Punya Sahabat Broken Home? WAJIB BACA!!

Sebagaian besar orang memandang “Broken Home” itu adalah sebuah keluarga yang berantakan yang disebabkan oleh kedua orangtua yang tidak memposisikan anak mereka dengan masalah yang dihadapi.

Orang tua tidak memandang dampak baik atau buruknya perkembangan anaknya bahkan terkesan apatis terhadap pergaulan sang anak

“Broken Home” sendiri dapat dilihat dari dua sisi yaitu : pertama keluarga yang tidak utuh seperti kedua orang tua yang bercerai, atau salah satu orang tua meninggal.

Dan yang kedua adalah keluarga yang utuh tetapi kedua orang tua tidak sering dirumah, sehingga si anak tidak merasakan kasih sayang sebagaimana anak pada umumnya.

Sumber: www.tomblackford.com

 

Baca Juga: FAKTA tentang Berpikir (THINGKING). Pegertian, Jenis dan Proses Seseorang dalam Berpikir.

WARNING: BISA JADI ANDA STRESS!! Kenali gejala, penyebab dan cara penyembuhan!!

1. Pengertian Broken Home

Broken berarti ”Kehancuran”, sedangkan Home berarti ”Rumah” . Broken Home memiliki arti adanya kehancuran di dalam rumah tangga, secara umum yang disebabkan kedua suami istri mengalami perbedaan pendapat.

Trik membaca masa depan

Broken Home disini memiliki banyak arti yang bisa di karenakan adanya perselisihan atau percekcokan antara suami istri, akan tetapi tetap tinggal satu rumah.

Bisa juga bisa juga broken home diartikan kehancuran Rumah Tangga sampai terjadi perceraian kedua orang tua.

Pada beberapa kasus broken home yang keadaan masih tinggal serumah ataupun yang sudah bercerai tetap saja memberikan dampak yang buruk pada anak mereka, dimana sebetulnya anak masih memerlukan bimbingan orang tua sampai ia lepas masa lajang.

Akibat kondisi orang tua yang mengalami broken home, maka lebih banyak anak belajar banyak hal dari lingkungan, teman sebaya, dan bukan dari kedua orang tuanya.

Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur.

Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi.

Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka.

Remaja yang berada dalam keluarga yang tidak harmonis. Orang tua tidak lagi dapat menjadi teladan. Bisa jadi mereka bercerai, pisah ranjang atau keributan yang terus menerus terjadi dalam keluarga.

Broken Home merupakan kulminasi dari penyesuaian perkawinan yang buruk dan terjadi bila suami dan istri sudah tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak.

Perlu disadari bahwa banyak perkawinan yang tidak membuahkan kebahagiaan tetapi tidak diakhiri dengan perpisahan. Hal ini dikarenakan perkawinan tersebut dilandasi dengan pertimbangan agama, moral, kondisi ekonomi dan alasan-alasan yang lain.

Perpisahan atau pembatalan perkawinan dapat dilakukan secara hukum maupun dengan diam-diam dan kadang ada juga kasus dimana salah satu pasangan (suami, istri) meninggalkan keluarga.

Broken Home dapat terjadi apabila antara suami istri yang bersangkutan tidak mungkin lagi didamaikan untuk hidup rukun kembali dalam rumah tangga seutuhnya.

Keadaan seperti ini terjadinya broken home tidak secara tiba-tiba dan bukan proses yang mudah/ sederhana. Hal tersebut merupakan titik akhir dari suatu proses. Yang berlangsung lama dan adanya penyesuaian diri yang ekstrim.

Broken home mengakibatkan status seorang laki-laki sebagai suami maupun status seorang perempuan sebagai istri secara legal berakhir.

Tetapi tidak menghentikan status masing-masing sebagai ayah dan ibu terhadap anak-anaknya, karena hubungan antara ayah/ ibu dengananak-anaknya adalah hubungan darah tidak bisa diputus begitu saja lewat pernyataan kehendak.

Baca Juga  Autism Spectrum Disorder: Pengertian, Gejala dan Karakteristik Lengkap!

Broken Home dapat diakibatkan karena adanya konflik, terhambat komunikasi, hilangnya kepercayaan dan kebencian merupaka tahap awal yang sangat berpengaruh pada struktur perkawinan menjadi tidak kokoh.

Broken Home dapat juga muncul karena ketidakmampuan pasangan suami istri dalam memecahkan masalah yang dihadapi (kurang komunikasi dua arah), saling cemburu, ketidakpuasan pelayanan suami/ istri, kurang adanya saling pengertian dan kepercayaan, kurang mampu menjalin hubungan baik dengan keluarga pasangan, merasa kurang dengan penghasilan yang diperoleh, saling menuntut, dan ingin menang sendiri.

 

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Broken Home

Sumber: www.icondfinder.com

Perceraian merupakan hal yang pada dasarnya tidak diinginkan semua orang, namun dengan berbagai sebab terpaksa perceraian di tempuh sebagai alternative terahir pemecahan masalah dalam suatu ikatan perkawinan.

Perceraian merupakan suatu peristiwa sosial yang sering terjadi di masyarakat. Perceraian dalam keluarga biasanya berawal dari adanya suatu konflik antara anggota keluarga. Bila konflik sampai titik kritis maka perceraian itu sulit terelakkan.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perselisihan dalam keluarga yang berakhir dengan perceraian.

Persoalan yang dimaksud antara lain:

  • Persoalan ekonomi
  • Perbedaan usia pasangan yang terlalu jauh
  • Keinginan untuk mendapatkan anak laki-laki
  • Perbedaan prinsip hidup
  • Perbedaan cara mendidik anak
  • Pengaruh dukungan social dari luar, baik dari tetangga, saudara atau
    sahabat

Alasan-alasan perceraian menurut pasal 39 ayat 2 UU perkawinan No. 1 tahun 1974 dan pasal 19 peraturan pemerintah No. 9 tahun 1975 adalah:

  • Salah satu istri atau suami melakukan zinah, mabuk, penjudi dan lain-lain.
  • Salah satu pihak meninggalkan selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin
    dan tanpa lasan yang sah ata u karena hal lain diluar.
  • Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  • Apapun sebab- sebabnya suatu pertengkaran yang terus menerus antara suami istri di dalam suatu perkawinan membuat perkawinan itu menjadi tidak bahagia bahkan mungkin akan menimbulkan kehancuran.
  • Salah satu pihak mendapatkan hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

Perceraian dalam suatu keluarga tidak selalu berdampak negatif. Sikap untuk menghindari situasi konflik, rasa tidak puas, perbedaan paham yang terus menerus, maka peristiwa perceraian itu satu-satunya jalan keluar untuk memperoleh ketentraman.

Tiga puluh tahun yang lalu, perceraian yang terjadi dan merupakan peristiwa yang memalukan. Zaman sekarang perceraian sudah merupakan hal yang biasa, lebih kurang separuh dari pernikahan berakhir dengan perceraian dan mempengaruhi kurang lebih 1 juta anak setiap tahunnya.

Pada masa sekarang stigma sebagai anak-anak kelurga “broken home” tidak lagi melekat pada diri anak-anak yang orang tuanya bercarai.

Perceraian membawa pengaruh yang sangat menyulitkan dan menyesakkan bagi diri anak tanpa peduli berapapun usia mereka, perceraian meninggalkan goresan yang dalam terhadap emosi seorang anak.

Faktor usia, jenis kelamin dan reaksi langsung jangka panjang turut menentukan bagaimana akibat dari suatu perceraian terhadap diri seseorang.

Baca juga: DEPRESI !! Kenali Gejala, Jenis Dan Cara Mengatasinya

3. Kondisi Anak Broken Home Dari Segi Usia

Sumber: www.klmlawoffice.com

a. Preschool Age Children (usia 2-6 tahun)

Sebagian besar anak-anak pada usia ini sangat terpengaruh dengan peristiwa perceraian orang tuanya mereka masih sangat membutuhkan perhatian dari orang tuannya, dan masih memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi.

Anak-anak akan menyalahkan diri sendiri dalam perceraian itu. Mereka percaya bahwa merekalah penyebab berakhirnya berakhirnya perkawinan orang tua mereka.

Baca Juga  10 Tips Menjaga Kesehatan Mental

Kecenderungan ini nampak diantara anak-anak usia pra sekolah yang perkembangan kognitifnya belum matang dan memiliki pola pikir yang egosentris.

Pada usia remaja, sebagian besar diantara mereka sudah melupakan peristiwa perceraian kedua orang tuanya dan sudah bisa mengatasi perasaan tegang dan takut, yang mereka rasakan saat terjadinya perceraian.

Mereka lebih tegar menghadapi kehidupan dibandingkan dengan anak-anak yang mengalami perceraian orang tua pada usia yang lebih tua.

b. Younger Elementary School Age Children (7-8 tahun)

Anak-anak tidak lagi menyalahkan diri sendiri berkaitan dengan perceraian orang tuanya, namun mereka merasa tersisih, ditinggalkan dan kesepian.

Ekspresi perasaan mereka dengan anak-anak yang mengalami perceraian orang tua pada usia 2 – 6 tahun. Namun mereka kesulitan dalam mengatasi konflik perasaan antara marah, benci atau sedih terhadap salah satu dari kedua orang tuanya.

Anak-anak pada usia ini sering merasa khawatir bila membuat orang tuanya marah.

c. Older Elementary School Age Children (9-12 tahun)

Anak-anak lebih bias dapat memahami bahwa perceraian orang tua bukanlah kesalahan mereka, tidak lebih bias mengatasi emosi, misalnya dengan cara mencari teman sebanyak-banyaknya dan mengikuti berbagai macam aktivitas.

Namun umumnya mereka sering mereka kesepian walaupun mereka lebih mampu mengatasinya dibandingkan dengan anak-anak yang lebih muda usianya saat peristiwa perceraian orang tua terjadi.

Pada usia lain, konflik serta ketegangan yang timbul akibat perceraian orang tua membekas lebih mendalam dibandingkan dengan anak-anak yang lebih muda usianya saat perceraian orang tuanya terjadi.

d. Adolescence (13-18 tahun)

Banyak diantara remaja yang merasa sedih, marah, malu, putus asa dan merasa dihianati oleh kedua orang tuanya. Akhirnya remaja cenderung menjaga jarak dengan kedua orang tuanya selama setahun atau bahkan bertahun-tahun.

Kematangan seksual remaja wanita yang orang tuanya bercerai lebih cepat dibandingkan dengan wanita seusia mereka pada umumnya.

Dalam perkembangan seksualnya , remaja pria menjadi tidak aman dan terancam, seringkali mereka melampiaskan perasaan mereka melalui penggunaan obat-obat bius dan melakukan tindakan kekerasan.

Sebagian dari remaja pria lainnya memiliki superioritas yang berlebihan dalam menjalankan perannya sebagai pria.

Karena memiliki kematangan kognitif yang lebih baik, remaja mampu melihat perceraian orang tua sebagai masalah kedua orang tuanya dibandingkan dengan anak-anak yang lebih muda usianya.

Namun sering kali mereka lebih tidak percaya pada lembaga perkawinan itu sendiri.

e. College Age Student (18-22 tahun)

Secara intelektual mereka bisa menerima dan mengerti alasan mengapa perceraian kedua orang tuanya terjadi, namun pengertian ini tidak mengurangi perasaan emosi yang meningkat pada diri mereka.

Banyak mengalami depresi, stress dan memiliki perasaan tidak ingin melanjutkan sekolah karena alasan keinginan maupun emosional.

Mereka telah cukup dewasa untuk ikut berempati pada kedua orang tuanya namun sering merasa hawatir bahwa tidak ada  seorang pun diantara orang tuanya yang peduli dengan kepedihan dan perasaan bingung yang mereka alami.

4. Perkembangan Kepribadian Anak Broken Home

Sumber: www.accidentattorneysvermont.com

a. Perkembangan Emosi Anak

Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh. Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindarkan, agar emosi anak tidak menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman traumatis bagi anak .

Adapun dampak pandangan kelurga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut adalah :

  • Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain.
  • Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi
  • Peristiwa perceraian itu menimbulkan ketidak stabilan emosi.
  • Ketidak berartian pada diri remaja akan mudah timbul jika peristiwa perceraian dialami oleh kedua orang tuanya, sehingga dalam menjalani kehidupan Anak merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini.
Baca Juga  Gangguan Psikomatis: Gejala, Penyebab dan Cara Pencegahan

Anak yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh orang tua emosi marahnya akan mudah terpancing.

Hubungan antara kedua orang tua yang kurang harmonis terabaikannya kebutuhan remaja akan menampakkan emosi marah.

Jadi keluarga sangat berpengaruh pada perkembangan emosi Anak karena keluarga yang tidak harmonis menyebabkan dalam diri anak merasa tidak nyaman dan kurang bahagia.

b. Perkembangan Sosial Anak

Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat.

Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial Anak  adalah :

  • Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman.
  • Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cendrung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut.
  • Anak perempuan yang tidak mempunyai ayah berprilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.

Jadi keluarga broken home sangat berpengaruh pada perkembangan sosial anak karena dari keluarga anak menampilkan bagaimana cara bergaul dengan teman dan masyarakat.

c. Perkembangan Kepribadian Anak

Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak. Remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri :

  1. Berpilaku nakal
  2. Mengalami depresi
  3. Melakukan hubungan seksual secara aktif
  4. Kecenderungan pada obat-obat terlarang

Baca Juga: TERNYATA Tubuh Akan Mengalami 5 Hal Ini Saat Patah Hati!! Bagaimana Cara Menyembuhkan??

5. Penanganan Pada Anak Broken Home

a. Memperbanyak ilmu dan kebutuhan Rohani

Dengan medekatkan hubungan anak-anak kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimungkinkan rasa semua akan lancar. Tidak hanya dengan tuhan mempererat tali pertemanan dengan siapapun. Anak leboh percaya diri dan lebih tabah menghadapi persoalan yang membelit keluarga.

b. Dilatih Untuk Berpikir dan berprilaku positif

Memang mudah untuk mengatakan “semua masalah yang terjadi pasti ada hikmahnya dan ambil sisi positifnya” dan sulit untuk di jalankan. Tapi bukankah itu memang benar? Apalagi jika berhadapan dengan anak-anak.

Jelaskan pada mereka jika  masalah yang hadapi adalah proses pembelajaran menuju kedewasaan diri. Semua yang berawal dari yang baik akan menghasilkan kebaikan, berpikir positif dan berprilaku baik pun pasti akan menghasilkan kebaikan tentunya untuk dia sendiri dan orang disekitar dia.

c. Jadikan Anda tempat untuk berbagi untuk mereka

Jelaskan Pada mereka ada Anda, Orangtua, Paman, sahabat, teman, atau pacar yang bisa untuk mendengarkan keluh kesah dan memberikan nasehat yang baik terhadap mereka.

d. Awasi dan Bimbing Untuk Pelarian Yang Positif

Tidak ada salahnya jika Anda mencoba hal-hal yang baru dengan mereka, yang positif dong tentunya. Contohnya memberi peluang mereka mengembangkan kreativitas diri.

Mendukung mereka menjadi pelukis yang keliling kota untuk melukis pemandangan dari tengah kota sampai pelosok-pelosok kota, sehingga membuat otak mereka lebih fresh.

Atau melakukan kegiatan yang membuat Anda dan mereka lupa akan permasalahan yang mereka hadapi bahkan bisa membuat mereka menyelesaikan masalah dengan baik.

 

Semoga Bermanfaat!!

 

Sumber: Analisa Pelaku Remaja Dari Keluarga Broken Home

Problematika Interaksi Anak Brokenhome

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Proyeksi: Mekanisme Pertahanan Diri Manusia Dengan Kambing Hitam

 Istilah kambing hitam sudah sangat umum di telinga, dan kalian juga sudah paham jika kamb…