” ataupun “generalisasi”. Dan ingat hal ini tidak disadari orang itu, dan apa yang di rasakan orang itu sama persis dari pernyataan yang tidak lengkap itu, bukan fakta yang sesungguhnya. Jadi anda bisa bayangkan betapa ampuhnya meta model ini, jika anda bisa mengembalikan informasi yang terbuang di alam bawah sadar orang ini.

meta model adalah

Contoh meta model :

seorang anak SMA berkata, “Saya merasa hidup saya ini tidak berguna”.

Kita bisa membayangkan betapa depresinya dia, karena secara emosional hidupnya tidak ada artinya. Dan mungkin kita bisa mengetahui bahwa pernyataan itu tidak benar. Kita bisa mengujinya dengan meta model ini. Kita coba ulik lebih detail menganai pernyataan itu.

 

“Apakah kamu tidak pernah membantu pekerjaan rumah orang tuamu?”

“pernah”

“itu hal yang berguna gak? sekarang gini deh, pernahkah kamu membantu teman sekolahmu memahami sesuatu di kelas, atau bahkan membantu gurumu apapun itu, seperti mengembalikan buku ke meja nya?”

“Pernah”

“sering gak? atau bahkan mungkin setiap hari kamu pernah melakukan hal yang berguna?”

“iya”

 

Baca Juga  Framing - Teknik Merubah Persepsi Dengan NLP

Dari beberapa pertanyaan diatas kita tahu bahwa pernyataannya salah, kita bisa menambahi dengan menyerang balik pernyataanya.

 

“Menurut kamu dari semua teman di kelasmu, apakah ada yang melakukan sesuatu yang besar dan sangat berguna yang hal itu tidak pernah kamu lakukan?”

“ada”

“apa yang dia lakukan?”

“dia bekerja membantu keluarganya.”

“berapa persen dari temanmu yang melakukan itu?”

“hanya satu orang.”

“lalu apakah kamu juga menganggap semua temanmu selain yang satu itu tidak berguna, karena pada dasarnya apa yang kamu lakukan sama dengan kebanyakan mereka.”

“enggak”

 

Percakapan di atas membuka model dunianya membuat dirinya sama dengan sebagian orang di kelasnya. Kita bisa melanjutkan untuk mencari tahu apa sih yang membuat dirinya merasa tidak berguna.

 

“Lalu, apakah kamu merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu orang tuamu secara keungan?”

“enggak sih”

“lalu kejadian apa yang membuatmu merasa tidak berguna.”

“Karena Bapak ku yang bilang,”

“mengapa sampai Bapak mu bilang begitu?”

“karena kemarin aku salah beli rokok yang dia minta.”

“jadi bapakmu marah, dan mengatakan kamu tidak berguna gara-gara salah beli rokok?”

“iya”

 

Nah, kita sudah tau permasalahannya, kita bisa melanjutkan untuk menyelesaikan permasalahannya itu dengan teknik yang kita inginkan. Atau dengan melanjutkan meta model ini untuk menghilangkan perasaan tidak bergunanya itu pun juga bisa.

 

Oke sampai disini mungkin ada beberapa dari anda yang berpikiran, mengapa tidak menanyakan dari awal, apa yang membuatnya merasa tidak berguna?

Jika kalian praktek pada kejadian nyata, maka kebanyakan tidak akan sesimpel itu. Karena kalau mereka dia mengatakan itu secara emosional benar-benar merasa tidak berguna, kebanykaan jika kita langsung mempertanyakan intinya tanpa perntanyaan-pertanyaan susulan yang membimbingnya, maka dia tidak akan menjawab dengan mudah, mungkin jawabannya “ya pokoknya saya merasa tidak berguna.”

Pasti kalian sering mendengarnya bukan, “ya pokoknya aku jengkel”, “ya pokoknya aku gak mau kesana” dan masih banyak contoh lainnya.

Nah, itulah mengapa meta model ini sangat berguna untuk mengulik lebih dalam isi alam bawah sadar seseorang. Ini tidak hanya berguna untuk menerapi seseorang, tetapi juga sangat berguna dalam percakapan sehari-hari. Jika kalian jeli, pasti sering sesorang mengungkapkan sebuah pernyataan yang realitasnya terdistorsi, terhapus ataupun tergeneralisasi. Kalian bisa mempraktekkannya.

 

Akan tetapi, ada satu hal yang sangat berbahaya jika kalian tidak berhati-hati menggunakan meta model ini. Jika kalian tidak menggunakann secara hati-hati dan elegan.

Karena nanti malahan kesan buruk yang di terima lawan bicara anda. Mungkin meta model anda terkesan seperti interogasi atau menggunakan kalimat tanya yang berulang-ulang. misalnya :

 

“saya merasa tidak bahagia.”

“apa yang membuat anda tidak bahagia.”

“suami saya tidak sayang saya lagi.”

“apa yang membuat anda berpikiran suami anda tidak sayang lagi?”

“Dia tidak pernah mengatakan kata-kata I love you lagi.”

“Apa yang yang membuat anda berpikiran kalau dia tidak mengatakan itu artinya tidak sayang lagi”

Dan anda seterusnya…

Hal ini kesannya kita seperti sedang menginterogasi dan membuat lawan bicara kita tidak nyaman bukan.

Baca Juga  Apa itu NLP - Teknologi untuk memprogram Pikiranmu

Jadi penting sekali untuk memvariasikan formula percakapan meta model ini, selain bertanya kita bisa mengkombine nya dengan komentar, dan dengan kata-kata yang berbeda. Buatlah senatural mungkin seperti percakapan biasa. Oke jadi itu yang harus kalian ingat dan menjadi catatan untuk mempraktekkan meta model ini.

 

Hasil dari meta model

Selanjutnya, dalam melakukan meta model ini alangkah baiknya kita mengetahui apa outcome, atau hasil yang kita inginkan dari meta model ini. Hasil-hasil yang bisa di dapatkan dari meta model ini adalah sebagai berikut :

  • Mendapatkan informasi yang lebih spesifik.
  • Mengklarifikasi informasi
  • Membuka Model Dunia seseorang.

Dari contoh anak SMA yang tidak berguna tadi, kita bisa tahu bahwa kita mendapatkan informasi yang lebih spesifik dan mengklarifikasi bahwa yang menyebabkan dia tidak berguana adalah kata-kata ayahnya.

Dan kita telah membuka model dunia-nya, bahwa dia sama bergunanya denga sebagian besar teman sekelasnya.

Oke semoga bermanfaat dan bisa kalian manfaatkan untuk membantu orang di sekitar anda.

Oh ya dan satu lagi, sebelumnya saya mengatakan hampir semua pernyataan seesorang pasti ada yang terpotong oleh entah itu distorsi, atau pendelete-an ataupun oleh generalisasi dari pikirannya. Dan sebenarnya kita bisa mendeteksi pernyataanya itu masuk dalam pola yang mana. Apakah terdistorsi atau tergeneralisasi. Sebenarnya tidak terlalu penting, yang penting pemahaman anda bahwa pernyataan itu tidak lengkap dan dimana tidak lengkapnya sehingga kita menguliknya lebih dalam.

Namun jika anda ingin tahu nama-nama dari pola-pola pernyataan itu anda bisa membacanya di artikel di link di bawah ini.

 

Pola-pola Kalimat Meta Model

Berikut ini adalah beberapa pola-pola bahasa dalam Meta Model:

 

Deletion

Proses dimana sebuah informasi disampaikan dengan tidak utuh, karena ada bagian yang ‘terhapus’ (deleted) di dalamnya. Ragam dari deletion adalah:

Deletion atau penghapusan. Jadi intinya informasi yang di ucapkan orang tersebut tidak utuh karena ada bagian yang terhapus. Berikut tipe-tipe pernyataan yang terhapus:

 

Simple Deletion

Situasi dimana sebagian informasi terhapus karena pemberi pesan menganggap kata atau kalimat yang dilontarkannya sudah mewakili maksud yang diharapkannya.

Ketika seseorang pengungkapkan pernyataan atau informasi yang tidak lengkap karena dia merasa apa yang dia katakan sudah cukup mewakili maksud dan perasaan yang dia ingin komunikasikan.

Contoh: “Saya benci sekali situasi seperti ini”

Penjelasan : mungkin si pembicara mengira kita sudah paham apa yang ia maksud dengan situasi ini, karena kita bersamanya waktu itu. Tetepi yang perlu kita gali masih banyak, situasi yang bagaimana, dari situasi itu apanya yang membuat dia benci, yang bisa di kategorikan situasi seperti ini apa saja menurutnya dan lain sebagainya.

 

Comparative Deletion

Situasi dimana informasi yang diberikan seolah menyiratkan adanya pembanding tapi tidak jelas keberadaannya.

Si pemberi informasi mengatakan sebuah ungkapan yang membandingkan sesuatu, namun tidak di beri penjelasan dari perbandingannya.

Contoh: “Dia membuat saya lebih membencinya lagi”

Penjelasn: Seperti apa rasa bencinya dulu dengan sekarang, apa bedanya? mengapa membencinya? konteks apa yang membuat dia benci sebelumnya dan yang sekarang. Masih banyak lagi.

Baca Juga  Apa itu NLP - Teknologi untuk memprogram Pikiranmu

 

Unspecified Verbs

Ketika seseorang memberikan sebuah informasi dan tidak jelas prosesnya, langsung pada kesimpulannya.

Contoh: “Dia benar-benar membuat saya marah”

Penjelasan: Membuat itu yang seperti apa? apa yang dilakukan misalnya.

 

 

Generalization

Tahapan dimana sebuah pernyataan disampaikan dengan disamarkan dalam bentuk disamaratakan (generalized), seolah-olah satu hal berlaku untuk berbagai atau semua hal lain. Ragam dari generalization adalah:

 

Universal Quantifier

pernyataan yang menyamaratakan atau memukul rata sebagian data yang dianggap mewakili keseluruhan data lainnya.

Contoh: Semua cowok itu jahat.”

Penjelasan: Semua cowok? Ada berapa cowok di dunia ini Yakinkah semuanya jahat? Pernah menemui berapa cowok jahat? Apakah itu berarti semuanya jahat? Apakah keluargamu yang cowok semua jahat? Apakah tokoh besar di agamamu yang cowok juga jahat?

 

Modal Operator of Necessity

pernyataan yang seolah membuat suatu hal menjadi sebuah keharusan atau kemendesakan, tanpa diketahui sebabnya.

Contoh: “Saya harus membalas dendam.”

Penjelasan: Harus? Apa yang membuatnya jadi harus? Kalau tidak memangnya kenapa? Apa kriteria yang membuat ini menjadi harus bagimu? Apakah orang lain yang mengalami hal sama denganmu juga membalas dendam?

 

Lost Performative

pernyataan yang seolah dilontarkan dari figur otoritas, biasanya keyakinan turun-temurun, yang tidak jelas sumber asalnya.

Contoh: “Anak cowok tidak boleh menangis.”

Penjelasan: Siapa bilang? Dari mana datangnya pernyataan ini? Memangnya kenapa kalau demikian? Penelitian apa yang memvalidasi kebenaran akan hal ini?

 

 

Distortion

Tahapan dimana sebuah pernyataan disimpangkan (distorted) pemaknaannya, apa yang dikatakan berpotensi menjadi makna tersendiri yang lain meski kenyataannya mungkin tidak begitu. Ragam kalimat dari distortion adalah:

 

Nominalization

pernyataan yang dikatakan seolah membuat sebuah proses perilaku menjadi seperti ‘benda’ mati yang kaku.

Contoh: “Saya tidak mendapat penghargaan yang sesuai di kantor ini.”

Penjelasan: Apa penghargaan yang dimaksud? Ada perilaku atau proses nyata yang Kamu harapkan terjadi di sekeliling Kamu yang semua itu diwakili oleh satu kata ‘penghargaan’?

 

Mind Reading

pernyataan yang dikatakan seolah dengan membaca pikiran atau persepsi orang lain.

Contoh: “Saya tahu dia tidak suka pada saya.”

Penjelasan: Dari mana bisa tahu? Sejak kapan bisa membaca pikiran? Jika hanya dari perilaku yang nampak saja, apakah bisa Kamu berasumsi dia tidak suka pada Kamu? Mungkin saja dia hanya sedang bad mood?

 

Cause-Effect

pernyataan yang menyiratkan ada keterhubungan dari suatu hal yang menyebabkan hal lain terjadi.

Contoh: “Dia membuat saya marah.”

Penjelasan: Apa tepatnya yang dia lakukan (sebab) yang membuat kamu marah (akibat)? Apakah kamu marah karena perilakunya atau keterbatasan kamu dalam menyikapinya?

 

Complex of Equivalence

pernyataan yang dikatakan dengan melibatkan dua hal yang seolah ada hubungannya padahal keduanya belum tentu memiliki keterhubungan satu sama lain.

Contoh: “Dia tidak pernah memberi saya bunga lagi, dia tidak mencintai saya lagi.”

Penjelasan: Apa hubungannya antara memberi bunga dengan cinta? Apakah cinta harus selalu disimbolkan dengan bunga? Bagaimana jika ia menggantinya dengan hal lain kali ini?

 

Sumber : alguskha.com

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 baca pikiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Framing – Teknik Merubah Persepsi Dengan NLP

Bagaimana cara kita untuk merubah persepsi orang lain atau-pun diri kita sendiri. Sebelum …