Pengertian Ilmu Psikologi Dan Sejarahnya Lengkap!

1. Pengertian Psikologi

Psikologi berasal dan perkataan Yunani “psiche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam macam gejala, prosesnya maupun latar belakangnya.

Secara umum psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari semua aspek kelakuan manusia ditinjau dari semua sudut dan menyajikan prinsip-prinsip yang elementer, essensiil dan universil. Ia mempersoalkan inti dari jiwa manusia dan nilainya bagi manusia.

Secara umum manusia, dalam arti manusia yang susila, normal dan dewasa, diselidiki gerak gerik jiwanya ditinjau dari sudut perorangan terlepas dari hubungannya dengan masyarakat.

Dengan perkataan lain, untuk keperluan penyelidikan ini manusia diisolir dari masyarakatnya. Hasil dari penyelidikan ini termasuk psikologi umum. Secara khusus psikologi menyelidiki perbedaan-perbedaan dan gerak gerik perorangan dan kelainan-kelainan antara normal dan yang tidak normal.

Baca Juga: 9 CARA MENJADI GURU YANG BAIK DAN PROFESSIONAL

Tonton ini, dan ingatan anda akan meningkat seketika

Waspada! ini 11 Penjelasan Arti Mimpi Secara Psikologis

Trik Sukses Nge-blog Dengan Konsep Psikologi

Ilmu jiwa (psikologi) khusus ini mempunyai cabang-cabangnya yang menyelidiki:

  • Terjadinya dan perkembangan manusia susila, dewasa dan normal. Psikologi ini adalah psikologi genetis (genetis berarti terjadi)
  • Gerak gerik jiwa yang tidak normal, misalnya penjahat-penjahat (psikologi kriminal), orang yang cacat jiwanya (psikologi pathologis)
  • Gerak gerik jiwa orang yang tergolong dalam kelompok-kelompok tertentu seperti guru, anak-anak, seniman, bangsa, laki-laki/perempuan bangsa menurut daerah dsb. (psikologi sosial).
  • Gerak gerik jiwa orang dalam keadaan tertentu misalnya waktu bermain-main, waktu pertandingan, waktu ada hura-hura dsb.

Lebih lanjut akan dibahas defnisi Psikologi dari daratan eropa (lnggris). Makna kata psikologi bisa dimaknai dalam beragam batasan, antara lain:

  • Cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa. Cabang ini meliputi berbagai konsepsi: Aristoteles memberi tekanan-tekanan kepada kegiatan-kegiatan pikiran (mental operations). Gejala- gejala mental termasuk psikologi assosiasi. Psikologi Struktur dan Wundt juga mempelajari gejala-gejala mental. Psychology Gestalt mengenai ke dua-duanya.
  • Ilmu pengetahuan yang memperhatikan hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungan, memperhatikan response dan orgarlisme untuk menentukan sifat kesadaran.
  • Ilmu pengetahuan mengenai “aku“ Menekankan kepada kesatuan sifat dan organisme dan “aku”.
  • Ilmu pengetahuan yang secara sistimatis mengadakan penyelidikan atas kelakuan organisme (Psycholgi behavior).
Baca Juga  Regulasi Diri Dan Aspek Yang Mempengaruhi Manusia

2. Sejarah Ilmu Psikologi

Berbicara tentang sebuah ilmu tentu tidak akan terlepas dan pembicaraan sisi sejarah perkembangan disiplin tersebut. Demikian pula halnya dengan Psikologi, sejak awalnya telah memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang.

Paling tidak kalau dirunut asal muasalnya sejarah psikologi dimulai dengan sosok Aristoteles. Ia dianggap peletak dasar kajian tentang kejiwaan.

Meskipun sebelum dia banyak filsuf- filsuf Yunani yang mempelajari jiwa manusia, tetapi Anistoteleslah yang pertama-tama memberi keterangan-keterangan secara lengkap mengenai gejala-gejala hidup.

Psikologi Aristoteles adalah psikologi daya yang menyatakan, bahwa dalam jiwa itu da daya-daya tertentu: ingatan, fantasi, daya mengamati, daya mengabstraksi, daya berpikir dsb.

Sejak zaman purbakala jiwa telah menjadi obyek pertanyaan dan penyelidikan manusia. Di Yunani Kuno misalnya, pada ratusan tahun sebelum tarikh Masehi ahliahli fikir telah mencoba menyingkap tabir rahasia jiwa yang gaib itu dengan tinjauannya berdasarkan falsafah masing-masing.

Pada zaman itu psikologi belum merupakan ilmu yang berdiri sendiri, akan tetapi tenmasuk suatu cabang dan “induk ilmu” yakni filsafat. Segala sesuatu bersumber pada filsafat dan diuraikan bendasarkan filosofi.

Penyelidikan atau percobaan belum dilakukan dengan sempurna. Metode yang dipakai ialah metode deduktif dan ilmu jiwanya disebut ilmu jiwa filosofis. Yang menjadi obyek ialah hal-hal mengenai asal usul jiwa, ujud jiwa, akhir jadinya dan sebagainya.

Obyek- obyek ini adalah soal di luar alam nyata dan tidak berujud dengan nyata, penyelidikanpun juga tidak pada ilmu alam biasa/fisika. Oleh karena itu psikologi itu disebut limu jiwa metafisis, Tokoh yang sangat fenomenal dalam sejarah pengkajian kejiwaan mi adalah Aristoteles.

Dalam abad ke 17 sampai 19 psikolgi dipengaruhi oleh ilmu alam. Mereka menganggap bahwa jiwapun tunduk kepada hukum-hukum alam biasa. Maka mereka menyelidiki dan menguraikan proses dan pernyataan psikis menurut ketentuan dan hukum alam, yaitu hukum sebab akibat (kausal).

Gejala psikis adalah akibat perangsang dan luar serta perubahan otak dan syaraf. Terpengaruh oleh perkembangan ilmu kimia, yang menyatakan bahwa sesuatu itu terjadi dan zat terkecil dan unsur pokok.

Baca Juga  Model Pembelajaran Inquiry, Pengertian dan Penerapannya Menurut Ahli

Maka dalam ilmu jiwa dicari pula unsur terkecil yang menjadi elemen pokok bagi jiwa. Ahli-ahli itu berpendapat, bahwa jumlah atau kumpulan unsur-unsur mewujudkan keseluruhan atau kebulatan yang berarti.

Dengan demikian jiwa dianggap sebagai benda mati atau mesin saja, yang prosesnya berlangsung mekanis dan tunduk kepada hukum-hukum yang pasti. Manusia diperlakukan sebagai obyek belaka. Pribadinya tidak dapat mempengaruhi atau mengatur proses dan pernyataan psikisnya sendiri.

Perpaduan ini disebut assosiasi. Unsur-unsur berpadu dengan sendirinya menjadi suatu kebulatan (totalitet) menurut hukum-hukum asosiasi, yang kemudian disebut ilmu jiwa assosiasi.

Karena unsur-unsur/elemen-elemen yang berdiri sendiri itu kemudian menjadi satu kebulatan, yang berarti merupakan suatu mozaik (suatu yang tersusun dan bagianbagian lepas). Maka psikologi itu kemudian dinamakan ilmu jiwa mozaik atau ilmu jiwa keelemenan.

3. Tujuan Mempelajari Psikologi

Pada garis besarnya orang mempelajari ilmu jiwa adalah untuk menjadikan manusia supaya hidupnya baik, bahagia dan sempurna. Disadari bahwa ilmu jiwa sekarang ternyata telah memasuki bidang-bidang yang banyak sekali, banyak persoalan- persoalan yang dapat dibantu dan diselesaikan oleh ilmu jiwa. Misalnya persoalan- persoalan manusia yang hidup di pabrik, di sekolah, di sawah dan sebagainya.

Dengan ilmu jiwa manusia tidak ragu-ragu lagi mengubah cara-cara hidup, tingkah laku dan pergaulan dalam masyarakat. Dahulu orang menyangka, bahwa orang gila itu disebabkan karena badannya kemasukkan syetan, tetapi orang sekarang sudah berubah pendapatnya.

Dahulu orang menyangka, bahwa orang berbuat kejahatan itu hanya terdapat pada orang-orang dewasa saja, tetapi sekarang orang berpendapat bahwa kejahatan itu juga terdapat pada anak-anak, tersebab warisan dan orang tuanya.

Dahulu orang sering marah terhadap anaknya apabila tidak mau belajar, tetapi ahli-ahli psikologi sekarang tidak demikian.

Pada masa dahulu orang menyuruh anaknya belajar dengan pukulan-pukulan, tetapi orang sekarang tidak dengan pukulan dan kekerasan. Para ahli telah sependapat bahwa jiwa dan pembawaan manusia itu tidak sama.

Disamping itu masa peka bagi tiap-tiap anaknyapun juga tidak sarna. Maka harus ditinjau apakah anak itu sudah waktunya belajar atau belurn. Kalau memang belum waktunya, tentu mereka tidak akan mau belajar.

Baca Juga  Gangguan Kepribadian Paranoid: Penyebab, Obat, Pencegahan

Jadi tegasnya ilmu jiwa adalah bertujuan untuk memberi kesenangan dan kebahagiaan hidup manusia. Dan orang yang ingin sukses dalam segala-segalanya harus mengetahui dasar-dasar dan ilmu jiwa.

Misalnya:
a. Saudagar, penting mengetahui dasar-dasar jiwa, supaya dapat melayani pembeli dengan baik.

b. Hakim, tanpa mengetahui dasar-dasar jiwa tak mungkin mereka dapat menjatuhkan hukuman dengan bijak dan tepat.

c. Polisi, tanpa mengetahui dasar-dasar jiwa tak mungkin dapat mengetahui dan melaksanakan kepidanaan dengan baik.

Disamping hal tersebut di atas ilmu jiwa juga sangat penting dalam kalangan pendidikan, bahkan sangat erat hubungannya. Misalnya A mengajar si B aljabar. Di sini ada dua obyek, pertama Au harus mengetahui jiwa si B, di sisi lain A juga harus memiliki pengetahuan tentang ajabar.

OIeh karena itu adanya ilmu jiwa, maka timbullah soal-soal penting di dalam mengajar dan mendidik. Sebab soal mengajar dan mendidik harus benar-benar mengetahui jiwa seseorang.

Seperti halnya seorang dokter, di dalam mengobati seseorang harus mengetahui soal-soal urat syaraf, susunan tubuh dan sebagainya. Begitu juga sopir harus mengetahui tentang onderdil-onderdil mobil dan mesin-mesin dan sebagainya.

Dari uraian-uraian tersebut di atas dapatlah kita ambil kesimpuIan, bahwa tujuan dan gunanya mempelajari ilmu jiwa ialah:

a. Untuk memperoleh faham tentang gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih, sempurna tentang tingkah laku sesama manusia pada umumnya dan anak-anak khususnya.

b. Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia atau anak.

c. Untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.

 

Sumber: Psikologi Menurut Para Ahli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Psikologi Sosial: Teori, Metode dan Pendekatan Lengkap!

Psikologi Sosial adalah Ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tingkah laku individu dalam …