Autism Spectrum Disorder: Pengertian, Gejala dan Karakteristik Lengkap!

1. Pengertian Autism Spectrum Disorder (ASD)

Istilah Autis berasal dari bahasa Greek yaitu: autos yang berarti “self” atau diri sendiri. Istilah ini pertama sekali diperkenalkan oleh sorang psikiater yang bernama Eugen Bleuler.

Bleuler menggunakan istilah autis untuk menunjukkan anak yang menampilkan perilaku menarik diri yang sangat ekstrem dari lingkungan sosialnya dan dipandang sebagai pasien dengan gangguan yang parah

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan sebuah gangguan perkembangan pervasif. Secara umum, anak yang terdiagnosa ASD memperlihatkan beberapa gangguan dan defisit dalam perilaku sebelum anak berusia 3 tahun.

Gangguan dan perilaku yang dimiliki berbeda dari satu anak ke anak yang lain dan biasanya hal ini terlihat pada sosial interaksi, bahasa, sosial komunikasi, bermain simbolis dan imaginasi, dan pola perilaku repetitif dan stereotype.

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan suatu kondisi abnormalitas nyata, yaitu gangguan perkembangan pada interaksi sosial dan komunikasi serta terbatasnya aktifitas dan minat. Manifestasi dari gangguan ini sangat tergantung pada tingkat perkembangan dan usia individu.

🤐 Bongkar Rahasia Pesulap - ▶️ Tutorial Trik Sulap Prediksi

Baca Juga: 5 Fakta Kesurupan Menurut Perspektif Psikologis

Makna Kata “Benci” Yang Sebenaranya

Kenali Fobia Sosial” Social Anxiety” Ciri Umum, Gejala dan Penanganannya

Kenali Fobia Sosial” Social Anxiety” Ciri Umum, Gejala dan Penanganannya

Fakta Tentang Down Syndrome: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Terapi

2. Karakteristik Diagnostik Autism Spectrum Disorder (ASD)

Karakteristik anak yang mengalami ASD antara lain adalah:

A. Defisit yang menetap dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial di beberapa konteks

1. Defisit dalam interaksi sosial emosional, memulai interaksi, contoh: pendekatan sosial yang aneh (abnormal) dan tidak mampu untuk memulai dan mengakhiri percakapan, berkurangnya minat untuk berbagi kesenangan, emosi, atau tidak mampu untuk memulai dan mengakhiri interaksi sosial.

2. Defisit dalam komunikasi nonverbal yang digunakan untuk interaksi sosial, memulai interaksi nonverbal, misalnya: komunikasi verbal dan nonverbal yang tidak terintegrasi, adanya keanehan dalam kontak mata dan bahasa tubuh, atau sulit dalam memahami dan menggunakan bahasa tubuh, tidak mampu menunjukkan ekspresi wajah dan komunikasi nonverbal.

Baca Juga  Gangguan Psikomatis: Gejala, Penyebab dan Cara Pencegahan

3. Defisit dalam membangun, mempertahankan dan memahami relasi, tidak mampu memulai hubungan, contoh: sulit menyesuaikan perilaku sesuai dengan berbagai konteks sosial, sulit berbagi dalam bermain imajinatif, tidak adanya minat untuk bermain dalam kelompok.

B. Pola perilaku yang terbatas dan repetitif

1. Adanya gerakan stereotipe dan repetitif, menggunakan objek atau bahasa (contoh: gerakan stereotipe sederhana, membariskan mainan atau membalik objek, ekolalia, frase idiosyncratic).

2. Perhatian yang berlebihan pada kesamaan, rutinitas yang kaku atau pola perilaku verbal dan non verbal yang diritualkan (contoh: stres yang berlebihan pada perubahan kecil, merasa kesulitan pada situasi transisi, pola berpikir yang kaku, ucapan ritual, harus pada rute yang sama dan makanan yang sama setiap hari).

3. Sangat terbatas (highly restricted) dan terpaku yang tidak biasa (abnormal), fokus dan frekuensiyang berlebihan (contoh: ketertarikan yang kuat atau senang pada objek yang tidak biasa dan minat yang terbatas).

4. Hyper atau hypoaktif pada input sensori atau keterarikan yang tidak biasa pada aspek sensori dari lingkungan (contoh: tidak perduli terhadap rasa nyeri/temperatur, respon negatif pada suara atau tekstur tertentu, mencium bau berlebihan atau menyentuh benda-benda, daya tarik visual terhadap cahaya atau gerakan).

C. Gejala sudah muncul pada masa awal periode perkembangan (walau tidak semua terpenuhi atau mungkin dapat ditutupi dengan strategi belajar dikemudian hari).

D.Gejala disebabkan oleh gangguan klinis yang signifikan dalam kehidupan sosial, pekerjaan atau fungsi penting area hidup yang lainnya.

E. Gangguan ini tidak disebaban oleh gangguan kecerdasan (intellectual developmental disorder), atau global developmental delay, intelectual disability dan autism spectrum disorder frequently co-occure, untuk membuat diagnosa autis, intellectual disabilty dan social communication maka harus diperhatikan level perkembangan secara umum.

C. Penyebab Autism Spectrum Disorder ASD

Banyak faktor lain yang menjadi penyebab anak mengalami gangguan ASD diantaranya adalah:

1. Faktor Genetik

Metode keluarga memunculkan masalah tersendiri karena penderita ASD hampir tidak pernah menikah. Meskipun demikian, bukti-bukti yang muncul sangat menunjukkan adanya basis genetik dalam gangguan ASD.

Baca Juga  Apa sih Motivasi sebenarnya? kupas tuntas Pengertian, Jenis & Fungsinya

Contoh: resiko ASD pada saudara- saudara kandung dari orang-orang yang mengalami gangguan tersebut sekitar 75 kali lebih besar dibanding jika kasus indeks tidak mengalami gangguan ASD.

2. Faktor Neurologis (Gangguan Pada Susunan Saraf Pusat)

Adanya kelainan struktur pada pusat emosi dalam otak (sistem limbik) yang menyebabkan emosi pada anak autis sering terganggu

3. Gangguan Pencernaan

Ternyata ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan gejala autisme. Kasus gangguan  menjadi pemicu penelitian-penelitian yang mengarah pada gangguan metabolisme pencernaan dan mengakibatkan ASD

4. Keracunan Logam Berat

Pada pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada rambut dan darah ternyata banyak ditemukan logam berat beracun pada anak ASD. Penggunaan bahan pengawet dan menemukan bahwa gejala yang diperlihatkan anak ASD nyaris sama dengan gejala keracunan merkuri.

Hal ini kemudian diperkuat dengan membaiknya gejala-gejala ASD setelah dilakukan kelasi, dimana merkuri dikeluarkan dari tubuh dan otak anak.

5. Masalah Pada Masa Kehamilan dan Proses Melahirkan

Autisme berhubungan dengan masalah-masalah yang terjadi pada masa 8 minggu pertama kehamilan. Ibu yang mengkonsumsi alkohol, terkena virus rubella, menderita infeksi kronis atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang juga diduga mempertinggi resiko anak menderita ASD.

Proses melahirkan yang sulit sehingga menyebabkan bayi kekurangan oksigen juga diduga berperan penting. Bayi yang lahir prematur atau mempunyai berat badan di bawah normal lebih besar kemungkinannya untuk mengalami gangguan pada otak bila dibandingkan dengan bayi normal.

D. Jenis- jenis Autism Spectrum Disorder ASD

Autisme terdiri dari 3 jenis yaitu persepsi, reaksi dan yang timbul kemudian.

1. Autis persepsi

Autis persepsi merupakan autisme yang timbul sebelum lahir dengan gejala adanya rangsangan dari luar baik kecil maupun besar yang dapat menimbulkan kecemasan.

Misalnya pada ibu hamil yang mempunyai genetik autisme dia mempunyai kecemasan akan menurun terhadap janin yang dikandungnya.

2. Autis reaktif

Autisme reaktif ditunjukkan dengan gejala berupa penderita membuat gerakan-gerakan tertentu yang berulang ulang dan kadang disertai kejang dan dapat diamati pada anak usia 6-7 tahun. Anak memiliki sifat rapuh dan mudah terpengaruh pada dunia luar.

Baca Juga  Gangguan Mood Pada Manusia Dan Penanganannya

3. Autis yang timbul kemudian

Jenis autisme ini diketahui setelah anak agak besar dan akan kesulitan dalam mengubah perilakunya karena sudah melekat atau ditambah adanya pengalaman yang baru atau gejala autis terlihat saat anak mulai dewasa.

E. Klasifikasi Autism Spectrum Disorder ASD

Autisme dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian berdasarkan gejalanya. Sering kali pengklasifikasian disimpulkan setelah anak didiagnosa autis. Klasifikasi ini dapat diberikan melalui Childhood Autism Rating Scale (CARS). Pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :

1. Autis Ringan

Pada kondisi ini anak autis masih menunjukkan adanya kontak mata walaupun tidak berlangsung lama. Anak autis ini dapat memberikan sedikit respon ketika dipanggil namanya, menunjukkan ekspresi-ekspresi muka, dan dalam berkomunikasi dua arah meskipun terjadinya hanya sesekali.

2. Autis Sedang

Pada kondisi ini anak autis masih menunjukkan sedikit kontak mata namun tidak memberikan respon ketika namanya dipanggil. Tindakan agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan gangguan motorik yang stereopik cenderung agak sulit untuk dikendalikan tetapi masih bisa dikendalikan.

3. Autis Berat

Anak autis yang berada pada kategori ini menunjukkan tindakan-tindakan yang sangat tidak terkendali. Biasanya anak autis memukul-mukulkan kepalanya ke tembok secara berulang-ulang dan terus menerus tanpa henti.

Ketika orang tua berusaha mencegah, namun anak tidak memberikan respon dan tetap melakukannya, bahkan dalam kondisi berada di pelukan orang tuanya, anak autis tetap memukul-mukulkan kepalanya. Anak baru berhenti setelah merasa kelelahan kemudian langsung tertidur.

 

Itulah penjelasan lengkap dari pengertian Autism Spectrum Disorder (ASD) Semoga bermanfaat menambah ilmu kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Regulasi Diri Dan Aspek Yang Mempengaruhi Manusia

Apa Itu Regulasi Diri? Regulasi diri berkaitan dengan bagaimana seseorang mengaktualisasik…