merubah persepsi
NLP -

Framing – Teknik Merubah Persepsi Dengan NLP

Bagaimana cara kita untuk merubah persepsi orang lain atau-pun diri kita sendiri. Sebelum membahas hal itu, mari kita berkenalan dengan apa itu frame dalam NLP. Dan bagaimana kita bisa menggunakan frame ini untuk merubah persepsi atau yang sering disebut sebagai ‘framing’.

Sekarang kita coba bayangkan skenario ini, ada sebuah gambar mungkin tidak terlalu bagus atau bahkan sangat simple, mungkin hanya gambar dua buah kotak merah seperti berikut.

source : wikiart.org

Sebuah gambar yang sangat simple bukan?  Kalau anda melihatnya terlantar di pinggir jalan, maukah anda memungutnya?

Nah, sekarang coba kalo gambar itu di kasi frame, lalu di pajang di sebuah musium seni ternama? kira-kira jadi berapa nilai dari lukisan simple tersebut? ayo tebak!

Lukisan itu terjual sebesar 28 Million dollar atau mungkin setara dengan 114 Trilliyun rupiah.

Seperti dahsyatnya sebuah framing, hal ini bisa merubah penilaian kita terhadap suatu hal. Dan bisa sangat besar sekali efeknya. Dan sekali lagi, semuanya bisa digunakan untuk hal yang baik maupun hal yang sangat buruk. Teknik ini tentu juga bisa digunakan untuk mencuci otak orang lain jika dilakukan dengan tepat. Tolong berhati-hati.

Oke, jadi apa sih sebenarnya pengertian yang gamblang mengenai frame dalam NLP?

Frame adalah konteks dari suatu kejadian, objek ataupun gagasan. Click To Tweet

Kita tahu bahwa ketika kita memproses kejadian, objek ataupun gagasan tidak akan lengkap atau sepenuhnya objektif. Semuanya akan mengalami proses distorsi, deletion atau generalisasi sesuai dengan internal map kita (silahkan baca di NLP bagian 1).

Nah dengan memberikan konteks tertentu terhadap informasi yang masuk kita bisa mengarahkan bagaimana kita memproses informasi itu.

Sekarang kita akan membahas 7 jenis Frame dalam NLP.

Outcome Frame (Frame Hasil)

Outcome Frame adalah upaya kita memberikan suatu konteks berdasarkan hasil yang kita inginkan.

Misalnya anda ingin sukses jualan bakso, maka apa yang perlu anda lakukan untuk ‘sukses jualan bakso’.

Ketika anda sudah mengarahkan persepsi anda berdasarkan satu tujuan, maka anda tidak perlu membebani pikiran anda dengan kebingungan dari berbagai sudut.

Disini akan saya contohkan mengapa frame sangat powerful dan sangat berbahaya, bisa sangat membantu dan bisa sangat menyesatkan orang lain.

Baca Juga  Apa itu NLP - Teknologi untuk memprogram Pikiranmu

Beberapa hari yang lalu saya melihat sebauh status di beranda medsos saya.

Seseorang memberikan argumen tentang Hari Raya Kurban umat Muslim. Dia memberikan status yang berkesan

“Hanya demi pahala orang rela ‘menggorok hewan’ “

Anda lihat frame yang dia tujukan? dia mencoba merangkai sebuah kalimat yang tidak dia sadari, dia menginginkan hasilnya bahwa begitu butanya orang mengejar pahala sehingga menghalalkan segala cara.

Tentu hal itu tidak akan mempengaruhi banyak orang, tetapi akan sangat berpengaruh bagi orang yang memiliki internal map yang hampir sama dengan si pembuat status. Yang mungkin saja dia datang dari arah sebagai “pendobrak hal-hal lama ataupun open minded”.

Kalimat itu sangat manipulatif sehingga orang-orang yang sudah searah tidak mampu untuk memikirkan dari perspektif lain. Misalnya,

“orang juga rela menggorok hewan hanya demi pesta pora”,

“tujuan Idul Adha untuk orang mengorbankan hartanya agar semua warga bisa sama-sama makan daging di hari itu”

“Entah Idul Adha ataupun tidak kita juga menggorok hewan untuk makan, bukankah lebih baik menyembelih hewan itu untuk kebaikan sehingga kematian hewan itu ada nilainya di bandingkan hari-hari biasa”

Mungkin juga konteks kita memandang cara umat muslim melakukan penyembelihan hewan, bagaimana mereka memiliki ajaran misalnya dengan pisau tajam agar tidak terlalu tersiksa dan lain sebagainya.

Semua konteks dari arah itu tidak akan terpikirkan lagi bagi orang yang sudah termakan frame dari si pembuat status.

Ini mirip dengan teori-teori flat eart yang sama temui, ketika mereka menemukan satu percik hal yang mendukung kepercayaanya hal itu akan jadi sudut pandangnya, dan akan menolak sudut lainnya karena mungkin konteks yang dia terima tidaklah lengkap.

Misal mengenai kepercayaan mereka bahwa tidak adanya satellite, ketika mereka menemukan pernyataan bahwa google map menggunakan tower sinyal, mereka langsung membuat hal itu sebagai bukti bahwa tidak adanya sattelite.

Mereka tidak berpikiran kalau hal itu hanyalah pendukung sattelite, tidak mempelajari ilmunya mengapa hal itu mendukung ke akurasian sattelite.

Baca Juga  Apa itu Meta Model? Seni Bertanya dalam ilmu NLP

Bahkan mereka tidak akan sempat berpikiran kalau di gurun pasir tidak ada tower bagaimana menggunakan GPS kalau tidak ada sattelite, bagaimana GPS navigasi mobil dahulu sebelum smartphone, bagaiaman module-module elektronik GPS untuk drone, mainan RC bisa bekerja?

Mereka tidak akan menilisik sejauh itu, apa yang terlihat mendukung dari outcome yang mereka inginkan itu yang langsung mereka terima.

Jadi sudah pahamkah anda betapa bahayanya hal ini ?

 

Ecology Frame (Frame Ekologi)

Frame Ekologi sesuai namanya berhungan dengan ekologi lingkungan kita.

Jadi kita melihat konteks suatu kejadian atau suatu keputusan berdasarkan dampak ekologi yang tercipta dari kejadian/ keputusan itu.

Misalnya kita mendapatkan tawaran suatu pekerjaan, gajinya besar. Tetapi dampak ekologinya misalnya kita harus jauh dari teman atau keluarga, mungkin juga jam kerjanya yang mempengaruhi hubungan kita dengan lingkungan kita dan sejenisnya.

 

‘As If’ Frame ( Frame pengandaian)

‘As if’ Frame ini mungkin sejalan dengan sebuah kata mutiara ” Fake it until you make it” atau arti sekenanya “Berpura-pura sampai menjadi kenyataan”.

Dalam ‘As if’ Frame ini sangat bermanfaat untuk mendapatkan sebuah solusi yang baru dari suatu masalah, atau juga menambah keberanian kita untuk memutuskan suatu hal.

Misalnya kamu adalah sebuah pemimpin baru di suatu organisasi. Lalu ada suatu masalah yang lumayan berat dan susah untuk memutuskan harus bertindak seperti apa di kondisi seperti ini.

Dengan menggunakan ‘As if’ Frame, pertama kamu harus mencari sosok yang kamu anggap mumpuni dalam masalah yang sama. Misal kamu punya sosok pemimpin idola.

Lalu yang kamu lakukan adalah mencoba membayangkan, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sosok itu ketika menghadapi kondisi ini.

Keuntungannya, terkadang kamu akan mendapatkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya, atau kamu memiliki keberanian untuk memutuskan suatu keputusan yang sebenarnya sudah kamu pikirkan tetapi kamu masih ragu ataupun takut untuk memutuskan.

Kenapa bisa terjadi? karena seakan kita memberikan beban keputusan ini kepada sosok itu, dan atau secara bawah sadar kamu sebenarnya sudah mengetahui karakter sosok itu sehingga tahu apa yang kemungkinan ia pikirkan untuk menghadapi masalah ini.

Baca Juga  Apa itu NLP - Teknologi untuk memprogram Pikiranmu

 

Backtrack Frame (Frame kembali ke inti masalah)

Backtrack frame sangat berguna ketika kita berdiskusi, karena terkadang ketika kita rapat atau berdiskusi dengan banyak kepala maka akan sangat mudah sekali topiknya lari kemana-mana.

Dengan backtrack frame ini kamu mengajukan ke kelompokmu untuk kembali ke inti permasalahan atau ke target dasar dari apa yang kalian diskusikan.

Relevancy Frame (Frame Relevansi)

Relevancy frame ini hampir sama dengan backtrack frame, dan manfaatnya dalam diskusi atau rapat.

Relevancy frame ini di gunakan dengan mempertanyakan apakah hal itu relevan dengan apa dari tujuan diskusi ini.

Dan sebenarnya tidak hanya dalam suatu kelompok saja relevancy frame dan backtrak frame bisa dimanfaatkan. Tetapi ketika kita sedang merenung atau berpikir sendirian kita juga bisa menggunakan frame ini untuk tetap sejalur dengan masalah atau tujuan.

 

Contrast Frame (Frame Perbandingan)

Contrast frame ini digunakan untuk membandingkan dua atau beberapa hal. Mana yang paling relevan dan bagus untuk dipilih/ dilakukan.

Misalnya ketika kita ingin membeli TV merk tertentu secara online, maka kita bisa membawa contrast apa yang ada yang bisa kita pilih. Kita bisa membandingkan beberapa toko online, keunggulan dan kekurangannya.

 

Open Frame

Yang terakhir open frame. Ini biasanya di gunakan dalam seminar-seminar atau hal-hal serupa.

Open Frame digunakan untuk mendapatkan konteks baru, misal alih-alih kita membuat peserta seminar berkenalan dengan cara konvensional yang berupa nama, pekerjaan, alamat dan sejenisnya. Sebaliknya, kita membuat peserta seminar untuk mengutarakan apa yang saat ini dia rasakan, apapun yang terpikirkan suruh utarakan tanpa ada komentar ataupun menghakimi.

Dan tentu saja anda bisa manfaatkan untuk brainstorming ide baru. Open Frame ini lebih mencoba membaca kita untuk lebih spontan.

 

Oke sekian pembahasan dari frame dalam NLP, semoga bermanfaat dan anda sendiri bertanggung jawab atas apa yang anda pelajari. Jangan pernah berniatan buruk dan selalu jaga pikiran anda di dunia yang sangat terbuka ini. Karena banyak pengaruh yang mungkin tidak anda sadari.

Stay Aware!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 baca pikiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Apa itu Meta Model? Seni Bertanya dalam ilmu NLP

Meta model adalah singkatnya seni dalam menggali informasi dengan pertanyaan. Namun akan k…