Pengertian, Sejarah, dan Aliran Feminisme Lengkap

Feminisme merupakan ideologi yang sudah berkembang di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Feminisme juga telah memasuki ruang-ruang kehidupan, termasuk dalam karya sastra.

Sumber: provoke-online.com

Pada dasarnya feminisme adalah suatu ideologi yang memberdayakan perempuan. Perempuan juga bisa menjadi subjek dalam segala bidang dengan menggunakan pengalamannya sebagai perempuan dan menggunakan perspektif perempuan yang lepas dari mainstreamkultur patriarki yang selalu beranjak dari sudut pandang laki-laki.

Pembahasan mengenai feminisme dalam artikel akan diarahkan pada pembahasan mengenai pengertian, sejarah,dan aliran-aliran feminisme; feminisme dalam sastra, dan kondisi perempuan dalam masyarakat.

Baca Juga: Pengen Sukses Dalam Usaha? WAJIB BACA: 7 Sifat Rahasia Entrepreneur Dunia

Trik membaca masa depan

Pengertian Pendidikan Inklusi, Masyarakat Inklusi dan Lingkungan inklusi Lengkap

Faktanya Ada7 Tipe Kesepian Yang Dialami Orang. Tipe Manakah Anda? Kesepian, Pengertian, Tipe, Faktor Dan Cara Mengatasinya.

A. Pengertian Feminisme

Sumber: www.medium.com

Sebagian masyarakat masih berasumsi feminisme adalah gerakan pemberontakan kaum perempuan terhadap kaum laki-laki.

Feminisme dianggap sebagai usaha pemberontakan kaum perempuan untuk mengingkari apa yang disebut sebagai kodrat atau fitrah perempuan, melawan pranata sosial yang ada, atau institusi rumah tangga, seperti perkawinan dan lain sebagainya.

Berdasarkan asumsi  tersebut, gerakan feminisme tidak mudah diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap konsep feminisme tersebut perlu diluruskan.

Pemahaman konsep terhadap feminisme yang sesuai diharapkan akan membuka cakrawala masyarakat tentang gerakan feminisme secara seimbang.

Feminisme adalah berarti memiliki sifat keperempuan. Feminisme diwakili oleh persepsi tentang ketimpanganposisi perempuan dibandingkan laki-laki yang terjadi di masyarakat.

Akibat dari persepsi itu, timbul berbagai upaya untuk mengkaji ketimpangan tersebut serta menemukan cara untuk menyejajarkan kaum perempuan dan laki-laki sesuai dengan potensi yang dimiliki mereka sebagai manusia.

Para feminis mengakui bahwa gerakan feminisme merupakan gerakan yang berakar pada kesadaran kaum perempuan.

Perempuan sering berada dalam keadaan ditindas dan dieksploitasi sehingga penindasan dan eksploitasi terhadap kaum perempuan harus diakhiri.

Sumber: theconversation.com

Selain itu, gerakan feminisme dalah  untuk memperjuangkan kesetaraan dan kedudukan martabat perempuan dengan laki-laki, serta kebebasan untuk mengontrol raga dan kehidupan mereka sendiri baik di dalam maupun di luar rumah.

Sebenarnya feminisme adalah konsep yang timbul dalam kaitannya dengan perubahan sosial (social change), teori-teori pembangunan, kesadaran politik perempuan dan gerakan pembebasan kaum perempuan, termasuk pemikiran kembali institusi keluarga dalam konteks masyarakat modern dewasa ini.

Pendapat lain  mengatakan bahwa feminisme adalah paham yang ingin menghormati perempuan sehingga hak-hak dan peranan mereka lebih optimal dan setara, tidak ada diskriminasi, marginalisasi  dan subordinasi.

Feminisme adalah sebagai suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuanmaupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut sehingga terjadi suatu kondisi kehidupan harmoni antara laki-laki dan perempuan, bebas dari segala bentuk subordinasi, marginalisasi, dan diskriminasi.

Secara etimologis, feminisme berasal dari kata Femme (woman), perempuan (tunggal) yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial.

Feminisme adalah paham perempuan yang berupaya memperjuangkan hak-haknya sebagai kelas sosial.Adapun dalam hubungan ini perlu dibedakan antara male dan female (sebagai aspek perbedaan biologis dan hakikat alamiah), masculine dan feminine (sebagai aspek perbedaan psikologis dan cultural).

Sementara itu,masculine–feminine mengacu kepada jenis kelamin atau gender sehingga he dan she.

Teori feminisme memfokuskan diri pada pentingnya kesadaran mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dalam semua bidang.

Teori ini berkembang sebagai reaksi atas fakta yang terjadi di masyarakat, yaitu adanya konflik kelas, ras, dan terutama adanya konflik gender.

Feminisme mencoba untuk menghilangkan pertentangan antara kelompok yang lemah yang dianggap lebih kuat.

Lebih jauh lagi, feminisme menolak ketidakadilan sebagai akibat masyarakat patriarki, menolak sejarah dan filsafat sebagai disiplin yang berpusat pada laki-laki.

Baca Juga  Pengen Sukses Dalam Usaha? WAJIB BACA: 7 Sifat Rahasia Entrepreneur Dunia

Teori feminisme memperlihatkan dua perbedaan mendasar dalam melihat perempuandan laki-laki. Ungkapan male female yang memperlihatkan aspek biologis sebagai hakikat alamiah, kodrati.

Adapun ungkapan masculine-feminine merupakan aspek perbedaan psikologis dan kultural.

Kaum feminis radikal-kultural menyatakan bahwa perbedaan seks/gender mengalir bukan semata-mata dari faktor biologis, melainkan juga darisosialisasi atau sejarah keseluruhan menjadi perempuan di dalam masyarakat yang patriarkhal.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan ditempatkan sebagai yang Lain atau Liyan, sebagai manusia kelas dua (deuxime sexe) yang lebih rendah menurut kodratnya.

Feminisme bukanlah upaya pembrontakan terhadap laki-laki, upaya melawan pranata sosial seperti institusi rumah tanggga dan perkawinan, ataupun upaya perempuan untuk mengingkari kodratnya, melainkan upaya untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan.

Dalam hal ini, sasaran feminisme bukan sekadar masalah gender, melainkan memperjuangkan hak-hak kemanusiaan.

Sumber: ultimagz.com

Gerakan feminisme merupakan gerakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur sosial yang tidak adil menuju keadilan bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Oleh karena itu, feminisme menghendaki kemandirian perempuan, tidak hanya tergantung kepada kaum laki-laki.

Dapat disimpulkan bahwa inti dari gerakan feminisme adalah kesadaran akan diskriminasi, ketidakadilan dan subordinasi perempuan serta usaha untuk mengubah usaha tersebut menuju suatu sistem masyarakat yang adil dan seimbang antara laki-laki dan perempuan.

Feminisme masa kini adalah perjuangan untuk mencapai kesetaraan harkat dan kebebasan perempuan dalam mengelola kehidupan dantumbuhnya baik di ruang domestik dalam rumah tangga maupun di ruang publik dalam lingkungan masyarakat.

Kaum feminis juga menuntut suatu masyarakat yang adil serta persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Dengan demikian, untuk bisa menjadi feminis tidak harus menjadi berjenis kelamin perempuan.Laki-laki pun bisa menjadi feminis asal mempunyai kesadaran dan kepedulian untuk mengubah ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Baca Juga: Teori Motivasi Kerja Menurut Para Ahli Lengkap!! Pengertian, Aspek, Teori, Faktor dan Daya Ukur Motivasi Kerja.

20+ Kumpulan Contoh Cerpen LENGKAP Berbagai Tema

B. Aliran- Aliran  Feminisme

1. Femenisme Radikal

Sumber: seventeen.com

Struktur dasar feminisme radikal adalah bahwa tidak ada perbedaan antara tujuan personal dengan politik. Artinya unsur-unsur biologi dan seks sebagai rangkaian kegiatan manusia yang alamiah yang sebenarnya bentuk dari sexual politics.

Ketidakadilan gender yang tidak dialami oleh kaum perempuan disebabkan oleh masalah yang berakar pada kaum laki-laki itu sendiri beserta ideologi patriarkinya.

Keadaan biologis kaum laki-lakilah yang membuat meraka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan kaum perempuan. Gerakan mengadopsi sifat-sifat maskulin dianggap sebagai kaum perempuan untuk sejajar dengan kaum laki-laki.

Menurut feminisme radikal, kekuatan laki-laki memaksa melalui lembaga personal, seperti fungsi produksi, pekerjaan rumah tangga, perkawinan, dan sebagainya.

Kekuasaan laki-laki terhadap perempuan tidak pernah disadari dan hal itu dianggap sebagai bentuk dasar penindasan terhadap perempuan.

Dengan kata lain, penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki.

Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas, seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat publik, masalah yang dianggap  paling tahu untuk diangkatke permukaan.

Gerakan feminisme radikal dapat diartikan sebagai gerakan perempuan yang bertujuan dalam realitas sosial. Oleh karena itu, feminisme radikal mempersoalkan bagaimana caranya menghancurkan patrisarki sebagai sistem nilai yang mengakar kuat dan melembaga dalam masyarakat.

Adapun strategi feminisme radikal dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut adalah pembebasan perempuan yang dapat dicapai melalui organisasi perempuan yang memiliki otonomi, serta melalui cultural feminism.

2. Feminisme Liberal

Sumber: liputan6.com

Feminisme liberal berawal dari teori politik liberal yang menghendaki manusia secara individu dijunjung tinggi, termasuk di dalamnya nilai otonomi, nilai persamaan, dan nilai moral yang tidak boleh dipaksa, tidak diindoktrinasikan dan bebas memiliki penilaian sendiri.

Baca Juga  4 Dampak Buruk Eksistensi Budaya Patriarki di Indonesia Bagi Perempuan

Feminism liberal sebagai turunan dari teori politik liberal. Pada mulanya Feminism liberal menentang diskriminasi perempuan dalam perundang-undangan.

Mereka menuntut adanya persamaan dalam hak pilih, perceraian, dan kepemilikan harta benda.Feminis liberal menekankan kesamaan antara perempuan dan laki-laki.

Asumsi dasar feminisme liberal adalah bahwa kebebasan dan keseimbangan berakar pada rasionalisme. Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Oleh karena itu, dasar perjuangan feminisme adalah menuntut kesempatan dan hak yang sama bagi setiap individu termasuk perempuan atas dasar kesamaan keberadaanya sebagai mahluk rasional.

3. Feminisme Marxis

Menurut perspektif feminisme marxis, sebelum kapitalis berkembang, adalah kesatuan produksi. Semua kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidupnya dilakukan oleh semua anggota keluarga termasuk perempuan.

Akan tetapi, setelah berkembang kapitalisme, industri dan keluarga tidak lagi menjadi kesatuan produksi.Kegiatan produksi dan barang-barang kebutuhan manusia telah beralih dari rumah ke pabrik. Perempuan tidak lagi ikut dalam kegiatan produksi.

Akibat dari hal itu adalah terjadi pembagian kerja secara seksual, yaitu laki-laki bekerja di sektor publik yang bersifat produktif dan bernilai ekonomis,sedangkan perempuan bekerja di sektor domestik yang tidak produktif dan tidak bernilai ekonomis.

Karena kepemilikan materi menentukan nilai eksistensi seseorang, sebagai konsekuensinya perempuan yang berada di sektor domestik dan tidak produktif dinilai lebih rendah daripada laki-laki.

Dengan demikian, salah satu cara untuk membebaskan perempuan dari ketidakadilan keluarga adalah perempuan harus masuk ke sektor publik yang dapat menghasilkan nilai ekonomi sehingga konsep pekerjaan domestik perempuan tidak lagi ada.

4. Feminisme Sosialis

q12w0-`Sumber: kumparan.com

Feminisme Sosialis merupakan sintesis dari feminisme radikal dan feminisme marxis.

Asumsi dasar yang dipakai adalah bahwa hidup di dalam masyarakat yang kapitalistik bukan satu-satunya penyebab utama bagi keterbelakangan perempuan.

Feminisme sosialis memandang bahwa perempuan mengalami penurunan (reducing process) dalam hubungan masyarakatnya, dan bukan perubahan radikal atau perjuangan kelas.

Gerakan feminisme sosialis lebih difokuskan pada penyandaran kaum perempuan akan posisi mereka yang tertindas.

Karena banyak perempuan yang tidak menyadari ketertindasan tersebut, perlu adanya partisipasi laki-laki untuk mengubah pandangan masyarakat tentang kesetaraan.

Tujuan feminisme soisalis adalah membentuk hubungan sosialis menjadi lebih lebih manusiawi.

5. Feminisme Rasa atau Feminisme Etnis

Feminism ras lebih mengedepankan persoalan perbedaan perlakuan terhadap perempuan kulit berwarna.

6. Feminisme Postkolonial

Dasar pandangan feminisme poskolonial berakar dari penolakan universalitas pengalaman perempuan.

Pengalaman perempuan yang hidup di negara dunia ketiga (koloni/bekaskoloni) berbeda dengan perempuan berlatar belakang dunia pertama.

Perempuan dunia ketiga menaggung beban penindasan lebih berat karena selain mengalami penindasan berbasis gender, mereka juga mengalami penindasan antar bangsa, suku, ras, dan agama.

Dimensi kolonialisme menjadi fokus utama feminism poskolonial yang pada intinya menggugat penjajahan, baik fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas masyarakat.

7. Feminisme Ortodoks

Feminisme Ortodoks dikenal sebagai feminisme gelombang kedua. Ciri dari feminisme ini adalah berkarakter sangat fanatik dan ortodoks dengan penjelasan-penjelasan wacana patriarki.

Kaum feminis garis keras ini begitu yakin bahwa segala sesuatu yang menyusahkan dan menindas perempuan berhubungan dengan patriarki.

Camille Paclia seorang professor studi kemanusiaan dari Universitas Philadelphia mengkritik sifat feminis ortodoks sebagai kelompok yang selalu menganggap perempuan sebagai korban.

Bagi kalangan feminis ortodoks, feminisme diartikan sebagai identifikasi dengan keinginan kesetaraan gender lewat perjuangan historis yang dicapai dengan advokasi melalui kegiatan politik.

8. Feminisme Postfeminisme

Kecenderungan feminisme ortodoks yang selalu melihat perempuan sebagai makhluk lemah dan tak berdaya sebagai korban laki-laki, tidak dapat diterima oleh perempuan-perempuan muda tahun 1900-an dan 2000 di beberapa negara maju.

Baca Juga  10 Kata Rasis Yang Tanpa Disadari Sering Kalian Ucapkan

Retorika feminisme yang melekat pada “ibu-ibu” mereka terutama di tahun 70-an di daratan Amerika dan Inggris telah membuat generasi kedua “bosan” dengan feminisme.

Feminisme seakan menjadi ukuran moralistik dan politik seseorang dan menjadi pergerakan kaum histeris, serta sangat mudah menuduh dan melabelkan seseorang dengan atribut ”tidak feminis”.

Kelompok inilah yang kemudian memperjuangkan postfeminisme.

Selain itu, kelompok ini tidak menekankan pada kesetaraan (equality) seperti kelompok FR, yaitu identitas dan gender, tetapi lebih menekankan pada perbedaan (difference).

Di sini dapat dipahami bila postfeminisme membawa paradigma baru dalam feminisme, dan perdebatan seputar kesetaraan ke perdebatan seputar perbedaan.

9. Feminisme Islam/Muslim

Sumber: magdalena.co.id

Yang tergolong tokoh-tokoh feminisme Islam adalah Riffat Hasan, Kamlah Bashin, Ninghat Said Khan (Mustaqim, 2008).

Feminisme dalam konteks Islam yang digagas Riffat adalah untuk pembebasan (liberation; taharrur) bagi perempuan dan laki-laki dari struktur dan sistem relasi yang tidak adil, dengan cara merujuk kitab suci (baca: Al Quran) yang diyakini sebagai sumber nilai tertinggi.

Aliran feminisme ini berkeyakinan bahwa karena Allah Mahaadil, tentu Islam membawa misi keadilan, keadilan terhadap siapapun, baik diantara sesama manusia yang berbeda agama maupun jenis kelamin.

Menurut aliran ini.Al-Quran hadir dengan mengedepankan wacana keadilan dan kesetaraan gender. Islam sesungguhnya lahir dengan suatu konsepsi hubungan manusia yang berdasarkan keadilan atas kedudukan laki-laki dan perempuan.

Gerakan feminisme Islam memiliki beberapa karakteristik. Adapun karakteristik feminisme Islam antara lain sebagai berikut.

  1. Feminisme Islam mendasarkan diri pada agama. Artinya bahwa feminisme Islam harus menyadari bahwa agama Islam (Al-Quran dan Hadits) merupakan sumber nilai dan pendukung terbaik dalam perjuangannya dan yang menjamin akan hak-hak perempuan.
  2. Feminisme Islam harus merujuk pada prinsip-prinsip ajaran Al-Quran sebagai sumber nilai tertinggi dan perilaku Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah.
  3. Feminisme Islam tidak bersikap chauvinistik. Artinya kaum feminis Islam tidak menekankan kekuatannya pada perempuan dengan mengabaikan potensi kekuataan laki-laki ataupun meruntuhkannya.
  4. Karena perempuan dan laki-laki sebenarnya diciptakan Tuhan sebagai mitra,mareka dapat saling melengkapi satu sama lain serta hidup secara harmonis menegakkan nilainilai keadilan dan kebenaran.
  5. Feminisme Islam memandang ajaran Islam secara integral dan menyeluruh. Artinya Al-Quran dan tradisi tradisi Islam yang pernah muncul dalam sejarah dapat dijadikan pisau analisis dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dengan mempertimbangkan konteks sosiokultural pada waktu itu dan konteks kekinian untuk melakukan kontektualisasi ajaran Islam

Pada dasarnya feminisme bukan merupakan pemberontakan kaum perempuan kepada laki-laki, upaya melawan pranata sosial, seperti institusi rumah tangga dan perkawinan atau upaya perempuan untuk mengingkari kodratnya, melainkan lebih sebagai upaya untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan.

Feminisme muncul sebagai akibat dari adanya prasangka gender yang menomorduakan perempuan. Anggapan bahwa secara universal laki-laki berbeda dengan perempuan mengakibatkan perempuan dinomorduakan.

Perbedaan tersebut tidak hanya pada kriteria biologis, melainkan juga pada kriteria sosial. Asumsi tersebut membuat kaum perempuan semakin terpojok.

Oleh karena itu, kaum feminis memperjuangkan hak-hak perempuan pada semua aspek kehidupan dengan tujuan agar kaum perempuan pada semua aspek kehidupan mendapatkan kedudukan yang sederajat yang setidaknya sejajar dengan kaum laki-laki.

Perkembangan aliran feminisme di Indonesia dapat dikatakan masih mengalami euphoria feminisme. Di Indonesia lebih berkembang politik gender sebagaimana yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya.

Hal ini disebabkan karena politk gender telah diakui oleh dunia melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Adapun feminisme berkembang secara sendiri-sendiri di setiap negara sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing negara tersebut.

 

Semoga Bermanfaat!!

 

Sumber: Feminisme

Feminisme Sebagai Teori Gerakan Sosial di Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Tipe-Tipe Fangirling Di Dunia

Halo Girls… kamu pasti punya temen yang suka nya fangirling terus atau mungkin kamu …