10 Model Pembelajaran, (Pengertian Dan Langkah-Langkahnya, Terlengkap)

Pembelajaran di kelas merupakan proses belajar antara murid dan guru. Seorang guru harus sedianya memiliki pengalaman belajar sebagai bahan instropeksi agar pembelajaran semakin baik dan kondusif.

Di sisi lain, peserta didik yang menjadi subjek belajar harus betul-betul menggunakan momentum pembelajaran sebagai ajang mengumpulkan dan menyempurnakan pengetahuan.

Dalam pembelajaran, berbagai strategi dilakukan oleh guru agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Kesiapan dalam pembelajaran, ketepatan dalam pemilihan model pembelajaran dan penguasaan materi menjadi kunci efektifnya pembelajaran.

Terkadang guru bingung dan bahkan galau untuk memilih model apa yang cocok untuk di terapkan pada saat mengajar di kelas. Nah kali ini jika anda seorang guru tak perlu khawatir lagi karena saya akan bahas 10 contoh model pembelajaran dan langkah-langkahnya!!

Sumber : www.dswinclusiveteacher.com

Namun, sebelum kita bahasa 10 macam-macam model pembelajaran ada baiknya mari kita ulas pengertian dari model pembelajaran itu sendiri.

Tonton ini, dan ingatan anda akan meningkat seketika

Model Pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Jadi, sebenarnya model pembelajran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.

Silahkan pilih salah satu model di bawah ini yang cocok untuk diterapkan pada murid-murid anda di kelas. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: 5 Gaya Belajar Manusia Yang Wajib Kalian Tahu

25+ Macam Metode Pembelajaran ( Pengertian Dan Penjelasan Terlengkap )

Model Pembelajaran Inquiry, Pengertian dan Langkah-langkahnya Menurut Para Ahli (Terlengkap)

Model Pembelajaran Discovery Learning (Pengertian, Jenis, Langkah-langkah, Kelebihan dan Kekurangan) Lengkap!

Model Pembelajaran Kooperatif (Pengertian, Tujuan, Teknik, Kelebihan dan Kekurangan) Lengkap!

1.  PICTURE AND PICTURE

Metode picture and picture adalah suatu model belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Model pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar.

Model pembelajaran picture and picture merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran picture and picture ini dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan tentunya dengan kemasan dan kreatifitas guru. Sejak di populerkan sekitar tahun 2002, model pembelajaran ini mulai menyebar di kalangan guru di Indonesia. Dengan menggunakan model pembelajaran tertentu, maka pembelajaran menjadi menyenangkan. Selama ini hanya guru sebagai aktor di depan kelas, dan seolah-olah gurulah sebagai satu-satunya sumber belajar.

A. Langkah-langkah :

  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai

Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. disamping itu guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.

  • Menyajikan materi sebagai pengantar

Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.

  • Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi

Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energi kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangakan selanjutnya sebagai guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu.

  • Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis

Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan. Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi.

  • Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut

Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indikator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik. 

  • Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi  yang ingin dicapai

Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indikator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indikator yang telah ditetapkan.

  • Kesimpulan/rangkuman

Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.

B. Kelebihan

  • Materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat terlebih dahulu.
  • Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari.
  • Dapat meningkat daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa disuruh guru untuk menganalisa gambar yang ada.
  • Dapat meningkatkan tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan gambar.
  • Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru.

C. Kekurangan

  • Sulit menemukan gambar-gambar yang bagus dan berkulitas serta sesuai dengan materi pelajaran.
  • Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki.
  • Baik guru ataupun siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam membahas suatu materi pelajaran.
  • Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan gambar-gambar yang diinginkan.

2.  JIGSAW II (MODEL TIM AHLI)

Model pembelajaran jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil.
Jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
Pengajaran dengan jigsaw pertamakali dikembangkan oleh Elliot Aronson dan rekan-rekannya pada tahun 1978 kemudian dikembangkan oleh slavin pada tahun 1986a yang disebut dengan Jigsaw II dalam bentuk yang lebih praktis dan mudah.
Jigsaw II dapat digunakan apabila materi yang akan dipelajari berbentuk narasi tertulis. Pembelajaran ini sangat cocok untuk pelajaran ilmu social, literature, dan sebagian pelajaran ilmu pengetahuan alam, serta pelajaran bidang laiannya yang tujuan utamanya adalah penguasaan konsep.  Pengajaran (bahan baku) untuk jigsaw II biasanya harus berupa BAB, Cerita, biografi atau materi-materi narasi lainnya.

A. Langkah-langkah :

  • Siswa dibagi dalam  kelompok-kelompok kecil secara heterogen  4-5 siswa untuk bekerja secara tim
  • Para siswa diberikan tugas untuk membaca beberapa BAB atau Unit dan diberikan Lembar Ahli yang terdiri tas topic-topik yang berbeda yang harus menjadi focus perhatin masing-masing anggota tim saat mereka membaca.
  • Setelah selesi membaca, setiap siswa dari tim yang berbeda yang memiliki focus topic yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan topic mereka sekitar 30 menit.
  • Setelah selesai, para ahli tersebut kembali kepada tim mereka dan secara bergantian mengajari teman satu timnya mengenai topic mereka.
  • Para siswa menerima penilaian yang mencakup seluruh topic  dan skor kuis akan menjadi skor tim.

B. Jadwal kegiatan

  • Membaca, para siswa menerima topic ahli dan membaca materi yang diminta untuk menemukan informasi
  • Diskusi kelompok ahli, para siswa dengan keahlian yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok ahli
  • Laporan tim, para siswa kembali kepada kelompok mereka masing-masing untuk mengajari topic-topik merekan kepada teman satu tim.
  • Tes, para siswa mengerjakan kuis-kuis indovidu yang mencakup semua topic
  • Rekognisi tim, skor tim dihitung seperti dalam STAD
Baca Juga  Model Pembelajaran Kooperatif (Pengertian, Tujuan, Teknik, Kelebihan dan Kekurangan) Lengkap!

C. Kelebihan

  • Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.
  • Mengembangkan kemampuan siswa mengungkapkan ide atau gagasan dalam memecahkan masalah tanpa takut membuat salah.
  • Dapat meningkatkan kemampuan sosial: mengembangkan rasa harga diri dan hubungan interpersonal yang positif.
  • Siswa lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat karena siswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menjelaskan materi pada masing-masing kelompok.
  • Siswa lebih memahami materi yang diberikan karena dipelajari lebih dalam dan sederhana dengan anggota kelompoknya.
  • Siswa lebih menguasai materi karena mampu mengajarkan materi tersebut kepada teman kelompok belajarnya.
  • Siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam kelompok
  • Materi yang diberikan kepada siswa dapat merata.
  • Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif

D. Kekurangan

  • Siswa yang tidak memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi maka akan sulit dalam menyampaikan materi pada teman.
  • Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.
  • Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
  • Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
  • Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.
  • Penugasan anggota kelompok untuk menjadi tim ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
  • Keadaan kondisi kelas yang ramai, sehingga membuat siswa kurang bisa berkonsentrasi dalam menyampaikan pembelajaran yang dikuasainya.
  • Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi.
  • Jika tidak didukung dengan kondisi kelas yang mumpuni (luas) metode sulit dijalankan mengingat siswa harus beberapa kali berpindah dan berganti kelompok.
  • Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila penataan ruang belum terkondiki dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga menimbulkan gaduh serta butuh waktu dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.

3. EXAMPLES NON EXAMPLES

Example non example merupakan model pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi (Roestiyah, 2001: 73). Sementara itu, Slavin dalam Djamarah, (2006: 1)  menjelaskan bahwa Examples Non Examples adalah model pembelajaran yang menggunakan contoh. Contoh-contoh dapat diperoleh dari kasus atau gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.

   Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar

A. Langkah-langkah :

  • Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
  • Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP
  • Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
  • Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  • Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
  • Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
  • Kesimpulan

B. Kelebihan

  •  Siswa lebih berpikir kritis dalam menganalisa gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar
  • Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.
  • Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya yang mengenai analisis gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.

C. Kekurangan

  • Membutuhkan waktu yang cukup panjang
  • Siswa yang kurang pandai akan kesulitan untuk memahami
  • Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya, sehingga menyebabkan siswa tidak melakukan kegitan belajar yang diharapkan

4. COOPERATIVE SCRIPT 

Pembelajaran Cooperative Script merupakan salah satu bentuk atau model metode pembelajaran kooperatif. Dalam perkembangan pembelajaran Cooperative Script telah mengalami banyak adaptasi sehingga melahirkan beberapa pengertian dan bentuk yang sedikit berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, namun pada intinya sama. Beberapa pengertian pembelajaran Cooperative Script diantaranya Cooperative Script adalah skenario pembelajaran kooperatif (Danserau dalam Hadi, 2007).

Pembelajaran Cooperative Script adalah kontrak belajar yang eksplisit antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa mengenai cara berkolaborasi. Berdasarkan pengertian-pengertian yang diungkapkan diatas antara satu dan lainnya dengan maksud yang sama yaitu terjadi suatu kesepakatan antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa untuk berkolaborasi memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran dengan cara-cara yang kolaboratif seperti halnya menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan sosial siswa.

Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari

A. Langkah-langkah :

  • Guru membagi siswa untuk berpasangan
  • Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
  • Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
  • Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap
  • Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
  • Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
  • Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru

B. Kelebihan

  •  melatih pendengaran, ketelitian/kecermatan
  • setiap siswa mendapatkan peran
  • melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan

C. Kekurangan

  • Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
  • Hanya dilakukan dua orang
  • TIdak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hannya sebatas pada dua orang tersebut

5. MIND MAPPING

Model Pembelajaran Mind Mapping merupakan model pembelajaran yang dapat mengembangkan kreatifitas, keaktifan, daya hafal, pengetahuan dan kemandirian siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Metode Mind Mapping (Peta Pikiran) adalah adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita mengingat banyak informasi. Setelah selesai, catatan yang dibuat membentuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama di tengah, sementara subtopik dan perincian menjadi cabang-cabangnya.

Cabang-cabang tersebut juga bisa berkembang lagi sampai ke materi yang lebih kecil. Sebagaimana struktur keturunan manusia yang bisa berkembang terus sampai hari akhir tiba, sehingga terbentuklah sebuah system keturunan manusia hidup sampai hari akhir.

Belajar berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind Mapping) merupakan cara belajar yang menggunakan konsep pembelajaran komprehensif Total-Mind Learning (TML).

 

Sumber: www.dswinclusiveteacher.com

Pada konteks TML, pembelajaran mendapatkan arti yang lebih luas. Bahwasanya, di setiap saat dan di setiap tempat semua makhluk hidup di muka bumi belajar, karena belajar merupakan proses alamiah. Semua makhluk belajar menyikapi berbagai stimulus dari lingkungan sekitar untuk mempertahankan hidup.

Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban

A. Langkah-langkah :

  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  • Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
  • Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
  • Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papat dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
  • Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai  konsep yang disediakan guru

B. Kelebihan

  • Mengaktifkan seluruh otak.
  • Membersihkan akal dari kesusutan mental.
  • Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan.
  • Membantu menunjukan hubungan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah.
  • Memberi gambaran yang jelas pada kesuluruhan dan perincian.

C. Kekurangan

  • Waktu terbuang untuk menulis kata-kata yang tidak memiliki hubungan dengan ingatan.
  • Waktu terbuang untuk membaca kembali kata-kata yang tidak perlu (kurang lebih 90%).
  • Waktu terbuang untuk cari kata kunci pengingat.
  • Hubungan kata kunci pengingat terputus oleh kata-kata yang memisahkan.
  • Kata kunci pengingat terpisah oleh jarak.
Baca Juga  Pengertian Motivasi, Jenis, Fungsi, Faktor Dan Ciri-Ciri Menurut Para Ahli.

6. KOPERATIF TIPE LEARNING TOGETHER (LT)  

David dan Roger Johnson dari Universitas Minnesota mengembangkan model learning together dari pembelajaran kooperatif. Metode yang mereka teliti meliputi siswa yang dibagi dalam kelompok yang terdiri atas empat atau lima kelompok dengan latar belakang yang berbeda mengerjakan lembar tugas, dan menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. David dan Roger  Johnson (dalam Slavin, 2008) menekankan pada empat unsur yakni :
  • Interaksi tatap muka : para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang,
  • Interdependensi positif : para siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan kelompok,
  • Tanggung jawab individual : para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka secara individual telah menguasai materinya
  • Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil : para siswa diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan mereka
Dalam hal ini penggunaan kelompok pembelajaran heterogen dan penekanan terhadap interdependensi positif, serta tanggung jawab individual metode-metode Johnson ini sama dengan STAD. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan menilai sendiri kinerja kelompok, dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya. Metode ini membagi siswa dalam kelompok heterogen dengan 4 – 5 anggota. Setiap kelompok ini menerima satu lembar tugas, menerima pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok.

A. Langkah – Langkah

Adapun sintaks dari Learning Together adalah:
  • Guru menyajikan pelajaran.
  • Membentuk kelompok yang anggotanya 4 sampai 5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan lain-lain)
  • Masing-masing kelompok menerima lembar tugas dan menyelesaikannya.
  • Beberapa kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.
  • Pemberian pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok.

B. Kelebihan

  • Dapat meningkatkan kualitas kepribadian anak-anak dalam hal kerjasama, saling menghargai pendapat orang lain, toleransi, berfikir kritis, disiplin dan sebagainya
  • Menumbuhkan semangat persaingan yang positif dan konstruktif, karena dalam kelompoknya, masing-masing anak akan lebih giat dan sungguh-sungguh bekerja.
  • Menanamkan rasa persatuan dan solidaritas yang tinggi, sebab anak yang pandai dalam kelompoknya akan membantu temannya yang memiliki  kemampuan kurang dari dia demi nama baik kelompoknya.

C. Kekurangan

  • Metode ini memerlukan persiapan-persiapan yang agak rumit bila dibandingkan dengan metode-metode yang lain.
  • Bilamana terjadi persaingan yang negatif baik antar individu dalam kelompok maupun antar kelompok dalam kelas atau kelompok besar, maka hasilnya akan lebih buruk.
  • Bila terdapat anak yang pemalas atau anak yang ingin berkuasa dalam kelompok besar, kemungkinan akan mempengaruhi kelompoknya, sehingga usaha kelompok tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinnya

7. NUMBERED HEADS TOGETHER

Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) adalah suatu model pembelajaran yang proses pelaksanaannya guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen dimana guru akan menunjuk nomor siswa berdasarkan penomoran dalam kelompok untuk mengerjakan soal yang diberikan setelah proses pengerjaan soal bersama-sama dalam kelompok tanpa memberitahu siswa terlebih dahulu sehingga semua siswa secara tidak langsung harus bertanggung jawab secara pribadi kepada keberhasilan di setiap anggota kelompoknya  masing-masing.

Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.

 

Sumber: www.dswinclusiveteacher.com

A. Langkah-Langkah

    Terdapat empat tahap pelaksanaan teknik NHT yaitu “penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab”.Rencana pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
  • Penomoran 
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan tiga sampai lima orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5 sehingga setiap siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok.
  • Mengajukan Pertanyaan
Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.
  • Berpikir Bersama
Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masingmasing pertanyaan.
  • Pemberian Jawaban
Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

B. Kelebihan

  • Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi/siswa secara bersama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
  • Siswa pandai maupun siswa lemah sama-sama memperoleh manfaat melalui aktifitas belajar kooperatif.
  • Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi pengetahuan akan manjadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada kesimpulan yang diharapkan.
  • Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.

C. Kekurangan

  • Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah.
  • Proses diskusi dapat berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai.
  • Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.

8. PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

 

Sumber: www.dswinclusiveteacher.com

Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang mendorong untuk lebih aktif dan memaksimalkan kemampuan berpikir kritis untuk mendapatkan solusi dari masalah pada dunia nyata.

Dengan kurikulum PBL, dapat membuat mahir dalam memecahkan dan mengambil solusi dari suatu masalah, dalam kurikulumnya juga dirancang masalah-masalah yang memotivasi untuk mendapatkan pengetahuan yang penting sehingga memiliki strategi belajar sendiri serta kecakapan berpartisipasi dalam kelompok diskusi.

Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau tantangan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan Pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning merukan sebuah model pembelajaran yang berpusat pada siswa. memposisikan siswa dengan berbagai macam masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. dengan menggunakan model pembelajaran seperti ini, siswa sedari awal di ajarkan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah seperti yang akan mereka temui di kehidupannya kedepan.

Problem Based Learning merupakan cara untuk menyajikan permasalahan sebagai titik tolak diskusi permasalahan, untuk kemudian dilakukan analisis dan di sintesis dalam kegiatan pemecahan masalah oleh peserta didik. permasalahan dapat diberikan oleh pendidik, kemudian pendidik bersama peserta didik bersama-sama untuk melakukan analisis dan memecahkan masalah tersebut.

A. Langkah-Langkah:

Problem Based Learning (PBL) akan dapat dijalankan bila pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan. Pelajar pun harus harus sudah memahami prosesnya, dan telah membentuk kelompok-kelompok kecil. Umumnya, setiap kelompok menjalankan proses yang dikenal dengan proses tujuh langkah:
  • Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas
Memastikan setiap anggota memahami berbagai istilah dan konsep yang ada dalam masalah. Langkah pertama ini dapat dikatakan tahap yang membuat setiap peserta berangkat dari cara memandang yang sama atas istilah-istilah atau konsep yang ada dalam masalah.
  • Merumuskan masalah
Fenomena yang ada dalam masalah menuntut penjelasan hubungan-hubungan apa yang terjadi di antara fenomena itu.
  • Menganalisis masalah
Anggota mengeluarkan pengetahuan terkait apa yang sudah dimiliki anggota tentang masalah. Terjadi diskusi yang membahas informasi faktual (yang tercantum pada masalah), dan juga informasi yang ada dalam pikiran anggota. Brainstorming (curah gagasan) dilakukan dalam tahap ini.
  • Menata gagasan secara sistematis dan menganalisis
Bagian yang sudah dianalisis dilihat keterkaitannya satu sama lain kemudian dikelompokkan; mana yang paling menunjang, mana yang bertentangan, dan sebagainya. Analisis adalah upaya memilahmemilah sesuatu menjadi bagian-bagian yang membentuknya.
  • Memformulasikan tujuan pembelajaran
Kelompok dapat merumuskan tujuan pembelajaran karena kelompok sudah tahu pengetahuan mana yang masih kurang, dan mana yang masih belum jelas. Tujuan pembelajaran akan dikaitkan dengan analisis masalah yang dibuat
  • Mencari informasi tambahan dari sumber lain
Saat ini kelompok sudah tahu informasi apa yang tidak dimiliki, dan sudah punya tujuan pembelajaran. Kini saatnya mereka harus mencari informasi tambahan itu, dan menemukan kemana hendak dicarinya.
  • Mensistesis (menggabungkan) dan menguji informasi baru dan membuat laporan.
Baca Juga  Hippocrates : 4 Karakter Manusia (Melankolis, Koleris, Plegmatis & Sanguinis) Pengertian dan ciri-cirinya!

B. Kelebihan

  • Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  • Meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa.
  • Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dunia nyata.
  • Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
  • Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  • Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  • Mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
  • Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia nyata

C. Kekurangan

  • Manakala siswa tidak memiliki niat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
  • Untuk sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin pelajari

9. STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) 

Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD  merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa inggris, teknik dan banyak subjek lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi
Tipe STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna untuk mencapai prestasi yang maksimal. Pada proses pembelajarannya, belajar kooperatif tipe STAD melalui lima tahapan yang meliputi :1) Tahap penyajian materi, 2) tahap kegiatan kelompok, 3) tahap tes individual, 4) tahap perhitungan skor perkembangan individu, dan 5) tahap pemberian penghargaan kelompok
Sumber: www.dswinclusiveteacher.com
A. Langkah-Langkah:
  • Penyampaian Tujuan dan Motivasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
  • Pembagian Kelompok
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, ras atau etnik.
  • Presentasi dari guru
Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru member motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.
  • Kegiatan Belajar dalam Tim (kerja Tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD.
  • Kuis (Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.
  • Penghargaan Prestasi Tim
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100.

B. Kelebihan

  • Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi yang substansial kepada kelompoknya
  • Menggalakkan interaksi secara aktif dan positif dan kerjasama anggota kelompok menjadi lebih baik
  • Membantu siswa untuk memperoleh hubungan pertemanan lintas rasial yang lebih banyak
  • Melatih siswa dalam mengembangkan aspek kecakapan sosial di samping kecakapan kognitif
  • Peran guru juga menjadi lebih aktif dan lebih terfokus sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator
  • Dalam model ini, siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar. Yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar
  • Dalam model ini, siswa saling membelajarkan sesama siswa lainnya atau pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) yang lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru
  • Pengelompokan siswa secara heterogen membuat kompetisi yang terjadi di kelas menjadi lebih hidup
  • Prestasi dan hasil belajar yang baik bisa didapatkan oleh semua anggota kelompok
  • Kuis yang terdapat pada langkah pembelajaran membuat siswa lebih termotivasi
  • Kuis tersebut juga meningkatkan tanggung jawab individu karena nilai akhir kelompok dipengaruhi nilai kuis yang dikerjakan secara individu
  • Adanya penghargaan dari guru, sehingga siswa lebih termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran.
  • Anggota kelompok dengan prestasi dan hasil belajar rendah memiliki tanggung jawab besar agar nilai yang didapatkan tidak rendah supaya nilai kelompok baik
  • siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar. Yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar
  • Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya atau pembelajaran oleh rekan sebaya (peerteaching) yang lebih efektif daripada pembelajaran oleh guru
  • Model ini dapat mengurangi sifat individualistis siswa.

C. Kekurangan

  • Pembelajaran menggunakan model ini membutuhkan waktu yang relatif lama
  • Model ini memerlukan kemampuan khusus dari guru. Guru dituntut sebagai fasilitator, mediator, motivator dan evaluator
  • Tidak semua guru mampu menjadi fasilitator, mediator, motivator dan evaluator dengan baik.

10. ARTIKULASI

Model pembelajaran Artikulasi merupakan model yang prosesnya seperti pesan berantai, artinya apa yang telah diberikan Guru, seorang siswa wajib meneruskan menjelaskannya pada siswa lain (pasangan kelompoknya).

Di sinilah keunikan model pembelajaran ini. Siswa dituntut untuk bisa berperan sebagai ‘penerima pesan’ sekaligus berperan sebagai ‘penyampai pesan.’

Model pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran dimana siswa dibentuk menjadi kelompok kecil yang masing-masing siswa dalam kelompok tersebut mempunyai tugas mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang baru dibahas.

Konsep pemahaman sangat diperlukan dalam mode pembelajaran ini.

A. Langkah-langkah :

  • Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  • Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
  • Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
  • Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya  mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
  • Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
  • Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
  • Kesimpulan/penutup

B. Kelebihan

  • Semua siswa terlibat (mendapat peran)
  • Melatih kesiapan siswa
  • Melatih daya serap pemahaman dari orang lain
  • Cocok untuk tugas sederhana
  • Interaksi lebih mudah
  • Lebih mudah dan cepat membentuknya
  • Meningkatkan partisipasi anak

C. Kekurangan

  •  Untuk mata pelajaran tertentu
  • Waktu yang dibutuhkan banyak
  • Materi yang didapat sedikit
  • Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
  • Lebih sedikit ide yang muncul
  • Jika ada perselisihan tidak ada penengah

Sumber:

Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hadi, Sutrisno. 2007. Statistik. Yogyakarta: Andi.

Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Penerapan Model Pembelajaran

Model-Model Pembelajaran

Apa Pendapatmu?

Check Also

Strategi Pembelajaran, Pengertian, Konsep Dasar dan jenis

  Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara siswa dengan lingkungannya. O…