Gangguan Delusi: Tipe, Penyebab dan Pengobatan

A. Apa itu Gangguan Delusi?

Gangguan Delusi adalah jenis psikosis. Pasien terus-menerus mengalami delusi tunggal atau sistem.

Delusi, dengan sendirinya, adalah gejala psikotik di mana pasien terus-menerus meyakini keyakinan palsu tapi tetap teguh dipertahankan di dalam pikiran terlepas dari adanya bukti objektif yang menentangnya.

Satu hal yang harus diingat adalah: psikiater harus mempertimbangkan dengan sangat bijaksana dan cermat tentang budaya, latar belakang pendidikan dan agama serta pola asuh penderita.

Faktanya, beberapa ide-ide yang berlebihan bercampur dengan budaya, pola asuh, pendidikan atau agama mudah membingungkan dan bercampur dengan delusi.

Gangguan Delusi adalah jenis gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah psikosis.

Tonton Video - Cara Membaca Bahasa Tubuh

Psikosis yakni ditandai dengan ketidaksinambungan antara imajinasi,  pemikiran dan emosi, dengan realitas yang sebenarnya. Seseorang yang mengalami gangguan delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan.

Penderita gangguan delusi meyakini hal-hal yang sangat tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Meskipun sudah terbukti bahwa apa yang mereka yakini sebagai  penderita berbeda dengan kenyataan, namun penderita tetap berpegang teguh pada apa yang dipikirannya.

Untuk menjaga dan merawat pasien, diagnosa Gangguan Delusi harus dilakukan oleh psikiater.

Epidemiologi Gangguan Delusi lebih rendah daripada Skizofrenia.

Rasio pria-wanita sekitar satu banding satu, dengan jumlah wanita sedikit lebih tinggi daripada pria. Usia ketika awal serangan sekitar empat puluh tahun.

 

B. Apa saja Tipe Gangguan Delusi?

1. Penyiksaan

Penderita delusi ini merasa dirinya terancam karena yakin jika ada orang lain yang menganiaya dirinya, memata-matai dirinya, atau bahkan berencana mencelakai dia.

2. Murung / somatik

3. Cemburu

Pada jenis delusi ini, penderita percaya bahwa pasangannya tidak pernah setia kepada dirinya, padahal tidak di dukung dengan fakta apa pun.

4. Suka  membuat perkara

5. Referensial

6. Waham kebesaran (grandiose)

Penderitanya biasanya  memiliki rasa kekuasaan, identitas yang membumbung tinggi, serta meyakini jika dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau merasa memiliki talenta yang hebat.

Baca Juga  Pengertian Ilmu Psikologi Dan Sejarahnya Lengkap!

Selain itu, penderitanya juga bisa meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan sangat spesial atau memiliki relasi penting dengan figur yang hebat, misalnya hubungan dengan presiden atau selebriti terkenal.

Padahal kenyataannya tidak demikian dan tidak nyata.

7. Erotomania.

Penderita erotomania meyakini bahwa dirinya sangat dicintai oleh seseorang.

Sering kali terjadi, orang yang menjadi objek delusi adalah orang-orang terkenal atau berkedudukan penting seperti selebritis bahkan tokoh politik. Penderita biasanya menguntit dan berusaha melakukan kontak dengan objek delusinya

Baca Juga: Erotomania, Gangguan Mental Merasa Dicintai dan GE-R Akut

C. Apa penyebab Gangguan Delusi?

Penyebab gangguan delusi memang sangat rumit, tapi bebrapa faktor pembawaan sejak lahir dan keturunan tidak terpisahkan.

Dari sudut pandang fisiologi, sistem limbik pasien dan ganglia dasar di dalam otaknya mungkin mengalami cacat tertentu.

Namun, faktor yang paling penting adalah hambatan perkembangan psikososial, seperti pelecehan di masih kecil, ketidakmampuan membangun rasa saling percaya dengan orang lain, pola asuh patologis dan sebagainya.

Faktor lainnya termasuk kurangnya pendengaran, penglihatan yang buruk, imigrasi, pemisahan, curiga dan temperamen sensitif, perubahan degeneratif karena bertambahnya usia dan sebagainya.

D. Apa bentuk Gangguan Delusi?

Tanpa pengobatan yang tepat, delusi kemungkinan besar akan terus mengancam pasien sepanjang hidupnya.

Seseorang dikatakan menderita gangguan delusi jika mengalami gejala delusi setidaknya satu bulan sekali.

Gejala yang umum terjadi biasanya mudah marah dan emosinya tidak pernah stabil.

Gangguan seperti ini dapat bertahan dalam beberapa bulan, tetapi bisa juga bertahan lama dengan intensitas yang datang dan pergi.

Pada beberapa kondisi, gangguan delusi juga dapat disertai dengan halusinasi.

Misalnya, para penderita delusi yang merasa jika organ tubuhnya sedang membusuk bisa mengalami halusinasi berupa mencium bau busuk yang sebenarnya tidak pernah ada.

Atau biasanya merasakan sensasi lainnya yang berkaitan dengan apapun delusinya.

Efektivitas pengobatan Gangguan Delusi, meskipun tidak sebaik dibandingkan dengan Skizofrenia atau Gangguan Afektif, pengobatan masih bisa mencapai pemulihan sepenuhnya atau dalam 50% kasus mengurangi gejalanya.

Baca Juga  Mari Kenali Anxiety Disrorder atau Gangguan Kecemasan

Gangguan psikososial dalam Gangguan Delusi, meskipun substansial, derajatnya tidak separah dibandingkan dengan Skizofrenia.

Namun pasien sering menolak pengobatan karena kurangnya wawasan tentang penyakit mental mereka, sehingga membuat gejala mereka bertambah parah dan tertundanya pengobatan.

Baca Juga: Ingin Sukses? Pahami Dulu Cara Pengembangan Aktualisasai Diri

Mengenal Mythomania, Kelainan Psikologis Gemar Berbohong

Mengenal Postpartum Depression, Depresi Pasca Melahirkan

 

E. Apa pilihan pengobatan untuk Gangguan Delusi?

1. Pengobatan farmakologi

Pengobatan antipsikotik bisa mengurangi dan terkadang bisa menghilangkan delusi pasien.

Pengobatan ini juga mengurangi gejala gangguan mental seperti kecemasan, lekas marah dan gangguan tidur.

Karena banyak pasien yang bersikap skeptis terhadap pengobatan ini dan mereka sendiri mungkin rentan terhadap efek sampingnya, dosis pengobatan akan dimulai dari tingkat rendah dengan pengawasan dokter.

Dosis pengobatan lalu akan dititrasi secara perlahan untuk menghindari kecurigaan pasien terhadap dokter mereka.

Hubungan antara pasien dan dokter menjadi sangat penting karena sebagian besar pasien Gangguan Delusi tidak bersedia menerima pengobatan apapun.

Jika dokter bisa memperoleh kepercayaan pasien dan menjaga hubungan dokter-pasien yang baik; maka perlawanan pasien dalam pengobatan akan berkurang.

Meskipun mereka tidak percaya mereka menderita penyakit mental, mereka mungkin mendengarkan saran dokter untuk mengkonsumsi obat.

2 Psikoterapi

Biasanya, psikoterapi harus dilengkapi dengan pengobatan farmakologi untuk meghasilkan efek yang baik.

Terapis akan menghindari konfrontasi panas dengan pasien tentang isi delusi mereka, tapi merefleksikan kenyataan kepada pasien di waktu yang tepat.

Ketika menghadapi kasus pasien keras kepala, dokter yang menangani kasus bisa membantu mengarahkan pasien ke kehidupan yang lebih bahagia dan membiarkan mereka hidup secara damai dengan delusi mereka.

Dokter juga akan mencoba memahami kebencian, ketidakberdayaan dan rasa malu dalam hati pasien dan membantu mereka menyelesaikan frustasi dalam diri mereka.

Secara bersamaan, dokter akan mengajarkan pasien bagaimana menangani krisis dengan cara positif ketika mereka menghadapi tekanan tiba-tiba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Proyeksi: Mekanisme Pertahanan Diri Manusia Dengan Kambing Hitam

 Istilah kambing hitam sudah sangat umum di telinga, dan kalian juga sudah paham jika kamb…