PUSH PARENTING: Demi Anak atau Ambisi Orang Tua?

Push parenting, faktanya sebagian orang tua yang menerapkan hal ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan berhasil dalam kehidupan mereka kelak, kalau orang tua tidak “membantu” mereka sepenuhnya.

Tren pengasuhan anak dengan push parenting seolah-olah mendapat “pembenaran” karena tujuannya yang sangat baik, yaitu semua itu dilakukan demi kebahagiaan anak-anak itu sendiri. Anak-anak perlu dibekali dengan segala hal yang diperlukan agar nanti mereka berhasil, bahagia, dan mampu bersaing dengan yang lainnya.

Bukankah hal ini merupakan “bukti” kasih dan kepedulian orang tua terhadap anak?

Pertanyaan di atas akan dengan gampangnya kita jawab kalau kita menutup mata terhadap dua kenyataan penting yang tersembunyi di “belakang” dan sedang menunggu di “depan,” yaitu:

  1.  alasan-alasan yang melatarbelakangi orang tua menerapkan pola pengasuhan tersebut, dan
  2. konsekuensi atau dampak yang akan dialami anak sebagai akibat pola pengasuhan tersebut.

Dalam pembahasan berikut kita akan melihat kedua kenyataan tersebut sehingga dapat menolong kita untuk lebih “berpikir” sebelum menjawab pertanyaan tadi.

Yakin ingatanmu Asli ?

push parenting

Push Parenting Demi Anak Atau Orang Tua?

Sebenarnya tidak ada orang tua yang mengasihi anak-anak mereka, yang berniat menekan anak-anak tersebut. Kebanyakan orang tua yang menerapkan push parenting merasa terpaksa menerapkan pola pengasuhan tersebut.

“Keterpaksaan” orang tua disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini. Karena kecenderungan dalam push parenting adalah orang tua hanya akan mendukung keinginan anak yang sesuai dengan ambisi mereka, dan pengawasan ekstra ketat akan dilakukan orang tua selama proses pencapaian ambisi itu.

Apa yang menjadi minat anak sering kali diabaikan oleh orang tua. Harus diakui anak-anak memang masih sangat membutuhkan pengarahan dan pengawasan dari orang tua mereka. Tetapi dalam push parenting sepertinya anak tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka, termasuk segala kompetensi yang dimiliki, yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.

Ciri perilaku yang menjadi tanda dari push parenting:

  1. Mengatur nyaris setiap menit hidup anaknya dengan kursus-kursus, program sosialisasi, dan kegiatan kegiatan “pengayaan” lainnya.
  2. Menuntut prestasi tinggi di sekolah dan di berbagai bidang lain, nyaris dengan segala cara (emosional, psikologis, fisik, dan dana).
  3. Menekan anak memilih kursus, pelatihan, atau minat lebih untuk tujuan membuat CV (Curriculum Vitae) atau Daftar Riwayat Hidup yang mengesankan daripada untuk memenuhi rasa ingin tahu yang alamiah dan minat pribadi.
  4. Mencampuri persahabatan dan hubungan anak dengan guru dan pelatihnya.

Alasan Mendasar Orang Tua Melakukan Push Parenting

1. Ketakutan dan Kekuatiran yang Berlebihan

Banyak orang tua sangat takut dan kuatir kalau tidak ada usaha terus- menerus untuk memacu prestasi anak-anak mereka, ketika dewasa nanti anak-anak itu tidak bisa berkompetisi dan akhirnya gagal. Ketakutan dan kekuatiran itu semakin “terprovokasi” karena tidak ada ukuran yang pasti untuk mengukur keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak mereka, sampai semuanya sudah berakhir nanti.

Ketidaktahuan ini semakin membuat orang tua merasa tidak nyaman dan tidak mempunyai kontrol. Ketidaknyaman inilah yang mendorong orang tua melakukan apa saja, bahkan menuntut anak mereka secara berlebihan untuk mengantisipasi kegagalan di depan.

Baca Juga  Ibu Wajib Tahu 4 Tahap Psikologi Perkembangan Anak

Kegagalan anak biasanya juga dipahami sebagai kegagalan orang tua dalam mendidik anak untuk berhasil, dan tidak ada orang tua yang tidak ingin diakui sebagai sebagai orang tua yang sukses dalam mendidik anak. Apalagi bagi para orang tua yang sebelum menikah sudah berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam karir, khususnya para ibu. Kata kunci mereka adalah “profesionalisme” untuk segala hal yang mereka kerjakan, termasuk ketika sekarang mereka harus beralih “profesi” sebagai orang tua.

Pekerjaan utama mereka sekarang adalah mengurus anak. Sering kali, tanpa sadar mereka menuntut diri sendiri harus berprestasi sebaik mungkin, seperti ketika mereka masih berkarir di luar. Segala hal yang diketahui “baik” untuk keberhasilan anak mereka, sebisa mungkin diberikan dan dilakukan untuk memenuhi dorongan berprestasi tersebut.

2. Kompensasi dari Ketiadaan Kesempatan di Waktu Lalu

Kesempatan yang dimiliki para orang tua di masa kecil mereka jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kesempatan yang dimiliki anak-anak sekarang untuk terus mengembangkan diri mereka. Kita sering kali mendengar komentar para orang tua bahwa mereka berusaha mati-matian agar anak-anak mereka tidak mengalami “nasib” yang sama seperti mereka pada waktu dulu.

Semahal apa pun “pengorbanan” yang harus diberikan supaya anak-anak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan, para orang tua menganggap itu sebagai “investasi yang pantas. Adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau beranggapan bahwa anak harus mencapai sesuatu karena orang tua sendiri tidak berhasil mencapainya karena sebab apa pun juga.

Inilah yang disebut dengan “tujuan yang tersembunyi” Seolah-olah orang tua ingin mengalami sendiri apa yang tidak dapat dilakukannya dahulu melalui anakanaknya. Dengan tersedianya banyak kesempatan, pengharapan akan masa depan anak yang lebih baik adalah hal yang sangat positif dan sudah seharusnya, tetapi akan berdampak sangat negatif, apabila pengharapan itu sampai memunculkan tuntutan yang berlebihan dari diri anak.

3. Anggapan bahwa Jumlah “Kesuksesan” itu Terbatas

Keterbatasan jumlah “kesuksesan” ini berangkat dari ide keterbatasan tempat di sekolah unggulan. Kesuksesan disamaartikan dengan bisa diterima di sekolah-sekolah tersebut. Tanpa anak-anak dipersiapkan sejak awal, dengan tuntutan-tuntutan belajar yang ekstra tinggi, tidak mungkin mereka dapat mencapai sasaran itu.

Di Amerika, persaingan untuk masuk sekolah favorit sekarang sudah merembes sampai ke jenjang kelompok bermain (play group). Orang tua umumnya mempunyai persepsi yang sangat miring tentang kelompok bermain yang baik. Mereka yakin bahwa kalau anak mereka tidak masuk ke kelompok bermain yang baik, mereka tidak akan masuk ke sekolah yang baik, lalu tidak akan masuk ke Harvard dan itulah akhir hidup mereka.

Baca Juga  Kumpulan Cerita Inspiratif Orang-Orang Sukses Dunia

Untuk konteks Indonesia mungkin tidak jauh berbeda. Para orang tua yang mampu secara ekonomi13 berusaha memasukkan anak-anak mereka—mungkin juga dengan sedikit memaksa—ke sekolah-sekolah favorit yang tuntutan akademiknya relatif tinggi. Hal ini kadang kala sangat membebani anak-anak yang memang secara kemampuan intelektual tidak mendukung.

Harapan orang tua adalah agar nanti anak-anak ini akan lebih mudah diterima di universitas-universitas yang bonafide, dan ujung-ujungnya mereka tidak terlalu sulit mendapatkan pekerjaan baik yang bisa menjamin masa depan mereka nanti.

4. Terobsesi dengan Citra Ideal di Media

Media massa, khususnya televisi, dapat mengubah cara para orang tua memandang kehidupan, diri sendiri, dan keluarga, termasuk anak-anak mereka. Kebanyakan orang tua pasti mengakui bahwa orang-orang dengan kehidupan ideal yang dipertontonkan melalui media-media itu memang jauh dari kenyataan. Karena itu akan kurang realistis kalau orang tua terlalu berharap anak-anak mereka seharusnya nanti bisa mencapai kesuksesan dan gaya hidup ideal seperti para bintang media itu.

Akibatnya orang tua mulai melihat anak dari sisi prestasi yang dicapainya saja. Semakin berprestasi seorang anak, seperti bintangbintang media itu, akan semakin baik, dan itulah yang seharusnya menurut kebanyakan orang tua. Sebelum anak-anak mereka berprestasi seperti itu, para orang tua sulit untuk merasa puas.

5. Anak adalah “Miniatur Diri” Orang Tua

Tidak sedikit orang tua yang kecanduan terhadap keberhasilan anakanak mereka. Mereka menikmati sekali “kebanggaan” sebagai orang tua ketika anak-anak mereka berprestasi, tenar, dan dipuji oleh banyak orang. Dari sebelum menikah, selama masa-masa kehamilan, sampai melahirkan, orang tua sudah melakukan persiapan panjang untuk mewujudkan angan-angan ideal mereka tentang anak yang akan dilahirkan.

Anak tersebut harus menjadi seperti imbalan atas segala jerih payah dan investasi waktu, emosi, pikiran, dan uang yang sudah dikorbankan selama ini. Akibatnya banyak orang tua yang tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan mereka dan kebutuhan anak mereka. Sepertinya anak dikejar terus untuk dapat segera membuat orang tua bisa menikmati kesuksesan mereka.

PUSH PARENTING TIDAK EFEKTIF

push parenting

Kenyataan yang tidak bisa ditutup-tutupi tentang dampak push parenting adalah harapan orang tua kepada anak anak mereka telah berubah menjadi perasaan tertekan dalam hidup anak-anak tersebut. Idealisme dan ambisi orang tua untuk menciptakan anak yang sempurna dan anak kelas atas rupanya juga membuka peluang untuk menghambat perkembangan anak-anak itu sendiri.

Berikut ini akan diulas beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh push parenting.

1. Menciptakan Anak yang Rawan terhadap Stres dan Depresi

Sebuah artikel di majalah TIME memperkirakan sekitar 500.000 sampai 1 juta resep obat antidepresi ditulis setiap tahun untuk anak-anak dan remaja dan jumlah ini terus bertambah. Depresi terus meningkat setiap dekade sejak pergantian abad. Sekarang, diperkirakan 1 persen anak prasekolah, 2 persen anak usia sekolah, dan 5 persen remaja menderita depresi klinis.

Baca Juga  Cek di sini apakah Kamu termasuk Generasi Micin!!

Populasi anak-anak penderita depresi tersebut sebagian terdiri dari anak-anak yang mendapat tekanan yang terus membesar untuk berprestasi, untuk produktif, dan untuk mencapai kesuksesan. Banyak sekali hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang dipacu secara berlebihan untuk berprestasi dini sebelum waktunya merupakan calon-calon penderita stres dan berbagai gangguan psikosomatis, seperti sakit perut, sakit kepala, gangguan tidur dan makan.

Baca Juga: Gangguan Psikomatis: Gejala, Penyebab dan Cara Pencegahan

Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak yang bisa membaca sangat awal menjadi kecewa dan menjadi murid yang tidak bersemangat pada usia sembilan tahun.

2. Mementingkan Prestasi dan Mengabaikan Kepribadian

Push parenting menekankan anak harus mendapatkan pendidikan yang terbaik, dan menunjukkan prestasi yang terbaik pula. Dengan demikian diharapkan nanti mereka akan mendapatkan pekerjaan yang terbaik, dan akhirnya mereka dapat dikatakan berhasil dalam hidup.

Tetapi, apakah mutlak seratus persen bahwa keberhasilan hidup itu ditentukan oleh prestasi. Bukankah guna mencapai kesuksesan hidup, prestasi perlu ditunjukkan dengan kepribadian yang baik pula?

Ketika prestasi menjadi titik fokus sasaran pengasuhan anak, maka kecenderungannya tujuan pembentukan kepribadian anak akan terabaikan. Apa yang dilakukan anak menjadi lebih penting daripada akan menjadi apa mereka kelak.

Salah satu aspek positif dari kepribadian yang terabaikan dengan push parenting adalah kemandirian. Orang tua yang selalu mau terlibat dan mengatur kehidupan anaknya, sehingga sama sekali tidak memberi kesempatan untuk anak berpikir dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya, akan melahirkan anak-anak yang tidak mandiri.

Orang tua yang tidak menahan diri dan belajar tidak mengekang kecenderungannya untuk terus mencampuri urusan anak akan mendorong anak menjadi mandiri.

3. Kehilangan Kebersamaan yang Bermakna dengan Keluarga

Salah satu konsekuensi dari push parenting adalah anak diharuskan mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah supaya dapat berprestasi dalam lebih banyak bidang. Anak-anak lebih banyak waktu bersama dengan pembimbing, pelatih, atau guru les mereka, dan semakin sedikit waktu bersama-sama dengan keluarga, khususnya orang tua.

Semakin hari, semakin banyak hal yang seharusnya bisa diajar oleh orang tua, dipelajari anak-anak dari orang-orang yang dibayar. Tujuannya, dengan keahlian orang-orang itu, anak-anak kemungkinan besar dapat lebih berprestasi nantinya. Orang tua melupakan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga yang terhilang dengan pola asuh seperti itu, yaitu kebersamaan yang bermakna dengan anak-anak mereka.

Beberapa dampak negatif di atas seharusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat kesimpulan bahwa push parenting bukanlah pola asuh anak yang efektif untuk dipraktekkan, kecuali memang kita tidak peduli dengan masa depan anak-anak kita.

 

Sumber: Anak Korban Orang Tua Ambisius Dan Konseling Permasalahannya

Apa Pendapatmu?

Check Also

Tanda-Tanda Hamil Yang di Alami Wanita Secara Psikologis

Tanda-tanda hamil yang ditunjukkan melalui perubahan fisik, umumnya para wanita akan langs…