Kumpulan Cerita Motivasi Penyemangat Kerja Terbaru 2019

Cerita Motivasi – Tak selamanya kalian dapat menjalani hidup dengan penuh semangat. Terkadang ada saja situasi dan kondisi tertentu yang membuat semangat dalam diri kalian tersebut tiba-tiba menguap. Di saat-saat seperti itulah biasanya kalian perlu men-charge ulang diri kalian mengisi kembali tangki-tangki motivasi yang tadinya hampir kosong dengan sedikit energi untuk kembali beraksi.

Salah satu cara mengisi tangki motivasi di dalam diri ialah dengan membaca cerita motivasi yang berisi kisah-kisah inspiratif. Ada banyak kisah inspiratif yang bisa dibaca dari yang berdasarkan kisah nyata seseorang, kisah fiktif, ataupun kisah fabel dengan hewan sebagai tokohnya. Berikut ini ada beberapa cerita motivasi yang bisa kalian jadikan bahan inspirasi untuk menjalani hari-hari.

1. Jangan Pernah Meremehkan Pekerjaan

Dua orang pemuda yang tak berpengalaman mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor bangunan, namun keduanya mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Pemuda pertama bernama Yogi, ia mendapatkan tugas untuk mengerjakan kusen kayu dan daun pintu. Sedangkan pemuda yang kedua bernama Yunus, mendapatkan tugas untuk mengaduk semen dan pasir serta memasang bata.

Dalam pikiran Yogi, pekerjaannya sebagai tukang kayu lebih ringan dan mudah dibandingkan dengan Yunus. Namun kejutan muncul saat dia tahu ternyata rumah yang akan dibangun adalah rumah dengan desain antik dan banyak ukiran kayunya, hal itu diluar dugaan Yogi. Setelah berkali-kali diajari oleh tukang senior di perusahaan itu dan tidak bisa juga, Yogi akhirnya putus asa. Ia pun mendatangi Yunus yang giat bekerja tanpa lelah, untuk berdiskusi, kemungkinan tukar pekerjaan dan ternyata Yunus setuju.

Yunus pun akhirnya mengerjakan pekerjaan bagian Yogi, tentunya dengan dilatih terlebih dahulu. Setelah beberapa waktu, sang mandor memeriksa pekerjaan kedua anak baru tersebut. Mandor itu terpana dengan hasil kusen dan pintu yang dikerjakan dengan begitu baik. Ia pun bertanya “Siapa yang mengerjakan ini?” Pegawai yang ada di sana langsung menunjuk Yunus.

Yakin ingatanmu Asli ?

Sang Mandor penasaran, bagaimana Dede bisa bekerja dengan begitu baik dan tidak seperti temannya Yogi yang menyerah berhenti di tengah jalan.

“Bagi saya sederhana saja Pak,” ujarnya dengan rendah hati.Lakukan semuanya dengan tulus dan jangan meremehkan apapun. Dengan begitu, saya lebih mengerti saat diajarkan dan bersungguh-sungguh mengerjakannya.”

Itulah rahasia keberhasilan Yunus, dia tidak cepat berasumsi dan meremehkan pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Sikapnya pada akhirnya membantu dia mencapai keberhasilan. Hal sama berlaku juga dengan hidup kita, dalam kehidupan kita akan dihadapkan dengan berbagai tantangan dan seringkali menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk melangkah maju mencapai keberhasilan.

Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi tantangan itu, jangan pernah meremehkan atau sebaliknya merasa tidak mampu dan menolaknya. Coba belajarlah dengan sungguh-sungguh, lalu bekerjalah dengan sepenuh hati, niscaya kerja keras kita tidak akan sia-sia.

2. Keledai Tua

Ada kisah klasik tentang seekor keledai tua yang mau dikubur hidup-hidup oleh pemiliknya. Suatu ketika keledai tua itu jatuh ke dalam sumur dan sang pemilik ingin menyelamatkan si keledai tua ini. Namun karena tak mampu mengatasi kesulitan akhirnya sang pemilik berfikir untuk membiarkan keledai tua itu mati dan menguburnya di sumur tersebut. Saat pemilik tersebut mengambil sekop, cangkul, dan tanah di sekitar sumur, untuk kemudian dia isikan ke dalamnya, keledai tua itu menangis, menjerit, dan meminta tolong.

Wahai tuanku, tega nian engkau hendak menguburku. Dulu ketika aku masih sehat, engkau puji-puji aku, ketika aku tua dan terjatuh kau tega membiarkanku dan mau mengubur aku?” kata keledai tua.

Tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh keledai tua, sang pemilik terus mengambil tanah dengan sekop dan cangkul lalu mengisikannya ke dalam sumur. Keledai tua mulai menggerak-gerakkan tubuhnya saat terasa berat akibat tertimbun tanah. Si keledai tua terus menggerak menggerak-gerakkan tubunhya, sehingga tanah yang menimpanya jatuh ke bawah. Kemudian si keledai tua mulai  menyadari bahwa tanah yang menimpanya bisa ia jadikan pijakan ke atas, sampai kemudian dia berhasil keluar dari sumur itu.

Baca Juga  POSESIF: 10 Tips Mengurangi Sifat Posesif Paling Efektif

Luar biasa sekali usaha si keledai tua.

Kegagalan ibarat tanah yang terus menimpa badan anda. Bergeraklah terus dan lepaskan beban-beban itu. Jangan hanya diam, karena kalau kamu diam kamu akan mati terpendam oleh beban-beban kegagalan. Apapun masalah yang terjadi pada masa lalu anda justru akan menjadi pijakan untuk naik ke level 1, 2, 3  dan seterusnya di masa yang akan datang.

Masa lalu kita juga diliputi dengan berbagai kegagalan,andai kita terjerembab dengan kegagalan itu, kita  mungkin tidak akan mencapai prestasi sekarang ini. Maka selamat datang kegagalan, aku akan terus menggerakan badanku, akan terus menjadikan engkau sebagai pijakan untuk meraih posisi yang lebih tinggi.

Baca Juga: Kumpulan Cerita Pendek Fabel Untuk Anak-Anak Lengkap Dengan Pesan Moral

Kumpulan Cerita Inspiratif Orang-Orang Sukses Dunia

KUMPULAN KISAH INSPIRATIF MOTIVASI HIDUP

3. Tukang Bangunan

Ada seorang tukang bangunan yang sangat mahir, apapun yang dia bangun pasti laku. Setiap rumah yang dia bangun pasti laris. Bahkan beberapa orang rela indent dengan rumah-rumah yang akan dia bangun. Pada suatu saat, dia mendengar dari teman-temannya bahwa dia akan diakhiri karirnya, di PHK, diberhentikan oleh bosnya.

Suatu hari dia dipanggil oleh bosnya, maka dengan perasaan males dan hati resah dia menemui bosnya. Dia menunggu apa yang akan disampaikan oleh bosnya, apakah dia diberhentikan atau disuruh terus bekerja. Dia heran, ternyata dia masih disuruh bekerja oleh bosnya, namun kali ini dia hanya diminta untuk membangun satu rumah saja.

Dengan penuh perasaan yang galau dia bangun rumah tersebut, dibangunnya rumah itu dengan asal-asalan, dia selesaikan rumah itu asal jadi, yang penting selesai, dia tidak lagi berfikir kualitas seperti biasanya.

Setelah rumah itu selesai, dia temui bosnya, dia kasih kunci rumah itu kepada bosnya: “Bos, ini kunci rumahnya, sudah saya selesaikan tugas yang anda berikan.” Bosnya dengan tenang menerima kunci rumah tersebut, lalu mengajak ngobrol bapak tukang bangunan.

Setelah basa basi dan ngobrol sana sini, akhirnya sang bos pun bilang: “Wahai bapak, terima kasih atas jasamu selama ini. Mungkin engkaupun sudah dengar bahwa aku akan mem-PHK-kan dirimu, aku akan akhiri karirmu ditempat ini. Tapi tidak usah khawatir, aku sudah siapkan uang yang lebih dari cukup untuk pesangon dan gajimu. Engkau bisa mandiri dengan uang sebanyak itu. Bisa menjadi pemborong atau kontraktor seperti aku, tidak lagi terikat dengan gaji dariku.”

Bapak tukang bangunan mulai heran, berkecamuk perasaan dalam dirinya. “Waduuhh saya salah paham ini, saya kira saya cuma di PHK, saya kira saya cuma diberhentikan, saya kira saya cuma diakhiri karir saya dari tempat ini. Ternyata bos saya luar biasa baik, bos saya memberi pesangon yang lebih dari cukup untuk menjadikan saya mandiri dan tidak terikat lagi menjadi karyawan disini.

Sebelum selesai kecamuk yang ada dipikiranya, bosnya berkata: “Wahai bapak, ambil saja kunci rumah ini, rumah yang barusan kamu bangun itu aku hadiahkan untuk kamu. “Maksud bos apa?” tanya dia keheranan. “Rumah yang barusan kamu bangun bukan untuk saya jual. Rumah itu aku hadiahkan untuk kamu.“Lho bos, kok rumah itu yg dihadiahkan ke saya?”

Bosnya sekarang yang gantian heran, lalu dia bertanya: “Memangnya kenapa?” Tukang bangunan itu menjawab: “Maaf bos, karena saya resah dan galau, maka terus terang rumah yang aku bangun terakhir itu aku kerjakan asal-asalan, aku bangun asal jadi, aku bangun asal selesai, dengan kualitas yang jauh dari biasanya.”Kenapa begitu?” tanya bosnya. “Karena saya berfikir negatif kepada Anda.” jawabnya dengan perasaan yang sangat bersalah.

Baca Juga  99+Kata-Kata Bijak Lengkap, Motivasi, Cinta, Romantis 2019+Bahasa Inggris

“Bagaimana kegiatan hari demi hari yang kita lakukan selama ini di kantor, di kehidupan, di rumah tangga dan di masyarakat kita? Apakah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati, sebagai bentuk syukur dan ibadah pada ilahi atau asal-asalan?”

4. Gaji dan Rezeki

Suatu saat ada seseorang yang berkonsultasi kepada seorang ulama.

“Wahai ustadz, mengapa kehidupanku menderita? Mengapa keluargaku ditimpa banyak bencana dan musibah?”

Sang ustadz menatap sebentar orang ini, dan kemudian bertanya,
“Kamu kerja dimana dan gajimu berapa?”

Orang ini pun bercerita bahwa dia bekerja di suatu instansi dan bergaji 1oo ribu. Lalu sang ustadz berkata, “Kalo begitu, mulai besok, temui bosmu dan mintalah supaya gajimu dikurangi menjadi 75 ribu.”

“Lho Ustadz, gaji 100 ribu saja kurang untuk kebutuhan keluarga saya, kok malah dikurangi menjadi 75 ribu?” sanggahnya.

Sang ustadz berkata, ”Lakukan jika engkau yakin/percaya. Tapi jika engkau tidak yakin, ya jangan dilakukan.”

Maka orang ini berpikir beberapa hari. Setelah merasa mantap, dia menemui pimpinannya, dan berkata, ”Wahai pimpinanku, aku sudah konsultasi ke seorang ulama dan beliau memintaku untuk menurunkan gajiku dari 1oo ribu menjadi 75 ribu. Maka mulai bulan depan, tolong potong gajiku menjadi 75 ribu.”

Pimpinannya heran, karyawan lain demo minta naik gaji, kok orang ini malah minta turun gaji. Tapi ya sudah, ini kan kemauan dia sendiri, pikir sang pimpinan.

Setelah dikurangi gajinya, sebulan kemudian kehidupan orang ini tak kunjung berubah. Dua bulan kemudian, belum juga ada yang berubah. Tiga bulan berlalu, masih sama. Maka dia pun datang kembali kepada Sang Ulama dan bertanya, “Wahai Ustadz, apa tidak salah resep yang anda berikan kepadaku? Sudah aku turunkan gajiku dari 100 ribu menjadi 75 ribu, tapi kehidupanku tak kunjung berubah.”

Maka Sang Ualama kembali melihat orang itu dan berkata, “Kamu kurangi lagi gajimu menjadi 50 ribu.”

Aduh, sudah tinggal 75 ribu sekarang disuruh turunkan menjadi 50 ribu. Mana cukup ustadz untuk menghidupi keluarga saya.”

Jika kamu percaya lakukan, jika tidak ya tidak usah.”

Lebih lama lagi orang ini berpikir, “Jangan-jangan ini hanya cara ustad untuk mengerjai saya”.

Tapi lama-lama dia sadar bahwa bukankah rezeki tidak hanya dari gaji, bisa dari arisan atau warisan, bisa dari undangan atau mungkin hutangan. Rezeki bisa jadi dari arah yang tidak disangka-sangka, bukan hanya dari gaji semata.

Maka dengan mantap dia temui pimpinannya kembali. Dia sampaikan kepada pimpinanya, “Bos, kurangi lagi gajiku, jadikan 50 ribu”

Pimpinannya keheranan, tapi apa boleh buat. Maka dipotonglah gaji orang itu menjadi 3 dinar.

Sebulan kemudian keajaiban mulai terjadi. Bulan kedua semakin banyak keajaiban terjadi. Bulan ketiga semuanya berubah menjadi semakin luar biasa. Keluarganya membaik, ekonominya membaik, tidak ada lagi bencana ataupun musibah. Semuanya baik-baik saja, serba kecukupan. Walaupun gajinya tinggal 50 ribu, tapi rezekinya luar biasa.

Kemudian datanglah dia kepada sang ulama dan bertanya, “Wahai ustadz, apa rahasia dibalik ini semua? Ketika gajiku tinggal 50 ribu, kehidupanku berubah.”

Maka dengan tenang sang ulama menjawab, “Wahai bapak yang baik, wahai karyawan yang baik, wahai fulan yang baik. Berarti selama ini gajimu yang pantas hanya 50 ribu, tidak sampai 100 ribu, yang 50 ribu itu kelebihan. Betapa banyak orang yang bekerja dengan gaji 100 ribu, tapi kualitas kerjanya hanya 50 ribu atau 75 ribu

Setelah membaca cerita ini, apa yang akan Anda lakukan, menemui bos Anda untuk menurunkan gaji Anda? Tentunya sulit bukan? Maka tidak ada cara lain, kecuali dengan meningkatkan kinerja. Misal sebut saja gaji Anda 5 juta, maka tingkatkan kualitas kerja Anda, sehingga kualitas kerja Anda melebihi 5 juta. Misal gaji Anda 3 juta, maka tingkatkan kualitas kerja Anda sehingga lebih dari 3 juta.

Baca Juga  Apa sih Motivasi sebenarnya? kupas tuntas Pengertian, Jenis & Fungsinya

Jika Anda bekerja melebihi gaji Anda, maka kelebihan itu sedekah untuk Anda, “Setiap kebaikan itu sedekah.”

Mari kita lihat selama ini, apa yang terjadi pada diri kita dan pekerjaan/bisnis kita. Apa kita sudah memberi lebih untuk tambahan atau sedekah? Ataukah kita lebih suka mengurangi, sehingga rezeki kita tidak berkah.

Jadi mari kita lebih banyak berbicara tentang kewajiban kita, bukan lebih banyak menuntut hak kita. Beri, beri, beri dan pasti suatu saat Anda akan mendapatkan. Sekali lagi, ingat rezeki bukan hanya dari gaji, banyak jalan lain yang bisa mendatangkan rezeki dari arah yang sama sekali tidak kita duga.

Mari kita perbanyak kerja kita. Kita tingkatkan kualitas kerja kita melebihi gaji kita.

5. Sang Pemimpi

Ada seorang anak, namanya Robert. Suatu saat di sekolahnya dia mendapat tugas untuk membuat gambar impian. Teman-temannya di sekolah itu rata-rata anak orang kaya. Mereka membuat gambar-gambar impian yang luar biasa besar,  mulai dari rumah megah, mobil mewah, jalan-jalan ke berbagai benua, dan sejenisnya.

Karena melihat teman-temannya membuat gambar impian yang luar biasa besar, maka dia pun terpengaruh untuk membuat impian yang sejenis. Sebuah impian yang sudah lama dia sampaikan ke ayahnya, tapi hanya sebatas lisan saja.

Giliran teman-temannya mempresentasikan impian-impian mereka di depan kelas, Sang Guru sangat mengapresiasi dan menghargai. Maklum mereka kan anak orang-orang kaya dan berkedudukan cukup terhormat di kotanya.

Tapi entah kenapa, ketika giliran dia presentasi, Sang Guru terlihat bermuka masam, kurang nyaman, kurang respon dengan apa yang dia presentasikan. Sebelum dia selesai presentasi, diambillah kertas impiannya oleh Sang Guru, dilecek-lecek dan dibuang.

Sang Guru berkata: “Wahai Robert, kamu ini tidak tahu diri, kamu ini siapa, anak orang miskin, orang tidak punya, kenapa impianmu begitu besar, mengada–ada,…..!”

Robert pun menangis. Diambilnya kertas impiannya yang tergeletak di lantai. Digenggamnya erat, diletakkannya di dada. Degub jantungnya semakin cepat, keyakinannya menguat, tekadnya membara; “IMPIANKU INI HARUS MENJADI NYATA!” gumamnya.

***

Dibawanya kertas impiannya yang lecek itu pulang, sepanjang jalan dia menangis. Ingin sekali dia segera memeluk ayahnya,  dan menceritakan semuanya. Selama ini, ayahnyalah yang mengajarinya agar berani bermimpi besar.

Dia masih sangat ingat dengan kata-kata ayahnya: “Wahai Robert, kamu masih percaya Tuhan itu ada? Kamu yakin Tuhan maha kuasa? Kalau kamu serahkan impianmu kepada Tuhan, maka sangat mudah bagiNYA untuk mewujudkannya. ASALKAN ENGKAU TIDAK PERNAH MENYERAH!”

***

Belasan tahun kemudian,  ada rombongan study tour ke sebuah peternakan yang sangat besar dengan bangunan-bangunan megah di dalamnya. Setelah melihat kesana kemari, akhirnya Sang Guru dari sekolah tersebut penasaran, ingin bertemu dengan siapa orang yang memiliki peternakan yang luar biasa hebat ini.

Setelah Sang Guru tersebut bertemu dengan orang yang punya peternakan ini, mereka saling pandang. Sang Guru pun terdiam, seakan-akan pernah ingat wajah ini. Sebelum keheranan Sang Guru ini selesai, pemilik peternakan hebat ini menyalami Sang Guru, mencium tangannya, memeluknya, dan berkata: “Pak Guru, aku Robert……”

Saudara sekalian, hikmah apa yg bisa anda tangkap dari cerita ini?

  1. Berhentilah meremehkan impian orang lain, karena ketika Tuhan terlibat, maka impian sebesar apapun bisa terjadi, kadang tanpa syarat.
  2. Bagi anda yg punya impian, jangan pernah ragu, perbesar impian anda, perkuat. Jangan hanya bersandar pada kemampuan anda, karena anda pasti ragu. Tapi bersandarlah pada kemampuan Allah Yang Maha Bisa. Ucapkanlah: “Laa haula walaa quwwata illa billah.”
  3. Terus pertahankan impian Anda, karena impian anda ibarat magnet dan anda ibarat besinya. Semakin besar impian anda, akan semakin kuat anda tertarik menuju impian tersebut.

Selamat bermimpi besar, selamat berjuang bersama impian-impian anda!

 

Sumber: Iphoncow.com

Apa Pendapatmu?

Check Also

Curhat Dan Sandiwara Para Pengguna Medsos

Curhat di media sosial  sering kali di jadikan tempat pilihan oleh sebagian besar masyarak…