Kenali Tanda-Tanda Disleksia Pada Anak Usia Dini Dan Penanganannya

1. Apakah Disleksia Itu?

Disleksia adalah suatu kondisi dimana sesorang menunjukkan kesulitan yang bermakna di area berbahasa termasuk mengeja, membaca, dan menulis.

Kesulitan ini tidak sesuai dengan kemampuan yang seharusnya merujuk kepada usia kronologis dan kemampuan intelegensinya yang (sedikitnya) normal.

Disleksia adalah ketidakmampuan bahasa, yang berpengaruh dalam hal membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan. Ini adalah disfungsi atau gangguan dalam penggunaan kata-kata.

Baca Juga: Gangguan Delusi: Tipe, Penyebab dan Pengobatan

Program Komputer Mengubah Sinyal Otak Menjadi Suara Buatan Bagi Penderita Gangguan Bicara

Tonton ini, dan ingatan anda akan meningkat seketika

13 + 1 Cara Mengasah Otak Kanan

2. Apa Saja Tanda-Tanda Disleksia Pada Anak Usia Dini?

Di usia dini, tanda tanda disleksia tentu saja bukan dilihat dari kemampuan membacanya karena anak pra sekolah kemampuan wicara yang sarat dengan artikulasi yang tidak tepat, misalnya kesulitan melafalkan ‘pemadam kebakaran’ menjadi ‘pedadam kebaran’, atau melafalkan ‘taksi’ menjadi ‘tasik’, atau melafalkan ‘jendela’ menjadi ‘tembela’, dan sebagainya.

Anak anak ini juga seringkali bercerita menggunakan terminologi yang tidak tepat, misalnya ‘aku gak mau berenang di kolam yang itu, sereeem…., kolamnya tebel’, tentu saja yang dimaksud dengan istilah ‘kolam tebal’ adalah ‘kolam yang dalam’.

Di usia sekolah, gejala disleksia mulai nampak sebagai kesulitan di area membaca, menulis dan berhitung. Biasanya kemampuannya di bidang ini senantiasa ‘tertinggal’ dibandingkan dengan teman sebayanya.

Anak sulit mengenali bentuk huruf, nama huruf, bunyi huruf, kesulitan membaca dan menuliskan kata-kata.

Seringkali jika menulis banyak huruf huruf yang hilang atau bahkan kehilangan beberapa kalimat saat menulis atau menyalin dari papan tulis ke bukunya.

Anak yang lebih besar lagi, bisa jadi sudah mampu baca tulis, namun membutuhkan usaha yang luar biasa untuk mampu memahami kosa kata dan konten dari isi bacaan yang memang belum dituntut untuk mampu baca. Maka di usia prasekolah gejala disleksia yang nampak adalah pada kemampuan berbahasa lisan.

Anak disleksia biasanya dilaporkan telat bicara dimana yang dimaksud adalah anak dengan kemampuan memahami berbagai instruksi sesuai usianya, namun memiliki kosa kata yang terbatas saat berbicara. Selain itu anak juga biasanya menampilkan dibacanya.

Baca Juga  TERNYATA Tubuh Akan Mengalami 5 Hal Ini Saat Patah Hati!! Bagaimana Cara Menyembuhkan??

Anak ini juga kesulitan menjawab pertanyaan deskriptif secara tertulis sekalipun mampu menjawabnya dengan jauh lebih mudah jika jawaban disampaikan secara lisan. Sebagian dari anak ini juga mengalami kesulitan dalam berhitung, sulit memahami komputasi sederhana, apalagi soal cerita.

Anak ini sulit melakukan estimasi atas jawaban matematika yang sederhana, dan sulit memahami berbagai istilah dan lambang operasional dalam matematika.

Selain itu, anak juga nampak grasa grusu, sangat berantakan dalam keseharian aktivitasnya, misalnya banyak buku yang ketinggalan, PR yang kelupaan, isi ransel yang berjatuhan, pensil atau tempat makan yang selalu hilang, sulit menumpukan perhatian dalam rentang waktu yang cukup sesuai usianya.

Anak ini juga sulit untuk mengerjakan segala sesuatu dengan urutan yang benar dan terstruktur.

Segala kegiatannya nampak rusuh dan juga tidak terampil dalam melakukan berbagai kegiatan yang membutuhkan ketrampilan  koordinasi motorik semisal menalikan sepatu, membuka tutup tempat makanannya, mengganti baju seragam dengan baju olah raganya lalu melipatnya dengan rapih, dan sebagainya.

Hal lain yang perlu dicermati sebagai bagian dari gejala disleksia nya adalah aspek perilakunya.

Anak disleksia biasanya menunjukkan kesulitan untuk berinteraksi sosial, anak ini cenderung janggal dalam pergaulan, tidak percaya diri untuk bergabung dengan kegiatan permainan dengan sebayanya.

Atau kejadian sebaliknya bisa terjadi. Anak ini justru tampil seperti anak yang agresif, sulit diatur, hanya jalan-jalan saja di kelas, tidak pernah mengerjakan tugas dari guru, provokator di kelas dan dijauhi teman-temannya karena perilaku negatifnya ini.

Waspadalah karena perilaku negatif yang disebutkan tadi bisa jadi merupakan cara anak untuk menghindar dari paparan terhadap tugas akademis yang dia tidak mampu mengatasinya.

 

3. Apa Penyebab Anak Disleksia?

Berbagai penelitian melaporkan bahwa faktor genetik berperan sangat signifikan pada kejadian disleksia. Seorang ayah yang disleksia mempunyai potensi menurunkan disleksia nya sebesar 40% kepada anak laki-lakinya.

Orang tua yang penyandang disleksia, dilaporkan sekitar 50% anak-anaknya juga menyandang disleksia, dan jika salah satu anak adalah penyandang disleksia dilaporkan 50% saudara kandungnya juga menyandang disleksia.

Baca Juga  Model Pembelajaran Inquiry, Pengertian dan Penerapannya Menurut Ahli

Banyak penelitian genetika yang menunjukkan adanya ‘gen disleksia’  yang kebanyakan ditemukan di kromosom 6 yang merupakan kromosom yang banyak bertanggungjawab atas terjadinya penyakit-penyakit autoimun.

 

4. Dukungan Untuk Anak Disleksia

Anak-anak disleksia membutuhkan seorang guru yang mengerti bagaimana frustasi dari anak-anak yang pintar, yang tidak mampu melakukan apa yang muridmurid lain lakukan dengan mudah yaitu membaca dan menghafal.

Mereka membutuhkan seseorang yang guru yang memahami bahwa kesulitan ini adalah karena perbedaan otak, bukan karena kemalasan, kurangnya kecerdasan, ataupun kurangnya motivasi.

Mereka membutuhkan seorang guru yang tidak akan menyerah pada mereka. Guru yang bersedia untuk belajar bagaimana mengajar semua kelemahan mereka.

Mereka juga membutuhkan guru yang tahu bahwa mereka menderita dari kecemasan yang ekstrim.

Lebih dari apa pun, siswa ini takut bahwa guru mereka akan membuat mereka terlihat bodoh di depan teman-teman mereka.

 

5. Peran Orang Tua Di Rumah Untuk Anak Disleksia

Yang dapat dilakukan orang tua di rumah adalah:

a.  Usahakan agar benar-benar aktif dalam mendampinginya dari waktu ke waktu

Penderita disleksia setiap saat akan menemukan kesulitan-kesulitan.

Dan bila kita biarkan mereka mencari jawabannya sendiri,maka ketika menemukan kegagalan demi kegagalan, si penderita justru akan menjadi semakin bodoh.

Keadaan tersebut akan memperburuk penyimpangannya.

b. Memberikan dorongan untuk mengembalikan kepercayaan dirinya

Penderita disleksia akan cenderung menghabiskan waktunya untuk mencari cara dalam usahanya untuk menguasai sejumlah materi pelajaran seperti, membaca, menulis dan hitungan-hitungan.

Perjuangan ini hanya akan tetap bertahan apabila kepercayaan dirinya terus terjaga

c.  Buatlah semenarik mungkin ketika mengajarinya membaca.

Hampir semua anak penderita disleksia tidak suka pelajaran membaca, karena membaca adalah pekerjaan yang paling berat bagi dirinya.

Carilah isi bacaan yang disukai oleh subjek, sehingga hal tersebut akan menjadi menarik bagi subjek untuk terus mambacanya walaupun sulit.

d. Berikan model peran , seperti orang-orang sukses yang disleksia

Model peran sangat penting mereka untuk meningkatkan semangatnya, dan tidak selalu harus Albert Einstein, karena mungkin itu terlalu kuno.

Baca Juga  Gangguan Delusi: Tipe, Penyebab dan Pengobatan

Ambilah misalnya Orlando Bloom, Jackie Chan, Mc Dreamy, Patrick Dempsey (ini adalah tokoh-tokoh pria sukses yang disleksia).

Untuk wanita bisa diberikan tokoh: Selma Hayek ,Jewel, Whoopi Goldberg yang tentu akan membangkitkan semangat dan harapan kesembuhan pada dirinya.

e. Bantu mereka dengan teknologi yang membantu.

Memberikan komputer saja untuk anak-anak disleksia tidak akan sangat membantu.

Berikan mereka software seperti Dragon Naturally Speaking atau Kurzweil 3000. Biarkan mereka belajar sampai ia benar-benar menguasainya .

f. Gunakan Metode Pendekatan Multi-Sensori.

Wilson Reading System. Orton Gillingham, dan Slingerland Approach merupakan pendekatan pengajaran Multisensori.

Mengajar mereka dengan pendekatan multi-sensori akan sangat membantu proses recoverynya. Ke enam cara ini bisa anda gunakan untuk bisa membantu mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Perceraian, Dampak Fisik Dan Psikologisnya Bagi Anak

Perceraian dalam keluraga tentunya menjadi masa yang sulit harus dilalui bagi setiap anggo…