Bullying, (Pengertian, Peran, Penyebab dan Solusi)

Kehidupan sosial manusia terdiri atas beberapa fase dan tingkatan. Pada saat lahir, manusia sebagai individu tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga. Setiap hari, ia melakukan kontak dan interaksi dengan keluarga terutama orang tua. Pada fase ini, bayi ditanamkan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Bertumbuh dewasa dan menjadi remaja, manusia sebagai individu mulai mengenal lingkungan yang lebih luas daripada keluarga.

Sosialisasi yang dialami individu mulai bertambah luas. Individu mulai berinteraksi dengan teman sebayanya. Hal ini membuat keterampilan sosial individu makin meningkat. Jika nilai-nilai yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya diserap dengan baik, maka keterampilan sosial yang dimiliki oleh individu tersebut bisa menjadi lebih baik. Hal itu disebabkan karena manusia tumbuh dan berkembang dari fase ke fase tanpa meninggalkan apa yang telah iapelajari dari fase sebelumnya.

Sebaliknya, apabila sosialisasi nilai-nilai yang ditanamkan keluarga kurang terserap oleh anak, maka bisa jadi perkembangan perilaku dan psikososialnya terhambat. Akibatnya, remaja mulai menunjukkan gejala-gejala seperti kenakalan dan perilaku-perilaku beresiko lainnya, salah satunya adalah bullying.  Saat ini, bullying merupakan istilah yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia.

Bullying (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai“penindasan/risak”) adalah merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

A. Pengertian Bullying

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Pelaku bullying sering disebut dengan istilah bully. Seorang bully tidak mengenal gender maupun usia. Bahkan, bullying sudah sering terjadi di sekolah dan dilakukan oleh para remaja.

Tonton Video - Cara Membaca Bahasa Tubuh

Dampak yang diakibatkan oleh tindakan ini pun sangat luas cakupannya. Remaja yang menjadi korban bullying lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental.

Sumber: www.empoweringparents.com

Adapun masalah yang lebih mungkin diderita anak-anak yang menjadi korban bullying, antara lain munculnya berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur yang mungkin akan terbawa hingga dewasa, keluhan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut dan ketegangan otot, rasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, dan penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.

Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi pemaksaan secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang.

Pelaku bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancan oleh bully.

 

B. Peran dalam Bullying

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam perilaku bullying dapat dibagi menjadi 4(empat) yaitu:

a.Bullies (pelaku bullying)

Yaitu murid yang secara fisik dan/atau emosional melukai murid lain secara berulang-ulang. Remaja yang diidentifikasi sebagai pelaku bullying sering memperlihatkan fungsi psikososial yang lebih buruk daripada korban bullying dan murid yang tidak terlibat dalam perilaku bullying.

www.pelatihanparenting.com

Pelaku bullying juga cenderung  mendominasi orang lain dan memiliki kemampuan sosial dan pemahaman akan emosi orang lain yang sama.

Tipe pelaku bullying antara lain:

  1. Tipe percaya diri
  2. Secara fisik kuat
  3. Menikmati agresifitas
  4. Merasa aman dan biasanya populer
  5. Tipe pencemas
  6. Secara akademik lemah
  7. Lemah dalam berkonsentrasi
  8. kurang populer dan kurang merasa aman
Baca Juga  Pasanganmu POSESIF? Putusin Aja!! 6 Tanda Sifat Posesif Pada Pasanganmu.

Namun, pada situasi tertentu pelaku bullying bisa menjadi korban bullying. Selain itu,  karakteristik pelaku bullying biasanya adalah agresif, memiliki konsep positif tentang kekerasan, impulsif, dan memiliki kesulitan dalam berempati.

Faktanya, pelaku bullying biasanya agresif baik secara verbal maupun fisikal, ingin popular, sering membuat onar, mencari-cari kesalahan orang lain, pendendam, iri hati, hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial di sekolahnya.

Selain itu pelaku bullying juga menempatkan diri ditempat tertentu di sekolah atau di sekitarnya, merupakan tokoh popular di sekolahnya, gerak geriknya sering kali dapat ditandai dengan sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, dan menyepelekan/ melecehkan.

b.Victim (korban bullying)

Yaitu murid yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya  korban bullying cenderung menarik diri, depresi, cemas dan takut akan situasi baru. Korban bullying juga dikarakteristikkan dengan perilaku hati-hati, sensitif, dan pendiam.

Korban bullying biasanya adalah anak baru di suatu lingkungan, anak termuda di sekolah, biasanya yang lebih kecil, tekadang ketakutan, mungkin tidak terlindung, anak yang pernah mengalami trauma atau pernah disakiti sebelumnya dan biasanya sangat peka, menghindari teman sebaya untuk menghindari kesakitan yang lebih parah, dan merasa sulit untuk meminta pertolongan.

Selain itu juga anak penurut, anak yang merasa cemas, kurang percaya diri, mudah dipimpin dan anak yang melakukan hal-hal untuk menyenangkan atau meredam kemarahan orang lain, anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain, anak yang tidak mau berkelahi, lebih suka menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau menarik perhatiaan orang lain, pengugup, dan peka.

Disamping itu juga merupakan anak yang miskin atau kaya, anak yang ras atau etnisnya dipandang inferior sehingga layak dihina, anak yang orientsinya gender atau seksualnya dipandang inferior, anak yang agamanya dipandang inferior, anak yang cerdas, berbakat, atau memiliki kelebihan.

Dia dijadikan sasaran karena ia unggul, anak yang merdeka, tidak mempedulikan status sosial, serta tidak berkompromi dengan norma-norma, anak yang siap mengekspresikan emosinya setiap waktu, anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung, anak yang memakai kawat gigi atau kacamata, anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya.

Selanjutnya korbannya merupakan anak yang memiliki ciri fisik yang berbeda dengan mayoritas anak lainnya, dan anak dengan ketidakcakapan mental dan/atau fisik, anak yang memiliki ADHD (attention deficit hyperactive disorder) mungkin bertindak sebelum berpikir, tidak mempertimbangkan konsekuensi atas perilakunya sehingga disengaja atau tidak menggangu bully, anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah.

c.Bully-victim

yaitu pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tetapi juga menjadi korban perilaku agresif. Karakteristikkan dengan reaktivitas, regulasi emosi yang buruk, kesulitan dalam akademis dan penolakan dari teman sebaya serta kesulitan belajar

d.Neutral

yaitu pihak yang tidak terlibat dalam perilaku agresif atau bullying.

 

C. Faktor Penyebab Terjadinya Bullying

Faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain:

a.Keluarga

Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah : orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.

Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa “mereka yang memiliki kekuatandiperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang”. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying.

Baca Juga  5 Pengertian Persepsi Menurut Para Ahli, Faktor, Syarat dan Jenis

b.Sekolah

Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya,anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah

c.Faktor Kelompok Sebaya

Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.

d.Kondisi lingkungan sosial

Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.

e.Tayangan televisi dan media cetak

Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Dalam penelitian menyebutkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

 

D. Jenis Bullying

Bullying juga terjadi dalam beberapa bentuk tindakan. Bullying dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

a.Bullying Fisik

sumber: www.keepo.me

Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa.

Jenis penindasan secara fisik di antaranya adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian sertabarang-barang milik anak yang tertindas.

Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius.

b.Bullying Verbal

Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi.

Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain bercampur dengan hingar binger yang terdengar oleh pengawas, diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara teman sebaya.

Penindasan verbal dapat berupajulukan nama, celaan, fitnah,kritik kejam, penghinaan, danpernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual.

Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajanatau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yangmengintimidasi,surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.

c.Bullying Relasional

Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran.

Penghindaran, suatutindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat. Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetapakan mengalami efeknya.

Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

d.Cyber bullying

Sumber: www.chw.org

Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya, bentuknya antara lain:

  1. Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar
  2. Meninggalkan pesan voicemail yang kejam
  3. Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls)
  4. .Membuat website yang memalukan bagi si korban
  5. Si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat roomdan lainnya
  6. “Happy slapping” –yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan
Baca Juga  5 Gaya Belajar Manusia Yang Wajib Kalian Tahu

Jadi kesimpulannya perilaku bullying terjadi beberapa macam, yaitu secara fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci, seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)

Selanjutnya adalah kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan (put-down), mengganggu, member panggilan nama (name-calling), sarkasme, mencela/mengejek, memaki, menyebarkan gosip

Dan untuk perilaku non verbal langsung karakteristiknya adalah (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal)

Sedangkan untuk perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang,memanipulasi persahabatan sehingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng), pelecehan seksual (kadang-kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

 

E. Solusi Mengatasi Permasalahan

Upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi bullying meliputi program pencegahan dan penanganan menggunakanintervensi pemulihan sosial(rehabilitasi).

a. Pencegahan

Dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, dimulai dari anak,keluarga, sekolah dan masyarakat.

1.Pencegahan melalui anak dengan melakukan pemberdayaan pada anak agar:

  • Anak mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying
  • Anak mampu melawan ketika terjadi bullying pada dirinya.
  • Anak mampu memberikan bantuan ketika melihat bullying terjadi (melerai/mendamaikan, mendukung teman denganmengembalikan kepercayaan, melaporkan kepada pihak sekolah,orang tua, tokoh masyarakat.

2. Pencegahan melalui keluarga,

Dengan meningkatkan ketahanankeluarga dan memperkuat pola pengasuhan antara lain :

  • Menanamkan nilai-nilai keagamaan dan mengajarkan cinta kasih antar sesama
  • Memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang sejak dini dengan memperlihatkan cara beinterakasi antar anggota keluarga
  • Membangun rasa percaya diri anak, memupuk keberanian dan ketegasan anak serta mengembangkan kemampuan anak untukbersosialiasi
  • Mengajarkan etika terhadap sesama (menumbuhkan kepeduliandan sikap menghargai), berikan teguran mendidik jika anak melakukan kesalahan
  • Mendampingi anak dalam menyerap informasi utamanya darimedia televisi, internet dan media elektronik lainnya.

3. Pencegahan melalui sekolah

  • Merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan pesan kepada murid bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah dan membuat kebijakan “anti bullying
  • Membangun komunikasi efektif antara guru dan murid
  • Diskusi dan ceramah mengenai perilaku bully di sekolah
  • Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif
  • Menyediakan bantuan kepada murid yang menjadi korban bully.
  • Melakukan pertemuan berkala dengan orangtuaataukomitesekolah

4. Pencegahan melalui masyarakat

Dengan membangun kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dimulai daritingkat desa/kampung (Perlindungan Anak Terintegrasi Berbasis MAsyarakat : PATBM).

b.Penanganan

Menggunakan intervensi pemulihansosial(rehabilitasi) Merupakan proses intervensi yang memberikan gambaran yang jelas kepada pembully bahwa tingkah laku bully adalah tingkah laku yang tidak bisa dibiarkan berlaku di sekolah.

Pendekatan pemulihan dilakukan denganmengintegrasikankembali murid yang menjadi korban bullying dan murid yang telah melakukan tindakan agresif (bullying)bersama dengan komunitas murid lainnya ke dalam komunitas sekolah supaya menjadi murid yang mempunyai daya tahan dan menjadi anggota komunitas sekolah yang patuh dan berpegang teguh pada peraturandan nilai-nilai yang berlaku.P

Program pendekatan pemulihan sosial ini mempunyai nilai utamayaitu penghormatan, pertimbangan dan partisipasi.Prinsip yang digunakan adalah :

  • Mengharapkan yang terbaik dari orang  lain
  • Bertanggung jawab terhadap tingkah laku dan menghargai perasaanorang lain
  • Bertanggungjawab atasapa yang telah dilakukan
  • Peduli kepadaorang lain.

 

Sumber: Bullying

Fenomena Bullying

Bullying dan Pencegahannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Faktanya Ada 7 Tipe Kesepian Yang Dialami Orang. Tipe Manakah Anda?

Dalam hidup terkadang seseorang mengalami yang namanya kesepian. Kesepian dialami ketika s…