Perempuan, Tubuh Dan Standar Kecantikan

Perempuan sangat amat memikirkan kecantikan. Bahkan sesama perempuanpu  sering menganggap perempuan lain sebagai pesaing untuk mendapatkan pengakuan atas kecantikannya. Lalu, kenapa hal ini dapat terjadi?

Memang perempuan sejak masih kecil sudah dibentuk untuk memperhatikan penampilan fisiknya.

Para perempuan juga mendapatkan penguatan untuk setiap penampilannya yang menarik di mata orang lain.

Kata- kata seperti, “Wah bajumu bagus ya,” atau  “Kamu anggun sekali dengan gaya rambut itu,” dan juga “Duh siapa yang make up-in tuh wajahmu jadi cantik begitu?” adalah kalimat pertanyaan yang seringkali terlontar dari mulut teman, orangtua, saudara, tetangga, sebagai seorang anak perempuan.

Selain penguatan dari lingkungan, media massa juga memiliki peran yang sangat luar biasa untuk mengkonstruksi kecantikan pada perempuan. Majalah, Televisi, Instagram, Facebook, Blogger, Youtub dll memberikan asupan perempuan dengan beragam tips-tips kecantikan.

Iklan tentang produk kecantikanpun bertaburan di mana-mana, dengan beragam cerita iklan dengan maksdut:

Laki-laki akan menatap dengan penuh rasa kekaguman pada wanita yang kulitnya sudah bisa berubah menjadi putih

Yang rambutnya sudah menjadi lembut, lurus dan juga indah, atau bisa jadi keriputnya sudah berganti dengan kulit kencang dan hilang setelah penggunaan produk kecantikan ajaib itu.

Iklan-iklan semacam itu jelas memberikan sebuah penguatan yang sebenarnya diterima orang lain (model iklan) tetapi kita sebagai si pengamat juga ikut merasakannya.

Hal ini memacu para wanita untuk membeli produk tersebut agar bisa mengalami sendiri sebuah rasa yang diterima si model dalam iklan tersebut.

Selain itu, iklan-iklan tersebut juga mempertontonkan para model yang muda, berkulit putih, berambut panjang, dan juga bertubuh seksi.

Baca Juga:

Maka dari itu dengan bentukan-bentukan seperti itu, para wanita selalu berfokus pada tubuhnya. Wanita juga sering merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya.

Berbagai kamuflasepun terang-terangan dilakukan perempuan untuk menutupi bagian tubuhnya.

Baca Juga  10 Bahaya Multitasking Tanpa Kalian Sadari

perempuan foto

Studi perilaku jika menunjukkan wanita sering meletakkan tas di atas paha saat duduk sehingga perutnya tertutup. Atau wanita akan membawa buku dengan tangannya yang memegang buku diposisikan di bagian tubuh yang atas, karena mungkin tanpa sadar para wanita berusaha menutupi bagian dadanya.

Bagaimana perempuan sangat memperhatikan bentuk tubuhnya dari muda sampai usia lanjut. Setelah melewati masa kanak-kanak, perempuan akan memandang perubahan tubuhnya pada masa pubertas dengan lebih penuh keheranan dibanding laki-laki.

Saat hamil, kepedulian perempuan pada tubuh akan semakin besar.  Jamu, krim dan juga pil, dan bahkan sekarang muncul dalam bentuk susu yang dibuat untuk mengembalikan bentuk tubuh perempuan.

Menyusui bayi menjadi pilihan yang kadang dilematis bagi para wanita yang mengkhawatirkan payudaranya tidak lagi indah.

Semakin bertambah usia, saat kulit berkerut dan perut semakin berlemak, maka semakin banyak pernak-pernik yang akan digunakan wanita  untuk menutupi kekurangan tubuhnya itu.

Wanita berharap aksesoris itu bisa mengalihkan pandangan orang lain dari  wajah dan tubuhnya.

Pada saat yang sama bahkan akan semakin tebal kosmetik dibubuhkan di wajahnya.

Sampai-sampai masyarakat mengenal stereotipe negatif ,” Loh, dandanannya menor/medok (tebal) kayak emak- emakk.” Dan saat usia sudah mulai menua, kata tentang awet muda menjadi begitu indah di telinga perempuan.

Tidak heran jika wanita menjadi target pasar yang paling berpotensi. Klinik kecantikan dan pelangsingan tubuh didirikan, dengan nama yang khas perempuan

Berbagai kosmetika diproduksi dan tidak pernah tidak laku.

Target pasarnya dimulai sejak remaja, sebuah tahap perkembangan transisi saat harga diri (self-esteem) cenderung berfluktuatif sehingga mudah dipengaruhi.

Bahkan ada pula produk kecantikan yang ditujukan untuk anak-anak, misalnya sebuah perusahaan multilevel yang membuat lipstik khusus anak.

Atau mungkin kalian masih ingat dengan sebuah produk yang berbunyi.

Sering produknya mengandung kontradiksi, misalnya mengklaim produknya terbuat dari bahan-bahan tradisional untuk kecantikan perempuan Indonesia tetapi model iklannya adalah para gadis blasteran.

Bahkan perusahaan kosmetika ini mengklaim jika produknya dengan nama yang cukup aneh di telinga kita: putih langsat.

Baca Juga  Efek Domino? Usaha membangkitkan kekuatan besar

Adanya perempuan bisa membawa dampak lain yang tidak kalah bilangan. Anorexia dan bulimia nervosa, dua jenis gangguan makan.

Sebuah panduan gangguan psikiatris, merupakan gangguan yang boleh dikatakan ‘khas’ wanita.

Gangguan makan ini bukan hanya berbahaya secara psikologis, melainkan juga secara fisik dapat mengancam kematian.

Diet ketat, bedah plastik, dan sedot lemak juga dapat mengancam nyawa perempuan.

Rasa rendah diri, kecemasan, dan depresi banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Ditemukan pula bahwa ketiga kondisi ini banyak terjadi pada perempuan pasca melahirkan dan menopause.

Lantas salahkah wanita? Sakitkah wanita?

Bukan wanita yang salah, melainkan masyarakat. Bukan wanita yang neurotik, melainkan budaya.

Budaya kita telah mengkonstruksi perempuan menjadi objek tatapan laki-laki. wanita ini bersusah payah menjadi ‘cantik’ untuk memuaskan pandangan laki-laki. Perempuan dididik untuk mengikuti keinginan dan harapan laki-laki.

Perempuan merupakan korban dari budaya yang telah mengkonstruksinya menjadi wanita narsis.  Wanitanarsis menjadi obyek pentingnya sendiri.

Dia percaya bahwa dirinya adalah obyek sebagaimana ditegaskan oleh orang di sekitarnya.

Dia terpesona dan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri : wajah, tubuh, dan pakaiannya. Adalah budaya patriarkis yang telah menggiring wanita menjadi narsis dan neurotik.

Bahkan harus kita akui, terlahir sebagai perempuan dalam budaya yang telah dikonstruksi, hal-hal itupun sempat kita rasakan.

Terkadang kita cemas ketika tiba-tiba rasanya sulit mengendalikan nafsu makan kita yang cukup besar, tiba-tiba pakaian mulai kesempitan, atau perut mulai membengkak.

Kadang kita kesal dengan diri sendiri yang tidak pandai berdandan meski hanya sekedar mengulas maskara.

Sampai akhirnya pada suatu titik kita berhenti dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita mau menjadi korban budaya yang sakit ini?

Namun tentunya tidak hanya berhenti pada menyalahkan budaya yang telah menyuburkan penekanan terhadap kebertubuhan wanita. Konstruksi budaya semacam ini seharusnya didekonstruksi.

Kita melihat sudah mulai ada iklan-iklan produk yang cukup baik dalam mendekonstruksi kecantikan wanita.

Produk sampo merek Dov* misalnya yang menampilkan bintang iklan yang adalah perempuan ‘biasa’.

Baca Juga  Selingkuh: Wanita Dan Pria, Mana Yang Lebih Dominan?

Dov* juga menampilkan model tidak hanya dengan satu jenis rambut, yaitu rambut panjang nan lurus.

Tapi dalam iklan Dov* ada rambut ikal, berombak, lurus, panjang, dan pendek.

Body Shop juga cukup konsisten dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan.

Semoga saja masih ada produk-produk lain yang mau mengikuti jejak kedua produk tersebut sehingga kecantikan wanita dapat didefinisikan ulang. Bahkan sebaiknya makna juga diperluas sampai melampaui kebertubuhan.

Perempuan, Tubuh dan Kecantikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Manfaat Memaafkan dan 5 Langkah Mudah Memulainya

Memaafkan seseorang bukanlah hal yang memalukan. Dalam memaafkan idealnya sikap dan perasa…