contoh cerpen

20+ Contoh Cerpen Berkualitas Di Semua Tema (Lengkap)

Cerita Pendek – atau serignya di sebut ‘cerpen‘. Saat masih kecil dahulu, kebiasaan apa sih yang biasa kalian lakukan sebelum tidur? Beberapa diantara kalian mungkin terbiasa mendengarkan cerita yang dibacakan oleh orang tua. Di artikel ini kalian bisa membaca kumpulan contoh cerpen berkualitas di berbagai tema, entah untuk anda baca atau sumber referensi anda.

Nah, pernahkan terpikir untuk membuat cerita sendiri sebagai karya?

Atau yang sudah dewasa dan memiliki anak, pernahkah kamu berfikir untuk melakukan hal yang sama pada buah hati kalian?

Well, bagi kalian yang ingin membacakan cerita-cerita untuk si kecil, saat ini tak perlu lagi mencari buku cerita anak-anak

kumpulan contoh cerpen
Sumber: duniapendidikan.co.id

Melalui media internet pun kalian bisa membacakan cerita yang tak kalah menariknya. Bukan hanya cerita ringan khusus anak, cerpen yang banyak tersebar di internet juga bisa berupa cerita tentang kehidupan, cerpen islami, cerpen kisah cinta dan masih banyak lainnya.

Tonton Video - Cara Membaca Bahasa Tubuh

Yang pasti banyak sekali pelajaran yang dipetik dari cerita-cerita berikut.

Nah berikut ini adalah beberapa cerita pendek dari berbagai tema

 

Baca Juga:

 TERNYATA Tubuh Akan Mengalami 5 Hal Ini Saat Patah Hati!! Bagaimana Cara Menyembuhkan??

99+Kata-Kata Bijak Lengkap, Motivasi, Cinta, Romantis 2019+Bahasa Inggris

99+ Kata-Kata Cinta Terampuh 2019 Yang Bikin Klepek-Klepek

1. Contoh Cerpen Dengan Tema Kesabaran

Kepunyaanmu(Mu)

(Hamano)

Astaghfirullahal’adziim..
Astaghfirullahal’adziim..
Astaghfirullahal’adziim..

Tak henti-hentinya lantunan zikir membasahi bibirku. Kemudian lama sekali aku termenung, otakku seketika lambat mencerna semua hal yang terjadi. Beribu pertanyaan seakanakan saling bersahutan, namun lagi-lagi hanya bersembunyi di alam pikiran.

Dosa besar apa yang telah kulakukan? Apa yang kurang dari semua amalku? Atau, adakah orang yang terdzalimi olehku dan ia belum meridhoiku hingga saat ini? Selepas sholat ashar, kusentuh mushaf di sampingku.

Aku lantunkan ayat-ayat suci firman-Nya yang begitu indah. Memang, hal ini mampu membuat diriku berubah luar biasa. Rasanya seperti ada sungai yang mengalir di dalam jiwaku, sejuk dan menenangkan.

Rasa sakit yang menguasai jiwa ragaku berangsur-angsur pergi entah kemana. Dengan air mata yang masih tergenang, samar-samar kulihat sebuah buku mungil pemberian murobbi’ ketika liqo’ satu bulan yang lalu di Jogja.

“Ini buku catatan amalan harian kalian, jangan lupa diisi, ya. Kalau bisa, lampaui target amalan harian yang udah disepakati. Selamat beramal di bulan Ramadhan ya adekadek”

Senyumnya kemudian mengembang menyiratkan semangat untuk adik-adik yang ia bimbing agar terus melakukan amalan, berlomba-lomba dalam kebaikan. Aku tertegun lama sekali. Susah menyadarkan diri bahwa aku sekarang berada di kampung halamanku di Lebaksari, Sukabumi.

“Hmm.. sudah terisi lengkap, kok”,

aku bergumam sembari mengecek check list pada kolom amalan hari ini. Membaca buku, Tilawah, Sholat Dhuha, Sholat Tarawih, Zikir pagi dan petang, membantu orang tua, sedekah, semuanya sudah dilakukan.

Lalu, apa amalan yang masih belum kulakukan di bulan Ramadhan ini?

Memang pada hakikatnya setiap orang harus mempersiapkan amalan-amalan terbaiknya di bulan Ramadhan, namun setidaknya target amalan yang kulakukan pada Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu.

Tak dapat dibayangkan seberapa kurangnya penghayatan agamaku di masa lalu. Sepertinya kurangnya amal tak mampu menjadi dasar atas satu peristiwa yang aku alami hari itu. Ketika itu, usai mengerjakan Ujian Akhir Semester aku tergesa-gesa pulang ke kost.

Saat hendak membuka gerbang depan, baru kusadari handphone-ku lenyap dari dashboard motorku.

“Allahu Akbar!”,

spontan langsung aku menge-gas motor mencari handphone-ku yang sepertinya terjatuh di sepanjang jalan perjalanan pulang. Setelah bolak-balik selama tiga kali dari kost sampai gedung fakultas teknik UGM, usahaku akhirnya menuai hasil yang nihil.

Rasanya sudah lemas dan otak berkunang-kunang. Aku tidak takut kehilangan barangku sendiri, namun aku takut karena telah mengecewakan orang tuaku atas kesalahan yang sama.

Ini adalah kasus kehilangan handphone yang kedua kalinya dalam kurun waktu dua bulan. Tak henti-hentinya aku menyalahkan diri sendiri atas kecerobohan ini.

“Kamu kenapa, Rif?”,

sontak suara seseorang membuyarkan lamunanku. Teman kostku ternyata. Tampaknya ia membaca guratan kesedihan dibalik wajahku yang kusut.

“Hapeku hilang, Li. Baru aja”,
“Astaghfirullah! Kok bisa, to?”

Duh, dia mengingatkanku kembali dengan kejadian tadi. Entah kenapa ingin rasanya meluapkan segala emosi saat  itu juga. Air mata tiba-tiba jatuh begitu saja, padahal aku sedang tersenyum berusaha menutupi keganjilanku.

Temanku yang menyaksikan langsung merangkulku penuh iba. Tangisanku pecah tiba-tiba.

“Udah, Rif. Mungkin itu belum rejekimu. Ujian Ramadhan mu udah datang. Yang sabar, kamu harus kuat. Ambil air wudhu terus sholat dzuhur biar tenang”, ujar Euis,

salah satu sahabat yang merangkulku. Benar-benar manjur nasehat Euis. Seusai sholat dzuhur dan membaca AlQuran, jiwaku kembali tenang.

Namun belum berani aku mengadu kepada orang tuaku bahwa aku baru saja menghilangkan handphone pembelian mereka. Aku takut mereka sangat kecewa.

Namun, dengan desakan dan nasehat teman-temanku, ku beranikan diri melapor kepada kedua orang tuaku. Suara ibuku lewat telepon temanku terdengar pelan sekali.

“Kalau kamu butuh hape, beli pakai uangmu sendiri”

Ya, setidaknya dari kata-kata ibuku, aku bisa mengambil dua pelajaran. Pertama, aku harus bisa menghargai segala bentuk pemberian. Karena barang dibeli dengan uang, dan uang didapat dengan hasil susah payah memeras keringat.

Kedua, aku harus bisa bertanggung jawab atas segala perbuatanku. Pada akhirnya aku pun membeli handphone dengan hasil tabunganku sendiri, meski sudah kurencanakan uang tabungan itu akan kugunakan untuk biaya operasi telingaku.

Sejak lahir, aku ditakdirkan tak dapat mendengar dengan baik. Daun telingaku kecil sehingga suara hanya terdengar samar-samar. Bisa dibilang, aku terlahir kurang sempurna.

Kini, uang yang kukumpulkan dari hasil menyisihkan uang jatah bulanan harus kuikhlaskan untuk keperluan yang lebih mendesak. Tak apalah, uang yang terkumpul juga baru tujuh ratus ribuan yang cukup untuk membeli handphone.

Soal lain dapat dipikirkan kemudian. Toh, aku punya Allah yang Maha Mampu. Segalanya mungkin lewat kehendak Nya.

Memori itu kemudian lenyap akibat suara ibuku memanggil namaku. Baiklah, lagipula itu ingatan masa silam. Kurasa hal buruk tidak akan terjadi selepas peristiwa itu. Terlebih, aku dan kedua orang tuaku sudah lama mengikhlaskannya. Kami anggap itu sebagai sedekah Ramadhan.

Barangkali kita sering mendengar teman kita yang kehilangan sesuatu yang kita sukai atau cintai. Secara sadar atau tidak, ia menyalahkan semuanya karena Allah mulai tidak menyayanginya.

Atau mungkin kehilangan kontrol emosi dan bersumpah serapah yang tidak pantas didengar. Ada pula yang berprasangka bahwa amalannya sia-sia karena terus menerus ketiban sial.

Perlu adanya pelurusan bahwa anggapan-anggapan itu hanya akan memunculkan sikap tidak ikhlas dalam beramal. Padahal, banyak kemungkinankemungkinan alasan mengapa Allah memberikan ujian kepada kita.

Itulah tugas kita untuk menguak keindahan hikmah di baliknya.

“Ujian merupakan tanda bahwa Allah sedang jatuh cinta kepadamu. Ia memberi tanda-tanda-Nya agar kau kembali mengingat-Nya. Agar kau menyadari bahwa aku, kamu, dia, bahkan mereka adalah milik Nya”.

 

2. Contoh Cerpen Tentang Penyesalan

Kertas Kusam

(Azka Hariz)

Seperti sebuah cerita yang akhirnya tidak bahagia, pikiranku terbang melayang mengingat kejadian yang tak terbayang. Rerumputan basah meninggalkan pesan apa arti sebuah kehilangan. Kesempatan yang telah terbuang hilang tanpa angan-angan.

Selimut tebal awan menggantung dilangit. Seakan-akan ikut berduka dan merana atas kepergiannya. Mengetahui anaknya yang telah pulang tanpa kehadirannya. Sungguh durjana diri ini. Kisah lama tak mungkin terulang kembali. Meninggalkan bekas kesedihan yang amat dalam.

***
1992,

Saat rezim Orde Baru berkuasa di negeri ini, cita-cita seorang anak muda amatlah sangat berarti. Berlari diantara padi-padi yang mulai tumbuh menguning.

“Hai bujang, jangan pulang malam, kau harus pergi mengaji nanti.”

Ibu meneriakiku dari kejauhan. Aku melihat kebelakang, dan mengangguk cepat. Sore itu, seperti biasanya aku dan kawanku pergi ke ladang untuk berburu belut dilobang-lobang sawah yang masih dialiri air.

“Lama sekali kau berlari! Bergegaslah, hilang sudah tangkapanmu nanti.”

Ejekku kepada Eman yang berada cukup jauh dibelakangku.

“Aih.. Aku tak sanggup berlari sepertimu. Kau lihatlah sendiri badanku ini. Penuh dengan lemak. Tidak sepertimu yang kering kerontang.”

Jawab Eman yang berlari terengahengah dibelakangku. Tidak seperti diriku, Eman memiliki badan yang cukup berisi. Ketika aku berdiri disampingnya, akan terlihat seperti  angka sepuluh. Dia merupakan sahabat terbaikku di kampung ini.

Kampung yang cukup jauh dari perkotaan. Harus menaiki perahu dan melewati beberapa pegunungan untuk sampai ke pusat kota. Sepertinya hari ini tangkapanku tidak seperti biasanya, musim paceklik saat itu membuat belut-belut hijrah ke tempat yang lebih subur.

Tempat yang lebih banyak airnya. Kami menjual tangkapan dan menyimpan uang yang telah kami dapatkan.

“Mandi dulu sana, setelah itu bergegas pergi ke musholla. Kau tahu kan, sedetik saja kau telat, Ustad Komar akan menghukummu.”

Pesan ibu kepadaku.

“Siap laksanakan!”

Jawabku dengan semangat sembari bergegas lari ke kamar mandi. Aku merupakan anak yang rajin. Sholat tepat waktu, mengaji setiap malamnya, belajar dengan giat, dan tak pernah lepas dari yang namanya juara kelas.

Yah, walupun di desa, kami masih memiliki satu sekolah.

“Bapak, ibu, aku berangkat dulu.”

Setelah berpamitan, aku melesat keluar rumah pergi ke musholla yang letaknya empat rumah dari rumahku. Pada saat itu antar rumah jaraknya cukup jauh.

Sebuah teriakan dari jendela samping baru akan terdengar dari rumah yang ada setelahnya. Seperti kebanyakan cerita, waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa diriku sudah tidak mengenakkan baju putih abuabu.

Tujuh tahun telah beralalu, Eman teman dekatku melanjutkan kehidupannya sebagai seorang pengangon1 kambing. Melanjutkan pekerjaan bapaknya yang sudah tua.

Sedangkan aku? Kemana aku harus melanjutkan hidupku ini? Cita-citaku sebagai seorang dokter harus kulalui Pengangon = pengembala dengan belajar di perguruan tinggi, yang letaknya sangatlah jauh dari desa.

Malamnya, saat makan bersama, kuberanikan diri untuk berbicara dengan Bapak.

“Pak, Bujang hendak kuliah.”

Bapak diam. Aku menunggu. Tak lama kemudian bapak meletakkan koran yang dibacanya,

“Hendak kemana kau kuliah?”

“UGM Pak. Yang katanya kampus terbaik di negeri ini. Aku ingin belajar disana. Belajar kedokteran.”

Kataku menjelaskan.

“Besok akan bapak antarkan kau ke kota untuk mendaftar seleksi masuknya.”

Mulut yang berbicara, akan tetapi mata yang menjawab segalanya. Kegetiran yang terlihat dimata bapak. Tapi sudahlah, toh bapak sudah berjanji akan hal itu. Besoknya kami berangkat ke kota. Pendaftaran dan seleksi berjalan lancar.

Pengumuman sudah diedarkan. Tak disangka-sangka, aku lolos. Syukur yang tak terkira dapat diterima di perguruan tinggi idaman. Aku bergegas pulang kerumah untuk mengabarkan kedua orang tuaku, bahwa anak semata wayangnya berhasil.

“Pak Bu, coba lihat ini”

Aku memberikan sepucuk kertas putih yang terlipat kepada mereka berdua.

Air hangat mengalir dari sungai di ujung mata.

“Kau berhasil nak, kau berhasil. Ibu bangga padamu.”

Bapak yang duduk bersebelahan juga turut meluapkan kegembirannya. Akan tetapi perbedaanya, bapak terlihat jauh menerawang kedepan. Aku tak dapat membaca apa yang sedang dipikirkannya.

Biarkanlah waktu yang menceritakan akhir dari kisah perjalanan ini. Biarlah waktu yang menyingkap tabir yang ada di kisah-kisah terjal kaum lemah yang hanya mampu menggenggam cita-cita.

Di suatu malam, sehari sebelum kepergianku untuk merantau ke tanah seberang yang jauh adanya, bapak duduk di teras rumah beralaskan anyaman tikar sambil ditenami secangkir kopi hangat.

Bapak memanggilku untuk menemaninya disana.

“Bujang, bisakah kau ambilkan satu cangkir lagi untuk menamani Bapak disini?”

Aku tahu itu bukan sebuah tawaran dari Bapak, karena aku tahu Bapak bukan orang yang pandai berbasa-basi. Aku meracik secangkir kopi dan duduk menemani bapak di teras luar.

“Jadi begini nak”

Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara jangkrik bersahutan disana. Kemudian Bapak melanjutkan,

“Bapak tidak dapat menemanimu kesana. Bapak juga tidak dapat memberikanmu apa-apa jika engkau pergi. Siapa yang akan mengurusi kambing-kambing dikandang? Siapa yang akan membantu bapak memanen karet milik Haji Komar? Biaya hidup kita susah. Kau mengerti akan hal itu.”

Aku mencoba meraba-raba arah pembicaraan ini. Tapi aku memilih untuk diam.

“Kuliah? Bapak dulu juga tidak kuliah. Tidak ada biaya untuk kuliah. Kuliah itu membutuhkan banyak biaya nak..”

Bagai disambar petir. Aku langsung memotong perkataan Bapak.

“Tapi pak! Bujang sudah lolos seleksi. Bujang sudah berusaha mati-matian untuk bisa kuliah. Untuk apa Bujang belajar selama ini kalau nantinya sama seperti Bapak. Cuma menjadi buruh ladang. Lelah bekerja untuk orang lain, tapi upahnya begitu sedikit.”

Aku tak tahan duduk bersama Bapak saat itu. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Bapak. Tak pernah ada cerita sebelumnya, aku berselisih argumen dengan Bapak.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi. Mengemasi barang-barangku dan membawa tabunganku selama ini dari hasil berjualan belut. Aku tak berharap apa pun pemberian dari Bapak saat itu.

“Nak, kau mau kemana?”

Ibu kebingungan melihatku terburu-buru. Aku hanya diam.

“Kenapa kau ini? Murung begitu mukamu. Jangan kemana-mana, ibu hendak berbicara kepadamu.”

Ibu berusaha menahanku untuk pergi.

“Tunggulah bapakmu dari ladang barang sebentar Bujang!”

Ibu menggenggam erat tanganku. Sebenarnya tak tega hati ini melihat ibu mulai meneteskan air matanya. Tapi ketetapan hatiku sudah bulat, aku harus merantau pergi sekarang. Apa pun yang akan  terjadi, aku akan membuktikan kesuksesanku diluar sana.

“Ini, titipan dari bapak.”

Kata ibu sembari memberikan Al Quran kepadaku. Aku tak mengerti, bukan ini yang kuinginkan. Aku ambil Al Quran itu dengan kasar, lalu kubanting di atas meja tepat di depan Ibu berdiri.

“Aku ingin kuliah. Bukan Al Quran!”

Sentakku dengan kasar. Aku pergi. Menyisakkan jejak-jejak langkah ke belakang.

***
Sebuah cerita tak elok rasanya ketika diceritakan semuanya, singkat saja bahwa aku sudah menjadi pengusaha sukses dengan berbagai perusahaan yang ditangani. Bukan hasil menjadi dokter atau melalui jalur kuliah. Aku sudah berkeluarga dan memiliki satu buah hati, Alya namanya.

“Ayah, ayah!”

Alya kecil mendekatiku.

“Tadi Fani bercerita, dia habis berkunjung dari rumah kakeknya. Seru sekali lho yah. Alya juga pengen main ke rumah kakek.”

Dia menatapku dengan penuh harap. Mata bulatnya bagaikan mutiara yang memancarkan pesona-pesona membuatkau sulit untuk menolak. Aku menyesal, dari beribu permintaan, kenapa dia harus meminta hal itu.

“Ayo nak, besok liburan kita kesana ya.”

Aku memberikannya kepastian.

“Okee yah. Janji lho ya. Alya pengen banget ketemu sama kakek Alya.”

Perjalanan panjang kutempuh untuk kembali ke rumah. Bersama istri dan Alya. Tidak ada percakapan. Hingga sampailah kami di rumah kedua orangtuaku. Sepi dan sudah tak berpenghuni.

Sepetak tanah garapan Bapak sekarang sudah berubah menjadi bangungan yang berdiri diatasnya. Jalan-jalan tanah sudah berubah menjadi aspal.

Akan tetapi bangungan reot yang terhimpit bangunan-bangunan bata masih berdiri. Seakan mati segan hidup tak mau.

Aku turun dari mobil, sedang istri dan anakku tetap berada di dalamnya. Lantas aku masuk ke rumah lewat pintu belakang yang memang tak terkunci. Rumah ini kotor, dan berantakan. Posisi barang-barang sudah banyak yang berubah, tetapi tidak dengan satu hal.

Al Quran itu masih ada di atas meja tempatku membantingnya. Posisinya tidak berubah. Masih seperti awal aku melihatnya. Sungguh aneh rasanya aku tergerak mengambil Al Quran tersebut. Kudekati, kubersihkan, dan kubuka.

Betapa terkejutnya aku melihat sebuah kertas kusam terselip di dalamnya. Bukti pembayaran uang kuliah. Atas namaku, Rizal  Sulaiman.

Aku terdiam membisu. Jatuh tersungkur. Hingga istri dan anakku yang menemukanku tergeletak dan menangis memeluk kitab suci itu. Malang bukan kepalang. Kenyataan tak dapat ditolak.

Kedua orang tuaku sudah tiada. Mereka pulang saat aku tak ada disampingnya. Hancur hati ini mengetahui dua buah batu nisan terpahat nama mereka tepat berada di depanku.

Hujan seakan-akan ikut menemani tangisanku. Andaikan disaat terakhir percakapan dengan mereka dalam keadaan baik.

Andaikan aku mengikuti apa kata Ibu. Andaikan aku tidak membentak Bapak malam itu. Andaikan aku tidak pergi dari rumah.

Apakah aku harus menyusul ke surga untuk meminta maaf? Kurasa itu saja tak cukup. Diriku sudah tak layak menginjakkan kaki di tanah surga.

Gerimis hujan menjadi deras…
Terlanjur basah daun dan alas…
Baik budi tidak dibalas…
Usai sudah hayat dan asa

 

3. Contoh Cerpen Horor

 

Rumah Terlarang

(Emmanuel Leonardo)

Hari mulai malam dan hujan akan segera turun. Aku mulai berjalan dengan putus asa dan rasa ketakutan yang mulai menjalar di tubuhku, ketika aku sadar aku sedang tersesat sendirian dan tidak dapat menemukan camp perkemahan.

Aku terus berjalan menyusuri hutan dengan memegangi senterku erat-erat. Tak lama kemudian, aku melihat sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di depanku. Aku menghampiri rumah itu dengan ketakutan luar biasa yang mulai menjalari tubuhku ini. Saat mulai memasuki rumah ini, senter yang kupegang tiba-tiba padam dan pelita di atas meja menyala dengan sendirinya. Aku menelan ludahku sendiri, sambil mencoba tetap tegar.

Aku menyusuru seluruh isi rumah ini. Di ruang tamu aku dapat melihat dinding yang dihiasi foto-foto lama hitam putih yang kusam dan tertutup debu. Tiba-tiba aku melihat sesosok wanita tua yang memakai pakaian gaya tahun 1970 an yang wajahnya tidak terlihat karena gelap.

Aku bersyukur karena ternyata rumah ini berpenghuni. Namun saat itu juga tiba-tiba mataku terasa sangat perih dan gatal. Saat aku mengedipkan mataku, sosok wanita itu tak terlihat lagi.

Waktu sudah tengah malam, hujan semakin lebat. Aku duduk di kursi sekeliling meja panjang sambil memandang salah satu foto wanita belanda. Aku melihat di foto tersebut terdapat tulisan-tulisan di bawahnya.

“nyonya Nany Arabele, meninggal 5 Januari 1978 karena racun”.

“Astaga!! Berarti wanita itu bukan manusia!!”.

Jantungku seakan berhenti berdetak dan nafasku seakan berhenti. Aku langsung bangkit dari kursi dan berlari sekencang mungkin. Aku berlari keluar tanpa mempedulikan di luar hujan. Sekilas aku mendengar suara bisikan “kau harus mati, kau harus mati.”

Aku langsung mempercepat lariku. Wanita itu melayang-layang di belakangku sambil tertawa seram. Aku berlari ratusan meter jauhnya dari rumah tersebut. Hantu itu sudah tidak terlihat lagi. Aku terpaksa berjalan tanpa istirahat di tengah hujan yang kian deras. Aku berjalan cukup jauh hingga aku melihat sebuah perkampungan di luar hutan ini.

Aku senang ini semua akan berakhir, namun saat aku hendak melangkahkan kakiku keluar, tubuhku tidak dapat bergerak lagi. Darah merembes keluar dari dadaku. Aku kembali mendengar bisikan itu lagi “mati, kau akan mati” yang segera disusul tawa itu lagi.

 

4. Contoh Cerpen Dengan Tema Fabel

Ikan Dua Muka Yang Tamak

Buyung Wijianto

Suatu hari yang cerah di sebuah hutan kecil nan rindang, hiduplah seekor ikan koki yang sangat lucu dan cantik. Ia memiliki banyak teman yang sangat baik kepadanya, tapi semua temannya tidak mengerti bahwa ikan koki itu sangat licik dan serakah, jika ia menemukan sesuatu yang ia sukai maka ia akan berusaha mendapatkannya. Tapi semua sifat koki itu tertutupi dengan gaya anggunnya dan perilakunya kepada semua penghuni hutan itu.

Suatu pagi yang cerah, ikan koki berenang menyusuri hilir sungai, ketika itu ia melihat kura kura yang berenang menuju tepi. Mungkin ia selesai mandi atau mungkin sedang mencari makan. Koki pun mendekati kura kura dan menyapanya.
“Hai kura kura…”. sapa sang koki.
“Hai koki… ada apa?”. Jawab sang kura kura.
“Kamu sedang apa?”. Tanya koki keada kura kura.
“Aku sedang mencari makan di sekitar sini”. Ujar kura kura.

Tahu maksud kura kura, koki pun berenang meninggalkan kura kura tanpa berpamitan kepada kura kura. Koki berenang menuju ke sebuah akar tumbuhan besar di sekitar tempat koki bertemu dengan kura kura. Di bawah tumbuhan itu mengalir air menuju sungai, ikan koki berenang melewati akar akar tnaman itu dan sampai di sebuah tempat yang aneh.

Memang dari depan aneh tapi sebenarnya itu adalah tempat penyimpanan makanan ikan koki dan tempat itu sama sekali tidak diketahui oleh teman temannya karena koki selalu menyembunyikannya dari teman temannya, karena ia takut jika makanannya akan diambil oleh temannya. Makanan itu diperoleh dari hasil kecurangan koki pada teman temannya, meski begitu semua temannya tidak merasa bahwa mereka dicurangi si koki.

Setelah lama ia di tempat itu untuk mengecek keadaan makanannya karena ia khawatir jika makanannya diambil oleh kura kura, karena tempat penyimpanan makanannya sangat dekat dengan tempat kura kura mencari makan. Kemudian, ia pergi dari tempat penyimpanannya dan kembali pulang.

Paginya saat ia keluar rumah ia berenang ke permukaan sungai dan melihat seekor siput yang sedang kelelahan membawa sesuatu di tubuhnya. Ikan koki pun merasa penasaran dengan barang bawaan yang dibawa oleh siput, maka ia pergi menghampirinya.

“Hai siput…”. Sapa ikan koki kepada siput.
“Oh… koki!. ada apa?”. Jawab sang siput.
“Kamu sedang apa di sini?” Tanya sang koki.
“Aku selesai mencari makanan”. Ujar siput.
“Kamu membawa apa siput?”. Tanya koki dengan nada penasaran.
“Aku membawa makanan.” Jawabnya. “aku menemukannya di daerah sana”. Jelasnya kepada ikan koki.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan sang koki membuat makanan itu jatuh ke sungai. Karena siput tidak bisa berenang, akhirnya ia meminta agar sang koki mengambil makanan itu.

“Plung…!”. makanan itu jatuh ke sungai.
“Ha, makananku…!”. Teriaknya saat makanan itu jatuh ke sungai. “koki bisa kamu ambilkan makananku?”. Pinta sang siput.
“Baiklah, akan kuambilkan”. Ujar koki.

Ikan koki pun bergegas untuk mengambil makanan itu di dasar sungai. Saat koki mendapatkannya ia berpikir untuk menyimpan dan menikmati makanan itu, Ikan koki pun merencanakan siasat agar makanan itu bisa ia miliki. Akhirnya, makanan itu ia simpan di rumahnya, dan ia berkata pada sang siput bahwa makanannya telah hilang di dasar sungai.

“Maaf siput”. Kata koki dengan nada sedih.
“Apa yang terjadi koki?”. Tanya siput dengan nada penasarannya.
“Makanannya telah hilang”. Jawabnya.
“Apa…!” respon sang siput.
“Makanannya tenggelam dilumpur di dasar sungai”. Jelas sang koki.
“Baiklah, terimakasih telah mencoba mengambilnya”. ujar sang siput, pasrah.
“Sama sama, maaf kalau aku tidak bisa mengambilnya”. ucap sang koki.

Dengan wajah yang sedih siput kembali pulang tanpa membawa apa apa, setelah siput jauh dari sungai sang koki tertawa dan mengambil makananya untuk di simpan di tempat penyimpanannya. Koki selalu bersikap baik saat ia di depan temanya, berulang ulang ia menipu sampai akhirnya sang koki ketahuan. Saat itu, semua temannya menjauhinya dan makanan yang ia simpan selama ini sudah habis, lama lama koki mati karena kelaparan dan tubuhnya hanyut bersama derasnya air.

 

5. Contoh Cerpen Dengan Tema Cinta

 

Aku, Kamu dan Dia

Tria Nur Ramadhani

Aku dan kamu adalah sahabat sejak kita kecil. Kita sangat dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama. Hingga kita beranjak remaja, kita mulai menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar sahabat.

… Kita saling jatuh cinta …

Kamu menyatakan cintamu padaku di taman dimana sebagai tempat sebuah ikatan dan janji terikrar. Tempat kami saling menghabiskan waktu bersama. Berbagi tawa dan tangis.

Sampai pada suatu saat bahwa kebersamaan itu pergi. Kamu dan keluargamu terpaksa harus pindah ke Barcelona. Aku tentu menangis benar-benar tidak ingin kehilangan kamu. Namun, kamu mengingatkan akan janji kita.

“Bertemu di tempat ini setiap hari sampai kita benar-benar tidak dapat bernafas lagi”

Separuh hatiku tenang tetapi separuhnya lagi menolak kenyataan pahit ini. Namun apa dayaku? Aku tidak bisa melawan takdirku sendiri.

… Jangan meninggalkanku …

Seperti mayat hidup inilah aku sekarang. Tidak ada lagi senyum di wajahku.

Jangan tanya apakah aku ke tempat itu setiap hari? Tentulah, hanya di sana aku merasa tenang. Akan selalu kuingat janji kita. Aku selalu berbaring di sana, menatap langit lalu melihat wajahmu tersenyum padaku membuatku kalut.

… Aku merindukanmu …

Satu tahun berlalu tidak ada yang berubah dalam hidupku dan kamu pun belum kembali. Aku tetap melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang mau mendekatiku, tidak ada yang mau berteman denganku aku tak peduli. Tapi … ada satu lelaki yang membuatku jengah. Dia sok peduli padaku. Dia selalu mengikutiku juga mengajakku bicara. Dia juga selalu memaksa mengantarku pulang ke rumah dan berbicara dengan ayahku.

… Dia selalu ada untukku …

Dia tahu tentang aku dan kamu. Dia berubah, tidak lagi banyak bicara dan tatapannya padaku berubah.

Suatu saat kemudian kamu kembali. Tapi … aku tidak lagi menemukan kebahagiaan seperti dulu, saat aku melihat kedatanganmu setelah menunggu berjam-jam. Padahal aku menunggumu bertahun-tahun tapi rasa itu sudah tidak ada lagi.

Dimana rindu yang dulu ada? …

Aku melihatmu. Perasaan itu tidak ada lagi aku tidak tahu. Bimbang, kenapa hatiku menolak keras kehadiranmu? Aku tidak tahu.

Pikiranku dipenuhi dia. Otakku teringat momen-momenku dan dia bukan malah momenku bersamamu.

Aku sadar aku tidak lagi memiliki perasaan padamu. Semuanya hilang karena dia. Dia ada di hatiku. Aku tidak bisa berbohong.

Maafkan aku, aku mencintainya, dia …

 

6. Contoh Cerpen Untuk Motivasi

 

Cerita Pra Merdeka

Didalam ruangan yang gelap aku termenung. Menatapi suasana gelap gulita serasa dipenghujung kematian. Di setiap ujung ku menatap hanya ada wajah putus asa dan kehampaan akan harapan hidup.

Setiap malam ku mendengar deruh peluru dan seketika itu suara teriakan terdengar. Saat dingin menerpa aku hanya bisa menghangatkan diri dengan sebuah selimut kecil yang tipis dan hanya beralaskan koran usang.

Seketika itu pula aku teringat akan masa mudaku yang masih sehat dan bugar.

Namaku Rudi Munawan. Aku punya banyak nama panggilan. Jika dirumah aku biasa dipanggil Awan jika bersama teman teman aku biasa dipanggil Nawa. Bahkan jika dengan orang yang baru saja aku kenal mereka lebih suka memanggilku Rudi.

Ya persepsi orang masing-masing berbeda, namun itu bukanlah suatu masalah yang besar bagiku.

Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Jarak umur antara aku dengan kakakku cukup jauh yaitu sepuluh tahun. Kami berdua lahir dari pasangan yang sederhana, yaitu Ayahku bekerja sebagai tukang ledeng, sedangkan ibuku berkerja sebagai penjual sayur dipasar.

Kakakku pergi meninggalkan rumah semenjak aku berusia sepuluh tahun. Maka dari itu aku sering dimanja oleh kedua orang tuaku karena aku adalah satu satunya anak yang mereka miliki.

Dapat dibilang keluarga kami termasuk agamis karena ayahku selain menjadi tukang ledeng beliau menjadi guru ngaji di masjid dekat rumah. Maka dari itu semenjak aku berusia tujuh tahun aku diajari oleh ayahku untuk menghafalkan Al Quran.

Semenjak SD hingga SMA aku menjadi murid yang biasa biasa saja. Tidak terlalu berprestasi di bidang akademik namun tidak juga terlalu bodoh.

Disaat memasuki usia SMA aku sering dicemooh oleh teman temanku karena aku termasuk anak yang gaptek2, ndeso3, kampungan serta tidak maju.

Ya memang aku sadari aku tidak semampu mereka yang memiliki handphone, laptop ataupun benda eletronik lainnya. Setiap hari aku berangkat sekolah hanya dengan mengayuh sepeda ontel pemberian kakekku dengan membawa tas ransel yang selalu aku pakai sejak SD.

Sejak kecil aku selalu di didik untuk bersikap zuhud dan tidak mudah untuk memandang keatas. Oleh karena itu cemoohan teman temanku bukanlah suatu masalah besar bagiku.

Saat aku naik ke kelas 3 SMA ternyata benda seperti laptop sangat diperlukan. Entah membuat laporan, PR, maupun buku pelajaran. Setiap kali ada tugas yang berhubungan dengan laptop aku selalu meminjam laptop Mang Ujang karena beliau satu satunya orang dikampung kami yang memiliki benda tersebut.

Sebenarnya aku juga tidak enak jika setiap hari aku harus meminjam laptop Mang Ujang untuk mengerjakan tugas sekolahku apalagi pengumuman dari sekolah bahwa ujian nasional akan dilaksanakan menggunakan laptop masing-masing. Hal tersebut menjadi pukulan bagiku.

Akhirnya aku berniat untuk berbicara kepada orang tuaku agar mau membelikan laptop.

Matahari mulai terbenam, adzan mulai berkumandang. Menandakan masuknya waktu sholat manghrib. Setelah sholat maghrib aku melihat ayahku terduduk diruang tamu memegang mushaf yang selalu ayahku bawa saat mengajar ngaji di masjid.

Saat itu ayahku sedang membaca surah Ar Rahman, surah yang selalu membuat
hatiku tergetar saat aku mendengar “fabi ayyi aala irobbikuma tukadziban”. Lalu aku menunggu sejenak hingga ayahku selesai membaca Al Quran. Saat ayahku melafalkan “tabarokas murobbika dzul jalaliwal ikhrom”

aku bergegas menghampiri ayah.

“Pak, Awan kan dari SD hingga sekarang selalu pergi ke masjid, sholat tahajud, serta hafalan Awan sudah 20 juz. Bolehndak Awan minta sesuatu?”

tukasku dengan nada gugup

“hmm.. boleh. Asalkan itu bermanfaat untuk kamu.”

Ayahku menjawab dengan senyum lebar

“begini pak, aku kan udah kelas 3 SMA dan tugas yang berhubungan dengan laptop pasti banyak apalagi ujian nasional besok harus pakai laptop gara-gara komputer sekolah rusak. Kalau aku pinjam punya Mang Ujang terus kan nggak enak. Boleh nggak pak aku minta dibelikan laptop?”

“Berapa emang uang yang kamu butuhkan?”
“Kata temen temen sih 5 juta pak”

Aku menjawab dengan tukas.

“Nak, kamu tau kan hidup kita bagaimana? Makan aja kita hanya 2 kali sehari. Itupun jika ada lauk. Kalau ndak ada makannya sama garam atau kecap. Uang bapak hanya cukup untuk membiayai kamu sekolah sedangkan uang ibu hanya cukup untuk makan kita. Kamu tau kan maksud bapak?”

Ayahku menjawab dengan nada halus

“Yaah bapak. Ini kan demi masa depan awan”
“Bapak tahu nak. Begini saja. Bapak beri kamu satu ayat. Kamu renungi ya?”

Lalu ayahku membacakan ayat ar Rahman ayat tiga belas. Seketika itu akupun tersentak lalu bergetarlah hatiku, entah kenapa urat nadiku serasa menjadi tegang, mataku mulai ingin mengucurkan air mata dan tubuhku serasa lumpuh.

Lalu akupun kembali ke kamar untuk termenung sejenak. Aku tidak tahu mengapa ayahku memberiku ayat
tersebut. Memang setiap aku meminta sesuatu ataupun aku bertanya ayahku selalu menjawabnya dengan memberikan ayat Al Quran kepadaku.

Tapi tidak seperti biasanya aku langsung memahaminya, ayat ini seperti benar mengenai hati namun sulit untuk mengetahui maksudnya.

Pada hari itu aku tidak bisa beristirahat dengan tenang hingga saat aku menjalankan sholat shubuh seketika itu muncul dengan tiba-tiba dibenakku maksud dari apa yang ayahku ucapkan semalam.

Lalu akupun menjadi semakin bersemangat dalam kesederhanaan ini. Pukul enam pagi seperti biasanya aku bergegas untuk berangkat sekolah.

Namun pagi ini serasa sangat berbeda. Entah kenapa gairahku untuk berangkat ke sekolah lebih meluap luap dari sebelumnya.

“Semangat sekali hari ini kamu Wan?”

tukas ibuku dengan senyumnya

“Iya bu, hari ini Awan mau menggapai impian Awan?”
“Wah..hebat. Impian apa nak?”

kata ayahku dengan tiba tiba muncul.

“Nanti lah Awan kasih tau. Oh sudah jam 06.10. Awan berangkat dulu ya pak bu”

aku mencium tangan ayah dan ibuku. Semenjak itu akupun mulai belajar dengan sungguh sungguh.

Aku pun mulai membuat sebuah rencana, aku bersekolah dari pukul tujuh pagi hingga tiga sore. Lalu pukul setengah empat sore hingga lima sore aku kepasar membantu ibu berjualan.

Setelah itu waktu untuk beribadah kepada Allah adalah dari Maghrib hingga Isya. Pukul delapan hingga dua belas malam aku pergi ke pabrik mebel yang terletak sekitar dua kilometer dari rumah untuk bekerja.

Sepulang bekerja aku menyempatkan untuk mengulang pelajaran serta membaca buku selama dua jam lalu aku tidur setelah itu hingga pukul empat pagi.

Hal tersebut aku terus lakukan selama kurang lebih delapan bulan. Akhirnya dua bulan sebelum aku memasuki ujian nasional aku telah mendapat laptop impianku.

Betapa senangnya hingga aku tersadar bahwa selama delapan bulan itu aku hanya tidur dua jam perhari. Namun semua itu telah tertebus oleh hasil yang kudapat.

Sejak saat itu aku mulai  mengakses seluruh informasi mengenai pelajaran serta perkuliahan yang ingin aku ambil setelah lulus dari SMA.

Akhirnya ujian nasional berlalu dan akupun lolos untuk jalur undangan disalah satu perguruan tinggi terfavorit di Yogyakarta.

Hasil tersebut aku tunjukkan pada ayahku dan ibuku. Mereka terlihat senang namun senangnya seperti diada adakan.

“Kenapa bu? Pak? senangkan kalau anaknya mau kuliah?”

Aku bertanya pada ayah dan ibuku dengan tersenyum

“yo jelas seneng to le” ucap ibuku

“begini nak, kamu tau kan kuliah itu mahal? dan bapak sepertinya tidak sanggup untuk mebiayai sekolah kamu sampai perkuliahan” ucap ayahku dengan lemah

“Mas jangan ngomong gitu” ucap ibuku kepada ayahku

“iya pak bu, Awan tahu kalau ibu dan bapak tidak bisa membiayai Awan. Tapi ijinkan Awan pak bu untuk menggapai cita cita Awan” pintaku dengan memohon

“Maksud kamu apa nak?” Tanya ayah dan ibuku dengan serentak

“Ijinkan Awan untuk pergi ke Jogja untuk berkuliah. Awan janji Awan akan bayar sendiri uang kuliah dan makan Awan”

“Nak, kamu satu satunya anak dikeluarga ini. Ibu enggak mau kalau kamu ikut ikut juga seperti kakak kamu pergi” ucak ibuku dengan melinangkan air mata.

“Iya bu, tapi awan ini jelas tujuannya. Awan mau mengejar cita-cita awan” ucapku dengan memohon

“Tapi bapak dan ibu tidak punya uang untuk mebelikan tiket kereta ke Yogyakarta”ucap ayahku

“Awan bisa naik truknya Bang Shaleh, katanya beliau mau mengantar sapi ke Jogja”

“baiklah nak. Tapi ingat ya nak. Jangan lupa ingat bapak dan ibu di kampung sini. Jangan pergi hingga
melupakan bapak ibu” ucap ibuku dengan menangis.

“Iya bu. Awan janji tidak bakalan lupa dengan bapak ibu. Awan bakal kirim surat terus ke bapak ibu”

Akhirnya aku diizinkan untuk pergi ke Yogyakarta. Aku berangkat dari rumah pukul enam pagi dengan membawa nasi jagung, laptop, baju ganti cukup untuk seminggu, dan uang saku sebesasar lima puluh ribu.

Tentu hal tersebut benar benar sungguh tidak logis untuk orang normal tapi inilah kenyataannya.

Saat aku sampai di rumah Bang Shaleh, Bang Shaleh mendatangaiku dengan nada murung.

“Eh, Awan sudah siap ke Jogja?” Tanya Bang Shaleh
“Alhamdulillah sudah bang. Ada apa bang kok terlihat murung?”
“Emm.. sebenarnya.. sebenarnya” jawab Bang Shaleh dengan gugup.
“Iya bang ada apa?”
“Begini wan, bapak mohon maaf sekali ya wan. Kamu tidak bisa duduk didepan. Soalnya istri bapak mau periksa ke dokter. Jadi kamu nggak papa kan duduknya dibelakang sama sapi-sapi?”
“Ohh… begitu bang. Baik bang. Tidak apa apa. Asal Awan bisa sampai Jogja” Jawabku dengan memaksa tertawa

Akhirnya kami pun berangkat. Sungguh perjalanan yang sangat berat bagiku. Selama dua belas jam aku harus berdiri bersama sapi-sapi sambil menahan bau yang menyengat. Apalagi ketika panas, bau yang berasal dari sapi lebih menyengat.

Namun semua itu terbalaskan ketika aku sampai di Yogyakarta.

“Awan, kita sudah sampai di kampus kamu ini. Kamu
mau turun dimana?” Tanya bang shaleh
“Loh sudah sampai bang. Wahhh.. akhirnya. ya sudah
bang turun disini saja”
“Kamu yakin turun disini. Emang kamu nggak mau ke
rumah paman kamu dulu?”
“Paman Awan? Ohh.. enggak bang. Kejauhan beliau. Beliau di lumajang. Awan sebenarnya tidak punya paman di Jogja.” Jawabku dengan tertawa
“Loh..nanti kamu tinggal dimana wan?”
“Ahh. Gampang itu bang. Ya sudah bang, Awan turun sini saja bang. Assalamu’alalikum”
“wa’alaikum sallam.. hati hati wan”

Hari selasa pukul 6 sore. Suasana Jogja berubah menjadi gelap dengan diwarnai lampu lampu indah yang terletak disepanjang jalan. Aku mendengar suara adzan maghrib dari berbagai arah.

Aku mulai menghampiri masjid terdekat untuk melaksanakan sholat maghrib,masjid itu bernama al furqon. Setelah sholat seperti biasanya aku menambah hafalan al quranku dan memuroja’ah.

Saat aku membaca al quran seorang lelaki tua menghampiriku.

“assalamu’alaikum” kata lelaki tua itu
“wa’alaikum sallam.”
“ njenengan saking pundi? Kadosipun njenengan sanes
tiyang mriki – anda dari mana? sepertinya anda bukan orang
sini” Tanya lelaki tua itu dengan logat Jawa Yogyakarta
“kulo saking garut mbah – saya dari Garut mbah”
“loh.. tebih sanget. pinten jam saking Garut dugi meriki?
– jauh sekali. Berapa jam dari Garut samapi kesini?”
“kalih welas jam mbah. Niku sui amargi macet kalih
mampir mampir rumiyin – 12 jam mbah. Itu lama karena macet
sama mampir mampir dahulu”
“lah.. njenengan badhe ngekost teng pundi? – Anda mau
ngekost dimana?
“Kirang ngertos mbah.. kulo niki dereng angsal kostan –
kurang tahu mbah.. saya ini belum dapat kostan” jawabku
dengan murung.
“yowes. Ngene wae. Kowe turu wae neng ruangan sik
pinggir masjid kae. Kae kamar dinggo khusus takmir. Tapi
mergo takmir wis nduwe ruang anyar dadine ruang kae ora
dinggo. Kowe entuk nganggo kamar kui sak senengmu. tur kowe
kudu ngresik i masjid ben dino yo. Karo nek iso yo adzan sisan
yo. Aku ngrungokke suaramu apik tenan e – Ya sudah. begini
saja. Kamu tidur saja di ruangan yang di pinggir masjid. Kamar
itu dipakai khusus takmir. Tapi karena takmir sudah punya
ruangan baru jadi ruang tersebut sudah tidak terpakai.kamu
boleh pakai kamar itu sesukamu. Tapi kamu harus
membersihkan masjid setiap hari ya. Sama kalau bisa ya sama
adzan.aku mendengar suara kamu bagus sekali” kata kakek
tua itu dengan tersenyum.

Betapa senangnya diriku akhirnya tanpa susah susah mencari aku mendapatkan kos dengan cuma-cuma.

“Matur nuwun sanget mbah matur nuwun – Terima kasih banyak mbah. Terima kasih” jawabku sambil mencium tangan kakek tua itu.
“Nggih.. mengko nek ana apa-apa ngomong wae ming Mbah Jamin. Aku mesti bar shubuh lingguh neng pelataran kono kok. – Ya. Nanti kalau ada apa katakan saja ke Mbah Jamin. Aku pasti setelah shubuh duduk di pelataran situ kok” Jawab kakek tua itu.

 

Baca Juga  Kumpulan Kata-Kata Kecewa Paling Menyentuh Hati

7. Contoh Cerpen Gokil/ Lucu

 

Elano (Mengetahui Yang Orang Pikirkan)

Ay Rahmatillah

Elano, seorang pemuda spesial yang dapat mengetahui apa yang sedang orang lain pikirkan. Entah itu bisa disebut sebuah anugerah atau musibah, yang jelas ada sisi positif dan negatifnya saat dia mengetahui pikiran orang.

Dia mendapatkan kemampuan tersebut saat terbangun dari tidur, awalnya dia bingung dengan apa yang dia rasakan, dia seperti bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan anggota keluarganya, salah satunya emaknya yang sedang memikirkan cicilan panci. tetapi perlahan dia mengingat bahwa saat dia sedang tidur, dia bermimpi didatangi orang asing yang berasal dari Forks, yang bernama Edward Cullen. si Edward Cullen berbicara tentang kemampuan yang dia miliki yang akan ditransferkan kepada Elano. Apa mungkin gara-gara mimpi itu Elano jadi memiliki kemampuan seperti ini? siapa sebenarnya orang asing yang bernama Edward Cullen yang so kenal itu? Elano benar-benar tidak mengetahuinya.

Elano kemudian mencari nama Edward Cullen di google, dan dia menemukan fakta bahwa Edward Cullen adalah salah satu karakter di film Twilight, dan ternyata Edward Cullen memang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain. Setelah dia menelusuri tentang apa sebenarnya film Twilight itu, akhirnya dia mengetahui secara garis besar tentang film tersebut,
“yah ini mah kayak film ganteng-ganteng Sering-galau”, ucapnya.
Ternyata Elano adalah penggemar Sinetron GGS (ganteng ganteng seringgalau), dia tidak pernah melewatkan satu pun episode dalam menonton sinetron ini. Dia malah tidak tahu sama sekali tentang film Twilight. film yang menginspirasi sinetron GGS.
“tapi masa iya gara-gara mimpi didatangi si Edward Ulen, gue jadi bisa mengetahui pikiran orang”, rancaunya.
Aneh tapi nyata takkan terlupa, kisah kasih di sekolah… eh.. (malah nyanyi).
Aneh tapi nyata, tapi itulah kejadian sebenarnya yang telah menimpa Elano, hingga saat ini dia memiliki kemampuan tersebut.

Pagi itu seperti hari-hari biasanya, Elano berangkat ke sekolah. Saat tiba di lingkungan sekolah, dia mendengar banyak suara dari apa yang orang-orang pikirkan. Ada yang mikirin PR yang belum dikerjakan, ada yang mikirin nanti malam mau makan apa (sett dah sampai segitunya, padahal ini masih pagi), ada yang lagi mikirin utang (sudah lumrah dan umum), bahkan ada orang yang lagi mikir dia lupa pake daleman, setelah Elano telusuri ternyata kasus terakhir adalah pikiran dari Sodikin, yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman sebangku Elano.

Elano menghampirinya,
“woy dikin, lo gak pake daleman ya?”, ledek Elano.
“lho kok tua?”, tanya Sodikin panik.
“parah sih lo dikin”, ucap Elano.
“jangan bilang siapa-siapa yaa”, pinta dikin.
“emangnya kenapa?”, tanya Elano usil.
“eh ini amanat lho, AMANAT”, jawab dikin.
Elano tidak bisa berkata lagi, kalau sudah menyangkut amanat, mana mau dia melanggarnya.

“El, lo kan tukang comblang. bisa gak lu nyomblangin gue sama Sarapova?”,
“duh mimpi lo ketinggian kin”, jawab Elano malas.
Memang sejak Elano memiliki kemampuan mengetahui pikiran orang, Dia menggunakannya untuk menolong teman-temannya. Dengan membaca pikiran teman-temannya, Elano dapat mengetahui perasaan cinta dari teman-temannya, Wiss.. Saat ada yang cocok alias ada cowok dan cewek yang ternyata saling suka, Elano menyuruh si Cowok untuk menembak si Cewek. Otomatis Elano dianggap tukang comblang. Sudah sekitar 7 pasangan yang sudah Elano satu kan, bahkan yang terakhir adalah pasangan antara Madara, si kutu buku, dengan Tsunade si atlet cheers, (emangnya cheers atlet ya?). Tidak ada orang yang menyangka bahwa ternyata mereka saling suka. Itulah kenapa dikin meminta Elano untuk mencomblangkannya dengan Sarapova.
Tetapi untuk kasus Sodikin dengan Sarapova rasanya tidak mungkin bisa Elano atasi. Elano sedikit ragu Kalau Sarapova juga menyukai Sodikin. keraguannya mencapai 100%. lho kok? katanya sedikit.

“gini aja kin, nanti pas istirahat, lo lewat depan neng Sarapopa, ntar gue lihat bagaimana kondisinya”, saran Elano.
“buat apa El?”, tanya dikin. Asal tahu aja Sodikin pun tidak tahu tentang kemampuan Elano. Elano pun tidak menceritakan kemampuannya itu kepada siapa pun karena takut malah dianggap wong gendeng oleh orang-orang..
“ya udah, lo lakuin aja”, paksa Elano.
Sodikin menyetujuinya.

Saat istirahat, Sodikin siap akan beraksi, Elano memperhatikan dibalik layar.
saat itu Sarapova sedang duduk di kantin bersama teman-temannya.
Tapi tiba-tiba Elano mendengar pikiran seseorang, “ihh si dikin jelek banget”,
Elano bingung, padahal kan Dikin belum beraksi, kemudian dia melihat ke sekeliling, ternyata pikiran itu berasal dari ibu penjaga kantin. “masa hutang sudah dua bulan belum dibayar”, lanjut pikiran si ibu kantin, Elano melihat wajah yang semrawut dari ibu kantin yang sedang memperhatikan dikin.
“huh dasar raja hutang”, kutuk Elano.

Si Dikin ternyata sudah memulai aksinya, dia berjalan di hadapan Sarapova, Elano memperhatikan apa yang akan Sarapova pikirkan setelah melihat dikin.
“ternyata deg degan juga”, ucap Elano.
ting.. Elano sedikit tidak percaya dengan apa yang dipikirkan Sarapova setelah melihat dikin berjalan di hadapannya. ketidak percayaan mencapai 100%. Wajah Elano memucat tanda kaget. penasaran kan apa yang dipikirkan Sarapova??
begini nih, “duh ada dikin, jadi grogi nih. meskipun dikin lumayan jelek. tapi aku menyukainya. andaikan dikin juga menyukaiku. ah aku cewek sih, jadi gengsi mau bilang duluan, bisanya cuma nunggu”, itulah yang dipikirkan Sarapova. Asalkan tau aja, Sarapova adalah ketua osis dan mungkin merupakan siswi paling cantik, pintar, dan ramah di sekolahan. dipuji, dihormati, dikagumi.
Sementara dikin? ah sudah lah.. tidak perlu dijelaskan.

Elano tiba-tiba lari ke kamar mandi, dia muntah di kamar mandi setelah mendengar pikiran dari Sarapova.
Sodikin bingung mendapati Elano sudah tidak berada di tempat tadi.
Kemudian dia mencari Elano, dan menemukan Elano terdampar di bangku depan wc.
“El, lo kenapa?”, tanya Dikin, “lo pucat bingit El”, lanjutnya.
“ng ng nggak, gu gu gue gak kenapa napa”. jawab Elano.
“lebih baik sekarang lo nembak neng Sarapopa, dia lagi nungguin lo”, lanjutnya, masih mual.
“heh lu jangan bercanda ya! masa iya Sarapova lagi nunggu gue nembak”, ucap Dikin marah sambil memegang kerah baju Elano.
“beneran kin, gue kasihan sama neng Sarapopa”, ucap Elano masih lemas.
kemudian Sodikin senyum senyum sendiri.
“seneng kan lo?”, tanya Elano.
“oke, kalau lo maksa, gue akan nembak sarapova hehe”, ucap dikin yang mulai terlalu sangat percaya diri sekali, bangetttt.
“SIAPA YANG MAKSA!”, bentak Elano yang jijik dengan perkataan dikin.

Beberapa hari kemudian, Sodikin dan Sarapova pun jadian. satu sekolah gempar setelah mendengar berita buruk itu, banyak yang berduka cita, Bahkan banyak orang yang melakukan mogok mandi. (ga ada hubungannya).
Berbeda dengan Elano, dia malah senang mendengar berita itu, dia senang dapat membantu temannya, dikin, dia senang membuat orang-orang bahagia.

Berbagai macam pengalaman telah Elano dapatkan setelah mempunyai kemampuan mengetahui pikiran orang lain, bahkan sesuatu yang dianggapnya mustahil, sangat sangat mustahil, ternyata bisa saja terjadi. seperti Sarapova yang menyukai Sodikin.
Tetapi kadang, hal negatif pun didapat olehnya, seperti saat dia mengetahui ternyata ada orang yang tidak menyukainya, dan saat dia dengan tidak sengaja mengetahui aib dan privacy dari orang-orang, yang seharusnya menjadi rahasia dan Elano tidak berhak mengetahuinya. Jadi Elano tidak dapat menyimpulkan apakah baginya ini merupakan sebuah anugerah atau sebuah musibah.

Elano berdiri di lantai dua, memperhatikan Sarapova yang sedang mengajari Sodikin bermain basket di lapangan. Dia tersenyum, dia dapat merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh mereka.
tiba-tiba dia mendapati suara pikiran seseorang yang begitu jelas terdengar olehnya dari arah kiri,
“duh kak Elano tampan sekali, aku ingin berkenalan dan ingin akrab dengannya”.
deg, Elano kaget. dia memalingkan kepala ke arah kiri untuk memastikan asal dari suara pikiran tersebut. Kemudian dia melihat seorang gadis cantik berdiri satu meter di sampingnya, yang juga sedang melihat ke lapangan basket. gadis itu menoleh ke arah Elano, Wajahnya memerah, kemudian gadis itu masuk ke dalam kelas “11 ipa 3”. Elano hanya melongo, masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. kemudian Elano tersenyum.

 

8.  Contoh Cerpen Misteri

 

Misteri Rumah Pak Midin

Umar Muktar Azizi

Suatu ketika aku pulang dari mesjid bersama temanku dengan berjalan kaki. Namaku Umar dan kedua temanku Usman dan Zakir.

Kami berhenti di depan sebuah rumah papan di ujung desa karena mencium bau kemenyan setiap kali kami melewatinya aku pun bertanya kepada Usman. “Man aku menciun bau kemenyan berasal dari rumah itu”. “Kau benar ada yang aneh dalam rumah itu. Rumah siapa itu”. Dengan cepat Zakir menjawab. “Itu kan rumah pak Midin warga baru kampung Durian”. Aku bekata pada Zakir “Zakir kalau orang menggunakan kemenyan dan mantra itu artinya ia sedang memanggil setan untuk maksud tertentu misalnya mau kaya dan lain sebagainya. Ini termasuk sihir hal ini dilarang dalam agama”. “Jadi kau berpikir kalau pak Midin melakukan sihir”. “Siapa tahu kemungkinan begitu”. Usman memotong pembicaraan kami. “Jangan berburuk sangka Mar kalau belum ada buktinya. Ayo kita periksa aku penasaran dengan rumah ini”. “Ayo kita periksa”.

Kami memeriksa rumah papan itu kami melepas sandal kami. Kami mencari sumber bau itu. Ternyata bau itu ada di kamar belakang. Ada lubang di papan kamar itu kami melihat secara bergantian. Aku terkejut melihat dan mendengar pak Midin membaca mantra. Aku berkata pelan pada mereka berdua. “Betul kan apa yang aku ucapkan”. “Iyalah”.

Setelah membaca mantra pak Midin langsung memotong kambing itu untuk tumbal. “Itu kan kambing wak kunyil yang hilang”. kata Usman. “Kau betul itu ada loncengnya”. kata Zakir.

Aku membuat kesalahan aku bersin dengan kuat. “Haccim”. Hal ini membuat pak Midin berteriak. “siapa itu”. kami pun lari dengan ketakutan “Ayo lari”. Pak Midin membawa sebuah pedang dan ingin membunuh kami karena takut rahasianya terbongkar.

Tiba-tiba aku terjatuh dan kakiku berdarah yang banyak, aku tak bisa berjalan tapi aku ditolong oleh kedua temanku. mereka menyiapkan rencana. “Zakir tolong cari bantuan. biar aku yang menolong Umar”. Lalu aku dan Usman bersembunyi di semak semak yang berbeda.

Tapi pak Midin melihat ada darah di batu dekat semak-semak, ia mencari aku di semak semak yang aku tempati dan aku berdoa dalam hatiku. “Ya allah tolong aku ya allah”.

Pak midin pun menemukan aku tapi tiba-tiba Usman melempar batu tepat mengenai kepala pak Midin. “Mampus kau” kata Usman. lalu pak Midin merintih kesakitan dan berteriak “Kurang ajar”. Tak hanya sekali tapi Usman melemparnya lagi lalu pak Midin pingsan.

Akhirnya bantuan datang aku berterima kasih kepada Usman dan Zakir. “Man Zakir terima kasih atas pertolongan kalian kalau gak ada kalian mungkin aku udah mati”. “Itu kan dah biasa Mar kita kan sahabat Mar saling membantu”. “Iya mar kita kan sahabat”.

Pak Midin pun ditangkap dan mendapat hukuman atas perbuatannya. Soal sihir adalah dosa besar karena percaya terhadap selain allah.

 

9. Contoh Cerpen Fantasi

 

Edelweis Pusaka Intraversia

Harni Hayati

Makhluk hitam yang dipimpin seorang lelaki berambut merah tembaga itu, menyebar ke segala penjuru belantara Intraversia.

“Ayo cepat cari mereka! Bawa mereka ke hadapanku sekarang juga!” Titah lelaki itu.

“Grrr..” Makhluk hitam itu menggeram. Mereka beringas. Menebas tanpa ampun pepohonan di hutan kesunyian.

Seorang lelaki berambut pirang melompat dari balik ilalang. Tangannya melempar tombak sekuat tenaga. “Mati kau, Redvey!” Teriak pemuda bermata amber itu.

Sluppp!

Berhasil. Tombak itu kini bersarang di dada Redvey. Mata merah lelaki itu membelalak. Tangannya mencengkram tombak, lalu menariknya secara paksa. “Arghhh” Seketika darah mengucur deras dari lubang yang dibuat tombak.

“A-awas kau, Ditya! Tunggu pembalasan dari Kakakku!” Katanya sarat emosi. Kemudian tubuhnya tersungkur tak bernyawa.

Para makhluk hitam itu murka. Tak terima pimpinan mereka terbunuh begitu saja. “Grrrr!” Gerombolan makhluk itu menyerang Ditya berbarengan.

“Sekarang, Kenzie!” Titah Ditya.
Lelaki berambut hitam legam itu menarik busurnya. Mata biru sapirnya memicing. Seketika anak panah melesat cepat ke arah kawanan makhluk hitam besar itu.

“Pancadasa!” Seru Kenzie mengucap mantra. Seketika anak panah itu bertambah jumlah. Dalam sekejap, 15 makhluk hitam tumbang.

“Sekarang giliran kau, Sara!” Perintah Ditya.
Gadis bersurai indigo panjang itu mengibaskan sayap putihnya. “Bayuangkara!” teriaknya. Angin berembus kencang menerjang 10 makhluk hitam.

Tanpa mereka sadari, satu makhluk hitam bertubuh besar berlari di belakang Ditya, hendak menyerangnya. Kenzie yang berada di atas pohon tentu melihatnya. Ia telah siaga dengan anak panah di busurnya. Belum sempat ia melesatkannya, tiba-tiba tubuh tingginya di selimuti cahaya. “Ck, sial!” umpatnya kesal.

Sousa kanashimi wo yasashisa ni
jibun rashisa wo chikara ni

Lelaki tujuhbelas tahun itu mematikan alarm di ponselnya. Tepat pukul 06:00 pagi. Kenzie meringis. Mata birunya menyipit. Kepalanya terasa sangat pening.

Ingatan pertempuran dengan makhluk hitam itu berkelebatan. Membuat ngilu setiap sendi di tubuhnya. “Sial! Kenapa aku harus terbangun di tengah keadaan genting seperti tadi?!” Rutuknya. Kemudian Kenzie mempersiapkan diri untuk sekolah.

Di kelas, Kenzie nampak tak bersemangat. Ia melipat tangan di meja dan menyembunyikan wajah di baliknya. Sungguh, kehidupan nyatanya sangat membosankan. Ia muak. Tak merasa tertantang. Merasa hidup berjalan datar layaknya zombie.

Tiba-tiba ada perasaan aneh mendera hatinya. Membuat fokus utamanya teralih. Kenzie cukup terganggu. Ia merasa diawasi. Entah siapa orang yang telah berani mengusik ketenangan seorang Kenzie.

Kemudian Kenzie menegakkan kepalanya. Ia menoleh ke sana kemari. Pandangannya menyapu ruangan. Mencari sesuatu.

Ketemu! Sepasang mata hitam menatap tajam dari balik jendela kelas. Mata perempuan. Kenzie yakin itu. Namun ia tak dapat menerka siapa pemilik mata itu. Sebab bagian hidung ke bawah terhalang oleh dinding kelas.

Mereka berdua masih bersitatap. Seolah ada sesuatu yang membuat mata Kenzie terpaku pada manik kelam gadis itu.

Kenzie berkedip dan mata hitam itu menyala. Lelaki itu tersentak dan menganggap kejadian barusan hanya halusinasi. Kemudian ia memejamkan mata lagi lebih lama. Penasaran. Dan benar! Mata gadis itu memancarkan cahaya ungu.

“Ken, kembalilah! Kami membutuhkanmu!” Semayup suara terdengar lirih menyapa telinga Kenzie.

Lelaki itu membuka mata. Menampilkan manik biru samudra di baliknya. Jatung Kenzie berdegup kencang. Kembali ia bertemu pandang. Sorot lekat ungu itu seakan menghipnotisnya. Kenzie beranjak dari duduknya.

Lalu ia menoleh dan… ah! Kepala bersurai hitam legam masih terlungkup nyaman di atas meja. Tak bergerak sedikit pun. Kini sukmanya telah keluar dari raga. Ia baru sadar, dirinya melakukan Astral Projection di siang hari. Padahal, biasanya ia bisa melakukan AP di malam hari saja.

Nginggg…
Kenzie menutup telinga. Matanya terpejam. Seketika dirinya terhisap ke dalam pusaran portal antar dimensi. Dunia serasa berputar-putar sekarang. Menambah pening kepalanya.

“Ken!” Seseorang meneriaki namanya. Mata Kenzie terbuka. Dahinya mengeryit. Tak salah lagi. Kini ia berada di medan perang!
“Sh*t!” umpatnya. Entah sejak kapan makhluk hitam itu kini ratusan jumlahnya.
“Kalau terus melamun, kau akan terbunuh, Ken!” kata Ditya.
Ken menoleh. “Astaga, kau terluka parah, Dit! Kalau tak segera diobati, kau akan mati.” cemas Kenzie.
“Cerewet! Kau pikir aku selemah itu, heh?! Lebih baik kau cemaskan dirimu. Kalau kau terbunuh di sini, kau takkan bisa kembali ke duniamu!” Cerocos Ditya dengan senyum meremehkan tersungging di wajah pucatnya.
“Sudahlah, ini bukan waktunya berdebat! Kita bertiga sebagai prajurit istana harus melindungi Putri Ratimaya dengan segenap kekuatan kita. Dan jangan biarkan Edelweis Pusaka jatuh ke tangan yang bukan pewarisnya.” kata Sara berapi-api. Ia berharap kalimatnya barusan dapat membakar semangat kedua rekannya.

Kenzie mengangguk setuju. Meski ia bukan berasal dari Intraversia, ia berjanji akan ikut berjuang menumpas penyihir jahat demi kejayaan negeri ini. Negeri dimensi yang hanya bisa dikunjungi Kenzie melalui perjalanan astral.
Walaupun ia tak mengenal Putri Ratimaya, tapi ia tetap ingin melindungi Edelweis Pusaka yang katanya menjadi pusat Intaversia.

“DITYA!!!”

Kejadian itu begitu cepat. Entah bagaimana Abigail menjadikan Ditya sandera. Tak ada yang menyadari kapan ia mengendap-endap mengincar Ditya.

“Hei, Ratimaya! Cepat kau keluar dari istanamu! Atau lelaki yang kau cintai ini akan berakhir mengenaskan.”

Tangan Ditya dipelintir ke belakang. Beberapa inci lagi ujung pedang api hitam Abigail menyentuh leher Ditya.

Lelaki berambut pirang itu mengutuk dalam hati. Seharusnya dia berusaha sekuat tenaga melindungi Ratimaya, tapi dia malah menjadi sandera. Dirinya yang terluka parah menjadi sasaran empuk Abigail -si penyihir jahat- yang ingin merapas Edelweis Pusaka demi kepentingan sendiri.

Tiba-tiba angin berembus kencang, bersamaan dengan kepakkan sayap putih turun ke bawah. Sesosok gadis bergaun panjang *eburnean mendarat. Helaian rambut perak panjang melambai-lambai. Mahkota kecil berwarna kencana menghias kepalanya. Kemilau violet memancar dari dirinya.

Gadis itu memegang bola kristal yang di dalamnya terdapat bunga edelweis.

“Turunkan senjata kalian! Jangan menyerang!”

Para prajurit terkecuali Kenzie menurut. Bahkan Sara pun kini berdiri di sisinya. Mereka terdesak. Pasukan putih kalah jumlah dengan para makhluk hitam.

Kenzie tetap menarik busurnya. Siaga melesatkan panah.

“Turunkan senjatamu, Ken! Jangan membantah.” Ratimaya melirik Kenzie dari balik bahunya.

Ken terhenyak. Kaget. Manik mata ungu itu… sama seperti milik gadis misterius yang mengawasinya di kelas. Apa benar keduanya orang yang sama?

Kenzie mendesah sebelum akhirnya meletakkan senjata di tanah.

“Cepat serahkan Edelweis Pusaka itu!” Suara begis kakak Redvey menggelegar.

Jika Edelweis Pusaka jatuh ke tangan Abigail, maka tamatlah sudah riwayat Intraversia. Konon katanya, Edelweis Pusaka akan memberikan kekuatan dahsyat bagi siapapun pemegangnya.

“Tapi lepaskan Ditya, dan kumohon jangan hancurkan Intaversia.” Ratimaya mencemaskan rakyatnya. Biar bagaimana pun, rakyat sangatlah berarti baginya.

Abigail tersenyum licik. Lalu mengangguk.

Hei, Ratimaya! Mana mungkin kau bisa percaya dengan penyihir kejam macam Abigail. Namun tak ada pilihan lain, selain menyerahkan apa yang diinginkan Abigail.

Dengan hati-hati Ratimaya meletakkan kristal itu di atas rerumputan hijau. Secepat kilat Abigail menyambar Edelweis pusaka. Lalu terbang ke angkasa.

“‘Kan ku tundukan Intaversia dibawah kekuasaanku. Hahaha” tawa Abigail membahana, memekakkan telinga.

Kenzie tak berdim diri. Ia arahkan anak panah mengikuti Abigail. Dan… bravo! Berhasil. Anak panah itu menancap, menembus salah satu sayap kelelawar Abigail.

“Sara, bawa aku terbang ke arahnya!”
Sara mengangguk. Digenggamnya sebelah tangan Kenzie. Mereka pun terbang mendekati Abigail.

Tangan kiri Kenzie terjulur ke depan. Mencoba meraih kristal di genggaman wanita berambut merah terang itu.

“Takkan kubiarkan kau memilikinya, wahai penyihir.”

Abigail terus mengelak. Ia akan jatuh nanti. Sayapnya tak bisa digunakan lagi.

Sebilah pedang di tangan kiri Abigal terus mengobarkan api hitam. Melihat kesempatan, Abigail mengayunkan pedang ke arah Kenzie.

“Agni ireng bakarlah dia hingga hangus!”
“Arghhh” Kenzie memekik.
Sabetan api hitam mengenai lengan kanan Kenzie. Tangannya terlepas dari cengkraman Sara. Seketika itu ia terjun bebas.

Perhatian Abigail tersita pada Kenzie. Tentu Sara tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia kibaskan sayapnya kuat-kuat. Dan… oh, angin yang tercipta memiliki ketajaman setara pisau. Abigail terluka, dan kristal terlepas darinya.

Hap!
Kenzie menangkap kristal itu.

Celaka! Kristal pelindungnya pecah terkena api hitam. Tertinggal Edelweis Pusaka di genggaman Kenzie.

Bunga edelweis itu menyala terang. Cahaya putih menyilaukan menyerang mata Kenzie.

“KEN!!!” Sara berteriak sebelum sempat menolong Kenzie.
Lelaki itu terpejam. Tubuhnya terjun bebas. Semakin dekat dengan bumi. Tanah di bawah siap meremukan tulangnya.

“Violeta Intraversia!”
Seberkas sinar keunguan menyelimuti tubuh Kenzie. Seketika tubuh Ken melambat. Ia melayang laksana kapas yang ringan. Kenzie mendarat mulus di tanah.

Sementara itu tubuh Abigail berputar-putar di angkasa. Jurang kesepian menyapa garang di bawahnya. Siap melumat tubuh yang jatuh ke dalamnya.

“Awas kau, Ratimaya! Aku akan kembali membalas kematian Redvey! Dan akan kurebut Edelweis Pusaka darimu! Ingat itu!!” lantang Abigail sarat emosi.

Seluruh makhluk hitam -ciptaan Abigail- musnah, berbarengan dengan lenyapnya Abigail di dasar jurang

10. Contoh Cerpen Romantis / Romance

My Ketos

Fatimatuzzahra Purnama Putri

BRUK!!
“Ah, sori!”
Aluna segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di tanah. Sedangkan cowok yang menabraknya ikut membantunya membereskan buku-bukunya. Setelah membereskan bukunya, Aluna segera bangkit dan mendekap erat empat buku tebal yang dibawanya.

“Sori, ya. Gue nggak sengaja.” Aluna mendongak, berusaha menatap cowok yang tingginya melebihi dirinya itu.
Aluna terpaku. Tatapan mata cowok jangkung itu… indah. Aluna seakan terhipnotis oleh tatapannya.
“Hey! Lo nggak papa, kan? Gue minta maaf banget, ya?” Aluna terkesiap. Cowok itu menatapnya khawatir. Aluna membuka mulutnya hendak bicara. Namun suaranya seakan tercekat di tenggorokan.
“I–iya, gue nggak papa,” ucap Aluna kemudian. Cowok itu menghela nafas lega.
“Sekali lagi gue minta maaf, ya? Gue lagi buru-buru, nih. Sekali lagi maaf banget.” Cowok itu berlalu meninggalkan Aluna yang masih terpaku di tempatnya.

“Lun! Luna!”
Aluna terkesiap mendengar teriakan tertahan di sebelahnya. Seketika dia menoleh dan mendapati Raisa, sahabatnya sejak dia SMP, sedang memanggilinya.
“Eh? Kenapa, Sa?” tanya Aluna menatap cewek tomboy berambut pendek itu.
“Aduh! Lo ngapain ngelamun, sih? Bentar lagi ketua OSIS-nya mau masuk. Kalo sampe panitia MOS liat lo ngelamun, bisa bahaya!” ucap Raisa kembali dengan suara tertahan, takut kalau-kalau ada panitia MOS yang memergoki mereka sedang bicara.
“Oh?” Aluna memiringkan kepalanya tak paham. Namun saat langkah kaki mantap terdengar di ruangan itu, Aluna menoleh ke depan. Di podium di depan sana sudah berdiri seorang cowok bermata sipit namun tegas.

Aluna kembali terpaku. Cowok dengan lesung pipi itu tersenyum ramah. Sorot matanya lembut namun penuh ketegasan layaknya seorang ketua OSIS. Dengan penuh wibawa, ketua OSIS itu menyapa calon peserta didik di SMA Sriwijaya.
“Selamat pagi semua!”
“Pagi kak!!” jawab seisi aula serempak.
Aluna benar-benar kehilangan kendali dirinya sekarang. Tubuhnya terpaku sama sekali tidak bergerak barang se-inchi pun. Dia kembali terpesona untuk yang kedua kalinya.

“Istirahatnya selama dua puluh menit, ya? Tidak boleh lebih. Baiklah, sekarang kalian boleh bubar.”
Manusia-manusia yang awalnya duduk rapi itu kini berdesakan ingin keluar dari aula. Aluna dan Raisa hanyalah dua contoh dari 300 siswa yang ingin keluar.

“Sa, gue lupa belum sarapan, nih. Langsung cari makan aja, yuk?” ajak Aluna memelas. Sedangkan Raisa mengangkat satu alisnya.
“Emangnya lo nggak bawa bekal?” tanya-nya sambil mengacungkan kotak makan bawaannya. Aluna menggeleng pelan. Bibirnya melengkungkan pelangi.
“Aduh, Luna! Udah dibilangin suruh bawa bekal malah nggak bawa! Trus sekarang gimana?” Aluna menunduk, takut kalau-kalau sahabatnya itu mengamuk.
“Temenin gue makan di luar, yuk?” ucap Aluna memohon. Raisa semakin mengerutkan kening.
“Istirahatnya cuma dua puluh menit. Kalo kita jalan kesana tuh butuh waktu sekitar lima menit. Belum nanti pesen, trus makan, trus jalan balik lagi. Ntar kita sampe sini udah masuk!”
Aluna bingung. Jika dia tidak makan, dia pasti sakit. Tapi dia mau makan gimana caranya? Tiba-tiba Aluna mendapat ide.

“Sa, lo bawa bekal apa?” tanya Aluna antusias. Raisa kembali mengerutkan kening.
“Sandwich. Emang kenapa?” jawab Raisa. Aluna melebarkan matanya yang sudah lebar itu.
“Gue minta sepotong! Jadinya gue tetep makan!” ucap Aluna bersemangat.
“Lun tapi gue nggak yakin, deh. Lo kan makan sepotong nggak cukup. Lo tuh makannya banyak,” ucap Raisa ragu dengan usulan Aluna.
“Gak papa, Sa. Biar Cuma sepotong yang penting nih perut keisi dulu,” ucap Aluna lalu merebut kotak makan milik Raisa kemudian membukanya. Diambilnya sepotong sandwich. Namun baru saja akan dimasukkan roti isi itu ke dalam mulutnya, seseorang memanggilnya.
“Dek.” Seorang cewek jakung dengan kacamata di wajahnya menepuk pundaknya.
“Tolong kasihin buku ini ke ketua OSIS-nya yang tadi bisa? Soalnya saya harus urus urusan yang lain,” ucap cewek itu. aluna segera mengangguk.
Setelah menggenggam buku itu, Aluna segera meletakkan roti isi tadi lalu segera pergi mencari ketua OSIS untuk menyerahkan buku itu.

Sudah lebih dari sepuluh menit Aluna berkeliling. Namun tak juga dia lihat sang ketua OSIS yang dicarinya. Istirahat tinggal tiga menit lagi. Kakinya juga sudah lelah. Apalagi perutnya yang sedari tadi berbunyi karena belum makan apapun sejak pagi.

Otaknya sibuk berfikir sebenarnya ketua OSIS yang dicarinya daritadi dimana? Hampir satu sekolah dia kelilingi. Dan sekolah itu sangat luas. Bertingkat, pula! Jadi bisa dibayangkan bagaimana lelahnya Aluna saat ini karena naik-turun tangga dan berkeliling ke semua ruangan di sekolah itu.

Saat kakinya menyentuh lantai dasar di gedung ketiga yang dia kelilingi, Aluna tersadar akan sesuatu. Ada satu ruangan di lantai tiga yang belum dia lihat keadaannya. Siapa tahu sang ketua OSIS itu ada di ruangan itu. Dengan segera, Aluna kembali menaiki tangga untuk kembali ke lantai tiga yang tiga menit lalu dia injaki.

Sukses sampai di depan pintu ruangan itu, Aluna mengetuk pintu. Pintu itu bertuliskan “Ruang OSIS”. Seharusnya ketua OSIS itu ada di dalam. Tubuh Aluna benar-benar lemah sekarang. Tepat ketika pintu itu terbuka, bel masuk berbunyi, dan Aluna melangkahkan kakinya, kaki kirinya tersandung kaki kanannya yang membuat tubuhnya terhuyung ke depan. Namun tubuhnya tidak jatuh ke lantai. Tubuhnya serasa bersandar di dinding yang kokoh. Kemudian, semua menjadi gelap.

Aluna merasakan kepalanya sakit. Pandangannya berkunang-kunang saat dia membuka mata. Sebuah ruangan putih tampak di matanya. Tiba-tiba matanya terbelalak lebar. Aluna segera bangkit untuk duduk.
“Gue di mana?! Gue udah mati, ya?!” teriak Aluna kencang.
Jantungnya berdebar kencang. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Mencari seseorang untuk ditanyai. Namun yang terlihat hanya langit-langit putih dan kain biru muda yang menutup aksesnya melihat ke luar.
Kain biru itu tersingkap. Seseorang muncul di baliknya. Debaran jantung Aluna semakin menjadi.
“Lo belum mati, kali,” ucap orang itu lalu terkekeh. Aluna paranoid. Bagaimana jika dia benar-benar mati? Tapi jika dia sudah mati, kenapa jantungnya masih berdebar kencang?
“L–lo siapa?! Malaikat kematian yang cabut nyawa gue?!” tanya Aluna kemudian bergerak mundur. Sama sekali tidak berani untuk berdiri. Cowok di depannya mengernyit tidak suka.
“Enak aja. Pakaian gue anak SMA gini dikata malaikat kematian,” ucap cowok itu lalu mendengus.
“Dimana-mana malaikat kematian itu pakaiannya hitam, bawanya sabit, mukanya serem. Bukan yang pake seragam SMA, bawanya bolpoin, trus mukanya ganteng kayak gue!” lanjut cowok itu.
“Kali aja lo nyamar!”
“Enak aja!” cowok itu mendekat. Aluna kembali memundurkan tubuhnya. Cowok itu mencengkram kuat bahunya. Aluna semakin ketakutan. Cowok itu mendekatkan wajahnya kepada Aluna.
“Heh, tatap mata gue,” ucap cowok itu. Aluna memalingkan pandangan.
“Nggak mau! Ntar lo sihir gue jadi patung batu!”
“Lo kata gue Medusa?”
Cowok itu menangkup pipi Aluna lalu memaksanya untuk menatap matanya. Aluna berontak, namun percuma. Cowok itu terlalu kuat untuk dilawannya. Akhirnya Aluna menyerah dan memilih membuka matanya.
Tatapan tegas cowok itu bersorok dengan matanya. Menghipnotisnya dalam sebuah lubang raksasa dan memaksanya untuk memasukinya. Aluna benar-benar terpaku dengan tatapan itu.

“Astaga! Lo pasti malaikat yang Tuhan kirim buat gue!” pekik Aluna lalu memeluk tubuh tegap cowok itu.
“Terima kasih, Tuhan! Habis ini Aluna janji bakal lebih rajin buat ke gereja dan berdoa!”
Cowok itu terkekeh mendengar celotehan Aluna. Dilepasnya pelukan Aluna dan didudukkannya Aluna dengan benar. Cowok itu membuka mulutnya hendak bicara ketika Aluna kambali bersuara.

“Lo tau? Tadi gue didatengin malaikat kematian yang nyamar jadi cowok SMA! Trus dia paksa-paksa gue buat liat mata dia! Untung aja lo dateng. Kalo enggak, gue nggak tau gimana nasib gue,” ucap Aluna bersemangat lalu diakhiri dengan mengelus dada. Cowok itu kembali terkekeh.
“Heh, gue ini ketua OSIS lo, tau,” ucap cowok itu yang membuat Aluna terbungkam. Ingatan Aluna kembali saat dia diperintah seniornya untuk memberikan buku kepada ketua OSIS.
Tiba-tiba pipi Aluna memerah.

Aluna makan dalam diam. Pikirannya masih berpusat pada tiga hari lalu, saat hari pertama dia MOS. Dia malu sekali saat tau bahwa ternyata cowok yang ditakutinya lalu dipeluknya itu adalah Caraka, ketua OSIS-nya.

“Lun! Luna!!”
Aluna terkesiap mendengar namanya dipanggil. Dia menoleh pada cewek berambut pendek yang duduk di depannya.
“Aduh, Lun, beneran, deh. semenjak lo pingsan di hari pertama MOS, lo jadi sering banget ngelamun. Sampe tadi pagi aja kaki lo masuk selokan! Kenapa, sih? Ada masalah?” tanya Raisa sebal juga lama-lama dengan sahabatnya itu.
“Eh, enggak, kok. Gak papa,” jawab Aluna lalu kembali fokus pada makanan semangkuk soto yang tadi teralihkan saat dia melamun.
“Beneran deh, Lun. Lo kenapa? Naksir cowok?” tanya Raisa sambil bertopang dagu.
“Eh, enggak, kok!” bantah Aluna cepat sambil melambaikan kedua tangannya. Raisa memicingkan mata.
“Beneran ya, lo suka cowok?” tanya Raisa memelankan suaranya. Aluna menggeleng.
“Enggak.”
“Iya.”
“Enggak.”
“Iya.”
“Enggak.”
“Enggak.”
“Iya.”
Aluna terkesiap.
“Eh?” Dia terkena jebakan Raisa.
“Bener, kan, lo naksir cowok. Siapa? Bilang, dong! Sama temen juga,” ucap Raisa memaksa. Aluna hanya menunduk. Dia malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Ayo dong, Lun… Demi orang yang manggil elo Luna selain Mama lo nih…” bujuk Raisa memelas. Aluna menggigit bibir bagian bawahnya, merasa ragu.
“Plis dong Lun…”
“Iya, deh,” ucap Aluna kemudian. Dia membuang pandangan ke arah lain.
“Gue… suka sama…”

 

11. Contoh Cerpen Patah hati

 

Musuh Terindah

Al einstein

Hai musuhku, bagaimana kabarmu saat ini. Nampaknya aku melihat senyum yang lain di wajahmu. Senyum yang selama empat tahun belum pernah aku lihat. Senyum yang selama empat tahun yang aku impi-impikan. Bagaimana tidak, selama itu pula kau menyikapiku sebagai teman, musuh atau rekan kerja, itupun aku tidak tau. Tapi saat aku sadar bahwa senyum itu bukan untuk aku, mau bilang apa.

Hai musuhku. Aku akui dari awal kita berjumpa aku mulai punya rasa yang spesial dan itu rasa dimana aku belum pernah ngerasain seumur hidupku. Seiring berjalannya waktu rasa itu semakin menjadi-jadi. Saat aku mengamatimu dari kejauhan, caramu bercanda, prinsip hidupmu, lekuk tubuhmu, dan cara kamu berpakaian. Aku yakin bahwa itu semua nafsu belaka.

Hai musuhku. Aku nggak tau apa yang harus aku lakuin karena saat kita bercanda, bertengkar dan saat kita menjadi teman kerja. Aku merasa kamu nggak nyaman dengan responku tehadap kamu. Mungkin karena kamu tipe yang berprinsip teguh dan sangat religius sedangkan aku orang yang selalu mengedepankan nafsu dari pada hati dan aku akui aku memang nggak sesensitif cowok lain.

Hingga akhirnya datanglah dia untuk menjadi rekan kerja kita. Dia yang lebih dari aku, dia selalu membuat kamu tersenyum dan dia yang sedikit banyak merubah fakta-fakta yang ada pada diri kamu. Dulu aku akui saat kamu dekat sama cowok lain rasa cemburu itu sesekali menghampiri, walau tak sedikitpun membuat aku sakit hati. Tapi dia, dia yang membuatmu berubah 180 derajat. Dia yang bisa memenangkan hatimu. Dia pula yang akhirnya membuatku patah hati. Dan karena dia aku bertengkar denganmu hingga aku melihat air mata di pipimu. Oh tuhan betapa kagetnya aku hingga dada ini sesak untuk bernafas karena melihatmu bersedih seraya meneteskan air mata. Sejak saat itu aku mulai sadar, bahwa ini bukan sekedar nafsu atau cinta belaka, tapi ini adalah keadaan hati yang dipenuhi cinta dan kasih sayang yang begitu besar terhadapmu. Hingga hari-hariku terasa gelap. Aku sering melamun, menangis dan teriak sendiri. Ya tuhaaan maafkan hambamu ini yang telah melupakanmu hanya karena kalah oleh nafsu syetan.

Hai musuhku, andai kamu tau, tak sedetikpun aku melupakanmu baik dalam bangun atau tidurku. Dan andai kamu tau bahwa kaulah satu-satunya gadis yang selalu ada dalam do’aku selepas sholat fardu dan sholat malamku agar kau selalu bahagia di dunia dan akhirat. Aku ingat saat aku ingin mencium bibirmu kamu menolak dengan alasan “Jangan, bibir ini hanya untuk suamiku kelak” Seraya menundukkan kepalamu. Ohhh tuhaaan inilah gadis yang aku cari. Karena aku yakin dengan prinsip dan kereligiusannya, dia mampu menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anakku menuju jalan yang diridhoi tuhan.

Seiring bejalannya waktu kamu kian dekat dengannya dan sebaliknya semakin jauh denganku. Hingga sedikitpun aku tak pernah benar di matamu walaupun aku sudah berusaha sekuat tenaga dan fikiran untuk memperbaiki hubungan ini, entah kamu sadar itu atau nggak. Tapi aku yakin ini jalan yang terbaik dari tuhan untuk aku dan kamu. Aku ikhlas karena prioritas dalam hidupku adalah bahagiamu bukan sebaliknya.

Hingga pada suatu hari, ada satu kejadian dimana membuat aku tersentak kedua kalinya bukan karena melihat air mata di pipimu lagi melainkan kau dengan pdnya mengangkat dagumu tinggi-tinggi seraya bercumbu mesra dengan dia tanpa menghiraukan prinsip-prinsip yang sering kau ucapkan kepadaku bukan itu saja dengan pdnya juga kau mengumbar kemesraan selama 12 jam per hari di tempat kerja tanpa sedikitpun menghiraukan perasaanku. Yaaaa tuhaaaan betapa hancurnya hati ini kau cambuk hatiku hingga hancur tak tersisa. Atau mungkin ini peringatan dari tuhan karena aku tanpa sadar telah menjauh darinya. Ampuni aku yaaa tuhaaan ampuni hambamu yang terlalu banyak dosa.

Selepas kejadian itu aku terus memohon kepada tuhan agar menunjukkan jalan yang diridhoinya. Dan akhirnya aku sadar bahwa kejadian itu adalah sebuah jawaban bahwa kau secara tidak langsung memaksaku melepaskanmu dari setiap do’aku dan bisa aku pastikan kau bukan calon ibu dari anak-anakku. Kau hanyalah kenangan pahit yang harus kukubur dalam-dalam walaupun faktanya sulit bagiku untuk ngejalaninya. Tapi aku optimis karena aku masih punya tuhan. Tuhan yang memberiku perasaan itu dan tuhan pula yang sanggup mengambilnya. Aku pasrah kepadamu. Amiiin ya rob.

 

12. Contoh Cerpen Petualangan

 

Adventure Land

El Mufid

Di suatu desa hiduplah gadis kecil yang bernama twilight. Twilight memiliki kebun kecil di belakang rumahnya. Di tengah kebun itu ada sebuah pohon besar dan lebat. Konon, ada warga yang pernah melihat cahaya putih dari batang besar pohon itu. Tapi, itu tak membuat Twilight malas merawat tanamannya. Ia tetap merawatnya dengan baik, tak terkecuali pohon besar itu.

Sampai suatu malam, saat Twilight mengunjungi kebunnya untuk mengecek hasil tanamnya tadi pagi. Twilight mendekati pohon besar itu. Memandanginya untuk sesaat. Dan meraba batang kayunya yang kokoh. Ia tahu, tak sehat ketika malam seseorang berdiri di bawah pohon. Karena akan terganggu pernapasannya. Tapi, kali ini, pohon ini yang seolah memanggilnya untuk dekati ia. Hingga sebuah cahaya muncul secara tiba-tiba. Twilight tak begitu peduli dengan adanya cahaya ataupun tidak. Tapi yang pasti, sebuah energi antah berantah seolah menariknya ke dalam pohon itu. Twilight berusaha melawan arus elektromagnetik itu sekuat tenaga. Tapi tak bisa, ia berusaha pasrah.

“AAKKHH!” dentuman kecil yang membuatnya berteriak, tapi bukan karena sakit. Tepatnya Karena kaget. Ia mencoba menatap sekitar. Padang rumput luas terbentang. Beberapa hewan jinak berlalu lalang di sini.
“Di mana aku?” kata twilight pelan. Anehnya rumput yang ia duduki saat ini empuk seolah sofa. Twilight segera berdiri, saat ia berdiri, ia bisa melihat rumah yang unik bermunculan dari dalam tanah. Entah itu efek apa, tapi itu nyata.

“Hey!” tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. “Umm, selamat datang di Adventure Land.” Seorang laki-laki seusia dengannya, tak bisa dikatakan menyambut karena ia berkata dengan dingin. Twilight menarik nafas. Lelaki di hadapannya membuatnya sulit bernafas. Kedua bola mata cokelat itu menatapnya tajam. Memberikan sensasi tersendiri bagi Twilight. Ia bergeming di tempatnya. Jarak antara wajahnya dengan lelaki hanya berjarak satu langkah anak kecil.

Baca Juga  Penjelasan Lengkap Efek PLASEBO Dan Efek Nosebo

“E’ hem!” Lelaki itu berdeham kencang. Mengalihkan pandanganya. Dan segera berjalan di depan Twilight. “Aku adalah utusan Raja Brave, untuk menjemputmu.”
“Menjemputku?” Twilight menaikan sebelah alisnya. Berpikir kembali. “Jadi…” Twilight masih berdiri di tempatnya. Membuat lelaki yang tadi berjalan di depannya tiba-tiba berhenti. “Kamu yang selama ini membuat pohon besarku mengeluarkan cahaya setiap malam?”
Lelaki berkaos abu-abu dengan jaket merah itu menepuk dahinya. Seolah merasa bersalah. “Ya, mungkin itu juga bagian dari tugasku.” Katanya tanpa menoleh ke belakang. Dari suaranya Twilight tahu dia berkata sambil meringis. “Sorry, kalo kamu takut gara-gara cahaya itu.” Sambung lelaki itu. Ia kembali berjalan. Twilight mengikuti langkahnya. Ia menatap laki-laki itu sebal.
‘Nggak sopan banget sih jadi cowok, ada aku di sini malah disuruh ngikutin dia. Mana aku nggak tahu namanya lagi. Cowok mana sih dia!?’ Umpatnya dalam hati.

“Hey, kamu!” Twilight memanggil lelaki itu, tapi ia tak berhenti melangkah. Membuat Twilight harus mengejarnya hingga ia berada di sisi lelaki itu.
“Apa?” Lelaki itu bertanya pendek tanpa memandang Twilight.
“Ish! Singkat banget sih jawab. Nama kamu siapa?” Tanya Twilight sebal. “Aku nggak tahu namamu, tiba-tiba ngikutin kamu. Jadi kayak aku kucing hilang aja.” Rutuknya sebal. Lelaki di sebelahnya tiba-tiba menarik dua sudut bibirnya. Ia tersenyum. Membuat seluruh amarah Twilight luruh. Meski Twilight tahu senyumnya belum tentu untuknya.
“Oh, kamu penasaran sama namaku?” Lelaki itu masih mengulum senyumnya. Semua mindset kalau dia adalah lelaki terdingin dalam pikiran Twilight melayang. ‘Ge-er banget nih cowok’
“Namaku Flash Malfoy, panggil aku Flash.” Setelah tanda titik dalam perkataannya ia kembali menyimpan senyumnya dan kembali stay cool.
“Oh, namaku..,” Twilight tiba-tiba terbungkam ketika sebuah awan hitam berputar-putar dihadapannya. Lelaki itu menoleh ke wajah Twilight.
“Twilight, aku tahu namamu. Tenanglah itu tak berbahaya.” Ucap Flash tenang. Dengan tatapan tajamnya membuat segala hal yang dia bicarakn dapat dipercaya. Twilight menarik senyumnya dan menganguk kecil.

“Zzzzzrtt!” Tiba-tiba dari tangan kanan Flash muncul sebuah petir kuning. Twilight menahan nafasnya. Terlalu membuatnya shock dengan segala keajaiban dunia ini. “Zzzuuung!” Petir itu ia lempar tepat pada awan hitam yang bergerak cepat di hadapannya. “Zzzrtt..” Terdengar bunyi tersetrum dari awan itu. Twilight membuka matanya lebih lebar. Bagaimana bisa sebuah awan berelektron dapat menerima elektron asing dengan mudah? Yang ada dibayangannya, akan ada ledakan hebat dari electron yang berbeda saling bertabrakan.
“Hey, Flash! Serampangan banget sih kamu!” Teriak seseorang dari balik awan hitam itu. “Kamu pikir nggak sakit apa?” gerutu suara itu. Tiba-tiba awan itu melayang pelan menuju tempat Flash berdiri. Twilight melangkah mundur. Tapi Flash tetap tenang menunggu awan itu benar-benar ada di hadapannya.
“Makanya, jangan berani-berani gangguin aku, dan siapapun yang lagi ada di sampingku.” Ucap Flash datar.

Tiba-tiba, dari awan itu munculah seorang lelaki berambut cokelat acak-acakan yang duduk di atas awan hitam. Pipinya tembam dan matanya yang hampir sipit karena dihimpit oleh pipinya.
“Walaupun yang di sampingmu itu musuh, Flash?” Ucap lelaki itu sambil memicingkn matanya ke arah Twilight. Gadis berambut panjangitu cepat tersadar. Dan mendekati awan hitam itu, ketika ia tahu itu tak berbahaya.
“Hey, siapa yang kamu maksud musuh?” tantang Twilight. “Aku bukan orng jahat tahu! Lu aja kali tuh yag jahat. Kege eran banget!” Ia hampir menyentuh awan hitam itu, sebelum Flash menahan tangannya.
“Jangan ceroboh, kau belum tahu apa-apa di sini.” Tangan Flash yang kuat menggenggam tangan kecil Twilight yang lembut. Twilight menatap mata Flash sejenak. Kemudian ia menarik kembali tangannya. dan menundukan kepala.
“Tuh kan, dia bukan orang yang baik. Tampangnya aja sok cantik tak berdosa, ternyata…,” Tambah lelaki yang duduk di atas awan hitam. Twilight meremas jemarinya sendiri. Dan menaikan kepala perlahan. Matanya nampak berkaca-kaca hampir menangis.
“Jahat! Don’t judge me under my cover!” Twilight berjalan cepat meninggalkan 2 lelaki yang menurutnya menyebalkan.
“Cih, cengeng. Sok banget bisa bahasa Inggris!” Gumam lelaki si pemilik awan hitam sambil memeletkan lidahnya.
“Shut up, Dash!” Ucap Flash datar tapi terkesan marah. Ia berlari mengejar Twilight yang sudah beberapa meter didepannya. Dash, nama lelaki pemilik awan hitam itu adalah Dash.
“Twilight! Wait!” Flash dapat mengejar Twilight dengan sangat mudah. “Twilight, please stop.” Ucap Flash sambil menarik pergelangan Twilight. Twilight berhenti, lebih tepatnya tertarik. Ia tertarik hingga Flash benar-benar ada di hadapannya yang berjarak satu langkah. Flash dapat mendengar intonasi nafas Twilight yang tak beraturan. Ia bisa mendengar isakan tangis Twilight yang berusaha ditahannya. Ia juga bisa mencium aroma khas Twilight, yang beraroma green tea.
“Maaf.” Flash berkata pendek. Ia masih menunggu Twilight untuk menunjukan wajahnya. “Ummm.., maaf, aku nggak tahu kalo kamu cengeng,” Flash tiba-tiba melotot. Ia menyadari kesalahan kata-katanya. Dia meringis.
“Aku nggak cengeng.” Twilight berkata mantap. Ia menaikan pandangannya, sampai bertemu dengan tatapan Flash. “Aku nggak cengeng tauk!” Ucapnya sambil memukul-mukul lengan Flash dengan tenaganya.
“Auw, auw.” Flash mengaduh kesakitan. Ia masih menatap wajah Twilight dengan pipinya yang masih terlihat basah Karen air mata. Ia tahu, apa yang dikatakan Twilight itu salah. Buktinya, matanya benar-benar sembab karena tangisannya.
“Makanya, kalo ngomong itu dijaga!” ucap Twilight masih memukul-mukul Flash.
“Iya, iya, maaf. Tadi kan, aku dah bilang. Lagian kamu nangis karena ucapan Dash kan? Bukan aku.” Lawan Flash.
“Dash?”
“Iya, namanya Dash, karena dia punya kekuatan angin mendung.”
“Oh, laki-laki sok kece itu.” Gumam Twilight. Ia menatap tanah yang ia pijak. Tiba-tiba, dari bawah kakinya muncul seekor kelinci putih dari dalam tanah. Kelinci itu menatap Twilight lama. Flash memandangi keduanya.
“Hey, Angel.” Gumam Flash.
“Flash! Flash! Kau lihat Angel?” Tanya seseorang yang melayang dari kejauhan. Ia perempuan. Dan kini ia sedang terbang.

Twilight membawa kelinci putih itu ke pelukannya. Dan kembali memandangi perempuan yang kini sudah mendarat di hadapan mereka. Gadis cantik berambut pendek sebahu. Tampak manis dengan kaos putih tanpa lengannya, yang dipadukan dengan rok hijau muda yang mengembang. Di rambut sebelah kirinya tersematkan jepitan kupu-kupu berwarna pink.

“Hai, maaf apa kelinciku nakal?” Ucap gadis itu sopan. Ia agak menundukan bahunya.
“Oh, tidak. Dia tiba-tiba saja muncul dari bawah kakiku.” Twilight mengembalikan kelinci putih itu pada pemiliknya. “Kelincimu lucu ya.”
“Thanks.” Gadis itu membalas malu.
“Oh, Twilight, ini Fluttershy. Fluttershy, ini Twilight.” Flash saling memperkenalkan keduanya. Twilight memandang Flash sejenak. Kemudian ia mengulurkan tangannya dengan meksud memberi salam. Fluttershy menatapnya ragu. Beberapa menit kemudian ia baru menyalimi balik Twilight.
“Dia memang begitu, pemalu. Kau harus bisa beradaptasi dengannya.” Ucap Flash setelah Fluttershy kembali terbang bersama dengan kelinci putih-namanya Angel- yang diiringi oleh para koloni kupu-kupu.
“Apa dia termasuk dalam timmu?” Tanya Twilight.
“Eh, bagaimana kau bisa tahu kalo aku memiliki tim?”
Twilight menunjukan pelipisnya. Artinya ia mengatakan jika ia juga berpikir. “Cepatlah jawab!”
“Iya, Aku, Dash, dan Fluttershy sama-sama diberi tugas yang berat.” Kali ini, mungkin Twilight berhasil membuat Flash tampak lebih terbuka. “Kami sebenarnya orang biasa sepertimu yang dikirim ke sini untuk menyelamatkan dunia ini. Entah mengapa kita yang dipilih, tapi aku hanya tahu satu hal. Orang-orang yang kini berada di sini adalah orang-orang yang terpilih. Temasuk kamu.”
“Kami harus mengembalikan adventure land yang dulu. Yang penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Karena semua hal itu, telah diambil oleh seorang pemimpin kejam di daerah seberang. Namanya Darko Vines. Sang pemimpin Dark Land yang penuh dengan kegelapan hati.”
“Dan bagaimana dengan penduduk di sini?” Twilight memperhatikan rumah-rumah unik yang nampak kosong tanpa penghuni.
“Mereka tertarik oleh Dark hole, hingga terjebak di dalamnya. Dan kini tak ada yang tahu mereka dimana kecuali sang pemilik kekuatan itu. Si Darko. Mungkin, bisa jadi mereka diculik sebagai tambahan prajurit mereka yang kurang.”
“Hiih, seram.” Komen Twilight. Membuat Flash tib-tiba menatapnya tajam.
“Hey, cengeng! Aku jadi merasa aneh sama kamu. Kenapa Raja Brave bisa memilihmu sebagai timku padahal kamu terlihat nggak mempunyai kemampuan apapun. Malah kamu terlihat penakut.” Celetuk Flash. Yang tiba-tiba langsug dibalas dengan serangan andalan Twilight. Cubitan.
“AKh! Akh, sakit tahu.” Flash menangkis tangan Twilight. Twilight tersenyum yang dipaksakan. “Akh, untung kamu belum punya kekuatan, kalo udah, mungkin aku sekarang udah nggak punya tulang belakang.”
Twilight malah menepuk punggung Flash kuat. “Sembarangan!”
Flash terkekeh. Ia segera berjalan cepat. Kedua tangannya ia masukan pada saku celana jeansnya. “Woy, cengeng cepet dong, keburu hujan nih!”
Twilight mengejar Flash. “Emang kita mau ke mana?”
“Menghadap Raja Brave.” Balas Flash datar. Ia melirik sekilas gadis di sampingnya. Kaos berwarna ungu muda melekat di tubuhnya dengan tambahan cardigan warna merah marun, tampak serasi dengan namanya, Twilight. Senja. Ya, langit senja.
“Woy! Ngapain liat-liat?” seru Twilight membuyarkan lamunan Flash. Flash tersenyum kecut. Kemudian, mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Kamu sih, senyum-senyum sendiri. Serem tau nggak?” Flash mengusap tengkuknya. Kemudian berjalan lebih cepat dibanding Twilight.
“Flash, jangan kecepetan kali jalannya.” Twilighgt buru-buru menyusul.
“Woy, biar lebih cepet, kamu pegang tangan aku.” Perintah Flash. Twilight menurut. Ia menggenggam lengan Flash kuat. “Flash running!”
“Tungguin dong kalian berdua!” Teriak Dash.
“Nggak usah ikut campur lu!” Jawab Flash, sambil menyambar petir pada awan awan Dash sehingga Dash ikut tersetrum gosong.

Dalam sekejap, keduanya tiba di dalam kastil Raja Brave yang penuh dengan berlian dan intan. Semuanya Nampak bercahaya tertimpa cahaya mentari. Satu kata, indah.
Tak banyak tingkah, Flash segera membawa gadis disampingnya menuju singgasana raja. Twilight terlanjur terpesona dengan semua keindahan yang ia lihat. Jadi, tak banyak hal yang bisa ia bantah dari perintah Flash.
“Semua yang ada di dalam kastil ini indah, apa Raja Brave juga ganteng?” Gumam Twilight, tapi cukup terdengar oleh Flash yang sangat peka. Tiba-tiba Flash tersenyum lebar tanpa sebab, seolah menahan tawanya meledak.
“Silahkan masuk.” Seorang pengawal mempersilahkan. Twilight dengan senyum semangatnya masuk terlebih dulu. Flash kemudian.

Singkat cerita, pertemuan dengan Raja Brave saat itu membuahkan sebuah kekuatan yang besar bagi Twilight. Dengan symbol dan medianya yaitu, kalungnya yang awalnya berliontin huruf T kini berubah menjadi liontin bintang keunguan. Dan, mahkota yang terbuat dari emas putih dengan tiara dan permat bintang disana. Tentu saja twilight senang. Hal seperti itu tak pernah ia dapatkan semudah menjentikan jari. Tapi, satu kesimpulan dalam benaknya.
“Raja Brave nggak seganteng istananya yang indah. Orang tua yang tebel jenggotnya, dengan kulit hitam negro dan pendek itu meruntuhkan semua imajinasiku tentangnya.”
Satu hal, yang tak siapapun sadari. Bayangan hitam berkabut yang sedari tadi mengambang di jendela ruang raja. Pengintai.

Malam harinya. Empat orang pilihan dunia ini berkumpul di rumah khusus milik mereka. Berkumpul di satu ruangan dan merancang strategi bersama.
“Oke, strateginya gini, Fluttershy bakal minum ramuan tak terlihat ini, pas udah sampai di gerbang Dark land. Kita bertiga, menyerang prajurit dark land. Sementara Fluttershy menyusup ke dalam kastil dan mencuri peta rahasia Adventure Land di ratu Dark Land, Shimmer. Terus, waktu Fluttershy udah dapet petanya dan udah keluar dari kastil, kamu panggil kita. Pakai terompet lay itu. Bunyi terompet itu tandanya, Twilight harus menghentikan waktu sebentar. Agar kita bisa mnghilang tiba-tiba ditengah perang. Saat kita lari, kamu balikin lagi waktunya. Dan kita segera ke tempat kunci Adventure land. Dan kita satukan kekuatan kita di sana untuk membuka kunci itu. Menang!!!” Flash menjelaskan strateginya dengan hiperaktif. Ia tak bisa diam sekalipun satu menit. Membuat Twilight terus tertawa kecil.
“Dimengerti, Kapten!” seru Dash dengan tangan yang seolah sedang hormat.
“Yosh!” Fluttershy mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara.
“Oke, jadi sekarang kita beres-beres!” Twilight mendahului teman-temannya memasuki kamar.
“Emang bisa langsung menang gitu?” Komen Dash, Flash menoleh ke arahnya.
“Sesukamu saja mau menang ato mati dimakan ulat Dark Land!”

Pagi, fajar mulai menyingsing dari sebelah timur. Membuat secercah cahaya menerobos masuk ke kamar para gadis. Twilight bangun dibuatnya. Cukup waktu satu menit untuk memulihkan kesadarannya. Kemudian langsung beranjak mandi.
“Eh, kok udah ada kamu sih?!” seru Twilight begitu keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, baru dikeramas. Handuk ungu kecilnya tersampir di bahunya.
“Dari tadi juga udah di sini kali.” Balas Flash, ia sedang duduk didepan meja makan sambil sok sibuk menuliskan sesuatu di buku sakunya.
“Waktu aku baru bangun juga?”
“Hm,”
“Aduh, gawat. Dengan penampilan baru bangun tidur udah diliatin sama cowok absurd ini. duh…, malu nih.” Batin Twilight. Tapi ia berusaha menghilangkan pikiran itu jauh-jauh. Twilight berjalan ke meja masak. Entah apa yang ia lakukan, mungkin membuat sesuatu.
“Flash, tolong jelasin kekuatanmu dan yang lain dong.” Ucap Twilight, tanpa menoleh sedikitpun. Ia tetap dalam posisi memmbelakangi Flash.
“Oh, kalo kekuatanku sederhana aja, Cuma tiga elemen bumi. Api, air, tanah. Itu yang Raja Brave tanamkan dalam diriku tanpa perantara. Kalo yang pakai perantara jam tangan ini adalah, pedang.” Twilight sempat menoleh sebentar kemudian kembali lagi. “Raja sengaja menyembunyikan senjata-senjata kita, agar memudahkan. Kalo symbol pahlawannya ini.” Flash menunjukan pelipisnya.
“Apaan di situ?” Twilight mendekati Flash.
“Ini tanda lahir aku. Bentuknya kayak petir gitu deh. Begitu raja tahu aku punya tanda lahir ini, dia memasukan symbol kepahlawananku di sini.”Jelas Flash.
“Oooh.. Kayak Harry Potter gitu ya..” Twilight ber-oh singkat. Kemudian membawa nampan berisi dua cangkir cokelat panas.
“Nih.” Dia menyodorkannya pada Flash. “Kalo Dash?”
“Dia bisa ngubah molekul suatu zat, dari jam tangan hijaunya. Symbol pahlawannya adalah ikat kepalanya yang warna-warni. Kalo senjata dia, busur panah. Khusus untuknya, senjatanya nggak dirahasiakan karena busur panah mudah dibawanya.”
“Fluttershy, dia punya kekuatan pengatur gravitasi, medianya jam tangan pink. Di jam tangannya juga tersembunyi terompet-senjata dari Raja. Symbol pahlawannya, kalung dengan liontin kupu-kupu.”
“Oh, paling keren yang aku dong kalo gitu.” Twilight nyengir sombong. “Bisa ngatur waktu pakai jam tangan biru, sekaligus ada bumerangnya di dalam. Symbolku mahkota lagi, aduh.., jadi seolah ratunya. Hehe.” Twilight berbangga.
“Hah, gimana kamu aja deh.” Flash menyesap cokelatnya yang kini berubah hangat. “Oh, makasih cokelatnya.”
“Hm, sama-sama.” Twilight tersenyum manis.
“Hey, sekarang giliran aku yang nanya.” Flash mendekatkan wajahnya dengan wajah Twilight. Tapi, Twilight tak menghindar.
“Apa?” tatapan matanya sudah saling terikat dengan tatapan Flash. Degup jantunganya menjadi semakin cepat. Seolah melarangnya untuk mengedip sebelum tatapan ini berakhir.
“Apa kita bakal bertemu lagi?” Tanya Flash. “Maksudku, di dunia kita, nanti setelah kita berhasil membuka kunci adventure land?”
“Bertemu lagi? Di dunia kita? Maksudmu, kita bakal berpisah setelah kita berhasil Flash?” Twilight malah balik bertanya.
“Ya, kukira kau sudah tahu.”
“Kamu beneran Flash?” Twilight menatap Flash tidak percaya. Dalam hatinya berteriak, ‘aku nggak mau berpisah sama Flash.’
“Bener, jadi gimana jawabanmu?”
Twilight kembali berpikir logis. “Kupikir, bisa. Selama hati kita masih terikat satu sama lain, bukan begitu?”
“Hm, mungkin kamu benar. Sebenarnya aku juga nggak mau sih berpisah sama.., kalian. Karena, Cuma kalian yang tahu aku yang sebenarnya seperti apa.”
“Aku juga nggak mau, ng.., gimana kalo kita janji bakal bertemu di dunia sana.” Twilight mengajak untuk berjanji, pinky swear.
“Aku janji.” Flash mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Twilight.
“Kita juga janji!” Dash dan Fluttershy tiba-tiba muncul dan ikut mengaitkan kelingking.
“Kalian dah siap?” Tanya Flash.
“Hehe, belum mandi deng.” Dash nyengir dan langsung ngacir ke kamar mandi.
“Aku juga!” Fluttershy ikutan ngacir ke kamar mandi yang lain.
“Hahaaha!”

Singkat cerita, mereka sudah dalam perjalanan menuju Dark Land. Twilight berada di barisan paling depan, paling bersemangat. Begitu percaya diri dengan penampilannya, kini. Baju berwarna ungu berlengan panjang dengan celana panjang berwarna marun. Begitu pantas dengan liontinnya yang bercahaya keunguan. Ia membawa tas selempang, untuk menyimpan mahkotanya. Rambutnya yang panjang juga sudah diikat rapi, seperti ekor kuda.

“Wah.., banyak banget bunganya.” Pekik Twilight, semenjak memasuki kawasan ladang bunga. Tapi, tiba-tiba ia terdiam. Memandangi bunga itu satu persatu dari jauh membuatnya ingat akan sesuatu. Twilght berhenti berjalan. Tapi yang lain malah, berjalan santai didepannya. Mereka tertawa, seolah ini semua bukan perjalanan yang sulit.
“Guys, yang kayak gini rintangan kita?” Sindir Dash pada bunga-bunga itu. “Hahah, nggak banget deh ya.”
“Haha, iya Dash. Aku setuju sama kamu.” Ucap Flash kemudian disetujui oleh Fluttershy.
“Tunggu guys, kayaknya aku tahu bunga itu deh..” Twilight berusaha mencegah teman-temannya, untuk mendekati bunga-bunga. Perasaan buruk hinggap.
“Kenapa? Ini hanya bunga yang mencolok dengan aroma yang enak.” Balas Fluttershy. Ia sudah menghisap aroma bunga itu dalam-dalam. Dash dan Flash mengikuti.
“Guys, itu bunga beracun!” Twilight berteriak. Terlambat, teman-temannya sudah terhuyung seolah ingin tidur. Sebelum Flash benar-benar jatuh ketanah dan tertidur, Twilight menahannya. Flash bersandar di lenganTwilight yang menahan bahunya.
“Flash, bangun Flash.” Twilight menepuk-nepuk pipi Flash. Flash belum sepenuhnya tertidur. Tapi alam halusinasi sudah menenggelamkannya. Alhasil Flash tak bisa bangun kembali sebelum pengaruh dari racun ini berakhir.
“Twilight…” Diluar dugaan. Flash masih dapat berkata lirih. Entah ia sadar atau tidak. Tapi, tangan kirinya yang bebas, berhasil bergerak meraih wajah Twilight. Twilight menahan nafas. Sentuhan tangan Flash yang pertama kali menyentuh wajahnya. Mengingatkan ia akan lamanya waktu yang telah berlalu tanpa kasih sayang seorang Papa. Twilight tersenyum namun air matanya tak bohong. Ia menangis.
“Flash, bangun…” Twilight menyentuh punggung tangan Flash yang kini berada di pipinya. Twilight mengenggam tangan Flash erat.
“Jangan nangis, cengeng…” Flash kini sudah terpejam. Tenaga tangannya yang terangkat untuk menyentuh wajah Twilight pun sudah hilang. Jika twilight tak menggenggam tangannya saat itu, pasti otomatis akan jatuh ke tanah. Tapi, twilight masih menggengamnya, dan masih menempelkan telapak tangan Flash di pipinya.
“Bodoh, aku tidak cengeng.” Bisik Twilight, ditelinga Flash. Kedua bibir Flash bergerak. Membentuk senyuman.
“Tapi, aku malah jatuh cinta pada sosokmu itu, twi.., light.” Kata-kata itu terucap dengan lancar di bibir indah Flash. Merasuki segala alam bawah sadar Twilight. Membentuk sebuah danau cinta dihatinya. Dan hanya ada Flash seorang disana. Di hatinya.

“Saahhhhh…” Bunga-bunga Nampak semakin ganas. Mereka, tidak menunggu seseorang untuk menghisapnya, tapi mereka meyemburkan gas dan aroma yang membuat siapa saja yang menciumnya tertidur. Tak disengaja, Twilight menghirupnya. Walau sedikit, tapi berefek hebat. Tangan twilight yang menggenggam tangan Flash terkulai lemas. Tubuhnya tak kuat lagi. Ia juga tertidur, dengan posisi memeluk Flash.

Sekitar 5 menit mereka tertidur. Entah apa yang dilakukan olehpara bunga pada mereka selama itu. Untungnya, Twilight berhasil membuka matanya sebelum para bunga benar-benar menelan mereka. Twilight terkesiap begitu ia membuka mata. Kedua mata Flash yang pertama kali ia lihat. Dengan posisi tergantung membuat rambut Flash yang biasanya menutupi dahi, terangkat. Wajahnya terekam begitu jelas di semua pikiran Twilight. Yang membuat jantungnya menjadi berdebar-debar tak menentu.
“Yak!” Twilight menyadarkan dirinya sendiri. Segera ia mengeluarkan Bumerangnya.
Karena dalam posisi tergantung hanya senjata itu yang dapat menolong. Pertama ia putuskan belalai tanaman yang melilitnya dan Flash. Dan langsung mengaktifkan manipulasi waktu diperlambat. Sebelum semua tanaman itu menyadari Twilight telah bangun, Twilight menghajar habis tanaman liar yang berusaha menelannya dan teman-temannya. Fluttershy dan Dash sudah diselamatkan lebih dulu. Dan mereka sudah terbaring aman di tanah. Setelah itu semua selesai, manipulasi waktu terhenti. Tanaman liar yang sudah habis terpotong-potong ambruk ke tanah. Dan dari setiap pori-pori mereka, mengeluarkan cairan hitam kelam yang menurut Twilight itu semua kerjaan Dark Land. Sebeenarnya tanaman dan bunga-bunga itu tak berbahaya kecuali diganggu. Tapi entah mengapa, mereka malah jadi ingin melenyapkan Twilight dan temannya.

“Guys, mimpinya selesai.” Ucap Twilight. Ia kembali mengamankan bumerangnya, dan membersihkan bajunya yang terkena debu.
“Hoaaam…, apa kita bermalam di sini?” Fluttershy menguap lebar. Ia yang bangun lebih awal. Twilight menghampirinya.
“Fluttershy, kamu nggak papa kan?”
“Nggak papa, emangnya ada apa?” Fluttershy tak sadar dengan kondisi saat ini.
“Tanaman itu hidup! Kita nyaris ditelan tadi.” Twilight begitu histeris menceritakannya. Hingga membuat Flash terbangun.
“Twilight?” Satu kata yang pertama kali ia ucapkan begitu bangun.
“Flash?!” Twilight menoleh. Kemudian tiba-tiba ia berlari ke arahnya, tanpa pikir panjang Twilight memeluknya. “Kamu nggak papakan?”
“Ng…, nggak papa kok.” Flash mengacak-acak rambutnya. Kemudian segera bangkit.
“Dash!” Sekarang Twilight berlari kearah Dash. “Dia belum bangun?”
“Hoaaam.., Twilight maaf ya aku dah kasar sama kamu.” Dash yang baru bangun langsung mendapati Twilight dan Fluttershy di sampingnya.
“Nggak papa kok.” Twilight tersenyum.
“Eh, bunga ini benar-benar beracun ya? Mereka memanfaatkan waktu tidur kita untuk memakan kita.” Ucap Flash ringan. Ia sudah mulai berjalan kedepan. Teman-temannya yang lain memandang Flash sebal.
“Dasar, kamu Flash! Santai banget sih jadi orang, kita hampir mati tauk?!” Gertak Fluttershy yang benar-benar sebal padanya. Flash menyengir, ia berlari duluan sebelum Fluttershy menimpuknya dengan tinjunya.

Satu malam berlalu, perjalanan hanya terhenti saat tumbuhan hidup tadi, melilit mereka. Selanjutnya, mereka terus berjalan menembus hari yang semakin gelap. Dan, tepat 2 jam sebelum fajar terbit. Empat pahlawan ini, telah sampai di tujuan akhir. Kastil Dark Land yang penuh dengan kegelapan.
“Oke, ayo kita laksanakan rencana!” Koor Twilight, sebelum mereka memasuki pintu masuknya yang berupa batu hitam tajam yang menjulang.
Fluttersy mulai meminum ramuan tak terlihat yang dibuat Flash. Dalam hitungan detik tubuh Fluttershy menjadi invinsible. Ia meluncur di atas udara Dark Land yang kelam dan segera menuju sasarannya. Ratu Shimmer. Sementara, Flash, Twilight, dan Dash, mereka menghadapi para prajurit Dark Land yang sudah siap dengan pertempuran. Oke, semuanya beraksi!

Waktu terus berjalan, Fluttershy dengan mudah mengambil peta Adventure Land dari Ratu Shimmer. Sebelum mereka sadar, Fluttershy sudah kembali meluncur di udara sambil meniupkan terompet lay. Suara yang memekakan telinga seolah meracuni semua prajurit Dark Land, mereka tampak bergeming begitu terompet itu dibunyikan. Twilight mengambil kesempatan itu untuk untuk menyegerakan manipulasi waktu. Flash dan Dash terkecuali, mereka tak terhalang oleh kekuatan manipulasi yang membuat waktu sseolah slow motion itu. Dengan cepat mereka membelah barisan para prajurit dan segera meluncur ke tempat kunci Adventure Land.

“Oke guys, kita harus konentrasi.” Ujar Twilight begitu sampai di tempat kunci Adventure Land. Ia segera mengenakan mahkotanya dan berharap banyak pada tuhan.
“Tak bisakah kita salam perpisahan sebentar?” Fluttershy merajuk.

Melihat pasukan Dark Land yang nampak terbang dari kejauhan, ekspresi Fluttershy berubah. Ia resah. Dan segera memakai kalung berliontin kupu-kupunya. Sedangkan Dash dan Flash sedang mengumpulkan kekuatan.
“Maafkan aku, tapi kita tak punya banyak waktu.” Twilight mulai mengucapan kalimat-kalimat berbahasa Perancis. Dan tiba-tiba cahaya keluar dari sumber kekuatan masing-masing pahlawan. Cahaya ungu keluar dari liontin mahkota Twilight. Kemudian cahaya itu merambat ke cahaya pink yang dikeluarkan oleh liontin Fluttershy. Terus menimpa cahaya putih yang dikluarkan oleh kedua jam tangan Flash. Cahaya itu membaur menjadi satu warna, dan warna putihlah yang dominan. Hingga cahaya itu bergerak dan menimpa jam tangan Dash, Cahaya putih itu memantul kembali dengan warna yang berbeda. Mejikuhibiniu. Itu warnanya. Ya, pelangi. Cahaya pelangi itu memantul kesalah satu dinding kaca ruangan kunci, tiba-tiba, sebuah lubang kunci berbentuk bintang muncul, cahaya pelangi itu mewarnai habis lubang kunci itu. Hingga memantul lagi membentuk banyak cahaya, dan cahaya itu terus menyeruak keluar. Menyelubungi seluruh negeri mimpi ini.

Twilight dan teman-temannya seketika jatuh dari tempat mereka mengumpulkan kekuatan. Twilight sempat membuka matanya walau sekejap. Ia melihat tiga temannya yang terjatuh dengan wajah bahagia. Ia pun begitu. Bibirnya bergerak pelan.
“Sampai jumpa lagi, kawan.”
Walau jelas suara itu tak akan tedengar oleh mereka, tapi Twilight yakin suara itu akan terdengar dari hati mereka. Dan, begitulah kisah empat pahlawan yang menyelamatkan negeri yang mereka pun tak tahu apa negeri itu. Tapi mereka yakin negeri itu adalah awal yang membuat semua orang di dunia tersenyum. Sebelum teleportasi otomatis aktif, Twilight melambaikan tangannya pada Flash, yang terbaring lemah namun ia tetap tersenyum. Seberkas cahaya, segera menarik tubuh mereka masing-masing ke tempat asal mereka.

13. Contoh Cerpen Sedih

 

Arwah Yang Meminta Maaf Kepada Ibu

Mohammad Ridho Pratama Octaviansyah

Ibunya sangat berharga baginya, bagaimana tidak. Setelah kepergian sang ayah tercinta yang sangat ia banggakan. Ibunya kini menjadi tulang punggung keluarga karena anak perempuan tercintanya masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Bersama ibu tercintanya, sepulang sekolah mereka pergi ke sawah yang menjadi penghasilan mereka. Jarang untuk ia bermain bersama temannya karena ia lebih mementingkan ibunya yang sendirian di sawah, walaupun begitu ia adalah anak yang pintar dan selalu mendapat juara di kelasnya, betapa bangga ibunya memiliki anak yang cantik dan pintar.

Setelah ia lulus sekolah dasar ia melanjutkan sekolah menengah pertama yang cukup jauh dari rumahnya. Pagi itu setelah sholat subuh ia membereskan perlengkapan sekolahnya dan sang ibu membuat sarapan pagi dan bekal untuknya nanti di sekolah. Dengan menggunakan sepeda peninggalan ayahnya, ia pergi dengan mendayung sepeda ontel yang tua itu. Sepulang sekolah ia sarapan dan kembali membantu ibunya di sawah. Setelah terdengar suara azan asar mereka menyudahi pekerjaan itu. Hal itu selalu ia lakukan hingga ia lulus SMP.

Ia melanjutkan sekolahnya di SMA yang jaraknya jauh dari rumahnya. Kini setiap pergi sekolah ia tidak dapat lagi mendayung sepeda milik ayahnya, ia menggunakan akutan becak motor setiap paginya dan sepulang sekolah. Di SMA tempat ia belajar cukup banyak pembayaran yang harus ia bayar, bagaimana ia bisa melunasi itu semua, ibunya hanyalah seorang petani biasa. Akan tetapi karena ia pintar di sekolah itu, ia mendapatkan bantuan biaya siswa untuk murid yang berprastasi. Ibunya sangat senang melihat anaknya mendapatkan bantuan itu, ia bersyukur kepada Allah anaknya tidak bodoh seperti ibunya yang hanya tamat di sekolah dasar.

Lulus sebagai siswi yang berprestasi dan mendapatkan biaya siswa sekolah di perguran tinggi kedokteran secara gratis membuat ibunya semakin bersyukur kapada Allah, ibunya selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Kini anaknya tidak lagi bersamanya, ia telah pergi ke kota untuk melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Disetiap saat sang ibu selalu mendoakan anaknya agar sehat dan selamat di sana. Kini ibunya sendiri untuk pergi ke sawah. Kadang ia mengirim surat kepada sang ibu untuk mengabarkan keadaannya, sang ibu sangat senang membaca surat dari anaknya, sang ibu membalas surat anaknya dengan kata agar ia menjaga kesehatan dan jangan meinggalkan kewajibannya untuk sholat. Di setiap sujudnya sang ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anaknya agar anaknya diberikan kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Beberapa tahun kemudian anaknya pulang dengan membawa perlengakapannya dan ia berkata kepada ibunya bahwa kini ia telah serjana dan mendapatkan gelar “Dr”. Ibunya menangis melihat anaknya yang kini menjadi dokter. Sang ibu memeluk anaknya dengan penuh rasa rindu karena sangat lama mereka tidak bersama.

Kini ia dapat kembali membantu ibunya ke sawah mengingat masa kecilnya dulu dan sepeda ontel milik ayahnya yang selau ia pakai untuk berkeliling desa melihat perubahan yang terjadi saat ia tinggalkan. Setelah mereka sholat subuh, setiap pagi ia memasak makanan untuk mereka pergi ke sawah. Dengan perlengkapan dan menggunakan topi petani, mereka pergi dengan berjalan kaki. Sangat sejuk dan segar udara pagi di sekitar sawah. Dengan menggunakan seruling yang terbuat dari kayu, sang ibu memainkan alat musik itu dengan merdu. Azan zuhur pun berbunyi, mereka pergi ke pemancuran air terjun untuk membasahi badan dan mengambil whudu dan kembali ke pondok sawah mereka untuk sholat di sana. Seperti biasanya setiap azan asar mereka pulang ke rumah dan bersiap untuk melaksanakan sholat asar. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena anaknya mendapatkan panggilan kerja ke kota sebagai dokter di salah satu rumah sakit sana.

Ia mengemas barang bawaannya ke dalam koper besar, ia melihat seruling kayu milik ibunya dan menaruhnya ke dalam koper untuk di bawa ke kota. Ibunya mengantarkannya hingga terminal. Sebelum pergi mereka berpelukan untuk ke dua kalinya sebelum sang anak pergi menaiki bus yang mengantarkanya ke kota.

Di kota ia telah sukses, memiliki rumah, mobil, dan peralatan lainnya, ia teringat keadaannya di desa, ia tidak mungkin bisa mendapatkan ini semua tanpa ibunya, ibunya sangat berjasa dalam kesuksesannya. Di kota ia bertemu dengan seorang pria yang akhirnya menjadi kekasihnya, ia tidak salah dalam memilih pasangan, lelaki itu sangat baik dan selalu mengingatkannya untuk sholat. Ia juga ingat perkataan ibunya untuk mencari pasang yang bisa mengingatkannya sholat kepada Allah.

Ia mengabarkan ibunya bahwa ia memiliki seorang pasangan yang baik dan seperti apa yang dikatakan ibunya. Ibunya senang membaca surat tersebut, dan membalasnya agar anaknya selalu selalu meminta doa kepada Allah karena Allah akan selalu membantu hambanya.

Kekasihnya selalu membantu pekerjaannya di rumah sakit setiap pulang dari kantor tempat lelaki itu bekerja. Di hari cuti ia mengajak lelaki pasangannya untuk menemui ibunya di desa. Sepulang dari sawah sang ibu melihat mobil mewah berada di depan halaman rumahnya, ibunya heran kenapa ada mobil mewah berada di halaman rumahnya, setelah didekati anaknya memanggil ibunya dan memeluknya. Ia memperkenalkan lelaki yang ia ceritakannya di surat pada lalu itu. Lelaki itu langsung menyalami ibu kekasihnya.

Setiap pagi ia melakukann kegiatan seperti biasa di rumah ibunya, setelah sholat subuh dan menyiapkan bekal dan perlengkapan, mereka pergi ke sawah, kini kekasihnya pun membantunya di sawah. Lelaki itu sangat senang berada di desa karena keadaan di kota sangat berbeda.

Waktu bahagia ini pun tidak lama, dikarenakan waktu cuti yang tidak panjang. Ia dan kekasihnya harus kembali ke kota. Dengan membereskan koper mereka dan meminta pamit kepada sang ibu. Ia pun pergi kembali ke kota. Sesampai di kota, lelaki itu mengantarkannya pulang ke rumahnya. Keesokkan harinya semua kembali seperti semula, ia harus pergi ke rumah sakit menggunakan mobil miliknya. Banyak pasien yang menuggunya di sana. Terkadang ia sedih dan menangis melihat anak yang tidak dapat operasi karena biaya, akan tetapi ia adalah dokter yang baik, ia membayar biaya operasi itu. Ia menangis jika membayangkan seorang ibu di tinggal oleh anaknya. Terkadang ia berpikir bagaimana keadaan ibunya di desa.

Tepat pada tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu, ia ingin sekali kembali ke desa untuk memberi kado dan mengucapkan terimasih beserta maaf kepada ibunya. Akan tetapi itu tidak mungkin karena ia tidak bisa mendapatkan cuti. Ia mengirim surat untuk ibunya bahwa ia tidak bisa pulang. Membaca surat itu ibunya pun sedih karena anaknya tidak bisa kembali ke desa.

Ia selalu mencari cara dan meminta bantu kepada kekasihnya untuk bisa kembali ke desa dan memperingati Hari Ibu bersama ibunya. Akan tetapi apa daya ia tidak bisa mendapatkan cutinya. Di perjalanan pulang ia bertemu seorang anak penjual koran di pinggil persimpangan lampu merah. Ia melihat anak itu hendak pergi, karena rasa kasihan dan penasaran, ia pun memberi anak itu tumpangan ke tujuannya. Mereka berhenti pada toko bunga, lalu setelah anak kecil itu membeli bunya, mereka melanjutkan perjalanan dan sampailah pada pemakaman umum. Anak kecil itu menuju salah satu makam yang ada di sana, karena penasaran ia pun bertanya kepada anak kecil itu tentang makam siapa ini. Anak kecil itu menjawab ini adalah makam ibunya dan ia ingin mengucapkan selamat Hari Ibu kepada ibunya yang telah meninggal dunia. Ia pun menangis dan mengingat saat sang ayah meninggal dan juga ibunya di desa. Ia tidak bisa meminta maaf kepada ibunya secara langsung. Ia menangis mendengar kata yang keluar dari mulut anak kecil itu, betapa sedihnya perkataan anak kecil itu. Lalu anak kecil itu bertanya kepadanya

“Kakak, kenapa menangis?”
Ia pun terkejut dan segera mengelap air matanya
“Tidak apa-apa dek, kakak hanya sedih karena kakak tidak bisa meminta maaf kepada ibu kakak yang ada di desa”

Setelah cukup lama mereka pergi meninggalkan makam anak kecil itu, tidak lupa anak kecil itu berpamitan pada makam ibunya.
Lalu ia pun mengantarkan anak kecil itu ke panti asuhan. Ia bertemu pada pemilik panti tersebut dan menyumbangkan uangnya ke pada panti itu dan pulang.

Keesokan harinya setelah pulang dari rumah sakit, ia melihat seruling ibunya yang masih tertinggal di kopernya, ia memainkan alat musik itu dan membayangkan keadaan di sawah bersama ibunya. Seruling itu menjadi penguat tekatnya untuk kembali ke desa apapun caranya, ia tidak perduli jika tidak bekerja lagi di rumah sakit tempatnya bekerja. Besoknya bersama kekasihnya, ia meminta hari cuti walau hanya satu minggu. Setelah memohon cukup lama, akhirnya ia mendapatkan cutinya dan mengirim surat kapada ibunya bahwa ia akan pulang.

Beberapa harinya ia bersiap untuk pulang sendiri tanpa ditemani oleh kekasihnya karena kekasinnya tidak bisa meniggalkan pekerjan. Itu tidak menjadi halangan baginya ia tetap nekat pulang sendiri dengan membawa kado dan seruling sang ibu, ia pun pergi.

Sang ibu yang sedang berada di rumah menuggu kepulangan anaknya tercinta itu, tiba-tiba gelas yang sedang pengang pun terjatuh dan pecah, ia mengalami firasat buruk kapada anaknya. Setelah beberapa jam menunggu anaknya memanggilnya dari luar rumah tanpa membawa apapun, sang ibu keluar dan memeluk anaknya dan bertanya

“Kamu kemari naik apa nak? Kok kamu sendirian”
Anaknya hanya terdiam
“Oh ya sudah kalau kamu gak mau cerita, yang penting ibu senang kamu sudah ada di sini”
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan ia meminta maaf kepada ibunya atas kesalahan yang telah lakukan. Setelah berbincang sang ibu menyiapkan makanan kesukaan anaknya, setelah menyiapkan makanan ia menghampiri anaknya dengan membawa bika ambon kue kesukaan anaknya.

Tak berapa lama terdengar kembali suara ketukan pintu dan setelah ibunya membuka pintu di depannya berdiri dua polisi dan kekasih anaknya. Mereka kejadiian kecelakaan anaknya
“Kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa anak ibu mengalami kecelakaan pada kemarin malam di jalan Barumun”
Sang ibu tidak percaya dan mengira polisi hanya bercanda, dan ibu itu berkata
“Oidah, anakku sedang makan bika ambon sekarang”
Mendengar perkataan sang ibu polisi dan kekasih anaknya terkejut dan melihat ke dalam rumah
“Mana anak ibu yang sedang makan itu?”
“Itu pak” sambil menunjuk kursi tempat anaknya makan tadi
“Mana bu?” polisi pun kebingunan
“Loh, anak saya mana pak? Tadi ia sedang makan di sini pak” sang ibu mulai panik

Lalu kekasih anaknya pun mencari menelusuri ruangan di setiap rumah itu akan tetapi tidak ada orang, yang ada hanyalah kue bika ambon yang masih utuh dan hangat. Sang ibu pun memanggil nama anaknya dan menangis seakan tidak percaya akan yang terjadi barusan, mungkinkah itu adalah arwah dari anaknya yang sangat ingin bertemu dengan ibunya untuk meminta maaf walau halangan terberat pun menghadangi namun Allah membantunya.

Kekasih anaknya membujuk ibu itu untuk sabar sambil memberikan kado yang ia dapat di dalam mobil anaknya. Setelah kado itu dibuka hanya ada surat rumah, seruling, dan sepucuk surat yang bertuliskan

“Selamat Hari Ibu, Ibuku sayang, anakmu ini meminta maaf atas kesalahan apapun yang telah aku perbuat. Aku sangat bersyukur kepada Allah karena dapat mengirim surat ini kepada ibu.

Aku memberi ibu kado istimewa, aku memberikan rumah dan seluruh yang kupunya kepada ibu, aku juga memberikan ibu perusahaan padi dan lahan sawah yang luas banget yang kubeli dari seorang petani sukses, kini ibu tidak perlu capek untuk ke sawah lagi, ada beberapa pekerja yang akan bekerja untuk ibu, kelola yang baik ya bu! Itu semua tidak mampu untuk membalas apa yang ibu kasih ke aku selama ini dan aku juga ingin mengembalikan seruling ibu yang kubawa, ibu pasti mencarinya? Maaf ya bu. Aku bertemu seorang anak kecil yang kehilangan ibunya untuk selamanya dan aku juga menemaninya ke pemakaman ibunya untuk mengucapkan selamat Hari Ibu, aku teringat ayah dan aku menangis mendengarnya berkata dan aku juga harus menemui ibu di desa. Maaf aku tidak bisa menemanimu ibu lagi”.

Baca Juga  Makna Kata "Benci" Yang Sebenaranya

 

13. Contoh Cerpen Penantian

 

Jaket Ungu

Lamringkot Simatupang

Hujan sore ini cukup membuatku menggigil, kucoba menatap langit di luar belum ada tanda bahwa hujan akan berhenti. Aku kembali masuk ke dalam kamarku, membuka sedikit jendela untuk cukup buat mataku mengintip keadaan hujan di luar sambil duduk di kursi meja belajarku dengan berbalutkan selimutku yang hangat. Mataku hanya tertuju ke luar melihat hujan, tiba-tiba aku teringat dengan kejadian dulu yang tepat dengan momen sekarang ini. Hujan di sore hari, kejadian itu adalah pertemuanku dengan dia. Pertemuan itu sangatlah misterius dan mungkin dia itu juga orang yang sangat misterius. Bagiku pertemuan kami masih misterius sampai sekarang.

Aku masih sangat jelas mengingat kejadian itu, pertemuan di halte bus. Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Waktu itu sepulang sekolah saya langsung ke halte bus tanpa ngobrol dulu sama teman seperti biasanya karena melihat cuaca yang tak mendukung. Aku takut hujan datang sebelum aku tiba di halte bus. Benar saja dugaanku, hanya selang beberapa menit tiba di halte bus hujan lebat tanpa gerimis pun langsung turun membasahi permukaan bumi ini.
Seketika itu seorang cowok berlari kencang menuju halte bus seperti dikejar massa, dan langsung duduk di bangku halte bus yang tersedia. Aku tetap memilih berdiri untuk menunggu bus tiba. Lama sudah kutunggu, tapi bus tal kunjung datang sehingga membuatku lelah berdiri karena diiringi dingin yang sangat menusuk. Kuputuskan untuk duduk seperti cowok tersebut.

Cukup menggigil dengan suhu seperti ini, hujan tambah angin lembut bertiup di seluruh pori-poriku. Sesekali aku nengelus tanganku agar tercipta sedikit kehangatan tapi itu hanya bersifat sementara saja. Sekejap kulirik cowok yang duduk di sampingku, betapa hangatnya dia yang memakai jaket dan sibuk dengan hp nya tanpa merasakan dingin sedikitpun kelihatannya dan tidak menghiraukanku yang sedang dilanda kesinginan. Entah kenapa hari itu aku tidak bawa jaket yang biasaya aku bawa setiap hari.

Tiba-tiba mobil berwarna silver berhenti di depanku yang membuat aku kaget karena bunyi klakson yang nyaring di telingaku sehingga aku tambah menggigil dibuatnya. “kamu kedinginan ya?, nih gue pinjamin jaket gue sama lo” cowok yang di sampingku tadi menawarkan sambil membalutkan jaketnya di bahuku. Aku kaget dan hanya terdiam dengan perbuatannya. Belum sempat nengucapkan terima kasih ternyata dia sudah memasuki mobil silver tadi. Aku sempat melihat wajahnya karena belum menutup kaca jendela mobil yang ditumpanginya sambil melemparkan senyum manis kepadaku tapi aku hanya melihatnya tanpa membalas senyum manisnya.

Setelah dia tak lagi dapat kulihat, aku tersenyum sendiri sendiri dan langsung nemakai jaket pemberian cowok tadi. Memang jaket itu sepertinya jaket mahal, terbukti rasanya sangat hangat dan lembut dan nyaman untuk dipakai. Hujan dan angin yang datang tak lagi mampu memasuki pori poriku kerna jaket yang kupakai. jaket itu sungguh hangat, harum tambah lagi warnanya ungu yang aku suka.

Tidak berapa lama lagi akhirnya bus yang aku tunggu tunggu dari tadi datang juga dan langsung naik ke bus. selama di perjalanan menuju rumah aku hanya nengingat wajah dan senyum manis cowok yang baik tadi.

Sesampainya di rumah, hujan tak kunjung berhenti bahkan semakin deras, sehingga cukup untuk membasahiku mulai dari gerbang sampai ke teras rumah. Jaket yang aku pakai juga cukup basah dan tanpa kucuci aku langsung menggatungnya dengan hunger di jemuran dalam rumah.

Dua hari jaket itu baru bisa kering, aku langsung menyetrikanya dan melipatnya dengan rapi, kubungkus dalam plastik dan langsung memasukkannya ke dalam tas sekolahku.

Setiap hari aku membawa jaket itu ke sekolah dan sepulang sekolah aku langsung ke halte bus agar bisa bertemu dan mengembalikan jaket itu kepada pemiliknya. Setiap hari pulang sekolah aku selalu menunggunya di halte bus, ternyata dia tak pernah datang, Lama sudah aku ingin mengembalikannya, tapi aku tak kunjung bertemu dengan sosok yang nemberikannya dulu.

Setiap hari selama satu setengah tahun lamanya aku membawa jaket itu ke sekolah, sampai aku tamat SMA belum bisa nenhembalikannya dikarenakan tidak pernah bertemu lagi. Pertemuan kami hanya sekali itu saja sehingga membuatku merasa bahwa dia orang yang misterius. Itu pertama kali aku melihatnya dan itu juga terakhir kali aku melihatnya. Pertemuan yang penuh dengan misteri, mungkin dia seorang malaikat yang Tuhan titipkan untuk memberiku kehangatan waktu itu.

Karena mengingat kejadian misterius itu, aku mengambil jaket itu dari lemariku yang sudah lama kusimpan dengan rapi. Aku mencoba memakaikan jaket itu lagi, ternyata harum dan kehangatannya masih tetap sama seperti pertama kali aku memakainya dulu. Jaket warna ungu ini menjadi jaket kesayanganku, tapi aku masih berharap bisa bertemu dengannya dan mengembalikan jaket ini padanya. Aku juga ingin mrngucapkan terima kasih padanya yang belum sempat aku ucapkan.

14. Contoh Cerpen Kehidupan

 

Even If We Forgot, The Feelings Still Remain

Lita nisa

“Vel, kamu jaga Lia. Ayah dan ibu ingin menemani kakek dulu, oke?” Wanita keibuan tersebut membelai rambut kedua anak gadisnya, anak yang lebih tua dengan senyum kecil mengiyakan titah sang ibu, “Vel bakal jadi kakak yang baik dan nemenin Lia sampai ayah dan ibu selesai.”

Nyonya Forster tersenyum bangga melihat putri-putrinya, terutama Velinne yang baru saja menginjak usia duabelas tahun ternyata sudah bisa bertanggungjawab.

“Kalau begitu ibu pergi, ya. Lia, kamu jangan nakal,” pesannya sebelum melangkah pergi, meninggalkan kedua anak itu di koridor rumah sakit.

“Vel, Lia mau keluar, Lia nggak suka di sini,” anak berusia lima tahun tersebut mencubit pakaian kakaknya dengan wajah cemberut, “… Ya sudah kita keluar aja,” ajak Velinne, adiknya lalu mengangguk dan mengikuti kakaknya berjalan.

Beruntung ada taman kecil di belakang rumah sakit, biasanya digunakan untuk anak-anak kecil bermain selagi menunggu orangtua mereka. Kali ini taman itu cukup sepi, keberadaan anak-anak di sana bisa dihitung dengan jari.

“Lia mau main apa?” Tanya Velinne sambil melihat-lihat sekitar, kemudian telunjuk mungil Litany terarah pada dua ayunan yang sedang dimainkan oleh anak-anak lain, “Jangan, Lia, itu lagi ada yang main, tunggu dia selesai, ya?”

Litany memanyunkan bibir, lalu berlari-lari kecil ke arah perosotan. Velinne hanya mengamati Litany bermain dari kejauhan, ia sadar kalau ia sudah beranjak remaja -ini bukan lagi tempatnya main-.

“Permisi, kak,” Velinne menoleh, panggil salah seorang anak berpakaian piyama yang barusan bermain ayunan, “Sebelahku sekarang kosong, adiknya kakak tadi mau main, kan?”
“Iya, benar. Terima kasih, err–”
“Panggil aja Willy, kak,” balasnya dengan senyuman manis.
“Terima kasih, Willy,” Velinne balas tersenyum.

Belum sempat dipanggil, Litany ternyata langsung melaju ke arah ayunan tepat setelah menuruni perosotan.
“Vel, dorong ayunan,” pintanya dengan wajah menggemaskan. Velinne dan Willy tertawa melihatnya.

“Oh, jadi kalian sedang menunggu orangtua,” Willy masih terus berayun pelan, melirik Velinne yang sedang mendorong ayunan Litany, “Yah, begitulah, kalau kamu sendiri?”
“Aku pasien di sini,” dia menjawab dengan mantap, “Lho, jadi kamu kabur ke sini?” Tanya Velinne heran.
“Iya, untuk bermain, di kamar rasanya membosankan. Biasanya anak-anak seusiaku bisa main sepuasnya di luar.”
“Kalau begitu kenapa Willy nggak cepet sembuh biar bisa bebas main?” Pertanyaan polos melesat dari Litany. Willy menggeleng pelan, “Kata dokter aku nggak bisa sembuh dengan cepat, Lia,” sambil mengusap-usap rambut hitam Litany yang duduk di sampingnya.
“Lia nggak mau liat Willy sakit,” Litany tidak menghindar saat sang anak lelaki itu membelai kepalanya, justru ia kelihatan menikmatinya.

Velinne terdiam sejenak, lalu mendapat ide, “A-Aku akan jadi dokter suatu saat nanti, dan aku berjanji akan menyembuhkanmu, Willy.”
Giliran Willy yang tertegun atas pernyataan Velinne.

“Vel, Lia, ayo pulang! Ayah sudah menunggu di mobil,” panggil sang ibu kepada kedua anaknya.
“Lia, ibu sudah memanggil, ayo pulang. Willy, kami duluan, ya,” Velinne menggenggam tangan Litany dan membantunya turun dari ayunan, lalu berjalan ke arah Nyonya Forster yang tengah menunggu di depan taman.
“Ya, sampai ketemu lagi.”

Besoknya mereka berdua datang lagi ke taman, namun tidak menemukan Willy di sana. Mereka terus mengunjungi taman, tapi tetap saja sosok laki-laki itu tidak ada.
Ini terus berlanjut sampai Velinne dan Litany meninggalkan Amerika dan pulang ke Inggris.
Jeda waktu sebelas tahun membuat mereka melupakan satu sama lain.

“Senior Williams, tolong singkirkan tanganmu dari kepalaku.”
“Tidak, kepalamu rasanya enak dibelai.”

Jujur, meski berkata demikian, Litany Forster menikmatinya dan senyuman lembut Emil Williams mengingatkannya kepada seseorang yang dikenalnya dahulu.

Walau kenyataannya ia sudah lupa memori sebelas tahun lalu, tapi masih ada rasa yang membekas di hatinya.

 

15. Contoh Cerpen Pengorbanan

 

Rein Kehidupanku

Cindy An Niesa

Aku membuka mata.. Kudapati ruangan serba putih dengan alat alat medis yang memenuhi ruangan. Biar coba aku ingat kembali, yah malam itu.. Aku dan kakakku Rein sedang menghadiri sebuah pesta teman kami. Kami memang tak pernah akur, selalu saja bertengkar. Dan malam itu akibat pertengkaran kami yang begitu keras di dalam mobil, mobil yang kami tumpangi oleng dan menabrak sesuatu yang keras. Setelah itu aku tidak sadarkan diri hingga saat ini

“Sherly.. Kamu tidak apa-apa kan?” suara lembut Naomy sahabatku.
“Sherly.. Kamu udah sadar?” kak Rein menyapaku dan meraba-raba wajahku.. Tunggu dulu, bisa aku pastikan kak Rein mengalami buta karena kecelakaan ini. Ah, sudahlah. Dia pantas mendapatkannya

Beberapa hari berselang keadaanku mulai membaik. Aku sudah diizinkan pulang dan bersekolah kembali. Tapi sejak saat ini, aku harus merawat kak Rein. Ah, malunya aku harus selalu bersama dengan orang cacat itu ke sekolah. Dan pada akhirnya kak Rein memutuskan untuk berhenti. Harap dimaklumi, orangtua kami sudah meninggal 6 tahun lalu karena kecelakaan, yah itu sebabnya aku harus mengurus kak Rein sendirian.

Hari berganti hari. Aku lelah menuruti permintaan kak Rein yang ini dan itu. Di suatu malam aku kesal padanya dan memutuskan untuk pergi ke luar rumah di tengah hujan lebat. Tiba tiba seberkas cahaya menuju ke arahku. Semakin dekat… Dan ternyata itu adalah sebuah truk. Aku mencoba menghindar, tapi sayang mobilku terhantam pohon dan sempat terpental. Dan setelah itu aku tak merasakan apapun.

“Sherly.. Bangun..” suara itu berkali kali memanggilku. Yaah itu seara Naomy sahabatku. “Kenapa bisa begini sih sher..?”
“Ini semua gara-gara kak Rein”
“Rein?” Naomy tertunduk
“iya, cowok buta itu. Udah cacat masih ngerepotin!” kataku marah, tapi Naomy justru menangis. “ada apa?”
“asal kamu tau Sher.. Kecelakaan waktu itu kondisi kamu parah. Salah satu syaraf mata kamu bermasalah sampe gak bisa di gunain lagi. Tapi, Rein gak akan mungkin tega ngebiarin kamu buta. Dia yang donorin matanya buat kamu, sampe dia sendiri yang mengalami buta.” aku terdiam..
“kamu bercanda kan Naomy?” Naomy terisak dan menggeleng.
“Rein sayang sama kamu. Apapun akan dia lakukan buat kamu sher”

Aku mulai menangis, betapa bodohnya aku menyia nyiakan saudara yang sudah berkorban banyak untukku? Tidak! Hari ini juga aku harus meminta maaf pada kak Rein
“Naomy, antarkan aku bertemu kak Rein”. Naomy mengangguk dan memapahku menuju keluar ruangan.

Kami berhenti di salah satu ruangan sepi dan gelap
“aku mau ketemu kak Rein, bukan ke sini”. Tapi Naomy tak menghiraukan. Dia menarik tanganku masuk.
“satu hal yang perlu kamu tau, kecelakaan ini membuat jantung dan ginjal kamu bermasalah. Kamu bisa meninggal karena masalah itu. Tapi biar aku tegaskan sekali lagi. Rein sayang sama kamu dan rela ngelakuin apa aja buat kamu. Dia mendonorkan ginjal dan jantungnya. Dan taukah kamu Sher? Di sinilah Rein sekarang” Naomy menunjuk pada sebuah jenazah yang telah tertutup oleh kain putih.

Aku membukanya..
“kak Reiiiiiiiinnnn” jeritku, aku menangis sejadi jadinya. Sungguh bodohnya aku, kenapa aku begitu jahat pada orang yang telah rela mengorbankan segalanya untukku. Kini.. Aku sendiri, tanpa ayah, ibu, maupun Kak Rein. Kak, kasih sayangmu tak akan pernah Sherly lupakan.. Selamanya

 

16. Contoh Cerpen Cinta

 

Origami

Tasya Imelda Dievar

“Ah seneng banget, seharian full gue bisa di deket lo”
“Kapan sih lo jadi milik gue? Peka dong!”
“Oh ternyata lo udah ada yang punya ya? Maaf gue terlalu berharap sama lo, cowok bego”
“Gue cuma sahabat lo, gak lebih!! Tapi kenapa perasaan gue ke lo lebih dari sekedar sahabat!!”
Ara terus-terusan menulis pada kertas origami akan isi hatinya, melipat kertas origami menjadi bentuk burung, dan menyimpannya pada sebuah kotak.

Malam ini Ara baru saja pulang dari rumah sakit karena tifusnya kambuh.
Clek! Pintu kamar Ara terbuka, Ara meliriknya, kemudian dengan segera Ara meremas kertas origami yang baru saja diisi tulisan. Cowok yang ada di ambang pintu segera menuju ranjang tempat Ara berbaring. Cowok itu tersenyum manis, Ara membuang pandangannya acuh.
“Lo nulis apaan beb?” tanya Naufal.
“Gak, cuma coret-coret doang” sahut Ara datar tanpa ekspresi.
“Beb gue kangen.. gue ke sini cuma buat lo, gue sengaja gak sekolah cuma demi nemenin lo yang gak pernah muncul di kelas selama 3 hari ini. Tapi kenapa lo jutek banget sih sama gue?” ketus Naufal.

Ara melirik Naufal sekilas.
“Siapa suruh lo nemenin gue?” tanya Ara.
“Kenapa sih, semenjak gue jadian sama Bella, lo gak pernah ngasih senyum ke gue?” lirih Naufal.
“Pikir-pikir aja jawabannya! Oh ya, lo tahu kan dimana pintu exitnya?” sahut Ara.
“Jahat lo beb!” hardik Naufal.

Tes! Tak terasa, tiba-tiba air mata Ara berlinang.
“Yang jahat lo apa gue sih!”
“Beb lo kenapa nangis?” tanya Naufal seraya menghapus air bening Ara. “Maaf beb kalau gue tadi bentakin lo..” ucap Naufal sambil membelai lembut rambut panjang Ara.
Ara terdiam, itu tandanya dia nyaman.
“Lo gak bakalan jauh-jauh dari gue kan, walaupun lo udah punya cewek?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Ara tanpa terpikirkan terlebih dahulu.
Naufal cukup kaget mendengarnya.
“Lo kan calon istri gue” ujar Naufal tersenyum miring.
Cup! Bibir Naufal menabrak lembut kening Ara dalam waktu yang cukup lama.

Kiiiit..
Sebuah motor ninja berhenti di depan koridor suatu SMA ternama yang ada di kota Jakarta.
“Nanti kamu pulangnya bareng Naufal ya? Abang ada rapat nanti” kata Bang Rangga, kakak Ara.
Ara melepas helmnya.
“kalau dia bareng aku pasti pacarnya marah-marah lah. Aku bisa pulang bareng Farras aja” tukas Ara melempar senyum.

Ara memberikan helmnya pada bang Rangga. Bang Rangga menerimanya, kemudian mengacak-acak rambut depan Ara sekilas. Setelah motor bang Rangga melesat pergi, Ara berjalan memasuki kelas dengan air muka yang tak peduli akan keadaan sekitar.
“Pagi Ara.. udah baikan ya?” sapa Bella, tetangga bangku sebelah kanan Ara.
Ara hanya tersenyum miring dua detik, tak menjawab basa-basi Bella. Ara duduk di bangkunya, mengaduk-aduk tasnya.
“Ck. Bego! Kenapa nih kotak ada di sini?!”

Ara terus berkomat-kamit mengutuki dirinya sendiri atas kecerobohannya yang membawa kotak berisi rahasia-rahasia Ara. Tak lama kemudian Naufal datang dan langsung menuju bangku Bella.
“Pagi sayang, pagi juga Ara” sapa Naufal.
Naufal melemparkan tasnya kebangkunya sendiri -bangku kiri Ara- dari bangku bella. Ara menjitak kening Naufal dengan semangat 45.
“Cowok bego! kalau kena gue gimana!!” ujar Ara dengan intonasi yang tinggi.
Naufal meringis kesakitan, Ara kesal sekali, sedangkan Bella terkekeh melihatnya.
“Sakit Ara!” Naufal meringis, cukup sakit jitakan yang Ara kasih pagi ini.

“Pagi Ara” sapa seseorang lagi dari ambang pintu. Ara menghampirinya.
“Hai Farras” sapa Ara, senyum manis pertamanya di hari ini dia lemparkan pada cowok di depannya ini.
“Harusnya si sipit itu yang dapet jitakan Ara!! Dan harusnya gue yang dapet senyum dari Ara!!” batin Naufal menjerit melihat adegan di ambang pintu itu.

Naufal mencari-cari sesuatu untuk dilemparkannya ke Farras, agar Farras turut merasakan deritanya. Naufal melirik bangku Ara, didapatinya kotak rahasia Ara. Karena Naufal penasaran, Naufal membukanya -membuka sebuah lipatan origami yang ada di sana.
“Eh Cowok bego! Tahu gak! Gue sakit hati lihat lo sama Bella-tung itu!! Gue doain moga cepet putus yah! #smirk”
Naufal terkekeh membacanya.

Malam ini seperti biasa, Naufal berkunjung ke rumah yang katanya, “Calon Istrinya.” Keduanya -Naufal dan Ara- tengah duduk di balkon.
“Ngapain lo cengar-cengir kayak orang gila gitu?” tanya Ara bergidik tatkala memperhatikan raut wajah Naufal yang aneh.
“Gue habis putus sama Bella” jawab Naufal menatap mata Ara.

Ara segera mengalihkan pandangannya agar tak terbuai.
“Lo nggak patah hati?” heran Ara.
“Lo nggak seneng?” Naufal menatap wajah Ara dengan kening berkerut.
“Maksud lo?” Ara balik bertanya.
“Gue mutusin dia karena lo! Karena gue baca tulisan di origami, gue jadi… ” Naufal menggantung ucapannya, tangannya melingkar indah pada pinggang ramping Ara, membuat Ara nervous.
“Gue sayang sama lo..” bisik Naufal tepat di telinga Ara. “Ara.. mau kan, jadi istri gue?” lanjutnya.
“I, iiya..” balas Ara.

Naufal mendekap Ara erat dan menopangkan dagunya pada bahu Ara.
“Makasih..” tambah Naufal.
“Eh, tapi.. tadi lo eh kamu bilang istri?”
“Iya, kan secepatnya aku bakalan nikahin kamu…”

Cup! Naufal mencium puncak kepala Ara lama.

 

17.  Contoh Cerpen Galau

 

Who I Am?

Hari ini langit kota Padang dipenuhi awan hitam. Orang-orang bilang awan itu adalah awan kumulonimbus. Awan yang menandakan akan turunnya hujan. Benar saja, beberapa detik kemudian aku melihat hujan turun dan pepohonan dengan riangnya menyambut datangnya hujan.

Aku termenung sesaat sambil menompangkan daguku pada kepalan tangan. Wajahku masih mengarah ke luar jendela, menyaksikan betapa bahagianya pepohonan saat menerima tetes demi tetes hujan yang turun. Sejenak aku tersenyum miris. Sayangnya “dia” orang yang aku cintai tak pernah bahagia saat aku mencurahkan kasih sayangku padanya.
Dia selalu mengeluh lalu seketika marah setiap aku memberikan perhatianku padanya. Apa lagi saat aku menanyakan mengapa ia begini. Dia hanya akan meninggalkanku di persimpangan gang dekat rumahku lalu melanjutkan motornya dengan kencang. Itulah yang akan terjadi jika aku menanyakan masalah “itu” lagi.

Aku di sini masih duduk di dalam kelas tak berpenghuni. Hanya ada aku di sini, sendiri. Jika kau menanyakan teman-temanku, jawabannya mereka sedang mengahafal pelajaran di luar kelas saat ini. berkumpul bersama. Namun aku memilih tetap duduk di kelas ini dan masih dengan posisi awalku, melemparkan pandangan ke luar jendela.

Memoriku memutar kejadian kemarin, saat dia menjemputku. Dia menjemputku dengan seorang teman cowoknya yang bernama Ryan dan dua orang teman ceweknya. Dan tebak. Dia membonceng salah satu teman ceweknya!
Aku sedikit shock melihat pemandangan yang tak mengenakan itu. Dengan polosnya ia melemparkan senyum polosnya saat aku mendekati posisinya. Cewek yang ia bonceng tadi pindah ke motor Ryan. Jadilah Ryan membonceng dua cewek sekaligus. Wajahku memerah menahan amarah. Saat aku telah duduk di boncengan motornya aku mulai mengeluarkan sejurus pertanyaanku.

“Kenapa kamu ngebonceng dia? Aku nggak suka!” ucapku menaikkan satu oktaf suaraku.
“Dia kan cuma pacar adikku”
“Tapi kan bukan adik kandungmu!”
Kami memperdebatkan masalah itu sepanjang jalan. Bagaimana tidak, di depanku saja dia berani begini, apa lagi di belakangku?

Setelah sampai di persimpangan gang dekat rumahku, ia memintaku turun dari motornya lalu pulang. Aku tak bergeming, tetap bertahan pada posisiku.
“Aku mau ikut!” aku memaksa ikut dengannya untuk mengawasinya. Ia berkata bahwa ia akan pergi ke rumah Abi untuk menjenguk temannya. Dan aku tak mau lagi jika di perjalanan nanti ia membonceng cewek itu lagi.
“Nggak boleh. Aku ntar pulangnya malam. Kasian kamunya pulang kemaleman, ntar mama marah” ucapnya sembari mengelus kepalaku berharap aku mengerti.
Namun aku masih tak terima dengan ucapannya. Aku memaksa terus ikut dengannya dan ia tetap tak ingin membawaku.

Hampir sejam kami bertengkar lalu aku memutuskan untuk pergi.
“Yaudah, kalau teman-temanmu lebih penting untukmu. Aku pergi. Aku tau aku tak penting” ucapku sambil berlalu. Aku ingin ia menghentikanku, namun setelah beberapa langkah ia tetap tak menghentikanku. Aku menoleh ke belakang. Yap. Ia sudah pergi.

“Woi Henny!” Cece menepuk pundakku dengan keras membuat lamunanku seketika hilang. Aku hanya melirik kan mataku padanya lalu kembali melihat jendela.
“Lo pasti ada masalah lagi sama Dayat?” Yap. Nama pemuda yang aku cintai itu Dayat. Lengkapnya Thoha Wahida Hidayat.
Aku diam tak bergeming, lidahku kelu untuk berkata-kata lagi. Cece yang mengerti akan perasaanku lekas memelukku. Tak terasa buliran bening itu jatuh tak tertahankan. Perlahan isak tangisku pun pecah dan aku berusaha menahannya walau hujan pasti menyamarkannya.
Entah alunan musik dari mana berdentang nyaring di kelas ini. Lagu Maudy Ayunda yang berjudul “Aku atau Temanmu” menyindirku habis-habisan.

Aku mulai tak suka…
Ketika kau mulai acuhkan diriku..
Apakah kau masih menganggap diriku sebagai kekasihmu?

Apa kau tahu bagaimana rasanya diabaikan? Rasanya lebih sakit dibanding cintamu yang tak terbalas. Namun aku tak pernah mau untuk pergi dari hidupnya. Walau sering kali hatiku bertanya-tanya, siapakah aku untuknya? Apakah aku penting untuk hidupnya?

Seringkali kau lupakanku
Saat bersama teman-temanmu
Pilih aku atau teman-temanmu?
Dan ku kan pergi tinggalkanmu..

Apakah ia tak tahu bahwa aku sangat mencintainya? Apakah ia tak menyadari bahwa hatiku terluka? Sekali lagi hatiku bertanya siapakah aku sebenarnya untuk hidupnya? WHO I AM?

 

18. Contoh Cerpen Mengenai Pengalaman Pribadi

 

Aku Hatiku Pemikiranku dan Keadaan

Wegga Perkasa

Malam ini sungguh syahdu aku duduk berdua manja bersama alat ketik canggihku. lampu tidur yang redup diiringi lagu yang mendayu-dayu. Seperti biasanya hatiku dan pemikiranku selalu saja beradu, mereka bagai ombak di laut yang terus berkejaran saling mendahului menunju pantai. Hatiku yang halus terus tergesek oleh pemikiranku yang tampak terus memaksa. Tapi kelembutan hati ini terus buat pemikiranku terpana. Mereka hendak beradu tentang apa yang akan diperbuatku esok hari.

Yaa mereka selalu saja begitu, aku ini adalah seorang pengangguran, hatiku terus membahas tentang kebodohanku saat aku putuskan untuk keluar dari perkerjaan bulan lalu. Pemikiranku terus mendesak bahwa keputusan itu sangatlah tepat, “buat apa terus bekerja di tempat itu?” sejenak mereka bisa diam saat aku melakukan sesuatu, tapi setelah sesuatu itu selesai mereka kembali beradu di dalam aku yang sudah mulai tambun.

Aku putuskan untuk bermain main dengan smartphoneku, saat itu aku melihat mereka teman-temanku yang terlebih dahulu berhasil. Sedangkan aku? Lagi-lagi hati dan pikirku beradu argumen. Penyesalan dan pembelaan diri terus terngiang-ngiang di kepalaku. jika saja aku bisa mengatur dua raksasa di dalamku ini…

Tetapi hari itu ada yang berbeda, kali ini hati dan pikirku sejalan entah ada angin apa mereka putuskan untuk sejalan. Ternyata mereka sedang membayangkan masa depan yang indah. Mereka seperti membuat gambaran tentang aku dan beberapa orang di sekelilingku yang mereka sebut keluarga sedang berbincang mesra satu sama lain.

Aku pun terbawa dengan gambaran mereka, aku hatiku dan pikirku akhirnya bersatu padu membentuk suasana indah di masa depan. Kami bertiga saling bersaut halus memberikan ide-ide manis. “bagaimana kalau punya dua anak?” kata hatiku menawarkan. “ehmm… yaa boleh tapi aku mau kalau kita punya mobil berwarna hitam” sahut pikirku, “bukannya lebih baik kalau mobil berwarna biru?” timpal hatiku. “sudah.. sudah.. bagaimana kalo keduanya?” usulku kepada hati dan pikirku. “hahaha” tawa kita terpancar dari senyum di bibirku.

Tapi suasana ini pun berubah saat pikirku berkata “bagaimana cara kita menggapainya?” kita bertiga terdiam senyum di bibirkupun berubah aku tertunduk malu pada nasibku.

19. Contoh Cerpen Dengan Tema Perjuangan

 

Perjuangan Belum Usai

Nazri Sanni sarasanti

Kupandangi langit malam yang cerah mengandung rembulan dengan balutan sinar keemasan. Tak mau kalah, jutaan bintang gemintang yang gemerlap pun tersebar luas bagai hamparan permadani. Aku yakin, diantara jutaan bintang itu pasti ada satu milikku dan suatu saat nanti aku akan dapat menggapainya dengan kemauan dan tekad yang kuat.

Aku memang terlahir dari keluarga yang berlatar belakang ekonomi rendah. Atau mungkin ekonomi paling bawah. Namun hal tersebut bukan masalah bagiku, dan tak sedikitpun menyurutkan niatku untuk terus belajar dan bersekolah setinggi mungkin supaya semua impianku dapat menjadi nyata.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat aku hendak mamasuki jenjang pendidikan menengah atas. Aku dan kedua orangtuaku kembali dipusingkan oleh masalah ekonomi yang semakin sulit. Dulu wajib belajar hanya 9 tahun, dan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah hal yang mustahil untuk masyarakat ekonomi rendah sepertiku.
Ditambah lagi beban hidup di kota besar seperti ini, dimana setiap langkah kaki harus beralaskan lembaran permadani bernominalkan rupiah.
Namun lagi-lagi kutepis semua pemikiran mustahil yang ada di benakku. Setiap pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk bekerja demi sepeser rupiah dan berusaha mencari peluang beasiswa-beasiswa agar aku bisa belajar di bangku Sekolah Menengah Atas.

Bersyukur, adalah sebuah kata dalam kamus hidupku yang tidak akan pernah usang dikikis masa. Tuhan telah menititipkan kecerdasan padaku, sehingga dengan kondisi ekonomiku yang seperti ini aku masih memiliki peluang sekolah yang cukup besar.
Tuhan memang maha Adil, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan.

“Mas, kowe iseh pengen nglanjutke sekolahmu meneh po?” Ibu masih sibuk dengan gorengan ditampahnya.
“Njih bu, Dimas arep usaha nggolek beasiswa ben iso sekolah meneh.”
“Halah Mas, mbok rasah mimpi. Kowe kuwi mung anak bakul ronsok, sopo sing arep mbayari sekolahmu?” Kalimat terakhir dari bapak benar-benar menjadi anak panah yang dengan cepat bersarang di relung hatiku. Kalau dipikir dengan logika memang ucapan bapak benar. Namun, akankah aku meyerah begitu saja pada kalkulasi takdir?

Lagi-lagi Tuhan memang selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Berkat usah dan kerja kerasku, akhirnya aku berhasil duduk di bangku salah satu SMA Negeri Favorit Jakarta. Kini aku kembali berhasil mengalahkan kemustahilan dari kalkulasi takdir yang bersarang di kehidupanku. Namun tak lama setelah aku bersekolah di tempat itu Bapak pergi meninggalkan aku, ibu dan adikku untuk selamanya.

“Aku tahu, saat ini perasaanmu hancur lebur bercampur layaknya bubur yang hambar tanpa bumbu. Tapi yakinlah selalu ada jalan untuk orang yang mau mengubah hidupnya.” Alin turut berduka atas kepergian bapakku.
“Sungguh, aku tidak ingin kehilangan bapak untuk selamanya. Aku tidak sanggup menatap apa yang akan terjadi nantinya.” Tanpa kusadari tangisanku pecah, tumpah-ruah.
“Aku mengerti betul perasaan yang kau rasakan, aku pun pernah merasakan hal yang sama. Jika kau ingin menangis, menangislah sampai menelaga. Menangislah selagi kau masih bisa menangis, karena itu manusiawi.” Alin memang selalu mengerti kondisiku, ia adalah teman seperjuanganku yang sama-sama menggantukan kehidupannya dari tumpukan sampah Ibu Kota.

Begelantunan merebah malam yang kian tawar dengan dihantui rasa kesedihan yang tak kunjung sirna.
“Sampai kapan kau akan seperti ini? Ibu dan Azizah membutuhkanmu, ayo bangkitlah bangkit! Bangkiitt! Bangkiiitt!!” Aku terkesiap bangun dari tidurku ketika sepasang suara dalam mimpi itu meneriakiku tanpa ampun.
“Oh sudah subuh ya?” gumamku lirih melirik jam dinding usang yang menempel di dinding. Kuambil air wudhu dan segera melaksankan sholat sebagai salah satu kewajibanku kepada Sang Khalik.

Pagi datang menjelang. Mentari timbul menyingsing.
Aku pun harus kembali ke sekolah dan kembali kepada keseharianku yang melelahkan. Tak terasa sudah hampir dua tahun aku menimba ilmu di sekolah ini. Aku bertekad untuk lulus dengan nilai terbaik supaya aku dapat dengan mudah meraih beasiswa untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Rupanya, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan. Dan impian tak selalu senada kehidupan. Perjalananku ketika menimba ilmu di sini tidak semudah yang ada dipikiranku.
Banyaknya diskriminasi sosial yang aku dapatkan selama di sini kerap kali hampir menumbangkan mimpi-mimpiku dan tak sedikit dari teman-teman di kelas yang tidak menyukai keberadaanku. Mereka selalu beranggapan bagaimana bisa seorang anak yang menggantungkan hidupnya dari tumpukan sampah bisa bersekolah di sini?
Namun sekali lagi, aku selalu berusaha mengokohkan kembali mimpi-mimpi yang hampir tumbang itu. Tak pernah kudengarkan cemoohan mereka, apalagi meladeninya. Kuanggap cacian yang bertubi-tubi dari bibir mereka semua adalah do’a yang akan mengantarkanku kepada kesuksesan.

“Dimas, mengapa belakangan ini prestasi belajarmu menurun?” Aku hanya menunduk, menggurat-gurat lantai keramik dengan sepatu dekilku.
“Kalau prestasimu menurun seperti ini terus sepertinya saya terpaksa harus mencabut beasiswa pendidikanmu!” Tukas kepala sekolah dengan nada agak tinggi.
“Tap.. tapi pak.. Saya mohon jangan cabut beasiswa saya. Saya baru saja kehilangan ayah saya.” Tak tega melihat rona hujan kesedihan di wajahku akhirnya kepala sekolah memberikanku satu kesempatan untuk memperbaiki prestasi belajarku yang menurun.

Lagi-lagi, cobaan itu datang menyerang tanpa kenal ampun. Menghantam tanpa kenal padam. Perlakuan kurang menyenangkan itu hadir lagi ketika aku hendak berusaha memperbaiki prestasi belajarku. Aku mendapat kecurangan dari pihak siswa dan guru yang tidak menyukai keberadaanku. Siswa tersebut memberikan sogokan kepada salah satu guru demi menurunkan reputasi prestasiku di sekolah. Dan benar saja karena kecurangan itu, kini beasiswaku dicabut oleh pihak sekolah.
Masa tenggang pendidikanku di sini hanya tinggal satu tahun sebelum kelulusan. Namun, kini yang menjadi masalah adalah bagaimana aku menyelesaikan pendidikan ini? sedangkan saat ini aku tidak memiliki uang sepeser pun?
Dan pada akhirnya, mau tidak mau kini aku harus bekerja lebih keras demi mencukupi biaya kebutuhan sehari-hari dan biaya bulanan sekolahku.

Jarum jam dinding usang di kamarku kini berpijak tepat pada sepertiga malam. Beralaskan sajadah kusam kurendahkan diri di hadapan sang Illahi demi memohon curahan kasih sayang dan anugerah-Nya. Air mata yang jatuh sudah tak terhitung lagi. kucurahkan segala keluh kesah yang menjadi beban terberatku. Semoga pada sepertiga malam ini sang Illahi mendengar rintihan satu lagi hambanya yang merindukan kasih dan sayang-Nya.

Satu lagi pagi, satu lagi mimpi terlewati. Entah sebuah keajaiban atau jawaban dari Tuhan atas do’aku malam itu, hari ini aku kembali dipanggil oleh kepala sekolah. Dan ternyata beliau memberikan kembali beasiswa itu kepadaku.
“Dimas, saya berikan kembali kepadamu beasiswa pendidikan di sekolah ini. Saya baru saja mendapatkan bukti bahwa telah terjadi moneypolitik di belakang ini semua. Memang prestasi belajarmu sempat menurun, namun kini kamu telah membuktikan prestasi yang baik. Selamat!”

Hingga tiba saatnya hari kelulusan. Dengan perjuangan yang keras Alhamdulillah aku dapat lulus dari sekolah ini dengan predikat siswa terbaik. Dan tak hanya itu, impianku untuk melanjutkan ke jenjang Perguruaan Tinggi pun berhasil kuraih.
Satu lagi mimpiku yang dapat menjadi nyata. Sungguh besar anugerah Tuhan untukku, dan hanya dengan bersyukurlah caraku untuk berterima kasih.
Namun, dibalik kabar bahagia itu. Kabar duka kembali menghampiri hidupku, ternyata Tuhan lebih menyayangi keluargaku. Kini ibu dan adikku yang harus pergi menyusul bapak untuk menghadap sang Illahi.

Rona warna gelap mucul di timur Negeri yang penuh hinar binar
Menembus beberapa digit kesedihan yang tertuang Aku hanya seorang diri, menyendiri, sendiri Terperangkap dalam kehidupan yang fana
Terbang bersama sejuta mimpi yang tak tahu mana ujungnya
Meniti kehidupan yang hakiki
Bersama sang Illahi

Kini aku telah berhasil melewati serangkaian tikungan, turunan dan tanjakan yang Tuhan persembahkan untuk kehidupanku. Tujuan utamaku dulu adalah menjadi pahlawan untuk Negeri Indonesia tercinta ini. Bukan seorang pahlawan yang mengangkat senjata dan berperang menumpahkan darah, namun menjadi pahlawan pendidikan yang akan mencerdaskan jutaan anak bangsa yang hidup diambang garis takdir yang memilukan.

Perjuanganku kembali dimulai saat aku mulai merintis “Istana Pendidikan Anak Pinggiran”. Sekolah ini kudirikan bersama segenap rekanku sebagai dedikasi untuk Negeri. Seuntai layanan untuk anak pinggiran yang haus akan pendidikan.
Sudah cukup lama sekolah ini berdiri. Dan cukup tinggi antuasias masyarakat yang senantiasa mendukung serta membantu menghidupkan kegiatan pembelajaran di sekolah ini.

Namun kala itu, perlahan satu-persatu rekanku yang sekaligus tenaga pengajar di sini pergi meninggalkan sekolah kami.
“Saya butuh kehidupan yang menjanjikan.” Itu adalah salah satu alasan yang mereka utarakan. Beruntungnya, masih ada beberapa dari mereka yang dengan sukarela mengajar di sini. Aku sangat bersyukur sekolah ini tidak jadi kandas di persimpangan. Aku berharap masih ada diantara ratusan manusia berdasi yang memikirkan nasib anak-anak pinggiran disini. Masih ada segores pilu dalam qalbu mereka yang lena duduk diatas empuknya kursi Dewan untuk memperhatikan pendidikan orang-orang berkebutuhan. Ya, itulah harapaku dalam langkah perjuangan. Perjuangan ini belum usai. Belum usai.

Hari-hari yang berlalu kian pasti
Satu demi satu melangkah untuk menaiki anak tangga kehidupan
Meneteskan peluh dijalanan gersang ibukota
Berjuang meraih asa demi sebuah pendidikan
Kalau aku bisa kirimkan proposal kepada Tuhan
Akan kukirim jutaan proposal
Agar kehidupan dan pendidikan
Terus beriringan bersama dengan kesejahteraan.

 

20. Contoh Cerpen Tentang Perpisahan

 

Kenangan Terakhir Kakak

Buyung Wijianto

Pagi yang cerah, matahari terbit dan sang senja terbentang dari kutub barat hingga kutub timur di bawah langit yang cerah menampakkan keagungan sang kuasa. Ditengah mimpi malam kemarin menyatu dengan balutan gemericik air hujan sisa kemarin. Terbangun dan terngiang benda itu, benda yang aku simpan hingga saat ini.

Benda yang sangat bermakna bagiku dan telah menyatu di hidupku, karena benda ini menyimpan banyak kenangan dengan seorang yang pernah mengisi hari hariku dengan candaan dan tawanya. Tapi kini ia telah pergi.

“Hai kak, mau kemana?”. Tanyaku sebelum ia pergi.
“Hmmm… aku mau pergi”. Jawabnya.
“Kemana?”. tanyaku penasaran.
Tapi ia tidak menjawab pertanyaanku yang terakhir, lantas ia pergi dengan membawa tas ransel besarnya dan pamit kepada semua.
Semuanya terasa biasa dengan kepergiannya, mungkin mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan, tapi aku sadar mungkin ini sudah akhirnya untuk ia pergi dari sini.

Sebelum ia pergi ia sempat menitipkan suatu barang kesayangannya yang ia simpan baik baik dan selalu dijaganya, barang itu dibungkusnya dengan rapi.
“Ini…”. Ucapnya dengan tangannya memberikan barangnya.
“Apa ini kak?”. Tanyaku.
“Tolong jaga dan simpan baik baik, sebagaimana aku menyimpannya”. jawabnya.
Tanpa banyak pertanyaan lagi yang aku lontarkan padanya, aku terdiam dan berfikir “apa istimewanya barang ini?”. Tak lama ia pergi dan menjauh.

“Selamat jalan kak…!”. Ucapan terakhirku untuknya.
“Jaga diri baik baik ya…”. sahutnya dengan jauhnya kendaraan itu.
“Kakak juga ya…”. Suaraku yang terucap.

Saat setelahnya rasanya hidupku terlalu hampa karena salah seorang yang mengisi hidupku kini telah berkurang satu, hari itu awal perubahanku yang sangat kurasakan, nilaiku menerun, konsentrasiku buyar dan hidupku kini lebih banyak untuk menyendiri dan tidak memperhatikan lingkungan.

Semua keluargaku bertanya “Apa yang terjadi?”. Bukan hanya mereka tapi juga guru serta teman temanku, tapi aku tak menghiraukan mereka semua, karena menurutku itu pertanyaan yang tidak perlu untuk dibahas.
Karena kunilai perubahanku sangat drastis aku berfikir untuk mengembalikan lagi sifatku yang dulu, yaitu aku yang selalu ceria dan selalu menghibur, bukan sifatku sekarang sedih, penyendiri dan tertutup.

Setelah banyak perubahanku yang kurubah sedikit demi sedikit, aku mulai dengan melupakan kenanganku dengan sosok kakak yang selalu ada. Aku simpan semua barang barang pemberiannya yang membuatku mengenangnya lagi, sontak aku terkejut melihat barang terakhir pemberiannya kepadaku.

Karena penasaran, aku membuka isinya dan aku melihat sebuah buku catatan kecil yang masih terawat. kubuka setiap lembar buku itu dan kubaca isinya, kini aku pun mengerti apa yang ia lakukan selama ini, karena ia selalu menceritakan dan menuliskannya di buku ini. Kini aku mengerti alasannya pergi karena ia ingin menyelesaikan tugasnya, dan mungkin ia tidak akan kembali lagi.

 

 

Semoga Bermanfaat

 

Sumber: Cerpenku.com

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Menguji Adrenalin Ternyata Berbahaya Dan Meningkatkan Stress

 Sering Uji Adrenalin? Baca Nih! Adrenalin atau yang juga dikenal sebagai epinefrin merupa…