Workaholic: Gangguan Kepribadian Kompulsif

Workaholic merupakan istilah yang sering digunakan untuk orang yang memiliki karakter pekerja eras, kerja terus tanpa mengenal waktu dan lelah.

Bekerja bersama atasan yang pekerja keras memang terkadang sangat menjengkelkan, perbedaan kita sebagai orang yang senaniasa nge sloww dan santuyy sangat kontradiktif dengan perilaku bos kita.

Jika ditelusuri lagi, perilaku workaholic bisa menular kepada orang lain. Salah satunya kepada pekerja yang memiliki atasan berperilaku workaholic. Bagi karyawan tersebut, “menyanggupi” permintaan dari bos adalah kewajiban. Mau tidak mau, dirinya pun menjadi workaholic “baru” hanya demi untuk memuaskan sifat workaholic dari atasan. Apakah hal tersebut sedang terjadi pada kalian?

Workaholic Gangguan Kepribadian

workaholic images

Pekerja keras merupakan sikap obsesif kompulsif seseorang terhadap pekerjaan.

Sikap ini mengakibatkan seseorang tersebut lumpuh secara emosional, kecanduan kekuasaan, dan “lapar” akan penghargaan dari orang di sekitarnya.

Meta Model - NLP

Dampaknya, dirinya akan selalu berpikir tentang pekerjaan meski sedang tidak sedang bekerja atau bekerja melebihi permintaan perusahaan.

Ciri dominan dari pikiran dan tindakan workaholic, yaitu: perfectionism, obsession dan juga narcissm; yang selalu berlebihan dan terlalu mendominasi kehidupannya.

Akibatnya, seseorang tersebut cenderung bekerja dengan frekuensi waktu yang berlebihan dan juga mengesampingkan aktivitas lainnya.

Para workaholic biasanya merupakan “pengidap” gangguan psikologis, seperti: kecemas berlebihan, depresi dan juga Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD.

Meski sangat dan begitu mengkhawatirkan, sikap workaholic tidak tergolong sebagai gangguan psikologis.

Bahkan, istilah “pekerja keras” sendiri disalagunakan sehingga “pengidapnya” dianggap hal yang“normal” di kalangan pekerja.

Dampak dari perilaku pekerja keras ini tidak sepele. Perilaku workaholic akan menjadi pemicu problematika di kehidupan sosial dan juga kesehatan personal.

Parahnya, situasi tersebut bisa berpotensi menghancurkan hubungan pertemanan,

keluarga atau pasangan karena si pekerja keras tidak bisa ‘berhenti’ bekerja.

Baca Juga:

Baca Juga  Pengertian Persepsi Menurut 5 Ahli dan Faktor Persepsi

Workaholic dan Harga Diri Tinggi

workaholic poto
 

Salah satu penyebab munculnya perilaku workaholic yaitu adanya kebutuhan akan penghargaan, perfeksionis dan rasa individual.

Selain itu, latar belakang keluarga menjadi pemicu perilaku pekerja keras.

Orang-orang yang perkerja keras kebanyakan memiliki masa kecil yang tidak menyenangkan.

Mereka cenderung berasal dari keluarga disfungsional sehingga lebih memilih memfokuskan diri pada hal lain (Pekerjaan salah satunya).

Karyawan yang berasal dari keluarga bermasalah akan menghasilkan kepribadian tertutup karena di dalam dirinya timbul banyak tekanan psikologis.

Akibatnya, seseorang tersebut cenderung “haus” akan penghargaan sebagai kompensasi atas “lubang” di dalam psikologisnya itu.

Selain faktor psikologis dan keluarga, rasa bangga sebagai workaholic menjadi pemicu perilaku “candu” bekerja ini.

Para workaholic di Amerika Serikat dan Canada percaya jika menjadi workaholic adalah sesuatu yang dibanggakan.

Selain itu, bukan hal mengejutkan kalau jam kerja orang Amerika 350 jam lebih banyak dibanding pekerja di Eropa.

Selain hal-hal tersebut, ada penyebab lain kenapa seseorang menjadi “pekerja keras”, yaitu:

  • Mengharap memproleh imbalan finansial dari setiap keras kerasnya.
  • Merasa tidak nyaman dan tenag, jika beraktivitas santai.
  • Menyukai berbagai fasilitas yang diperolehnya di tempat kerja. Misalnya: pertemanan,rencana masa depan yang jelas, lingkungan kerja yang positif, rencana kesehatan yang baik, dan gaji yang tinggi.
  • Mencintai tugas-tugas nya di dalam pekerjaannya.

Pekerja Keras Beda Dengan Kerja Keras

Seringkali, sulit membedakan antara pekerja keras dan kerja keras. Keduanya memang memiliki kemiripan “karakter”. Banyak yangmemunculkan anggapan jika pekerja keras menjadi “lebih baik” daripada kerja keras. Tentu, hal tersebut bukan suatu pendapat yang tepat. Mengingat, pekerja keras lebih cenderung mengarah ke perilaku arah over produktif.

Sebetulnya, perbedaan pekerja keras atau kerja keras bisa dilihat cuti liburan yang diambil. Pekerja keras yang jarang atau bahkan tidak berlibur cenderung kurang produktif. Alhasil, dirinya pun memperoleh skor penilaian kinerja yang begitu rendah.

Seorang kerja keras juga sangat berpatokan pada kedua hal tersebut, produktivitas dan juga kinerja di perusahaan. Artinya, apabila kamu adalah seorang kerja keras, maka kamu tahu kapan harus berlibut dan kapan harus “membanting tulang” di pekerjaan kantor.

Baca Juga  10 Tips Menjaga Kesehatan Mental

Perbedaan dari keduanya pun dapat dilihat dari sikap dan juga perilakunya selama mereka bekerja, di antaranya:

1. Waktu kerja

Pekerja keras cenderung bekerja lebih dari 8 jam sehari.

Bahkan, tidak jarang dirinya menghabiskan waktu belasan jam.

Sedangkan kerja keras akan bekerja sesuai waktu kerjanya (kewajibannya).

Apabila diwajibkan kerja selama 8 jam, maka ia akan berhenti selepas 8 jam.

2. Kualitas dalam pekerjaan

Pekerja keras cenderung mengerjakan apa saja dan tidak berpedoman pada waktu kerja.

Tidak demikian dengan hardworker. Dirinya mengerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini secara maksimal.

Yang terpenting bagi pekerja keras yaitu kualitas pekerjaan bukan lama waktu untuk mengerjakan hal tersebut.

3. Pandangan terhadap pekerjaan

Bagi para pekerja keras, pekerjaan adalah satu-satunya sumber kebahagiaan.

Setiap hari dorongan untuk bekerja sangat “terlalu besar”.

Sedangkan kerja keras masih tahu batasan.

Dia paham kapan harus bekerja, kapan harus membahagiakan diri sendiri dengan kegiatan yang santai (selain pekerjaan), seperti berlibur, bercengkrama dengan keluarga, me time,  hangout, atau hanya sekadar nonton televisi.

4. Resah Saat Hari libur.

Workaholic akan sangat gelisah saat menghadapi hari libur. Sehingga, dia akan cenderung mencari-cari alasan untuk selalu bekerja, meski sedang libur.

Sedangkan bagi orang kerja keras harus tahu kapan harus libur dan bekerja.

Saat berlibur, mereka akan menjadikannya sebagai “masa recharger” energi dan juga motivasi sebelumnya bekerja kembali.

5. Mengesampingkan Keluarga

Workaholic tidak pintar dalam hal membagi waktu bersama keluarga.

Dirinya akan terus saja bekerja tanpa memperhatikan keluarga yang sebenarnya juga membutuhkan perhatiannya juga.

Kerja keras akan mampu membagi waktu antara bekerja dan juga bersosialisasi dengan keluarga.

6. Sikap Dalam Bekerja

Workaholic cenderung sangat ambisius. Dirinya memiliki target-target yang senantiasa harus tercapai.

Jika tak sesuai ekspektasi, maka dirinya akan stres dan juga uring-uringan.

Di saat hal tersebut terjadi, egonya pun ikut juga akan“turun tangan” oleh karena itu sikapnyapun akan cenderung menjengkelkan.

Lain halnya dengan para hardworker. Dirinya akan memiliki target yang harus selalu tercapai

Baca Juga  Kepribadian Ganda, Gejala Dan Penanganan

Namun juga tidak terlalu ambisius. Oleh karena itu dirinya lebih realistis dalan menghadapi persoalan yang menyertainya.

Apabila target tidak tercapai, dirinya cenderung membuat solusi yang tak “main-main”.

Workaholic Meningkatkan Stres 

workaholic stress
Karena termasuk gangguan psikologis, seorang perkerja keras akan menimbulkan masalah. Entah secara langsung kepada dirinya sendiri atau tak langsung kepada orang di sekitarnya.

Kalian yang memiliki karakter workaholic tentu sudah merasakan hal tersebut.

Sikap “maklum” pada workaholic bukan merupakan pilihan yang tepat.

Selain “merepotkan” diri kalian, perusahaan tempat kalian bekerja pun berada di jalur yang salah.

Dari kutipan di jurnal psikologi yang berjudul “Addiction to work: a critical review of the workaholism….”, seorang pekerja keras akan mengalami masalah: kesehatan sosial, psikologis, juga fisik berakibat dari kecanduan kerja tersebut.

Pecandu kerja atau workaholic juga berisiko tinggi mengalami kelelahan, kesehatan buruk, depresi dan penurunan kepuasan hidup, serta masalah- masalah keluarga & hubungan.

Jika pekerja keras mampu bekerja selama 50 jam atau lebih per minggu tanpa efek samping, tidak demikian bagi orang lain.

Jam bekerja seperti demikian akan menjadi “masalah” bagi pekerja lain.

Semua aktivitas “candu kerja” tersebut akan terus meningkat secara terus-menerus. Semakin banyak waktu kerja workaholic, akan semakin banyak pula konsekuensi yang mereka alami.

Jika dibiarkan begitu saja,tentunya akan menciptakan lebih banyak tekanan. Dampaknya pada produktivitas yang bersangkutan akan menurun drastis. Pada waktu ini, lama jam kerja akan menimbulkan penurunan produktivitas kerja.

Penuruan produktivitas yang dimaksud, di antaranya:

  • Motivasi para rekan kerja dalam yang menurun
  • Meningkatkannya turnover karyawan (resign atau pindah divisi)
  • Cenderung akan menunda-nunda pekerjaa
  • Munculnya juga sentimen antar pekerja karena bisa jadi target dan standart tugas yang tidak jelas
  • Persepsi negatif bagi perusahaan

Pada kasus workaholic ini, teman kerja (khususnya para pekerja dengan jabatan yang lebih rendah) tentu akan mengalami hal-hal tersebut. Jika terus berlangsung, maka performa perusahaan akan tetap menurun dan juga akan berpotensi mengalami kerugian secara finansial.

Sumber: Atasan Workaholic Bikin Stress

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Tanda-Tanda Hamil Yang di Alami Wanita Secara Psikologis

Tanda-tanda hamil yang ditunjukkan melalui perubahan fisik, umumnya para wanita akan langs…