Proyeksi: Mekanisme Pertahanan Diri Manusia Dengan Kambing Hitam

Pernahkah Kalian mendengar kata proyeksi? Jika pernah, apakah Kalian pernah merasakan hal yang sama? Merasa bahwa orang lain sedang berpikiran jelek mengenai Kalian, padahal Kalian yang berpikiran demikian. Ya, Proyeksi adalah penilaian diri sendiri dari cerminan orang laian.

Berpikir seseorang menyukai Kamu, padahal sebenarnya kamu yang menyukainya. Berkata bahwa teman kamu sedang lapar, padahal kamu yang sedang lapar. Berkata bahwa pasangan kamu sedang cemburu, padahal sebenarnya kamu yang sedang terbakar api cemburu. Inilah yang disebut dengan proyeksi.

Selain itu, proyeksi juga bisa dikategorikan kambing hitam  dalam hal negatif. Istilah ambing hitam sudah sangat umum di telinga, dan kalian juga sudah paham jika kambing hitam bukanlah jenis kambing yang berbulu hitam, apakah itu kambing etawa, kambing gibas atau sejenis kambing lainnya. Kambing hitam merupakan makna orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan. Sedangkan mengkambing-hitamkan artinya menjadikan kambing hitam atau mempersalahkan, menuduhnya bersalah.

Contoh kerakternya selalu mengkambing hitamkan orang lain, sedangkan sebenarnya si dia sendiri yang berbuat salah. Penggunaan istilah kambing hitam umumnya merujuk pada suatu peristiwa yang tidak ditemukan atau belum diketahui penyebab peristiwa sesungguhnya atau mereka dengan sengaja menuduh atau menunjuk orang lain sebagai penyebab atau orang yang melakukan kesalahan hingga dirinya terbebas dari tuduhan atau prasangka atas apa saja yang telah dia lakukan, padahal sebenarnya dia lah yang berbuat  demikian.

Dapat dipahami mengkambing hitamkan orang lain itu sering dimaknai secara politis, yaitu strategi untuk menyelamatkan diri sendiri dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan atau tidak disenangi oleh kebanyakan orang. Namun jika kalian mau mengkaji secara lebih mendalam utamanya kajian psikologis maka upaya mengkambing hitamkan orang lain merupakan bagian dari upaya pertahanan diri yang disebut dengan proyeksi

Yakin ingatanmu Asli ?

1. Apa sih proyeksi itu?

Seperti halnya cermin, bayangan diri kita yang terlihat dalam cermin merupakan pantulan dari diri yang sebenarnya sebagai objek. Demikian dengan proyeksi, kamu seperti melihat pikiran dan perasaan orang lain persis seperti apa yang kamu pikirkan dan rasakan juga.

Baca Juga  Cara Menangani Dan Menghadapi Seseorang Dalam Kondisi Denial (Penyangkalan)

Proyeksi adalah salah satu dari mekanisme pertahanan diri, saat orang tersebut mengkritisi dirinya sendiri. Kalau ada pepatah mengatakan “orang yang selalu menaruh curiga terhadap orang lain yang lalu lalang dirumahnya, berarti orang tersebut mempunyai naluri maling”

2. Kenapa seseorang bisa melakukan proyeksi?

Umumnya, orang yang melakukan proyeksi adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak bisa diterima oleh diri atau tidak ingin menyimpang dari norma sosial. Seperti agresifitas, pikiran-pikiran mengenai seksualitas, rasa iri cemburu atau marah.

Individu yang melakukan proyeksi terlalu khawatir terhadap sesuatu. Jadi, tanpa sadar apa yang dilakukan untuk melindungi diri dari situasi yang menimbulkan rasa sakit, kecemasan atau stress di dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Menguji Adrenalin Ternyata Berbahaya Dan Meningkatkan Stress

Yuk Kenali Stress Lebih Dalam dan Cara mengatasinya

3. Apakah melakukan proyeksi akan menjadi manusia yang sehat?

Melakukan proyeksi adalah hal yang sangat manusiawi. Tetapi, saat mekanisme pertahanan diri ini dilakukan terus-menerus akan memperlihatkan betapa tidak berfungsinya seseorang. Sebab orang lain pun dapat mengetahui bahwa kamu sedang melakukan proyeksi.

Sama seperti obat, kamu membutuhkan obat dalam dosis yang tepat untuk sehat kembali, tetapi apa yang terjadi jika kamu mengkonsumsi obat terlalu banyak? Nah, saat kamu terlalu sering melakukan proyeksi, maka akan muncul wujud ekstremnya yaitu gangguan kepribadian paranoid.

Baca juga: Gangguan Kepribadian Paranoid: Penyebab, Obat, Pencegahan

Jadi, segera belajar berdamai pada diri sendiri tanpa harus melakukan proyeksi. Mulailah jujur pada diri sendiri saat kamu merasa tidak nyaman akan pakaian kamu, saat kamu merasa marah, cemburu atau benci pada seseorang bahkan saat kamu menyukai atau membutuhkan seseorang.

Konsep mengenai proyeksi diri itu pertama kali diungkapkan oleh Sigmund Freud. Secara garis besar, proyeksi diri adalah salah satu bagian dari mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh individu untuk melindungi diri karena merasa terancam. Dalam proyeksi diri, individu mengatribusikan perasaan, pikiran, dan motivasinya yang muncul dalam dirinya kepada orang lain karena dia tidak ingin menerimanya.

Baca Juga  Bystander Effect, Sikap Pasif Dan Apatis Untuk Menolong

4. Bentuk-Bentuk Dari Proyeksi Pertahanan Diri

Beberapa pakar psikologi yang menggunakan proyeksi sebagai pendekatan psikologis antara lain Frank, Bealy, Bromier, dan Bowers serta Ballak, oleh sebab itu konsep proyeksi menjadi semakin lengkap dan akhirnya dapat diambil kesimpulan jika proyeksi mempunyai tiga bentuk atau proyeksi dilakukan dengan tiga cara yaitu ;

Pertama, menyalahkan sebab yang terjadi kebetulan, tidak relevan atu berupa khayalan, misalnya seorang anak tiba-tiba menangis dengan keras kemudian memeluk ibunya dengan kuat, saat ibunya bertanya “sayang,  kenapa nangisnya keras sekali?” dengan terbata-bata karena takut dimarahi ibunya, maka si anak menjawab “aku jatuh tersandung kayu di depan rumah, hi, serem di kayu ada hantu casper aku jadi takutt, atau bisa sebaliknya si ibu menghibur anaknya yang sedang menangis karena tertimpa meja, lalu si ibu berkata “sudah diam yaa, ni mejanya ibu pukul, dasar meja nakal”

Kedua, melihat kekurangan kepribadian yang dimiliki orang lain atau yang biasa dianggap lawan. Contoh anak-anak yang suka bertengkar atau suka marah-marah, maka saat mereka ditanya “siapa yang memukul duluan?”,  spontan mereka menjawab “kalau kita tidak memukul duluan, maka kita yang akan dipukul duluan pak”

Ketiga, menyalahkan orang lain karena perilakunya tidak patut sehinga mengalami kegagalan, beberapa contoh antara lain;

Contoh 1:

Anda melihat orang lain mengekspresikan kebahagiaannya di media sosial karena dia baru saja membeli sebuah barang baru. Anda merasa iri. Namun, karena merasa iri itu secara norma tidak dianggap sebagai sebuah hal yang baik, lalu alam bawah sadar Anda mendorong Anda untuk melakukan “proyeksi” mekanisme pertahanan diri sebagai bentuk penolakan terhadap emosi yang muncul dalam diri. Dengan cara apa? instead of Anda mengakui bahwa Anda merasa iri, Anda kemudian berpikir bahwa orang tersebutlah yang sombong.

Contoh 2:

Anda membenci sahabat Anda karena dia sudah berkata buruk tentang diri Anda di belakang. Namun, karena perasaan membenci itu secara norma dianggap sebagai sebuah hal yang tidak diinginkan, alam bawah sadar Anda kemudian melakukan “proyeksi” sebuah mekanisme pertahanan diri untuk menolak perasaan benci yang muncul dari dalam diri Anda. Instead of Anda mengakui bahwa Anda merasa benci, Anda kemudian memproyeksinya dengan cara berpikir bahwa orang tersebutlah yang membenci diri Anda.

Oleh sebab itu, sebenarnya penting bagi siri sendiri untuk mengidentifikasi dan mengakui segala emosi yang muncul di dalam diri, termasuk emosi yang negatif sekalipun. Dengan mengakuinya, kalian kemudian bisa mengelolanya dengan cara yang lebih sehat. Melakukan proyeksi untuk membuat diri kalian lebih tenang itu tidak apa-apa, selama hal tersebut tidak dilakukan secara berlebih dan terlalu sering. Tidak jarang konflik dan drama dalam kehidupan terjadi karena orang-orang terlalu sering melakukan mekanisme proyeksi ini.

5. Apakah Proyeksi Sangat Berbahaya?

Menyalahkan orang lain atau sesuatu yang dapat disalahkan dalam upaya menghindarkan diri dari tuduhan kesalahan atau menghindari dari hukuman karena kesalahannya, pada prinsipnya dapat membuat diri puas, atau dapat menghilangkan kecemasan karena dirinya tidak jadi menanggung malu atau mendapat hukuman, namun pada akhirnya orang lain yang justru akan menjadi korbannya.

Baca Juga  Erotomania, Gangguan Mental Merasa Dicintai dan GE-R Akut

Mekanisme pertahanan diri melalui proyeksi adalah termasuk unsur “penipuan diri”, seperti kata pepatah “lempar batu sembunyi tangan”, bisanya hanya membuat masalah tetapi tidak mau mengakuinya apalagi bertanggung jawab, merasa puas atau baik-baik saja bila bisa menuduhkan kesalahan dirinya kepada orang lain.

Penipuan diri dengan cara proyeksi (mencari kambing hitam) secara psikologis sebenarnya tidak bisa menghilangkan kecemasan secara tuntas,  yang didapatkan hanyalah kepuasan sementara dan bahkan bisa saja menambah kecemasan, karna dirinya selalu berpura-pura tidak melakukan apa yang dituduhkan kepada orang lain serta dapat memendam kecemasan bisa-bisa suatu saat kesalahannya akan terbongkar atau orang lain tahu sebenarnya bahwa dirinya yang melakukan, sehingga dalam hidupnya selalu saja dihinggapi kecemasan yang tiada henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Psikologi Sosial: Teori, Metode dan Pendekatan Lengkap!

Psikologi Sosial adalah Ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dalam …