OCD (obsessive compulsive disorder) Gangguan Mental Yang Menarik

Pada artikel sebelumnya, penulis telah menulis tentang gangguan kecemasan atau istilahnya Anxiety Disorder dan berbagai jenis Anxiety Disorder gangguan kecemasan. Nah, OCD adalah salah satu gangguan mental yang menarik, apa itu? yuk kita bahas lengkap disini.

Kali ini, secara khusus penulis akan membahasa tentang salah satu jenis gangguan kecemasan yang paling common di alami orang yaitu, obsessive compulsive disorder atau lebih banyak di singkat dengan OCD.

Sumber: www.addiction.com

1. Pengertian dari OCD (obsessive compulsive disorder)

OCD adalah gangguan obsesiv kompulsif salah satu dari gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, bagi penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan.

Gangguan obsesif kompulsif ini dapat dialami oleh siapa saja. Meski lebih sering terjadi di awal usia dewasa.

OCD tidak hanya diderita oleh orang dewasa tapi juga bisa terjadi pada anak-anak atau remaja.

Faktanya, penderita OCD terkadang sudah menyadari bahwa pikiran dan tindakannya tersebut berlebihan, tetapi tetap merasa harus melakukannya dan tidak ada kontrol untuk menghindarinya.

🤐 Bongkar Rahasia Pesulap - ▶️ Tutorial Trik Sulap Prediksi

Seorang enderita OCD mungkin saja tidak menyadari kalau obsesinya tidak masuk akal. Namun, dia akan selalu merasa harus melakukan suatu tindakan tertentu itu untuk meredakan stressnya.

Kondisi psikologis tersebut stak jarang membawa rasa takut, bahkan rasa takut yang sangat berlebihan.

Meskipun dia telah berusaha keras untuk meredakan rasa takutnya, namun rasa takut itu tidak berkurang malah semakin bertambah. Gangguan psikis OCD ini merupakan penyakit mental jangka panjang.

Penyakit OCD ini ditandai dengan pikiran dengan tingkat ketakutan yang tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan penderita mengulang-ulang sebuah tindakan.

Misalnya, penderita yang merasa harus memeriksa kompor apakah sudah dimatikan lebih dari 3 kali sebelum keluar rumah. Atau menata baju menurut gradasi dan jenis warnanya dan diulang-ulang.

Menurut Studi, jumlah pasti penderita OCD sulit diketahui, karena penderita umumnya enggan berkonsultasi kepada Psikolog.

Jika Anda termasuk salah satu penderita OCD dan malu untuk berkonsultasi, tidak perlu malu dan menutupinya karena ada langkah-langkah terapi yang tepat terbukti efektif untuk menanganinya.

 

2. Dampak Gangguan dari Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Sumber: manhattanpsychologygroup.com

Dampak dari gangguan (OCD) berbeda-beda pada setiap orang. Tetapi kelainan mental ini biasanya menyebabkan pola pikir dan perilaku tertentu pada setiap orang.

Terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu:

  1. Obsesi (Pemikiran Berlebihan),
    Tahap obsesi muncul saat pikiran Kita terus dikuasai ketakutan atau kecemasan. Misalnya takut yang berlebihan jika nanti tertular penyakit.
  2. Kompulsi (Perilaku Pengulangan),
    Kemudian obsesi dan rasa tertekan akan memancing aksi kompulsi. Pada kondisi ini akan mendorong penderita untuk melakukan hal tertentu tujuannya untuk mengurangi rasa cemas dan tertekan. Seperti mencuci tangan berkali kali sebanyak lima kali.
  3. Merasa lega Sementara,
    Perilaku kompulsif tersebut tentunya akan membuat penderita merasa lega untuk sementara.
  4. Cemas.
    Obsesi akan menyebabkan kecemasan berlebihan. Maka penderita OCD akan kembali dan membuatnya mengulangi pola tersebut.
Baca Juga  Self Hipnosis : Cara mudah memprogram ulang pikiran bawah sadar Anda

Setiap orang pasti memiliki pikiran yang tidak menyenangkan atau negatif. Tetapi sebagian besar orang dapat melanjutkan hidup secara baik dan normal. hal itu dikarenakan keberhasilan dalam mengontrol pikiran dan membendung kekhawatiran tersebut.

Jika pikiran seseorang terus dihantui dan sangat dikuasai pikiran negatif, maka terdapat kemungkinan bahwa seseorangmengalami obsesi.

Jenis obsesi umum yang menguasai penderita OCD adalah:

  • Merasa takut terkontaminasi penyakit atau takut kotor
    Misalnya takut menyentuh benda yang sudah disentuh orang lain atau takut bersalaman.
  • Semua harus teratur dan simetris,
    Contohnya menyusun pakaian berdasarkan gradasi dan juga jenis warna.
  • Merasa takut jika tidak sengaja melukai diri sendiri atau orang lain,
    Seperti berulang kali memeriksa kompor karena takut menyebabkan kebakaran.
  • Muncul pikiran yang tidak diinginkan,
    Termasuk mengenai sikap agresif, seksualitas, keyakinan,serta agama. Misalnya mendadak ingin mengutarakan sumpah serapah tanpa alasan jelas atau tertekan karena sering membayangkan hal-hal seksual.

 

3. Gejala Penderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

ilustrasi ocd
Sumber: www.wikihow.com

Tanda dan Gejala OCD Obsessive Compulsive Disorder, yang paling umum terjadi adalah:

  • Rasa takut
    Misalnyai takut pada kotoran, kuman, api, atau kerusakan fisik
  • Ragu-ragu
    Misalnya suatu pekerjaan telah dikerjakan dengan benar, seperti mengunci pintu atau mematikan kompor
  • Pikiran tidak masuk akal
    Misalnya agresi, tindakan yang tidak pantas, atau tindakan seksual

Selain itu tanda dan gejala OCD (Obsessive Compulsive Disorder), yang paling umum terjadi adalah:

  • Keteraturan yang berlebihan
  • Pengecekan berulang- ulang
  • Penghitungan yang sistematis
  • Rutinitas-rutinitas kaku

Pada tahap awal OCD, cukup sulit untuk dikenali. Namun, setelah kondisi bertambah parah, gejala-gejala tersebut mulai muncul dan juga akan bertambah parah.

Anak kecil yang mengalami kondisi ini mungkin tidak akan menyadarinya. Namun bagi orang dewasa yang memiliki OCD biasanya menyadari adanya tekanan tersebut.

Penderita OCD juga umumnya melakukan tindakan repetitif (pengulangan) tertentu. Tujuannya adalah untuk mengurangi kecemasan, Tetapi perilaku ini sering sekali berlebihan atau tidak berhubungan secara akal sehat.

Contohnya:

  • Selalu bersih-bersih tanpa mengenal waktu.
  • Mencuci tangan berkali-kali sampai tangan lecet.
  • Menyukai keteraturan dan selalu ingin menghitung.
  • Berulang ulang kali memeriksa pintu, kompor, atau setrika.
  • Tidak ingin membuang barang walau sudah tidak terpakai.
  • Terus-terus bertanya untuk memastikan sesuatu.
  • Mengulang kata-kata atau doa-doa terntentu tanpa bersuara.

Seseorang yang mengalami OCD umumnya menyadari bahwa tindakan mereka itu tidak masuk akal. Tetapi mereka tidak bisa mengontrolnya. Sehingga dapat berakibat buruk pada kehidupan penderitanya.

Baca Juga  Mari Kenali Anxiety Disrorder atau Gangguan Kecemasan

Karena itu, sangat penting bagi seseorang yang mempunyai OCD untuk mencari bantuan guna mengatasi kondisinya.

Dengan penanganan yang tepat, seseorang yang di diagnosa OCD umumnya akan dapat mengatasi kondisi untuk memperbaiki kualitas hidup mereka.

4. Penyebab OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

Sampai saat ini, penyebab dari OCD (Obsessive Compulsive Disorder) masih belum diketahui kepastiannya. Tetapi, ada beberapa teori tentang hal ini.

b. Faktor Utama Penyebab OCD (Obsessive Compulsive Disorder) menurut teori

  1. OCD disebabkan karena faktor biologis.
    Seperti perubahan pada tubuh kita atau karena faktor keturunan. Jika kita memiliki orangtua atau saudara yang mengidap OCD, maka kita akan berisiko untuk menderita gangguan yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa OCD dapat muncul akibat gen keturunan tertentu yang mempengaruhi perkembangan otak.
  2. OCD disebabkan oleh faktor lingkungan.
    Seperti tekanan hidup dari lingkungan sekitar. faktor traumatis, seperti kehilangan anggota keluarga atau keretakan hubungan cinta. Hal tersebut dapat memicu OCD pada mereka. Akibat keturunan juga bisa. Walau tidak langsung menyebabkan OCD, stres berlarut-larut dapat memperparah gejala-gejala OCD.

Selain kedua faktor tersebut, ada beberapa faktor yang juga dapat memicu OCD. Di antaranya:

  • Pola asuh dan keluarga.
    Sikap orang tua yang terlalu protektif dapat meningkatkan risiko anak menderita OCD.
  • Kelainan pada otak.
    Kekurangan senyawa serotonin pada otak penderita OCD. Serotonin merupakan salah satu senyawa otak yang punya peran mengatur beberapa fungsi tubuh. Meliputi suasana hati, kecemasan, ingatan, dan pola tidur.

5. Diagnosis OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

macam-macam ocd
Sumber: www.thestraitstime.com

Biasanya Psikolog akan bertanya lebih dulu sekitar pikiran, perasaan, gejala, serta pola perilaku penderita OCD. Jika diduga positif, tahap selanjutnya adalah dengan pemeriksaan tingkat keparahan gejala oleh dokter spesialis.

Tingkat keparahannya dilihat dari:

  • intensitas perilaku-perilaku kompulsif,
  • waktu yang dihabiskan dalam melakukan perilaku kompulsif
  • sejauh apa gangguan itu dapat menguasai pikiran dibanding tindakan.

Sealin itu ada beberapa kategori yang dapat mendeteksi tingkat keparahan OCD, antara lain:

  • Merasa terganggu dalam skala berat
    di mana pikiran obsesif dan perilaku kompulsif menguasai seseorang selama lebih dari tiga jam dalam sehari.
  • Merasa terganggu dalam skala menengah
    di mana pikiran obsesif dan perilaku kompulsif menguasai seseorang selama 1-3 jam dalam sehari.
  • Merasa terganggu dalam skala ringan
    di mana pikiran obsesif dan perilaku kompulsif menguasai seseorang selama kurang dari satu jam dalam sehari.

Saran Bagi Keluarga Penderita OCD

Bila Anda memeliki kerabat atau teman yang merupakan penderita OCD, biasanya Anda akan menuruti tingkah lakunya. Karena Andaa tidak ingin membuat penderita OCD sedih atau tertekan. Sahabat serta keluarga penderita OCD cenderung menuruti kemauan mereka.

Baca Juga  Yuk Kenali Stress Lebih Dalam dan Cara mengatasinya

Namun sikap memanjakan dan menuruti itu bukanlah tindakan yang tepat. Karena dapat memperparah perilaku kompulsif mereka. Menentang dan menyadarkan penderita dari perilaku aneh mereka justru lebih berguna.

Anda juga sebaiknya menganjurkan mereka untuk mencari bantuan konsultasi Psikolog.

6. Penanganan dan Pengobatan OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

Langkah pengobatan pertama yang biasanya akan dijalani meliputi terapi perilaku untuk mengubah tingkah laku dan mengurangi kecemasan.

Selain itu juga obat-obatan untuk mengendalikan gejala-gejala yang dialami.

Cara Penanganan Pengobatan OCD Obsessive Compulsive Disorder

  1. Terapi Psikologi

    Psikoterapi meliputi metode yang disebut pembukaan dan pencegahan respon, atau lebih popular disebut Exposure and response prevention (ERP). Metode ERP ini dilakukan dalam lingkungan yang terkendali. ERP akan melibatkan upaya memaksa penderita untuk menghadapi ketakutan penderita sendiri. Atau memberikan pemicu dari kondisi penderita.

    Konsepnya dari Terapi ERP ini adalah penderita akan belajar untuk menghadapi ketakutan. Penderita diharapkan untuk mampu mengendalikan obsesi dan tekanan yang penderita rasakan.

    CBT meliputi terapi Pembukaan dan Pencegahan Respons (Exposure and response prevention/ERP) yang terbukti efektif untuk menangani OCD. Dalam terapi ini, sejumlah situasi yang menjadi pemicu kecemasan akan dideteksi. penderita akan menjalani pembukaan terhadap objek atau obsesi dan belajar mengatasi kecemasan. Tentunya dengan cara bertahap dengan cara yang sehat.

    Tahap Terapi Psikologi ini harus dilewati tanpa melakukan perilaku kompulsif yang biasa muncul. Hal itu untuk menghilangkan kecemasan sebagai penderita OCD. Proses ini memang terdengar menakutkan, tapi terbukti sangat membantu.

    Tingkat dan durasi kecemasan biasanya cenderung berkurang seiring jumlah latihan yang kita dijalani. Setelah berhasil menaklukkannya, kita dapat melanjutkan ke pemicu kecemasan yang lebih berat.

  2. Medis

    Obat-obatan juga mungkin dibutuhkan untuk menangani penderita tingkat OCD menengah atau parah. Obat-obatan jaga juga diperlukan CBT tidak cukup efektif. Jenis obat antidepresan yang seringkali digunakan.

    Penderita OCD perlu waspada karena beberapa obat antidepresan ini dapat meningkatkan kecemasannya. Sehingga dapat menimbulkan dorongan untuk bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Segera periksakan penderita ke dokter atau rumah sakit terdekat jika mengkonsumsi obat antidepresan dan mengalami dorongan-dorongan negatif tersebut.

    Kebanyakan, efek dari obat antidepresan baru akan terasa setelah berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Jika penderita tidak memberikan respon positif selama jangka waktu tersebut, maka kita perlu bekonsultasi dengan Dokter Psikiater.

Penting bagi penderita untuk berusaha mengendalikan hidupnya sendiri. Psikotrapi dan Obat-obatan akan membantu, meskipun OCD tidak dapat disembuhkan. Usaha serta Doa kepada Tuhan yang Maha Kuasa akan meningkatkan kemungkinan untuk dapat mengendalikan OCD.

 

Semoga Bermanfaat

 

Sumber:

Terapi Kognitif dan Perilaku Gangguan Obsesif Kompulsif

Kontruksi Identitas Penyangdang OCD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Regulasi Diri Dan Aspek Yang Mempengaruhi Manusia

Apa Itu Regulasi Diri? Regulasi diri berkaitan dengan bagaimana seseorang mengaktualisasik…