Compulsive Buying: Gangguan Kepribadian Gila Belanja

Belanja adalah suatu kegiatan yang lumrah dilakukan, namun menjadi sangat fenomenal ketika kegiatan tersebut menjadi sebuah perilaku adiktif, obsesi yang mana dilakukan secara terus – menerus dengan melakukan pembelian akan item – item yang sesungguhnya tidak begitu diperlukan melebihi kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki. Perilaku ini dinamakan compulsive buying.

Pembelian kompulsif yaitu perilaku yang mempunyai karakteristik menyibukkan diri dengan pembelian atau dorongan untuk membeli yang tidak tertahankan, mengganggu dan tidak terkendali yang diasosiasikan dengan pembelian secara berulang dari barang yang diluar kemampuan atau berbelanja dengan jangka waktu yang lebih lama dari yang direncanakan.

Compulsive buying sebagai suatu kondisi kronis, yaitu perilaku seseorang yang melakukan aktivitas pembelian berulang sebagai akibat dari adanya peristiwa yang tidak menyenangkan maupun perasaan negatif. Tindakan demikian yang dilakukan secara berulang-ulang menimbulkan suatu perilaku yang diberi nama perilaku pembelian kompulsif.

Jika seseorang memiliki perilaku compulsive buying, maka pada saat menghadapi suatu peristiwa yang tidak menyenangkan atau negatif dia akan melakukan aktivitas pembelian atau berbelanja untuk mengurangi perasaan yang tidak menyenangkan atau negatif tersebut. Jadi bisa dikatakan perilaku compulsive buying itu adalah obat untuk menghilangkan perasaan yang tidak menyenangkan.

Beberapa di antara mereka/konsumen menunjukkan pembelian secara ekstrim atau yang disebut juga pembelian kompulsif (compulsive buying)”. Konsumen yang kompulsif adalah konsumen yang merasa ketagihan, dalam beberapa kondisi mereka berlaku diluar kontrol dan sikap mereka dapat berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain.

Yakin ingatanmu Asli ?

Pembelian kompulsif adalah konsumen yang cenderung suka membelanjakan uang untuk membeli barang meskipun barang tersebut tidak mereka butuhkan. Orang yang melakukan melakukan pembelian secara kompulsif disebut compulsive buyer.

Baca Juga:

Karakteristik Compulsive Buying

compulsive buying poto

Ciri- ciri compulsive buyer yang paling umum adalah sebagai berikut:

  1. pembelian produk ditujukkan bukan karena nilai guna produk
  2. konsumen yang membeli produk secara terus-menerus tidak mempertimbangkan dampak negatif pembelian
  3. pembelian produk yang tidak bertujuan memenuhi kebutuhan utama dalam frekuensi tinggi dapat mempengaruhi harmonisasi dalam keluarga dan lingkungan sosial
  4. perilaku ini merupakan perilaku pembelian yang tidak bisa dikontrol oleh individu
  5. ada dorongan yang kuat untuk mempengaruhi konsumen segera membeli produk tanpa mempertimbangkan resiko, misalnya keuangan
  6. pembelian dilakukan secara tiba-tiba tanpa mencari informasi
  7. pembelian dilakukan untuk menghilangkan kekhawatiran atau ketakutan dalam diri
  8. perilaku yang ditujukan untuk melakukan kompensasi, misalnya kurangnya perhatian keluarga.
Baca Juga  Bulimia Nervosa, Gangguan Makan Orang Perfeksionis

Pemenuhan kebutuhan akan barang dan jasa yang dilakukan oleh remaja bertujuan untuk memperoleh pengakuan terhadap eksistensinya, para remaja menggunakan sesuatu karena banyak orang memakainya atau memakai sesuatu karena ikut-ikutan.

Dari penggunaan barang-barang tersebut, maka mereka akan merasa lebih diterima dalam kelompoknya. Bagi para remaja berganti-ganti aksesoris, mulai dari warna rambut, pemilihan merk pakaian, makanan dan minuman merupakan gaya hidup modern yang harus disesuaikan agar tidak ketinggalan zaman.

Satu hal yang menarik adalah bahwa perilaku compulsive buying biasanya terjadi pada produk-produk yang bersifat consumers goods, seperti pakaian dan aksesoris yang dapat menunjang penampilan seseorang. Kasus compulsive buying sangat minim terjadi untuk produk-produk keperluan sehari-hari. Oleh karena itu, compulsive buying cenderung terjadi pada konsumen perempuan.

Penemuan yang paling konsisten tentang compulsive buying adalah bahwa kondisi ini sangat besar pengaruhnya bagi konsumen perempuan. Terdapat rata-rata 90 persen konsumen perempuan memiliki perilaku pembelian yang kompulsif ,namun perbedaan gender dalam perilaku pembelian yang kompulsif tidak dijelaskan secara lebih mendalam, hanya ditemukan bukti yang menyatakan bahwa dimensi berbelanja yang terkait dengan masalah emosional dan identitas lebih didominasi oleh konsumen perempuan daripada konsumen pria.

Faktor Yang Memepengaruhi Compulsive Buying

Perilaku compulsive buying terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang muncul dari dalam diri remaja, misalnya psikologis dan hal-hal yang menyangkut kepercayaan diri remaja. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar remaja misalnya sociological dan keluarga. sehingga dapat dikatakan bahwa compulsive buying tidak muncul begitu saja.

Dari sisi sociological, pengaruh muncul dari tayangan di televisi, ajakan teman, frekuensi berbelanja, dan kemudahan penggunaan kartu kredit. Faktor keluarga juga memiliki peranan yang penting terhadap pembentukan karakter remaja yaitu adanya perubahan struktur dalam keluarga (perceraian, perpisahan, dan kematian), sumber daya keluarga, tekanan-tekanan dan permasalahan dalam keluarga (family stressor), status sosial-ekonomi, dan ketersediaan orangtua dalam memenuhi permintaan anak.

Dampak Perilaku Compulsive Buyer

compulsive buyer

Fenomena compulsive buying dewasa ini semakin meningkat. Menurut sebuah studi Universitas Stanford di Amerika Serikat pada tahun 2007, diperkirakan 17 juta orang dewasa di Amerika Serikat menderita sindrom
ompulsive buying.

Baca Juga  Self Hipnosis : Cara mudah memprogram ulang pikiran bawah sadar Anda

Hasil survey yang dipublikasikan dalam The American Journal of Psychiatry, compulsive buyer menderita kesusahan yang berlebihan, depresi tingkat tinggi, lebih rentan untuk bunuh diri dan aktivitas ilegal seperti
perampokan, serta terlibat dalam perceraian dan konflik keluarga.

Dampak negatif lain yang lebih kongkret adalah kehancuran finansial. Compulsive buying sebagai suatu manifestasi ekstrim dari individu-individu yang mencari perbaikan suasana hati dan peningkatan rasa percaya diri dengan membeli produk-produk yang dapat meningkatkan identitas diri individu tersebut.

Dengan kata lain, hasrat untuk melakukan pembelian pada pembeli yang kompulsif lebih disebabkan oleh dorongan psikologis dari dalam diri mereka. Hambatan dalam bentuk finansial bukan menjadi masalah bagi para compulsive buyer, mengingat dorongan untuk membeli suatu produk tertentu sangat kuat, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tidak tersedianya dana yang cukup untuk menutupi kebiasaan berbelanja para compulsive buyer.

Perlu diperhatikan bahwa compulsive buyers tidak melakukan pembelian semata-mata hanya untuk mendapatkan suatu produk tertentu, tetapi lebih dititikberatkan pada hasrat untuk mencapai kepuasan dan kesenangan melalui proses pembelian yang dilakukan oleh individu.

Dalam jangka panjang, compulsive buying dapat menimbulkan dampak yang negatif, yaitu: kebangkrutan, hutang yang menumpuk, keretakan rumah tangga dan sebagainya. Dampak yang kemungkinan besar dapat terjadi dari perilaku pembelian yang kompulsif meliputi berbagai aspek, misalnya dari sisi finansial adalah tingginya hutang kartu kredit dan rendahnya dana yang bisa ditabung.

 

Perilaku Kecenderungan Compulsive Buyying Pada Remaja

Apa Pendapatmu?

Check Also

Tanda-Tanda Hamil Yang di Alami Wanita Secara Psikologis

Tanda-tanda hamil yang ditunjukkan melalui perubahan fisik, umumnya para wanita akan langs…