3 Jenis Pola Asuh Orang Tua, Manakah Yang Paling Baik?

Pola asuh adalah tata cara mendidik dan memelihara serta membimbing keluarga, sebagai pengasuh dan pembimbing dalam keluarga, orang tua harus meletakan dasar-dasar moral, etika dan perilaku yang baik pada anak-anaknya sehingga tercipta sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Ada 3 jenis pola asuh yang terjadi di masyarakat antara lain:

1. Pola Asuh Otoriter

Dalam pola asuhan ini, orang tua memiliki peraturan yang kaku dalam mengasuh anak-anaknya. Tiap pelanggaran dikenakan hukuman, bersifat memaksa dan cenderung tidak mengenal kompromi serta dalam berkomunikasi bersifat 1 arah.

Orang tua menerapkan pola asuh ini ketika berinteraksi dengan anak, orang tua memberikan arahan kepada anak dengan tegas tanpa adanya perlawanan dari anak itu sendiri, namun apabila arahan yang diberikan positif maka akan berdampak baik kepada anak dan apabila arahan yang diberikan bersipat negatif maka akan berdampak buruk bagi anak dalam pergaulannya sehari-hari.

a. Dampak Positif

Pola asuh otoriter merupakan cara mendidik paling bahaya, dimana semua keinginan orang tua harus dituruti oleh anak tanpa pengecualian. Disini anak tidak bisa memberikan pendapat dan hanya bisa mengikuti kemauan orang tua tersebut tanpa diberikan alasan, Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Ketika anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan orang tua.

Tonton ini, dan ingatan anda akan meningkat seketika

Pola asuh otoriter yang diterapkan orang tua kepada anak akan memberikan dampak positif bagi perilakunya, akibat dari keinginan orang tua yang harus dituruti tanpa pengecualian dari anak, terkadang timbul sebuah keinginan yang bersifat positif. Misalnya memerintahkan untuk memaksa belajar, tidur tidak terlalu malam dan tidak memakan jajanan tidak sehat.

Baca Juga:

b. Dampak Negatif

Pola asuh otoriter yang diterapkan oleh orang tua terhadap anak memberikan dampak negatif pada perilakunya, jika anak dipaksa untuk melakukan sesuatu yang menurut si anak bosan maka anak melakukan sesuatu tindakan yang negatif.

Baca Juga  PUSH PARENTING: Demi Anak atau Ambisi Orang Tua?

Sifat memaksakan kehendak pada anak akan berdampak pada psikologi anak sehingga anak berperilaku negatif. Contohnya orang tua selalu memarahi dan menghukum anak marasa serba salah, dia ingin pergi dikampung bersama nenek dan bersekolah disana, karena merasa tidak nyaman dengan orang tua.

2.  Pola Asuh Demokratis

pola asuh demokratis

Pola asuh demokrasi merupakan pola asuh yang paling baik. Dimana orang tua bersikap friendly dan anak bebas mengemukakan pendapatnya, disini orang tua lebih mau mendengar keluhan dari anaknya, mau memberikan masukan.

Dalam pola asuhan ini, orang tua memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu untuk mengendalikan mereka bersikap rasional dan bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap lebih yang melampaui kemampuan anak, hukuman yang diberikan tidak pernah kasar serta pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

3. Pola Asuh Permisif

Orang tua memberikan kebebasan pada anak tanpa kontrol, orang tua tidak menegur atau tidak memperingatkan apabila anak melakukan yang merugikan diri sendiri maupun keluarga, sedikit memberikan bimbingan yang mendidik tetapi sering memanjakannya.

Apapun yang diminta anak orang tua menurutinya. Pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua/keluarga yang bersifat permisif memberikan dampak negatif pada perilaku anak.

Pola asuh permisif memberikan dampak negatif pada perilaku anak baik di luar rumah maupun di dalam rumah. Karena tidak adanya suatu kontrol yang kuat pada anak dan sering memanjakan sehingga anak sewenang-wenang melakukan sesuatu tanpa berpikir bahwa itu adalah buruk.

4. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh

pola asuh jenisnya

a. Tingkat Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi keluarga dari suatu masyarakat sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan kesejahteraan dari anggota keluarga itu sendiri serta masyarakat lingkungan.

b. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan sangat berpengaruh besar terhadap tata cara mendidik orang tua, yakni jika tingkat pendidikan yang dimiliki orang tua rendah maka pola asuh yang diberikan terhadap anak akan berpotensi negatif, sedangkan orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi maka pola asuh yang diterapkan akan berpotensi positif dan semua itu akan berpengaruh signifikan bagi perilaku anak.

Baca Juga  Cara Meditasi Ini Bisa Merubah Hidup Anda 365% Lebih Baik.

c. Kepribadian

Setiap orang memiliki kecenderungan prilaku yang baku/berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang sedang di hadapi, sehingga jadi ciri khas pribadinya.  Kepribadian berpengaruh besar terhadap didikan dari orang tua, yaitu jika kepribadian orang tua pemarah maka akan berdampak buruk terhadap perilaku anak, namun jika kepribadian orang tua penyayang dan selalu bersifat hangat terhadap anak maka hasilnya akan berdampak baik terhadap perilaku anak.

d. Jumlah Anak

Jumlah anak yang dimiliki keluarga akan mempengaruhi pola asuh yang diterapkan orang tua. Semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, maka ada kecenderungan bahwa orang tua tidak begitu menerapkan pola pengasuhan secara maksimal pada anak karena perhatian dan waktunya terbagi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.

Banyaknya anak akan berdampak negatif pada didikan orang tua, meskipun orang tua berusaha untuk memahami anak-anaknya namun ada saja perilaku negatif yang ditunjukan oleh sala satu anak.

Sebaiknya orang tua mengikuti program pemerintah yaitu keluarga berencna KB 2 anak lebih baik, agar orang tua dapat menentukan anak yang harus dilahirkannya, sebab dengan memiliki anak yang banyak orang tua akan sulit membagi waktu kepada mereka dan akan banyak perilaku negatif yang ditunjukan pada anak seperti berselisih, persaingan, mementingkan diri sendiri, dan perilaku berkuasa.

Sumber: Pola Asuh Orang Tua Dan Implikasinya

Apa Pendapatmu?

Check Also

Patah Hati Bukan Berarti Dunia Berhenti

Mungkin hampir semua orang pernah merasakan sakitnya patah hati, sama dengan kenyataan bah…