Bentuk Rasionalisasi, Mekanisme Pertahanan Diri Manusia

Rasionalisasi adalah proses dimana seseorang membangun logika yang benar (sistematis) untuk digunakan pada keputusan, tindakan atau keteledoran dimana hal ini berangkat, lewat sebuah proses mental yang berbeda.

Dalam dunia psikologis proses ini bisa dijangkau penuh dalam keadaan sadar (saat kalian mengelak dari ejekan teman ) sampai dalam alam bawah sadar ( menciptakan sekat pada perasaan bersalah ).

Sudah di bahas pada artikel sebelumnya. Salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri adalah rasionalisasi. Suatu mekanisme pertahanan diri ketika individu melakukan pemahaman kembali mengenai pemikiran yang mengancam bahwa ada alasan rasional dari tindakan yang mereka lakukan.

Baca Juga: 10 Jenis Mekanisme Pertahanan Diri Ego Manusia

Rasionalisasi menjelaskan alasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk membenarkan perilaku yang tidak dapat diterima. Menurut penelitian, rasionalisasi adalah tindakan mencari pembenaran sebelum melakukan tindakan kecurangan untuk melakukan kejahatan.

Yakin ingatanmu Asli ?

Selain itu, secara umum rasionalisasi dipahami sebagai pencarian suatu alasan yang dianggap masuk akal sebagai landasan berlangsungnya perilaku tertentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kalian sadari, kalian sering melakukan rasionalisasi. Contohnya saat seorang ibu yang tidak dapat memberikan ASI eksklusif kepada anaknya karena sibuk bekerja. Sang ibu menoleransi tindakannya sendiri untuk tidak memberikan ASI dengan alasan bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anaknya.

Begitupun saat seorang siswa mendapat nilai buruk dalam ujiannya, untuk mengurangi rasa bersalahnya, dia justru menyalahkan sang guru yang mungkin merasa membencinya. Walau sebenarnya dia tahu kalau dia mendapat nilai buruk karena dia tidak belajar.

Seringkali rasionalisasi di samaartikan mengatasi diri dengan membingkai ulang sikap pasrah negatif menjadi positif agar berfokus pada aspek positif dari situasi yang menentang. Padahal rasionalisasi merupakan mekanisme pertahanan diri yang digunakan seseorang untuk membuat berbagai alasan dan menyalahkan atau mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

Mekanisme pertahanan diri memang wajar dan sah- sah saja dilakukan dan memang sering dilakukan oleh banyak orang. Tetapi, jika mekanisme pertahanan diri dilakukan secara ekstrem dapat mengarah pada perilaku yang memaksa, berulang-ulang, dan dapat gangguan saraf.

Jadi pada prinsipnya rasionalisasi dianggap sebagai salah satu bentuk pertahanan diri dengan cara menipu diri sendiri yang menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Baca Juga  Kleptomania, Fakta-Fakta Penyakit Suka Mencuri

Bentuk rasionalisasi terseut dengan mempermainkan kata-kata atau menafsirkan keadaan yang tentunya dapat menguntungkan dirinya, dan tidak mempedulikan kenyataan yang terjadi terutama kegagalan-kegagalan yang sedang dia dialami.

Beberapa Contoh Rasionalisasi Di Dalam Psikologi

rasionalisasi

1. Gagal Dalam Mengerjakan Tugas Di Sekolah

Seorang siswa yang gagal melaksanakan tugas sekolahnya akan berkata “tugas ini terlalu berat untuk aku yang jelas- jelas masih amat muda ini”. Atau bisa juga dengan alibi lainnya seperti  “tugas semacam itu bagi aku tidak ada harganya, dan tidak masuk akal dalam bidang perhatian aku dan aku nggak akan peduli, apakah tugas itu mau gagal atau berhasil”.

Itulah bentuk rasionalisasi yang kerap sekali di lakukan oleh pelajar-pelajar di era millenial ini.

2. Menyerah Sebelum Berjuang

Dalam urusan sebuah asmara pun ternyata ada kondisi rasionalisasi di dalam hubungan percintaan.  Termasuk ini contohnya :

Ada seorang pemuda berniat mendekati seorang gadis cantik yang pemuda itu suka. Tetapi, karena takut cintanya ditolak, maka sang pemuda tersebut membatalkan niatnya.

Saat ditanya oleh sahabatnya mengapa dia tidak jadi mendekati gadis tersebut maka pemuda tersebut memberikan alasan yang berbanding terbalik dengan kenyataan jika gadis tersebut tidak lagi menarik baginya.

Seseorang yang tidak mendapatkan posisi atau jabatan yang dia inginkannya dalam suatu pekerjaan maka orang tersebut akan memikirkan dan mencari alasan-alasan yang rasional mengapa orang itu tidak mendapatkan jabatan tersebut.

Kondisi ini terkadang membuat mereka berusaha membujuk dan meyakinkan diri mereka sendiri jika sebenarnya dia tidak menghendaki posisi tersebut. Pembenaran juga bisa di sebut rasionalisasi

4. Pesimis Dalam Berfikir

Salah satu diantara contoh dari rasionalisasi dalam psikologi adalah seseorang tersebut memiliki sikap pemisis. Seperti yang sudah dijelaskan di dalam contoh sebelumnya.

Seorang pria menyerah sebelum berjuang artinya belum melakukan sesuatu atau memulai sesuatu, tetapi dia sudah takut gagal. Tetapi, kondisi kegagalan ini ternyata limpahkan ke hal yang berupa pembenaran atau di luar kenyataannya.

5. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Dalam suatu organisasi seringkali dijumpai kegagalan dalam melaksanakan suatu acara dengan baik kondisi ini memungkinkan suatu anggotanya dalam kecenderungan akan menyalahkan orang lain. Setiap anggota organisasi tersebut memiliki tanggungjwab yang sama dan saling bekerja sama.

Baca Juga  Bullying, (Pengertian, Peran, Penyebab dan Solusi)

Apabila ada kesalahan dalam satu orang tentunya akan berdampak pada kesalahan orang lain, karena setiap pekerjaan dalam organisasi pasti ada korelasi yang terhubung. Dan keadaan ini sering menjadi tempat rasionalisasi bagi orang-orang yang ingin mencari pembenaran.

6. Karakter Egois

Sifat egois atau memintingkan diri sendiri membuat rasa ketidakpedulian terhadap suatu hal ini merupakan salah satu contoh rasionalisasi dalam psikologi.

Seperti yang dijelaskan di dalam contoh pertama di atas, bahwa ketidakpedulian terhadap nilai atau hasil dari tugas sekolah akan membawa murid tersebut cenderung egois dan justru menumbukan sikap masa bodoh.

Sikap ini yang akan memperburuk citra baik murid tersebut baik dari segi kognitif maupun attitude dari guru maupun teman- teman sekolahnya.

7. Pandai Berbohong

Kemampuan berbicara juga menjadi salah satu bentuk rasionalisasi setiap orang tidak hanya ditentukan oleh pendidikan, tetapi juga pengalaman. Begitu juga dengan kemampuan berbicara dengan bukan kenyataan atau kebohongan juga ditentukan dengan pengalaman.

Semakin sering dia berbohong maka semakin mudah dia untuk memiliki alasan – alasan yang bertujuan untuk proses pembenaran.

Contoh seorang murid datang ke sekolah terlambat, saat ditanya oleh seorang guru tentang alasan keterlambatan nya maka murid tersebut menjawab terjadi kemacetan.

Memang macet adalah alasan klasik dan masuk akal. Tetapi kenyataanya siswa tersebut datang terlambat dikarenkan murid tersebut bangun kesiangan atau malas.

Kondisi seperti itu dapat terjadi karena proses pengalaman baik secara pribadi maupun lingkungan sosial jika sudah menjadi alasan ketika datang terlambat maka alasan atau rasionalisasi  klasiknya biasanya macet.

Salah satu jenis dalam orang yang suka membuat rasionalisasi adalah selalu menyepelekan pekerjaan. Tipe orang seperti ini saat pekerjaannya salah atau tidak tepat waktu akan dengan mudahnya menyalahkan orang lain.

Orang tersebut akan terus mencari beragam pembenaran dengan berbagai alasan yang sama sekali tidak rasional dan di buat- buat seakan – akan rasional.

Contoh: Kepala manager perusahaan memberikan tugas kepada anggotanya. Dimana anggota ini harus menyelesaikan tugasnya tepat waktu.

Baca Juga  Retradasi Mental "Keterbelakangan Mental Menurut Pengertian Umum"

Setelah selesai, tugas tersebut diserahkan ke manager dan manager melanjutkan pekerjaan sesuai dengan porsinya sebagai manager, akan tetapi manager tersebut terkesan nyantai, apatis dan menyepelekan pekerjaan tersebut.

Suatu watktu deadline pekerjaan berakhir, seorang direktur sekaligus atasan manager tersebut meminta pekerjaan tersebut maka sang manager beralasan jika pekerjaan tersebut belum selesai dikerjaan oleh karyawannya dan mencoba menggunakan rasionalisasi dengan menyalahkan karyawan tersebut karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut tepat waktu.

Itulah beberapa contoh rasionalisasi dalam psikologi yang umumnya di lakukan oleh orang kebanyakan. Bagi kamu yang sering melakukan rasionalisasi seperti contoh di atas maka sebaiknya jangan lakukan hal tersebut agar terhindar dari beragam dampak baik psikologis maupun sosiologis.

 

Sumber: Teori Pilihan Rasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Compulsive Buying: Gangguan Kepribadian Gila Belanja

Belanja adalah suatu kegiatan yang lumrah dilakukan, namun menjadi sangat fenomenal ketika…