Cara Anak-Anak Mengolah Kesedihan Dalam Film Sekala Niskala

Anak-anak kecil ternyata mempunyai cara tersendiri untuk mengelola ksedihan. Berbeda dengan orang dewasa yang dapat memahami bahwa hidup hanya sementara, anak-anak kecil masih belum begitu paham hukum alam yang mengharuskan manusia meninggalkan dunia untuk selamanya.

1. Sinopsis Singkat Film Sekala Niskala

Film Sekala Niskala menceritakan tentang kisah dua anak kembar buncing, yaitu perempuan dan laki-laki. Mereka bertempat tinggal di Bali. Konflik dalam film Sekala Niskala muncul saat Tantri bovcah perempuan mengetahui jika  saudara kembarnya yang bernama Tantra sedang menderita penyakit yang akan membuat nyawanya hilang. Otak Tantra mulai lemah dan dia pun harus kehilangan kemampuan inderawinya secara perlahan.

Suatu hari di kamar rumah sakit, Tantri menyadari bahwa dia tidak memiliki banyak waktu dengan saudara kembarnya,Tantra.Tantri harus menerima kenyataan bahwa ia harus menjalani hidup sendirian. Tantri terus terbangun tengah malam dari mimpinya menemui Tantra. Malam hari menjadi tempat bermain mereka. Di bawah bulan purnama Tantri menari, diamenari tentang rumah, alam, dan perasaannya. Seperti bulan yang meredup dan digantikan matahari, begitu pula dengan Tantra dan Tantri.

Tantri mengalami perjalanan magis dan relasi emosional melalui ekspresi tubuh; antara kenyataan dan imajinasi, kehilangan dan harapan yang menyedihkan ini membuat mereka terpaksa memendam rindu yang teramat dalam. Demi untuk menghilangkan rasa rindu yang semakin meningkat, mereka pada akhirnya menjalin koneksi dalam dunia fantasi. Di tengah malam, Tantri selalu terbangun dan selalu melihat saudaranya. Pertemuan di malam hari tersebut menjadi salah satu cara untuk mereka agar dapat bermain bersama. Tantri dapat menari dengan makhluk yang tak kasat mata. Perjalanan magis tersebut yang dialami oleh Tantri ini membuat dia memiliki hubungan emosional yang dapat membuatnya mahir melakukan berbagai ekspresi tubuh. Kedua saudara kembar ini merupakan anak yang berbakat dalam bidang seni. Mereka bisa saja mengekspresikan segalanya melalui kesenian. Dan memang seperti itulah penggambaran gaya hidup di wilayah Bali.

Baca Juga: Obsessive Compulsive Disorder Pada Tokoh Howard Hughes Dalam Film “The Aviator”

Yakin ingatanmu Asli ?

Teori-Teori Psikologis Pada Film The Blind Side

Baca Juga  Teori Psikologis Pada Film The Blind Side

The Bling Ring: Obsesi Popularitas Remaja Yang Tidak Terkontrol

2. Cara Anak Kecil Mengekspresikan Kesedihan

Film Sekala Niskala (the seen and the unseen), merupakan film yang menuai beragam prestasi, menggambarkan kesedihan yang dialami oleh seorang anak perempuan dan saudara kembarnya yang sedang mengalami sakit parah dan hanya tinggal menghitung hari.

Tantri, bocah perempuan dalam film Sekala Niskala, melihat saudara kembarnya yang terbaring lemas di kasur rumah sakit. Sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya, kemampuan kognitif yang dimiliki belum dapat mengekspresikan kesedihan yang dimiliki dalam bentuk kata. Tantri mengekspresikan kesedihannya melalui imajinasi jika Tantra, saudara kembarny laki-laki, sehat-sehat saja dan dapat menari bersamanya setiap malam. Namun, semua imajinasinya itu luluh ketika matahari pagi sudah terbit.

Imajinasi Tantri ternyata hadir setiap malam. Imajinasi Tantri hadir saat dia terjaga dan yang lain tertidur.. Tantri sering menari saat bulan purnama bersama makhluk-makhluk halus lainnya yang berwujud dalam sosok anak-anak seusia dia. Anak-anak itu kadang berguling-guling dan mengepakkan tangan mereka menyimbolisasikan telur ayam. Telur sebagai simbolis, yang mendeskripsikan awal dari sebuah kehidupan. Telur juga mewakili banten (sesajen) yang sudah biasa hadir di masyarakat bali. Telur di sini juga mewakili ikatan batin antara Tantri dan Tantra, di mana Tantri menyukai bagian putih saja dan selalu berbagi kuning telur ke Tantra saudara laki-lakinya.

Dengan penggambaran latar bulan purnama, ritual pemujaan, tarian, sawah dan juga adu ayam, film ini kaya akan simbol-simbol yang mistis dan magis khas Bali. Simbol-simbol budaya tersebut juga menjelaskan bahwa imajinasi anak juga kerap terpengaruh budaya dan kepecayaan masyarakat setempat.

Hal ini terjadi karena secara psikologis, anak-anak kecil mengekspresikan kesedihannya melalui seni dan permainan. Selain itu menari, bermain dan berimajinasi dapat menjadi cara seorang anak untuk menghadapi kesedihan. Tarian juga dapat membebaskannya dari perasaan bersalah, sedih, dan depresi.  Hal ini lah yang disampaikan di film Sekala Niskala tentang bagaimana anak-anak ternyata melihat dan mendengar sebanyak apa yang orang dewasa lihat dan dengar. Tetapi, anak-anak ternyata belum mampu menanggapi dan mencerna sebuah kejadian sebagaimana orang dewasa bisa memaknainya. Anak-anak ternyata juga belum begitu bisa mengekspresikan apa yang dia alami melalui bahasa.

Apa Pendapatmu?

Check Also

Curhat Dan Sandiwara Para Pengguna Medsos

Curhat di media sosial  sering kali di jadikan tempat pilihan oleh sebagian besar masyarak…