Kumpulan Cerita Pendek Fabel Untuk Anak-Anak Lengkap Dengan Pesan Moral

Hallo semua, pernah nggak sih dulu waktu kecil baca atau dengerin dongeng dari mama? Cerita macam apa yang paling kaalian suka. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membagikan kepada kalian cerita pendek hewan atau yang biasa disebut dengan cerita fabel.

Ok, Langsung saja gak usah banyak basa basi, di bawah adalah kumpulan cerita pendek yang berbentu fabel yang dapat kalian bacakan kepada buah hati tercinta atau murid murid kalian agar mereka dapat mengambil pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Kumpulan Cerita Inspiratif Orang-Orang Sukses Dunia

KUMPULAN KISAH INSPIRATIF MOTIVASI HIDUP

20+ Contoh Cerpen Berkualitas Di Semua Tema (Lengkap)

Yakin ingatanmu Asli ?

1. Seekor Rubah dan Bangau

Pada suatu hari ketika seekor rubah sedang berjalan-jalan di hutan, dia berpikir “Udara yang cerah!! alangkah menyenangkannya jika aku pergi memancing,” katanya dalam hati. Segera disiapkannya alat-alat untuk memancing lalu segera ia pergi ke telaga yang letaknya ada di tengah-tengah hutan.

Ketika sampai di telaga, ia melihat seekor burung bangau yang anggun sedang berenang di sebuah telaga yang berair jernih.

wahai bangau, apa yang sedang kau lakukan?” tanya rubah sambil mengeluarkan pancingnya.

Sang rubah sudah membayangkan bahwa ia akan mendapat ikan yang banyak untuk dimasak sebagai hidangan makan malamnya.

“Aku sedang berenang. Menikmati sejuknya air telaga yang membasahi bulu-buluku” jawab bangau sambil mengepak-ngepakan sayapnya yang lebar itu.

“Apa kau akan memancing, rubah?” tanya bangau ketika melihat alat pancing yang sedang disipakan rubah.

“Ya, aku akan memancing untuk hidangan makan malamku” jawab rubah sambil membuang kail yang telah diberi umpan itu ke telaga. Baru sebentar kali di lempar, tiba-tiba pancingnya bergetar, segera rubah menarik tali pancingnya dan melihat seekor ikan besar tergantung disana.

“Wahh.. asyikk.. Aku akan pesta besar nanti malam,” kata rubah dengan penuh sukacita.

“Apa kau mau makan malam di tempatku bangau?” tanya rubah sambil membereskan alat-alat pancingnya untuk segera pulang.

“Tentu saja,” jawab bangau dengan penuh semangat. Maka pulanglah rubah ke rumahnya untuk menyiapkan makan malam.

Tepat waktunya makan malam, datanglah bangau ke rumah rubah. “Tok..tok..tok!!”bangau mengetuk pintu.

“Silahkan masuk,” kata rubah sambil membukakan pintunya. Bangau pun masuk lalu mereka duduk di meja makan yang telah dihias dengan begitu indahnya. Bangau merasa sangat lapar. Aroma masakan begitu membangkitkan selera.

“Harum sekali! Pasti rasanya enak” kata bangau dalam hatinya.

Makanan pun dihidangkan. Rubah memasak sup ikan yang sangat harum dan meletakannya dalam mangkuk kecil. Melihat hal itu, bangau pun merasa sangat sedih karena dia tidak dapat menyantap sup tersebut. Paruhnya yang panjang tidak dapat digunakan untuk memakan sup di mangkuk yang kecil. Akhirnya bangau hanya dapat menatap sup tersebut sambil menahan rasa laparnya.

“Bangau, kenapa tidak kau makan supnya, apakah kau tidak menyukainya?” tanya rubah karena dilihatnya bangau hanya memandang sup tersebut.

“Paruhku yang panjang tidak dapat digunakan untuk memakan sup di mangkukmu yang kecil itu rubah” jawab bangau dengan sedih.

“Maafkan aku bangau, tetapi hanya mangkuk kecil ini yang kumiliki,” kata rubah

“tapi Kau tak perlu sedih, aku tau jalan keluarnya,” kata rubah lagi.

Rubah segera mengambil sebuah rantang lalu mengisi rantang itu dengan sup hingga penuh.

“Ini bawalah, kau bisa menikmati sup ini di rumahmu,” kata rubah sambil menyerahkan rantang itu kepada bangau. Bangaupun merasa senang.

”Terima kasih rubah, kau baik sekali,” kata bangau sambil berpamitan.

”Besok adalah giliranku untuk mengundangmu makan malam di rumahku” kata bangau saat mereka berpisah di pintu rumah rubah.

“Baiklah, aku pasti datang,” jawab rubah sambil melambaikan tangannya.

Demikianlah keesokan harinya, waktu makan malam tiba, rubah datang berkunjung ke rumah bangau.

“Tok..tok..tok..” rubah mengetuk pintu.

“Ahh.. rubah.. kau sudah datang. Mari masuk,” ajak sang bangau.

Ketika rubah masuk ke dalam rumah, terciumlah wangi harum dari masakan. “Perutku lapar sekali” kata rubah dalam hati. “Ayo kita segera makan” kata sang bangau sambil membawa rubah duduk di meja makan. Di atas meja sudah tersedia 2 buah kendi dengan leher panjang.

Rubah berpikir sejenak lalu berkata, ” aku tidak dapat makan dari dalam kendi ini, karena leherku pendek, apakah kau mempunya mangkuk kecil?”

“Ahh..tentu saja,” jawab sang bangau.

“Rantang yang digunakan untuk membawa sup mu yang kemarin, dapat kau gunakan untuk alasnya.”

Akhirnya rubah dan bangau pun dapat menikmati makan malamnya dengan penuh sukacita.

Pesan moral: Jika kita menaburkan kebaikkan, maka kebaikkan pula yang akan kita tuai. Bahkan berlipat kali ganda kebaikkan yang akan kita peroleh.

2. Babi dan Domba

Di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Letaknya di sebuah lembah yang hijau, dengan pepohonan yang rimbun. Disana tinggal beberapa keluarga saja, namun mereka memiliki usaha perternakan babi dan domba yang terkenal. Mereka memperkerjakan beberapa orang dari desa terdekat di sekitar lembah itu. Pekerja-pekerja ini, sehari-hari ditugaskan untuk mengembalakan domba dan memberikan makanan untuk babi.

Apabila domba telah memilki bulu yang cukup lebat, mereka akan mengambil bulunya dengan cara memangkas dengan gunting khusus. Kemudian bulu domba tersebut diperdagangkan ke pasar kota atau menunggu pembeli datang.

Begitupula dengan ternak babi. Apabila telah cukup besar dan memiliki berat yang cukup, akan diperdagangkan ke kota terdekat atau menunggu para langganannya datang membeli.

Jumlah domba dan babi yang dimiliki cukup banyak di kampung itu, sehingga hampir setiap bulan terlihat banyak pembeli dari kota yang datang ke desa tersebut.

Konon di zaman itu, binatang dapat berbicara satu dengan lainya dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia.

Kebetulan saja, kandang domba dan babi tidak berjahuan. Sehingga mudah diamati oleh para pekerja atau pemiliknya. Tanpa disadari kondisi kandang yang berdekatan itu, membuat babi dan domba kadang berbicara.

Sehari-hari, kedua kandang itu ribut dengan suara domba dan babi. Tanpa disadari manusia yang tidak mengenal bahasa binatang pada saat itu, sebenarnya suara gaduh itu bertanda babi dan domba sedang mengejek satu dengan lainnya.

Pada saat hari penjualan babi tiba. Beberapa babi besar biasanya dikeluarkan dari kandang untuk ditimbang dan diserahkan kepada pembeli yang telah memilih sebelumnya.

Pada suatu ketika,  seekor babi muda yang sudah cukup besar dipilih untuk dijual. Pemilik ternak itu menyuruh beberapa pekerja untuk segera mengeluarkan babi tersebut dari kandangnya. Namun tidak disangka, para pekerja sulit untuk menangkapnya.

Berbeda dengan babi-babi dewasa pada umumnya. Babi muda itu berlari mengintari kandang agar supaya sulit ditangkap oleh para pekerja. Namun karena pekerja-pekerja tersebut telah berpengalaman, mereka berhasil menangkapnya  dan mengikat kedua pasang kakinya dengan tali agar mudah dikeluarkan dari kandang.

Terdengar babi muda itu berteriak sambil meronta-ronta. Mendengar teriakan babi muda yang ketakutan, terdengar teriakan dari kawanan domba dari kandangnya.

“Penakut!” teriak mereka serentak.

Kemudian salah satu dari kawanan domba itu berkata, “Kenapa kamu harus berteriak dan menangis begitu gaduh, padahal teman-temanmu yang lain jarang melakukan hal yang sama. Mereka semua pasrah akan nasibnya, karena pada suatu saat semua ternak akan disembelih para pembeli.”

Mendengar ucapan dari domba dari kandang sebelah, seeokor babi dewasa kemudian membalasnya,

“Hai domba yang sok bijaksana! Engkau dapat berkata demikian dengan entengnya, karena engkau tidak mengalami hal yang sama. Apabila setiap pekerja datang menghampirimu, dan mengeluarkanmu dari kandang, mereka hanya mencukur bulu-bulumu, kemudian memasukan kembali engkau kedalam kandang.

Tetapi lihatlah kami, setiap kami diambil, tandanya sebentar lagi nyawa kami akan hilang. Disembelih oleh para pedagang kota. Hidup kami tidak lama seperti hidup yang kamu nikmati. Begitu tegakah engkau, melihat seorang anak babi di penghujung kematiannya, kemudian kalian semua metertawai dan mengejeknya?”

Seketika itu juga, terdengar kandang domba sunyi senyap. Mereka semua merenungkan apa yang dikatakan oleh babi dewasa tadi. Mereka kemudian menyadari, begitu beruntungnya mereka, dapat menikmati hidup lebih lama daripada seekor babi. Kemudian domba dewasa meminta maaf kepada babi dewasa tadi, atas perlakuan mereka yang tidak pantas.

Babi dewasa pun dapat memahami keadaan itu, lalu melanjutkan kegiatanya berguling dalam sedikit lumpur didalam kandangnya. Sementara babi muda tadi, berhasil dibawa oleh pembeli meninggalkan desa.

Cerita ini memberikan suatu pelajaran berharga. Ketika orang  lain mengalami masalah atau sedang kesusahaan,  mungkin kita tidak dapat membantu atau memberi lebih banyak, namun  bukan berarti kita diam. Berilah dukungan moral untuk menguatkan mereka.

3. Semut dan Belalang

Di tengah hutan, hiduplah seekor semut yang sangat rajin. Setiap hari semut kecil ini selalu berusaha mengumpulkan makanan dan menyimpannya di dalam lumbung. Teriknya matahari dan derasnya air hujan, tidak menyurutkan semangat sang semut untuk mengumpulkan makanan.

Dengan bersusah payah, sang semut bekerja keras untuk membawa makanan demi makanan yang berhasil dikumpulkannya untuk disimpan di dalam lumbung rumahnya.

Baca Juga  Teori Psikologis Pada Film The Blind Side

Pada suatu hari, ketika sang semut sedang berusaha membawa makanannya untuk di simpan di lumbung, sang semut bertemu dengan seekor belalang yang sedang asyik berjemur sambil bermalas-malasan.

“Hai mut.. apa yang sedang kamu lakukan?” tanya belalang.

“Aku sedang mengumpulkan makanan untuk kusimpan di lumbung” sahut sang semut. Belalang tertawa

“untuk apa bersusah payah  mengumpulkan makanan, bukankah di hutan banyak sekali makanan yang bisa kita santap?”

“Itu memang betul lang, tetapi aku menyimpan makananku untuk persiapan musim dingin nanti” kata sang semut sambil berusaha mendorong makanan hasil temuannya ke lumbung. Belalang kembali tertawa sambil mengejek sang semut

“Musim dingin masih lama, buat apa bersusah-susah sekarang? Toh masih banyak waktu untuk itu. Lebih baik kita bersenang-senang dulu”katanya sambil menyantap daun hijau yang ada di dekatnya.

Sang semut tidak memperdulikan belalang yang sedang bermalas-malasan itu, dia tetap saja sibuk untuk mengumpulkan makanan demi makanan yang bisa dijumpainya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sang semut kembali bersiap-siap untuk mencari makanan lagi. Ketika dia membuka pintu rumahnya untuk pergi, dilihatnya belalang sedang asyik duduk sambil bermain gitar dan bermalas-malasan.

Sang semut hanya menggelengkan kepala dan segera berlalu. Belalang yang melihat semut sudah mulai sibuk kembali mencari makan, hanya tertawa dan mengejek,

“Buat apa susah..buat apa susah..susah itu tak ada gunanya,” senandung sang belalang mengiringi langkah semut yang hendak pergi.

Demikianlah sepanjang hari sang semut sibuk mengumpulkan makanannya di lumbung sementara sang belalang asyik-asyikan bermain gitar, berjemur dan bermalas-malasan.

Setelah bekerja hampir sepanjang tahun, lumbung tempat persediaan sang semut hampir penuh, tetapi hal ini tidak membuat sang semut yang rajin itu menjadi malas. Dia masih tetap berusaha untuk mencari makanan untuk disimpan di lumbungnya.

“Selagi masih ada kesempatan, aku harus terus berusaha untuk mengumpulkan makanan, sebab tidak ada yang tau berapa lama musim dingin akan berlangsung,” kata sang semut dalam hati.

Sementara itu sang belalang, masih tetap saja bermalas-malasan dan bersenang-senang sepanjang hari.

Musim gugur pun segera tiba. Pohon-pohon yang tadinya hijau, perlahan-lahan berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Rumput-rumput pun mulai mengering. Udara menjadi semakin dingin.

Sang semut yang rajin tak putus harapan. Dia masih tetap berusaha untuk mencari makanan walaupun tempat persediaannya sudah penuh. Sedangkan sang belalang yang malas itu mulai sibuk mengumpulkan makanan untuk persediaan di musim dingin.

Akhirnya musim dingin pun tiba. Sang semut yang rajin itu duduk dengan nyaman didalam rumahnya yang hangat sambil menikmati makanannya yang berlimpah. Sedangkan sang belalang yang malas itu hanya menyimpan sedikit persediaan makanan. Sang belalang berpikir, “Musim dingin akan segera berakhir, jadi buat apa susah-susah mengumpulkan makanan di lumbung.”

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tak terasa sudah sebulan berlalu dan musin dingin masih belum berakhir.

Persediaan makanan sang belalangpun habis… dia hanya bisa memandang rumah sang semut yang nyaman dan hangat dari balik jendelanya untuk kemudian berusaha mencari makan di tengah-tengah musim dingin, tetapi dia tidak berhasil.

Akhirnya dengan menahan malu, dia mengetuk pintu rumah sang semut… tok..tok..tok..tok.. sang belalang mulai mengetuk.

Sang semut pun membuka pintu dan berkata “ada apa lang?” katanya. “Tolong berikan aku sedikit dari persediaan makananmu itu, karena persediaanku sudah habis, dan aku sangat kelaparan,” kata belalang mengiba.

Sang semut tertawa “Enak saja kau lang… ketika aku bersusah payah mengumpulkan makananku, kau malah mengejekku. Dan sekarang kau minta makanan persediaanku?” kata semut sambil mengejek. “Pergilah, cari sendiri makananmu…,” kata sang semut melanjutkan.

Belalang pun pergi meninggalkan rumah sang semut untuk mencari makanannya, tetapi dia tidak berhasil menemukan apa-apa. Ketika sang belalang hampir mati kedinginan dan kelaparan, sang semut datang untuk menolongnya dan mengajak belalang untuk tinggal di rumahnya yang hangat dan nyaman serta berlimpah makanan.

Pesan moral: Jangan sia-siakan hidup dengan bermalas-malasan. Karena upah kemalasan adalah bencana.

4. Semut dan Merpati

Pada suatu hari, ketika musim panas, segerombolan semut-semut sedang berjalan beriringan sambil membawa makanan diatas kepala mereka. Semut-semut itu terlihat begitu kompak dan sangat bersahabat satu dengan yang lain.

Pemimpin mereka adalah seekor semut gagah yang berjalan paling depan yang dengan cekatan selalu memberi aba-aba saat harus berbelok ataupun melangkah, agar makanan yang dibawa mereka, tidak jatuh ke tanah.

“Satu!!..dua!!..kiri!!..kiri..!!” Sang pimpinan memberi komando…”Awas!! di depan ada tanjakan!!” katanya lagi sebagai peringatan. Semut-semut yang lain cepat-cepat bersiap-siap agar makanannya tidak terjatuh dan mulai menanjak. “dibawah ada sungai, kita harus belok kekiri!” kata sang pemimpin lagi, rombongan semut di belakang mengikuti terus petunjuk dari pimpinan mereka hingga akhirnya mereka tiba di sarangnya.

Setelah meletakan hasil bawaan mereka, semut-semut itu berpisah untuk mengerjakan tugas-tugas mereka yang lain.

Adalah seekor semut yang masih muda belia. Rasa ingin taunya tentang dunia di luar sarangnya, begitu besar sehingga dia memberanikan diri untuk meminta iijin kepada sang pemimpin agar dapat diijinkan keluar dari sarang untuk memulai petualangannya.

“ehmm..maaf pak pemimpin” kata semut muda itu terbata-bata. “Apa boleh aku pergi keluar untuk melihat-lihat? Aku berjanji kalau aku tidak akan pergi lama” katanya lagi. Sang pemimpin semut itupun menatap dengan penuh rasa sayang kepada semut muda itu

“Anakku, jika engkau ingin pergi berjalan-jalan, aku tidak akan melarangmu. Tetapi berhati-hatilah karena dunia di luar sarang ini sangat luas dan kejam” katanya dengan bijaksana. Alangkah senangnya hati semut muda itu.

Setelah menyiapkan bekal untuk perjalanannya, berpamitanlah semut muda kepada sang pemimpin “Pak pemimpin, aku akan pergi sekarang,” katanya dengan penuh semangat.

“Berhati-hatilah di jalan, dan segeralah pulang,” kata sang pemimpin sambil menepuk-nepuk bahu semut muda itu. Maka berangkatlah semut muda itu dengan penuh semangat dan sukacita.

Kebetulan tak jauh dari sarang semut itu, terdapat sungai dengan air yang jernih. Karena rasa ingin tahunya, semutpun berjalan menelusuri jalan yang lembab, beberapa kali ia harus memanjat beberapa dahan pohon dan rerumputan.

Semut muda berjalan tanpa mengenal lelah hingga akhirnya dia merasa sangat haus. Semut muda segera mencari air untuk diminumnya. Di kejauhan, dilihatnya mata air yang sangat jernih, lalu semut muda ini pun segera berjalan menuju mata air yang sejuk itu.

Setelah dekat dengan mata air, semut muda sempat kebingungan, karena ternyata setelah dekat, letak mata air itu lebih tinggi dari tanah yang dipijaknya. Tetapi semut muda tidak kehilangan akal. Dia naik perlahan-lahan keatas sebuah batang rumput yang daunnya menjulur ke arah mata air itu.

Saat dia hampir saja mencapai puncaknya, tiba-tiba semut muda terpeleset dan jatuh kedalam mata air. Semut muda berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi dia kesulitan karena dia tidak bisa berenang.

Saat semut muda sedang bertarung antara hidup dan mati untuk menyelamatkan dirinya, seekor burung merpati yang sejak tadi asyik memperhatikan tingkah semut muda itu, tergerak oleh belas kasihan, lalu segera mematuk daun di pohon yang sedang dihinggapinya hingga jatuh ke dekat semut muda yang hampir tenggelam.

Semut muda segera menggapai daun itu dan dengan bersusah payah dia berusaha untuk naik keatas daun. Ketika sampai di atas daun, semut muda menatap burung merpati dengan penuh rasa terima kasih. Burung merpati pun terbang kearah daun itu dan mendorong dengan paruhnya agar daun tersebut menepi kepinggir mata air.

“Hai burung merpati, terima kasih atas pertolonganmu hari ini. Jika bukan karena engkau, aku sudah mati tenggelam tadi,” kata semut muda itu sambil berusaha untuk turun dari daun itu menuju ke tanah. Burung merpati menjawab

Baca Juga  99+Kata-Kata Bijak Lengkap, Motivasi, Cinta, Romantis 2019+Bahasa Inggris

“sama-sama semut. Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini?” tanya merpati.

“Aku sedang berjalan-jalan untuk melihat dunia di luar sarangku, lalu aku kehausan. Saat aku sedang memanjat rumput itu, aku terjatuh,” kata semut muda.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya merpati lagi.

“Aku akan kembali ke sarangku, karena ibu bapakku pasti sedang mencemaskan diriku,” jawab semut muda lagi.

Sementara semut muda dan merpati sedang bercakap-cakap, mereka tidak menyadari bahwa ada bahaya yang sedang mengintai. Seorang pemburu sedang mengarahkan senjatanya kearah burung merpati dan siap menembaknya. Saat burung merpati menyadari keadaan itu, dia pun segera terbang ke atas meninggalkan semut muda sendiri.

Melihat kejadian ini, semut muda segera berlari kearah si pemburu dan dengan sigap dia memanjat sepatu si pemburu dan masuk kedalam sepatu itu. Segera digigitlah kaki si pemburu. Pemburu menjerit karena kesakitan lalu segera melemparkan senjatanya ke bawah untuk cepat-cepat melepaskan sepatunya. Semut muda keluar dari sepatu sang pemburu lalu pergi meninggalkan tempat itu.

“Terima kasih semut, kau sudah menyelamatkan nyawaku hari ini,” kata burung merpati.

“Sama-sama burung merpati. Tadipun engkau sudah menyelamatkan nyawaku,” kata semut muda. Akhirnya merekapun berpisah.

 

Pesan moral: Persahabatan tidak mengenal perbedaan, bahwa siapa menabur kebaikkan, maka kebaikkan pulalah yang akan dituainya

5. Kesombongan Seruni si Kunang-kunang

Dahulu kala kunang Kunang adalah hewan yang paling disayangi di hutan Varow.   Tubuhnya  kecil, indah, dan dapat mengeluarkan cahaya di malam hari sehingga penduduk di hutan Varow yang rata rata adalah perempuan sangat memuja dan menyukai binatang kecil kunang-kunang.

Seiring berjalannya waktu, perangai kunang kunang sebagai hewan yang asal mulanya sederhana dan ramah berubah menjadi pongah dan suka marah serta menjelek jelekkan hewan lain. Seperti pada suatu siang yang cerah di musim semi, kunang-kunang sedang bersama penghuni hutan yang lain.

Wah, udara yang cerah, tetapi rusak karena kehadiran seekor ulat di bungaku yang indah ini”, kata kunang-kunang pada temannya seekor kunang-kunang juga. Ulat yang diejek oleh kunang-kunang hanya tertawa dalam hati  sambil berdiam di ujung bunga matahari yang tumbuh di ujung sebuah padang rumput hutan Varow itu.

Kenalkan aku Fika, ulat biasa yang baru datang karena tertiup angin ke Hutan Varow ini,”  kata ulat itu kepada Seruni sang kunang-kunang primadona dan temannya.

“Aih, siapa yang mau berkenalan denganmu ulat jelek?” kata Seruni pada Fika. “Aku tak sudi melihatmu, engkau merusak pemandangan indahku hari ini. Kenapa engkau tidak pergi aja jauh-jauh dari hutan ini?” tanya Seruni pada Fikal setengah menghardik.

Fika yang mendengar hardikan Seruni sang kunang-kunang, hanya bisa terdiam sedih sambil memandang Seruni sang kunang-kunang, ”Maafkan aku apabila bentuk rupaku merusak suasana hatimu wahai kunang yang indah, aku baru di hutan ini. Jadi, aku tidak tau harus pergi ke mana lagi,. Hanya di sinilah aku menetap setelah tertiup angin,” kata Fika sedih kepada Seruni.

“Huh, itu hanya alasanmu saja ulat jelek,” kata Seruni kepada Fika sang ulat kecil. Ini adalah wilayah kekuasaanku. Siapa yang tidak mengenal dan menyukai kunang-kunang seperti kami jika diibandingkan dengan engkau yang jelek itu?” kata Seruni kepada Fika sambil tetap mengejeknya.

“Baiklah,”  jawab Fika sedih, “aku akan pergi mencari tempat baru apabila kehadiranku di sini mengganggumu,  wahai Kunang-kunang.”

Dengan sedih dan sabar  Fika berjalan perlahan lahan melalui daun bunga matahari lalu  menuju daunnya dan pergi perlahan lahan dari satu bunga dan daun ke bungan dan daun lainnya.

“ Ha… ha… ha… akhirnya dia pergi juga,” kata Seruni pada temannya puas.

Dia semakin merasa sombong dan pongah karena berhasil mengusir seekor ulat jelek yang mengganggu pemandangan di wilayah tinggalnya. “Yuk teman-teman kita pergi bermain lagi,” ajak Seruni pada teman-temannya.

Sementara itu Fika yang memulai perjalanannya terseok-seok tak tentu arah untuk mengisi pertu dan mencari daerah baru yang dapat dia tempati tanpa ganguan dari binatang lain . Dia masih merasa asing dengan Hutan Varow ini, Baru 3 hari Fika terdampar oleh angin di sini.

“Dimanakah aku dapat mencari tempat tinggal yang baru?” tanya Fika dalam hatinya.

Tak berapa lama kemudian Fika melihat tanaman meranggas semacam daun arbei di suatu kebun yang sudah tak terurus lagi dengan bunga lili di samping tanaman arbei itu. Dengan gembira dan perlahan lahan Fika pun menuju ke daun arbei itu.

”Mungkin ini cocok untuk tempat tinggalku. Lagi pula, di sini sangat sepi. Semoga aku dapat tinggal dengan tenang di sini,” kata Fika dalam hati. Semenjak hari itu, Fika tinggal di daun arbei itu. Ingin rasanya Fika memperoleh teman seperti dirinya yaitu seekor ulat juga.

Pada suatu hari, Fika merasakan sakit seluruh tubuhnya. Nafsu makannya pun semakin berkurang. Fika pun heran akan keadaannya ini. Tak berapa lama kemudian, dia merasa banyak benang tumbuh dari tubuhnya, kemudian dia pun merasa mulai mudah mengantuk tiap harinya.

Fika memilih tempat di sudut daun arbei untuk tidur. Tak berasa, tubuhnya telah menjadi kepompong. Setelah 1 bulan lamanya, Fika pun terbangun dari tidur panjangnya. Kepompong itu telah terbuka, lalu keluarlah Fika dari tempat tidurnya.

“Hoam…,” Fika menguap, “aduh, aku tertidur terlalu lama. Heeiii… mengapa tubuhku menjadi ringan?”

Fika segera berlari menuju air di daun untuk mengaca dirinya.  Sangat terkejutlah dia, melihat perubahan dirinya yang sekarang. Dia sudah menjadi seekor kupu yang memiliki sayap aneka warna,  indah sekali. Fika pun dengan bercucuran air mata bahagia segera mencoba terbang.

Oh, ternyata aku telah menjadi seekor kupu-kupu yang dapat terbang. Terima kasih Tuhan, aku dapat terbang dan menikmati indahnya hutan ini tanpa harus berjalan lagi.”

Tiba tiba, ketika sedang bergembira, Fika bertemu dengan Seruni dan teman-temannya, Fika segera menyapa mereka.

“ Hai, Kunang-kunang apa kabar?” tanya Fika ramah.

Seruni terkejut melihat seekor kupu-kupu yang indah sedang menyapanya, dengan ketus dia menjawab, “Hai siapa dikau? Aku belum pernah melihat binatang sepertimu.”

Sejujurnya Seruni mengagumi keindahan sayap sang kupu-kupu. Fika segera menjawab, “Hai, aku Fika si ulat  yang dulu kamu usir. Masih ingatkah kau?”

Seruni sangat terkejut mendengarnya. Dengan tidak percaya dia memandang Fika. Dengan segera dia mengejek kembali, “Tidak mungkin itu engkau, ulat menjadi kupu-kupu. Sudahlah sana pergi, dasar tukang bohong,” kata Seruni sambil pergi dengan teman-temannya memandang sinis kepada Fika, sang kupu-kupu. Fika pun pasrah dan pergi. Dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan Seruni,  sang kunang-kunang.

Semenjak Fika menjadi kupu-kupu, tersiarlah kabar ada biantang yang lebih indah daripada kunang-kunang. Dialah Fika, sang kupu-kupu. Semenjak itulah kupu-kupu lebih terkenal daripada kunang-kunang, sehingga Seruni sang kunang-kunang sangat malu dengan kesombongan dirinya sendiri.

Sejak saat itu, kunang-kunang dapat kita jumpai pada malam hari saja karena pada siang hari dia merasa malu bertemu dengan kupu kupu.

6. Ceri si Anak Cendrawasih

Ceri sudah pandai terbang sekarang, Anak cendrawasih dengan bulunya yang makin panjang itu, gemar sekali mencari buah-buahan yang segar. Sesekali dia terbang cepat untuk mengejar serangga kecil, terkadang dia juga meniru elang yang terbang dengan sangat berwibawa. Ceri sangat menyukai terbang diatas pucuk pepohonan yang tinggi.

Dalam setiap penerbangannya, Ceri selalu melihat pemandangan di sekelilingnya. Dia sangat kagum dengan keindahan alam dihutan Papua itu. Suara-suara binatang hutan nyaring terdengar, burung burung yang bernyanyi, serta suara angin yang meniup pepohonan tinggi dengan suaranya yang menenangkan hati Ceri.

Suatu ketika, Ceri terbang sangat jauh. Dia bermain bersama kedua temannya dari pagi hingga siang hari, ibunya menunggu dengan perasaan cemas, karena hingga menjelang sore Ceri belum juga pulang. Ibunya berniat mencari Ceri dia telah memberitahukan burung Kakak Tua bahwa Ceri hilang.

Ibu Ceri berpesan kepada Kakak Tua, jika ada Ceri pulang, jangan mencari ibunya, karena menjelang malam nanti, Ibunya sudah pasti akan pulang.

Baca Juga  Curhat Dan Sandiwara Para Pengguna Medsos

Burung Kakak Tua adalah burung yang pandai meniru suara. Bahkan suara ibu Ceri juga dikatakan berulang ulang. “Ceri jangan pergi… Ceri jangan pergi… Ibu pulang sebelum malam”. Begitulah Kakak Tua itu berkata sambil manggut-manggut.

Setelah berpamitan pada burung Kakak Tua, Ibu Ceri langsung terbang mencari ke arah barat. Dia melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari petunjuk. Sesekali dia berhenti dan bertanya kepada burung yang lainnya.

“Selamat sore burung Nuri? Aku mencari Ceri anakku yang suka terbang tinggi. Kamu melihat dia tidak hari ini, karena sejak tadi pagi dia pergi, dan belum pulang hingga sore ini”

Ibu Ceri bertanya kepada kawanan burung Nuri yang sedang berjajar di dahan pohonMatoa. Burung nuri saling bertatapan dengan temannya. kemudian salah satu diantara mereka ada yang berbicara.

“Kami melihat Ceri tadi pagi, dia terbang ke arah sana”

Burung Nuri yang berwarna merah bergaris biru itu berkata. Dia mengangkat sayap kanannya untuk menunjukkan arah. Darisana, dapat terlihat hutan Merbau yang daunnya hijau tua dan hijau muda di pucuknya, terlihat sangat jelas.

Setelah berpamita untuk Mencari Ceri, Ibu Ceri kemudian bergegas terbang. Dia dengan cepat telah sampai di atas pohon-pohon Merbau yang tinggi. Diatas pepohonan itu, dia menelusuri pertanda keberadaan Ceri. Dia terbang berputar secara perlahan, kemudian terus terbang mencari lagi dengan perasaan cemas.

Ibu Ceri kemudian melihat bunga bunga yang indah. berwarna warni di dekat sungai setelah melewati pepohonan merbau yang tinggi itu. Kemudian dia turun untuk menghilangkan rasa haus dan letihnya karena terbang terus mencari Ceri.

Ketika sampai di bunga yang menyerupai taman itu. Disana terdapat beberapa Kupu-kupu yang sedang menghisap sari bunga dengan riang. Mereka terlihat indah dengan warna sayap yang besar itu. Ibu ceri kemudian mendekati Kupu-kupu itu untuk bertanya.

“Kupu-kupu aku sedang mencari anakku. Dia bernama Ceri, apakah kamu melihatnya hari ini?”

Mendengar ada yang bertanya, Kupu-kupu itu kemudian menoleh. Dengan ramah dia tersenyum, kemudian mendekati ibu Ceri. Sayap Kupu-kupu itu terlihat indah sekali, dia adalah Kupu-kupu sayap burung peri. Ukurannya cukup besar, jika sayapnya dibuka bisa melebihi telapak tangan orang dewasa.

Kupu-kupu itu melihat ibu Ceri dengan perasaan khawatir. Kemudian dia mempersilahkan Ibu Ceri untuk minum di sungai terlebih dahulu. Karena ibu Ceri terlihat sangat kehausan. Selain itu, ibu Ceri juga sangat terlihat kelelahan, tetapi semangat untuk mencari Ceri begitu terlihat jelas dari matanya yang bersinar itu.

Ibu Ceri kemudian membalikkan badannya, dia melangkah untuk meminum air dari sungai itu. Airnya sangat jernih dan terasa menyegarkan. Hingga dia merasa segar kembali, kecemasan dan kelelahanpun seketika itu sirna dari wajahnya.

“Aku melihat Ceri tadi pagi. Dia pergi ke hutan terlarang, aku sudah mencegahnya. Tapi dia dan kedua temannya bersikeras untuk pergi kesana. Cepatlah kau pergi kesana! Karena hingga saat ini, aku belum melihatnya terbang untuk kembali”

Kupu-kupu sayap peri itu berkata. Ibu Ceri langsung terdiam sejenak. Paruhnya masih berada di dalam air, tapi pikirannya sudah terbang   dan membayangkan Ceri yang pergi ke hutan terlarang.

“Benerkah apa yang kau katakana itu?”  Ibu Ceri bertanya dengan perasaan yang sangat cemas.

“Aku tidak berbohong, cepatlah kau pergi kesana!”

Mendengar perkataan itu, ibu Ceri langsung meloncat dan terbang. Dia sangat khawatir dengan keadaan Ceri dan temannya itu, karena mereka terbang ke Hutan Terlarang. Kini ibu Ceri tidak memperhatikan keadaan di bawahnya lagi, karena dia ingin segera cepat sampai di hutan terlarang.

Dalam keadaan cemas itu, Ibu Ceri berusaha keras untuk terbang secepat cepatnya. Dia tidak memperdulikan lagi kelelahan dan jarak yang ditempuhnya. Diapun menyesal tidak pernah memberitahukan larangan kepada Ceri.

Bahwa Hutan terlarang itu memang berbahaya untuk dikunjungi. Kehidupan disana memang tidak baik untuk keluarga mereka sebagai Cendrawasih. Selain itu, Hewan yang lainpun sudah jarang yang berada disana. karena sangat berbahaya, oleh karena itulah dinamakan Hutan Terlarang.

Samar dari kejauhan, ibu Ceri melihat sebuah pohon tua yang sudah kering. Rantingnya pohonnya sudah terlihat lapuk dan tidak berdaun lagi. Pohon itu adalah pohon yang paling dekat dengan Hutan Terlarang itu adalah pohon tertua yang sangat tinggi.

Entah kenapa, ibu Ceri terus memperhatikan pohon di depannya itu. Sejak pohon itu terlihat sebesar semut dari kejuahan pun, Ibu Ceri terus memperhatikannya. Ternyata firasatnya benar, karena semakin dekat, pohon itu semakin terlihat jelas. Dan disana ada Ceri bersama kedua temannya sedang bertengger menghadap ke Hutan Terlarang.

“Ibuuuu!”

Ceri berteriak ketika telah menyadari ibunya sedang terbang mendekati mereka. Ibu Ceri terlihat tidak terlalu cemas lagi, karena Ceri masih dalam keadaan baik baik saja. Dia sudah semakin dekat, dan akhirnya sampai juga di pohon tua yang sudah kering itu.

Ibu Ceri langusung bertengger dengan nafas yang tersenggal. Diapun langsung memeluk Ceri dengan sayapnya yang bergetar. Ibu Ceri memang sangat lelah telah terbang jauh kesana. Dengan perasaan lega, Ibu Ceri menangis karena dapat menemukan Ceri. Teman teman ceri menunduk, mereka menyadari telah melakukan kesalahan. Pasti orang tua mereka juga sedang cemas, karena mereka belum pulang.

“Sukurlah nak, kamu tidak apa-apa”

Ibu Ceri berkata sambil meneteskan air mata. Tanpa disadari, teman-teman Ceri juga berlinang air mata. Mereka terharu dengan kasih sayang Ibu Ceri itu. Mereka juga meyakini, bahwa orang tua mereka pasti sedang kebingungan mencari mereka. Ceri diam menunduk dan menyadari kesalahannya.

“Apa yang sedang kalian lakukan disini?”

Ibu Ceri bertanya setelah melepaskan pelukannya dari Ceri. Ceri dan kedua temannya terdiam, mereka kini menghadap kea rah Hutan terlarang. Disana terlihat hutan tandus dengan tidak terdapat satupun pohon yang berdiri, hanya beberapa bangunan dan lubang besar saja yang ada disana. Sangat besat hingga merea tidak mungkin bisa terbang untuk melintasinya.

“Kami sedih bu, lihatlah! Disana terlihat sangat panas dan berdebu. Tidak ada pohon dan hewan yang berkeliaran disana. Kami juga tidak melihat sungai, bagaimana itu bisa disebut hutan Bu?”

Ceri berkata dengan tatapan yang sangat sedih. Karena yang dilihat dihadapannya hanyalah tanah yang kotor dan tidak sejuk lagi. Ceri tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa ada kehidupan di tanah seperti itu.

Ibu Ceri terdiam, dia terlihat mengatur nafas. Pandangannya kini sama dengan Ceri, mereka menghadap ke Hutan Terlarang. Ibu Ceri sepertinya sedang mengenang masa lalu. Dia menatap dengan tatapan yang hampa dan kosong. Setelah terlihat siap dengan perkataannya, Ibu Ceri mulai bercerita.

“Nak… Dulu nenek moyang kita tinggal disana. Nenekmu pernah bercerita, bahwa masa kecilnya tinggal d Hutan Terlarang ini. Keadaan hutan itu dulu memang indah. Banyak pepohonan yang tinggi dan besar…”

“Tapi… kenapa jadi seperti ini Bu?” Dengan penasaran Ceri bertanya. Ibunya menarik nafas panjang, kemudian mulai  bercerita lagi.

“Itulah, nenekmu bercerita dulu. Bahwa telah terjadi penebangan pohon secara besar besaran. Kemudian ada penggalian tanah yang sangat luas, hingga semua hewan yang tingal di hutan ini terusir, kemudian pindah ke hutan yang kita tempati sekarang.

Entahlah apa yang dilakukan manusia sebanyak ini? Karena begitu banyak kehidupan yang mati di hutan ini. Oleh karena itulah, hutan ini dinamakan Hutan Terlarang. Karena sudah banyak kehidupan yang mati di sini”

Mendengar cerita dari Ibu Ceri, anak anak itu tertunduk layu. Mereka bersedih, mereka sangat terpukul dengan keadaan itu. Karena kehidupan hutan yang telah mati itu begitu luas sekali. Ceri bahkan terlihat meneteskan air mata.

“Sudahlah kalian jangan bersedih ya! Hari sudah hampir malam. Sebaiknya kita semua pulang, karena pasti orang tua kalian sudah cemas menunggu kalian yang belum  pulang sejak tadi”

Ibu Ceri berkata kepada Ceri dan temannya yang terlihat sedih. Kemudian merekapun bersiap untuk pulang. Tak lama setelah itu, mereka terbang bersama menuju rumahnya masing masing. Ibu Ceri di belakang, Ceri dan temannya terbang di depan dengan perasaan yang masih sedih.

Dalam penerbangan menuju pulang itu, Ceri bertanya dalam hatinya “Akankah pengrusakan hutan seluas itu terjadi lagi?”

 

Sumber: Suka-suka.web.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Curhat Dan Sandiwara Para Pengguna Medsos

Curhat di media sosial  sering kali di jadikan tempat pilihan oleh sebagian besar masyarak…