Impostor Syndrome : Si Pintar Yang Merasa Dirinya Tak Layak

Impostor syndrome merupakan kondisi psikologis dimana orang tersebut merasa bahwa dirinya tidak pantas meraih kesuksesan yang telah dicapainya. Orang dengan syndrom ini akan selalu merasa khawatir, seolah suatu hari orang-orang akan tahu jika dirinya hanyalah seorang penipu yang tidak da hak untuk mengakui segala prestasi dan keberhasilan yang telah dicapainya.

Baca Juga:

Apa Itu Impostor Syndrome?

Dalam situs Psychology Today, Susan Weinschenk, Ph.D. seorang behavioral psychologist, penulis, dan juga konsultan neuropsikologi mendeskripsikan kondisi ini.

Istilah impostor syndrome pertama kali dilakukan penelitian oleh oleh psikolog klinis Dr. Pauline R. Clance dan Suzanne A. Imes pada tahun 1978.

Hal ini yang merujuk kepada kondisi yang dialami sebagian orang-orang berprestasi yang tidak mampu menginternalisasi pada pencapaiannya.

Ini ilmu yang ampuh. Sayang di lewatkan.

Ketakutan yang akan dianggap sebagai “penipu” juga terus menerus dialami oleh berbagai orang-orang ini.

Bukti-bukti tentang kesuksesan yang mereka terima dipandang sebagai suatu keberuntungan dan juga hal yang terjadi pada saat yang baik saja.

Tak jarang penderita merasa jika kesuksesan tersebut adalah hasil dari menipu orang sekitarnya sehingga mereka dianggap lebih pintar dan kompeten daripada yang sebenarnya mereka pikirkan.

Sejumlah psikolog juga mengatakan jika impostor syndrome jamak ditemukan dalam diri para wanita yang mencetak prestasi tinggi atau para siswa dengan rapor yang gemilang.

Penggagas The Leading Ladies Company, Amanda Brown, mengatakan hal yang berbeda dengan anggapan ini. Saat menjelaskan tentang impostor syndrome kepada Manchester Evening News, ia menyatakan, “Sama seperti wanita, para pria pun banyak yang mengalami impostor syndrome.

Perkaranya, sebagian orang tidak dapat mengenali istilah khusus terkait gejala yang mereka alami.

Selain itu, anggapan jika wanita lebih potensial mengalami ini muncul karena mereka lebih mungkin mendiskusikan perasaan mereka kepada teman dan juga keluarga dibandingkan laki-laki

Impostor syndrome mengakibatkan orang-orang yang bekerja lebih keras untuk mencegah orang mendapati mereka telah “menipu”.

Baca Juga  Belajar Membaca BAHASA TUBUH Bisa Bikin Ketagihan - Begini caranya!

Semakin banyak sebuah prestasi yang dikumpulkan, semakin tinggi pula kebutuhan untuk dan yang akan diterima dan juga diakui yang muncul dalam diri para penderita impostor syndrome. 

Tidak hanya itu, mereka juga bisa terobsesi pada gagasan bahwa diri mereka akan membuat kesalahan, mendapat umpan balik negatif, sampai kemudian mencicipi kegagalan.

Perasaan takut mencoba hal baru juga hal yang lumrah ditemukan dalam diri orang-orang dengan impostor syndrome.

 Selain itu, gangguan ini juga kerap dihubungkan dengan kecenderungan perfeksionis sebagian orang.

“Ketika pikiran-pikiran negatif (yang dialami penderita impostor syndrome) menghantui, mereka akan menghabiskan waktu dan energi untuk merundung diri sendiri dan pada akhirnya, menciptakan penilaian diri rendah,” jabar Brown. Jika impostor syndrome dibiarkan berkembang, potensi gangguan psikologis yang lebih parah dapat terjadi: kecemasan, stres, bahkan depresi.

Brown juga menambahkan, timbulnya impostor syndrome dipicu oleh banyak faktorPengalaman masa kecil, bos yang buruk, dan sejumlah pengalaman hidup lain adalah sebagian di antaranya.

impostor syndrome foto

Bagaimana Cara Mengatasi Impostor Syndrome?

Lantas, bagaimana mengatasi hal ini?

Selain itu strategi bisa dijajal oleh orang-orang yang merasa diri mereka mengalami impostor syndrome. 

Dikutip dari situs American Psychological Association, cara pertama yang bisa dilakukan adalah menceritakan pengalaman ini kepada orang-orang yang dianggap dipercaya dan kredibel, siswa kepada guru misalnya.

Saat menyadari bahwa kondisi yang dialaminya normal dan secara bersamaan, irasional, mereka akan dapat mencoba strategi berikutnya, yaitu dengan berbalik dan mengenali baik-baik nilai kepakarannya.

Mencari bantuan juga dari orang-orang yang lebih paham berpengalaman saja tidak cukup.

Terkadang, bekerja juga dengan orang-orang yang kemampuannya masih berada di bawah penderita yang menderita gangguan ini dapat membantu mereka menyadari bahwa ada hal-hal yang mereka kuasai betul.

Melihat dan mengenang kembali catatan perjalanan sebelum mencapai orang tersebut kesuksesan atau memperoleh sebegitu banyak pengetahuan dan pengalaman juga dapat menjadi dorongan internal untuk mengatasi gangguan ini.

Setiap kali gangguan ini menyerang, ingatlah kembali hal-hal yang orang katakan tentang kesuksesan yang telah diraih seperti yang dilakukan.

Baca Juga  Psikologi Pendidikan: Ruang Lingkup, Teori dan Manfaat

Yakinkan diri jika pencapaian-pencapaian yang ada bukanlah berkat menipu orang sekitar.

Kalaupun saat ini atau pada masa depan kegagalan menghampiri, orang-orang yang merasa mengalami impostor syndrome patut mengingat bahwa tidak ada satu orang pun yang sempurna.

Suzanne A. Imes, Ph.D. menyarankan jika orang-orang dengan imposter syndrome harus mengubah cara berpikir mereka tentang bagaimana kesuksesan dengan melakukan beberapa hal.

Misalnya, alih-alih menghabiskan 10 jam mengerjakan tugas, mereka juga bisa memotong dua jam dari berfokus pada hal yang sama.

Semakin lama orang yang menghadapi pekerjaan, makin berkembang kecenderungan dalam hal perfeksionis dan pikiran-pikiran ‘takhayul’ semacam ‘pekerjaan aku belum cukup sempurna dan mesti diperbaiki lagi’.

Cara lainnya, perhatikan draf pekerjaan yang sedang kalian tangani kepada teman untuk dikomentari. Ini akan menghindari potensi justifikasi dan juga pemikiran negatif yang membuncah di kepala para penderita impostor syndrome.

Dengan cara merefleksikan pengalaman sebagai salah satu penderita gangguan ini, Portman berkata, “seringkali, ketidakpercayaan diri dan juga perasaan yang kurang berpengalaman yang mengarahkan kalian untuk dapat mengamini ekspektasi, standar, atau nilai orang-orang lain.

Tetapi, kalian perlu mengendalikan perasaan tersebut agar bisa mengukir sendiri jalan kalian, jalan yang bebas dari beban mengetahui bagaimana bila sesuatu seharusnya menjadi.

Jalan yang tengah didefinisikan sendiri atas dan sebagai dasar dari alasan-alasan tertentu. Prestasi tentunya akan tampak indah jika kalian tahu kenapa kaalian melakukan sesuatu untuk memperolehnya. Dan bila kalian tidak mengetahuinya, prestasi bisa saja menjadi jebakan mengerikan.

Sumber: Impostor Syndrome, Cerdas Yang Tidak Merasa Cukup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Tanda-Tanda Hamil Yang di Alami Wanita Secara Psikologis

Tanda-tanda hamil yang ditunjukkan melalui perubahan fisik, umumnya para wanita akan langs…