Bystander Effect, Sikap Pasif Dan Apatis Untuk Menolong

Pernahkah kamu mengalami musibah kecil di depan banyak orang di sekitar kamu?

Alih-alih akan menolong, mereka hanya cuek, diam dan melihat kamu terjatuh begitu saja.

Atau mungkin  saat kamu melihat kecelakaan kecil keramaian, kamu sendiri tidak mau menolong dan merasa “sudah ada orang lain yang menolong, biakanr mereka saja yang membantu.”

Namun  pada akhirnya, tidak ada orang lain yang membantu juga.

Fenomena seperti ini biasa disebut sebagai Bystander Effect.

Tonton ini, dan ingatan anda akan meningkat seketika

1. Apa Itu Bystander Effect

Bystander effect merupakan suatu fenomena dimana seseorang enggan atau tidak mau menolong orang disekitarnya yang sedang mengalami musibah saat berada di situasi yang ramai.

Keengganan dan ketidak mauan orang-orang tersebut untuk menolong karena minim dan kurangnya rasa tanggung jawab untuk menolong dan merasa bahwa “sudah ada orang lain yang menolong, tidak usah dibantu”.

Dan pada akhirnya, tidak ada seorangpun yang membantu juga.

Jadi, jika ada kejadian yang sama janganlah kamu segan-segan untuk menolong.

Tidak perlu menunggu orang lain yang menolong. Karena, jika bukan kita, siapa lagi?

Baca Juga: Memahami Gejala Anhedonia, Tidak Senang Dan Tidak Sedih Dalam Hidup

10 Bahaya Multitasking Tanpa Kalian Sadari

Mengenal Mythomania, Kelainan Psikologis Gemar Berbohong

2. Siapakah  Yang Bisa disebut Seorang Bystander?

Siapa pun tanpa disadari bisa menjadi Bystander dari pria dan wanita dewasa hingga anak kecil.

Kelumpuhan sosial yang digambarkan oleh efek pengamat memiliki implikasi besar terhadap bagaimana kita berperilaku tidak hanya di jalan-jalan kota yang penuh dengan orang asing.

Tetapi juga tempat di mana kita bekerja atau bersosialisasi.

Ketika individu melepaskan tanggung jawab untuk mengatasi suatu masalah, potensi hasil negatifnya sangat luas.

Mulai dari masalah rumah tangga kecil yang secara serumah bersama-sama menghindari berurusan dengan kekerasan dan pelecehan yang tidak terkendali.

Beberapa upaya telah dilakukan, termasuk di kampus-kampus perguruan tinggi, untuk mendorong orang-orang untuk menjadi “pengamat aktif” dan melawan keinginan untuk menolong ketika seseorang dalam kesulitan.

Baca Juga  Erotomania, Gangguan Mental Merasa Dicintai dan GE-R Akut

 

3. Fenomena Bystander Effect di Indonesia

Beberapa tahun kemarin. Indonesia sedang mengalami banyak musibah.

Mentawai terkena gempa, disusul dengan tsunami. Ratusan orang tewas dan ratusan lain luka-luka. Tak berapa lama, Merapi meletus.

Ratusan orang kurban, meninggal dunia, sementara ratusan ribu penduduk sekitar Merapi harus jadi pengungsi.

Belum korban harta benda dan trauma psikologis yang tidak ternilai besarannya.

Sampai dengan 1 bulan setelah bencana, tim SAR nasional dan ratusan relawan masih berusaha mencari korban hilang yang tertimpa tanah dan batu longsor yang sangat sulit untuk digali.

Terlihat di layar TV orang berada dilokasi “kuburan masal” tersebut. Mereka bergerombol di kaki bukit yang separuhnya telah rata menimpa korban yang tak berdosa.

Ironisnya, hanya sekitar belasan orang yang benar-benar menggali tumpukan tanah dan batu untuk mencari mayat- mayat yang ada didalamnya, sedangkan sisanya hanya menonton “pertunjukan” yang sama sekali tidak menarik.

Mengapa bisa terjadi ratusan orang hanya menonton, sementara belasan orang yang lain sedang berusaha mati matian menolong orang yang tertimpa bencana?

Mengapa orang akan cenderung apatis, diam dan tak berbuat sesuatu terhadap orang lain yang dalam kesulitan, bila disana ada lebih banyak orang?

Mengapa bila yang hadir hanya sedikit orang, maka dia akan cenderung langsung melakukan sesuatu untuk menolong orang lain yang tertimpa kesusahan?

Para ahli Psikologi Sosial menamakan gejala itu sebagai Bystander Effect.

 

4. Sejarah Bystander Effect

Suatu fenomena yang menunjukkan bahwa kehadiran orang(-orang) lain justru menghilangkan keinginan seseorang untuk menolong orang yang sedang dalam kesusahan.

Bystander Effect mulai diidentifikasi pada tahun 1964, di Arizona, Amerika, ketika Kitty Genovese, pagi buta diserang orang tak dikenal di depan apartemennya.

Ia berteriak minta tolong dan si penyerang lari menjauh untuk kemudian kembali dan menikam Kitty sekali lagi.

Kitty kembali berteriak minta tolong untuk kedua kali, dan kejadian yang sama terulang sekali lagi.

3 kali Kitty ditikam dan 3 kali dia berteriak minta tolong.

Tak seorangpun dari tetangga yang melihat dan mendengar kejadian itu datang menolong atau menelpon polisi.

Baca Juga  Bullying, (Pengertian, Peran, Penyebab dan Solusi)

38 tetangganya mendengar dan 18 diantaranya bahkan melihat kejadian itu secara utuh. Akhirnya Kitty memang meninggal dunia.

Kejadian ini mulai diteliti oleh 2 orang Psikolog Sosial, Bibb Latane dan John Darley (1968), yang menyimpulkan bahwa 95% orang akan segera bertindak menolong orang bila dia merasa seorang diri ditempat kejadian, sementara hanya 15% orang akan segera menolong bila dia tahu ada orang lain yang juga ada disana.

Jika orang merasa bahwa dia merupakan bagian dari suatu grup, maka justru menyurutkan initiatif dan tanggung jawab sosialnya untuk menolong orang lain.

Telah terjadi diffusion of responsibility, yang berhubungan dengan kemalasan berjamaah (social loafi ng).

Di dunia nyata, Batson (1995) menyatakan bahwa people are signifi cantly less likely to help when other people are nearby.

Fenomena Bystander Effect kemudian di adopsi oleh cabang ilmu Psikologi Industri dan Organisasi.

Kelebihan pekerja dalam perusahaan (over manning) merupakan salah satu penyebab mengapa justru initiatif dan tanggung jawab menjadi luntur.

Orang malahan saling menunggu untuk memulai dan menyelesaikan suatu pekerjaan ketika dia tahu ada orang lain yang mungkin melakukannya.

Tim akan kontra produktif justru ketika anggotanya dinilai berlebihan dibanding beban kerja yang harus mereka pikul.

Tim kerja yang underload sama buruk-nya dengan yang overload. Keduanya tidak akan dapat melahirkan produktivitas yang memadai.

Oleh sebab itu, menyusun organisasi yang pas adalah suatu target yang harus dicapai.

Organisasi yang menangani proyek harus memperhatikan timing dari kebutuhan orang dengan sangat saksama, sehinggga over atau under load harus semaksimal mungkin dihindarkan.

Organisasi yang gemuk akan gampang melahirkan Bystander Effect, yang akhirnya akan membuat organisasi tidak efektif dan efi sien dan high cost economy.

Salah satu jalan keluar untuk mengamankan proses ini adalah menentukan person in charge atau single person accountability secara jelas dan dipahami semua pihak serta kejelasan peran seluruh anggota organisasi.

Bila itu dilakukan, akan lahir suatu kerja sama tim (team work) yang efektif, dan bukan sama-sama kerja atau bahkan samasama tidak kerja.

Baca Juga  Mengenal Gangguan Kecemasan Agoraphobia, Penyebab Dan Penanganan!

Kalau anda sedang menghadapi organisasi yang mengidap gejala-gejala syndrome ini, segeralah lakukan tindakan penyelamatan.

Perjelas gambar organisasi kerja. Gambar proses kerjanya. Tentukan peran masing-masing orang dengan definitif.

Hindarkan tumpang tindih dan tagih mereka dengan angka-angka kinerja yang nyata.

Setelah itu anda harus dorong orang dengan motivasi hygiene yang memadai.

Maka jangan heran kalau anda akan memetik produktivitas tim yang mengagumkan.

 

Sumber: https://pmi-indonesia.org/document-repository/pmi-newsletter/2-excellentia1/file

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Perceraian, Dampak Fisik Dan Psikologisnya Bagi Anak

Perceraian dalam keluraga tentunya menjadi masa yang sulit harus dilalui bagi setiap anggo…