Trauma, Fakta Dan Penanganannya

A. Pengertian Trauma

Trauma adalah tekanan emosional dan psikologis pada umumnya karena kejadian yang tidak menyenangkan atau pengalaman yang berkaitan dengan kekerasan. Kata trauma juga bisa digunakan untuk mengacu pada kejadian yang menyebabkan stres berlebih. Suatu kejadian dapat disebut traumatis adalah bila kejadian tersebutmenimbulkan stres yang ekstrem dan melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya.

Orang bisa dikatakan mempunyai Trauma adalah mereka harus mengalami suatu stres emosional yang besar dan berlebih sehingga orang tersebut tidak bisa mengendalikan perasaan itu sendiri yang menyebabkan munculnya trauma pada hampir setiap orang. Sejumlah gejala yang dapat menandakan individu dengan pengalaman traumatis.
Beberapa gejala yang umum adalah mempunyai kenangan menyakitkan yang tidak mudah dilupakan, mimpi buruk berulang akan kejadian traumatis,dan timbulnya kenangan akan kejadian traumatis ketika melihat hal-hal yang terkait dengan kejadian tersebut.

Dari segi kognitif, kenangan akan kejadian traumatis dapat memicu perasaan cemas, ketakutan berlebih, dan
perasaan tertekan. Pada anak-anak gejala trauma dapat berupa kesulitan tidur, perasaan takut ketika harus tidur sendiri, tidak ingin ditinggal sendirian meskipun untuk waktu singkat, bersikap agresif ketika diajak membahas masa lalu, dan marah secara tiba-tiba.

Baca Juga: Pyromania, Gangguan Pengendalian Diri Terhadap Api

B. Penyebab Kemunculan Trauma

ilustrasi trauma adalah

Trauma disebabkan oleh kejadian yang begitu negatif hingga menghasilkan dampak berkepanjangan pada stabilitas mental dan emosional seseorang. Sumber dari kejadian trauma sendiri dapat berupa fisik ataupun psikologis. Beberapa kejadian traumatis yang umum mencakup pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pengalaman akan bencana alam, penyakit ataupun kecelakaan serius, kematian orang-orang yang dicintai, ataupun menyaksikan
suatu bentuk kekerasan.

🤐 Bongkar Rahasia Pesulap - ▶️ Tutorial Trik Sulap Prediksi

Seorang individu tidak harus berada langsung dan terlibat secara langsung dalam kejadian yang menyebabkan trauma. Individu juga dapat mengalami trauma ketika menyaksikan suatu kejadian buruk dari jarak jauh.

C. Dampak Yang Ditimbulkan

Salah satu dampak trauma adalah pada individu yang  terutama anak-anak, terletak pada kemampuan
individu untuk membentuk hubungan interpersonal yang positif dan bermakna. Tokoh pengasuh atau orangtua merupakan jendela bagi anak untuk memandang dunia sebagai hal yang aman ataupun berbahaya. Anak yang mengalami kejadian traumatis berupa kekerasan oleh tokoh pengasuh akan memandang dunia sebagai tempat yang berbahaya.

Oleh karena itu, anak yang memiliki pengalaman traumatis cenderung bersikap curiga pada orang-orang di sekitar mereka dan mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan sosial ataupun romantis.

Baca Juga  Mungkin Anda Terkena Gejala PTSD, Segeralah Cari Pertolongan!!

Selain dampak pada kognisi, kejadian traumatis juga memiliki dampak terhadap fisiologi individu. Ketika berhadapan dengan situasi yang mengingatkan mereka pada kejadian traumatis, individu dapat menunjukkan nafas yang tidak teratur, detak jantung berlebih, ataupun mengalami dampak psikosomatis seperti sakit perut dan kepala.

Anak dengan sejarah kejadian trauma yang kompleks dapat dengan mudah terpancing dan mengeluarkan reaksi berlebih akan stimulus-stimulus yang umumnya tidak berbahaya. Anak tersebut juga akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosinya (misal sulit menenangkan diri ketika marah) dan seringkali bertindak secara impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya. Oleh karena itu, anak yang mengalami trauma dapat berperilaku secara tidak terduga dan ekstrem. Ia dapat bersikap agresif atau malah bersikap kaku dan penurut secara tidak wajar.

Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa anak yang hidup dalam lingkungan traumatis, seperti orangtua yang abusive, dan secara terus menerus berhadapan dengan stres akan mengalami gangguan dalam perkembangannya. Daya tahan tubuh, sistem otak, dan jaringan saraf pada anak tidak akan berkembang sempurna ketika ia beranjak dewasa.

D. Ciri-ciri Dan Bentuk Traumatic

Gejala dari fisik bisa seperti gangguan makan, gangguan tidur, disfungsi seksual,energy yang rendah ataupun merasakan sakit terus menerus yang tidak bisa di jelaskan, ataupun bisa juga gejala melalui Emosional dari anak bisa itu adanya perasaan depresi,putus asa,kecemasan serangan panic,takut,kompulsif dan perilaku obsesif ataupun yang terakhir adalah penarikan diri dari rutinitas normal.

Bisa juga gejala yang ditimbulkan oleh trauma melalui kognitif adalah penyimpangan memori terutama tentang trauma, kesulitan memberikan keputusan, penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi,merasa terganggu oleh lingkunga sekitar ataupun yang terakhir adalah gejala seperti gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian.

Beberapa ciri lain seperti mengingat peristiwa masa lalu, gangguan tidur dikarenakan mimpi buruk, cemas, marah, sedih, merasa bersalah, tidak merasakan simpati dan empati, sulit percaya pada orang lain, panik, ketakutan. Secara umum ciri trauma dapat dibedakan menjadi 3, antara lain

1. Kecemasan

Tanda lain dari korban trauma adalah cemas. Kecemasan karena trauma dapat bermanifestasi dalam masalah seperti teror malam hari, kegelisahan, lekas marah, konsentrasi yang buruk dan perubahan suasana hati.

Ciri ciri trauma adalah umum terjadi tidak langsung semuanya. Seseorang merespons trauma dengan berbagai cara. Kadang-kadang trauma hampir tidak terlihat bahkan bagi teman dan keluarga terdekat korban.

Kasus-kasus tersebut menggambarkan pentingnya berbicara dengan seseorang setelah peristiwa traumatis terjadi. Bahkan ketika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda awal gangguan. Trauma dapat bermanifestasi berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah kejadian yang sebenarnya.

2. Ciri ciri emosional

Emosi trauma adalah salah satu cara paling umum untuk memanifestasikan trauma. Beberapa gejala trauma emosional yang umum termasuk penolakan, marah, kesedihan dan ledakan emosi.

Korban trauma dapat mengarahkan emosi luar biasa yang mereka alami ke sumber lain, seperti teman atau anggota keluarga. Ini adalah salah satu alasan mengapa trauma juga sulit diatasi bagi orang yang dicintai.

Sulit untuk membantu seseorang yang mendorongmu menjauh, tetapi memahami gejala emosional yang muncul setelah peristiwa traumatis dapat membantu meringankan proses tersebut.

3. Ciri ciri fisik

Trauma sering bermanifestasi secara fisik maupun emosional. Beberapa tanda fisik umum dari trauma termasuk pucat, lesu, kelelahan, konsentrasi yang buruk dan detak jantung yang kencang.

Korban mungkin mengalami kecemasan atau serangan panik dan tidak dapat mengatasi dalam keadaan tertentu. Gejala fisik trauma bisa menjadi nyata dan mengkhawatirkannya seperti cedera fisik atau penyakit. Dan perawatan harus dilakukan untuk mengelola tingkat stress setelah peristiwa traumatis.

Baca Juga: Yuk Kenali Stress Lebih Dalam dan Cara mengatasinya

Baca Juga  Pengertian Persepsi Menurut 5 Ahli dan Faktor Persepsi

E. Cara Penanganan Orang Traumatic

Beberapa penanganan yang bisa dilakukan pada penderita trauma adalah sebagai berikut:

1. Mendekatkan diri ke lingkungan sosial

Menjauhkan diri dari orang terdekat malah dapat menyebabkan kamu sering sendirian, dan cenderung mengingat kembali apa yang membuat trauma. Sebaliknya, berbagi cerita dengan seseorang dapat mengurangi tekanan pikiran dibanding menyimpan masalah yang dialami sendiri. Lingkungan keluarga dan teman adalah tempat terbaik untuk mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

2. Melakukan terapi

Beberapa gejala PTSD dapat membuat kamu merasa lelah dan mengurangi kualitas waktu istirahat. Akibatnya performa dalam pekerjaan, sekolah, maupun hubungan pribadi pun jadi terganggu. Terapi adalah salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut, baik terapi kejiwaan maupun konsumsi obat seperti anti-depresan dan obat tidur. Upaya ini tidak menghasilkan efek yang cepat, namun penting dilakukan untuk membantu menghadapi trauma dengan kondisi pikiran yang lebih jernih. Iringi terapi dengan mengurangi sumber stres agar pemulihan PTSD berjalan efektif.

Baca Juga: Mungkin Anda Terkena Gejala PTSD, Segeralah Cari Pertolongan!!

3. Mengalihkan perhatian dengan hal yang positif

Berbagai aktivitas seperti bekerja maupun menjadi relawan adalah salah satu cara mengalihkan pikiran dari ingatan dan emosi yang tidak diinginkan. Meskipun menfokuskan pikiran pada suatu pekerjaan tidak akan langsung menghilangkan gejala PTSD, namun hal ini dapat meminimalisir dampak buruk saat mengingat trauma yang dialami, dan membantu menyeimbangkan kehidupan kembali. Mengalihkan perhatian kepada hal positif saat sendirian adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah ingatan trauma datang kembali. Ilustrasi mencari bantuan psikologi(vadimguzhva)

4. Memulai aktivitas relaksasi secara rutin

Hal ini dapat dilakukan dengan menjalani berbagai aktivitas yang dapat membuat pikiran menjadi lebih tenang, seperti mendengarkan musik, meditasi, stretching, rekreasi, maupun berolahraga. Kondisi rileks tidak hanya membutuhkan ketenangan pikiran, namun juga memerlukan kekuatan fisik. Oleh karena, itu keduanya perlu terpenuhi saat melakukan aktivitas relaksasi.

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap suatu rasa trauma, namun sering kali mereka melakukan hal-hal yang negatif dan tidak menyelesaikan masalah. Menyalahgunakan alkohol dan obat, serta menghindarkan diri dari rasa trauma, adalah cara kurang sesuai untuk mengatasi trauma. Beberapa kondisi yang tidak boleh dilakukan orang untuk mengobati trauma antara lain:

Baca Juga  Kenali Tanda ADHD Pada Anak Sejak Dini

1. Menyalahgunakan obat dan alkohol

Dua hal ini mungkin membuat seseorang melupakan masalah dan meningkatkan kepercayaan diri, meski hanya sementara, namun hal tersebut tidak akan membuat pikiran menjadi lebih jernih saat mengalami trauma. Efek ketergantungan dari obat dan alkohol juga dapat memperburuk keadaan mental sehingga memicu kekerasan, kecelakaan, dan keinginan untuk bunuh diri.

2. Tak mau mengakui trauma

Dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menghindari lingkungan sosial dan menganggap dirinya tidak punya masalah dan tidak memerlukan bantuan terapi. Menenangkan diri dengan cara menyendiri dan menghindari orang terdekat secara berlebihan bukanlah hal yang tepat, karena akan menjauhkan kita dari dukungan yang mungkin dibutuhkan. Sama halnya dengan menyembunyikan emosi dan menghindari terapi, karena ini tidak akan menyelesaikan trauma yang dapat kembali sewaktu-waktu meskipun kita menganggap semua baik-baik saja.

 

Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Regulasi Diri Dan Aspek Yang Mempengaruhi Manusia

Apa Itu Regulasi Diri? Regulasi diri berkaitan dengan bagaimana seseorang mengaktualisasik…