Kenali Bentuk Dan Ciri Agresivitas Pada Anak

Agresivitas pada anak dapat diketahui pada pola dan terhadap suatu obyek tertentu, orang tua perlu tau gejala-gejala atau aspek aspek perilaku agresi yang dibagi manjadi 2 hal yaitu agresi fisik, yaitu agresi yang dilakuakan dengan cara melukai atau menyakiti badan baik diri sendiri maupun orang lain seperti misalnya mencubit memukul atau menendang dan sebagainya.

Agresivitas pada manusia dan juga anak umumnya dikategorikan dalam empat aspek, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan.

Baca Juga:

Bentuk Agresif Pada Anak

agresivitas anak images

Agresi fisik dan agresi verbal mewakili komponen motorik dalam agresivitas, sedangkan kemarahan dan permusuhan mewakili komponen afektif dan kognitifi dalam agresivitas.

  1. Agresi fisik (Physical Agression) ialah bentuk perilaku agresif yang dilakukan oleh anak dengan menyerang secara fisik dengan tujuan untuk melukai atau membahayakan teman atau seseorang.
  2. Agresi verbal (Verbal Agression) ialah agresivitas dengan kata-kata. Agresi verbal pada anak dapat berupa umpatan, teriakan pada teman, menghina teman, berbicara kotor dan teriak kepada orangtua.
  3. Kemarahan (anger) ialah suatu bentuk indirect agression atau agresi tidak langsung berupa perasaan benci kepada orang lain maupun sesuatu hal atau karena seseorang tidak dapat mencapai tujuannya.
  4. Permusuhan (Hostility), merupakan komponen kognitif dalam agresivitas yang terdiri atas perasaan ingin menyakiti dan ketidakadilan.

Lebih jelasnya bentuk-bentuk perilaku agresif pada anak antara lain:

Yakin ingatanmu Asli ?
  1. Pertahanan diri yaitu anak mempertahankan dirinya dengan cara menunjukkan memusuhi, memberontak dan merusak benda-benda disekitarnya.
  2. Perlawanan disiplin yaitu anak melakukan hal-hal yang menyenagkan tetapi melanggar aturan, seperti membolos sekolah.
  3. Egosentris yaitu seorang anak mengutamakan kepentingan pribadi seperti menunjukkan kekuasaan dan kepemilikan, membuat gank atau kelompok kecil, suka merebut mainan teman.
  4. Superioritas, yaitu anak merasa lebih baik daripada teman yang lainnya sehingga anak tidak mau diremehkan, dianggap rendah oleh orang dan merasa diri anak selalu benar sehingga akan melakukan apa saja meskipun dengan menyerang atau menyakiti orang lain.
  5. Keinginan untuk menyerang baik terhadap, benda maupun hewan, yaitu mempunyai kecenderungan untuk melampiaskan keinginannnya dan perasaanya yang tidak nyaman ataupun tidak puas pada lingkungan disekitarnya dengan melakukan penyerangan terhadap seseorang, hewan peliharaan ataupun benda lain disekitarnya.
  6. Anak terlihat dominan dan mendominasi permainan. Hal ini terlihat bahwa anak dapat memulai permainan dan dapat mempengaruhi teman-teman lainnya.
  7. Saat bosan, anak akan menganggu anak lain dan mempengaruhi (memprovokasi) keributan di dalam kelas.
Baca Juga  Yuk, Belajar 10 Tips Teknik Komunikasi Yang Baik

Penyebab Agresivitas Pada Anak

Umumnya penyebab utama anak melakukan perilaku agresif, dipicu oleh imitasi anak terhadap perilaku orangtua. Memiliki orangtua yang sering memberikan hukuman fisik pada anak. Hukuman fisik ini dilakukan oleh ayahdan juga ibu anak.

Hukuman yang diberikan bervariasi, memukul, mengunci anak di kamar mandi, dan meletakkan saus cabe di mulut anak.

Selain itu, terdapat pula pola intimidasi dan bullying yang dilakukan oleh saudara sekandung. Selain itu, pekerjaan
orangtua dengan pendidikan yang rendah juga ikut berkontribusi terhadap perkembangan anak.

Kondisi masyarakat dengan strata sosial bawah memiliki banyak permasalahan psikis terkait dengan stress, kegagalan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan dasar hidup termasuk rasa aman.

Penyebab lainnya adalah lingkungan sekitar yang kurang kondusif. Mayoritas lingkungan tetangga anak gemar berkata-kata kasar, dan bermain tanpa aturan. Pemberian hukuman fisik pada anak bukanlah hal baru. Sehingga anak sering sekali meniru perilaku yang dilihatnya dari lingkungan.

Penyebab agresif lainnya adalah keinginan untuk menarik per-hatian. Pada usia dini anak haus akan perhatian orangorang di sekitarnya. Kebutuhan ini belum dapat dipenuhi oleh orangtua anak.

Selain itu posisi anak dalam keluarga juga mendukung keinginan untuk mendapat perhatian lebih, seperti salah satu anak yang menjadi anak tunggal, anak pertama yang baru memiliki adik, bahkan akan memiliki adik. Keinginan untuk diperhatikan ini terbawa hingga ke sekolah.

Sehingga baik saat belajar maupun bermain anak berusahanmenarik perhatian dengan melakukan perilaku agresif. Sekolah mengidentifikasi pe-rilaku agresif anak berdasarkan perilaku yang terlihat, yaitu: tidak bisa diam, konsentrasi mudah beralih, suka menganggu teman, sering mengamuk, membuat keributan dalam kelas, berteriak-teriak, dan berkata-kata kasar.

Perilaku ini terlihat dominan pada anak dan terlihat pada saat anak bermain maupun belajar dan terjadi hampir setiap hari. Minimnya pengetahuan guru dan keterbatasan tenaga menjadikan identifikasi perilaku agresif anak berdasarkan hal yang terlihat dominan, dan seringkali kurang men dalami hal-hal lain yang tidak terlihat, misal: sering tidak melihat keusilan anak saat belajar.

Baca Juga  9 CARA MENJADI GURU YANG BAIK DAN PROFESSIONAL

Sekolah tidak menerapkan metode ataupun teknik khusus untuk mengurangi perilaku agresif anak, karena guru memandang perilaku yang dilakukan oleh siswa belum memerlukan penanganan khusus dan tergolong perilaku yang wajar.

Pengetahuan guru terhadap metode khusus untuk menangani anak dengan perilaku agresif juga masih terbatas.

Cara Mengurangi Tingkat Keagresivan Anak

Strategi yang bisa dilakukan untuk mengurangi Agresivitas antara lain:

  1. Pemberian keteladanan
  2. pembiasaan
  3. pemberian reward saat anak menunjukkan perilaku terpuji dan punishment saat anak melakukan tindakan yang kurang berkenan
  4. menenangkan anak
  5. menanyakan perasaan anak.

Indikator keberhasilan dalam menangani perilaku agresif anak, baik sekolah maupun orangtua tidak mempunyai standar khusus yang ditentukan secara baku, orang tua menganggap keberhasilan seorang anak dengan indikator yang terlihat saja.

Seperti: anak bisa diam, anak dapat mengikuti pelajaran, anak patuh perintah dan lain sebagainya. Indikator keberhasilan yang ditetapkan terkesan bersifat jangka pendek, karena fokus terhadap terjadinya perubahan perilaku anak, tanpa menyinggung peningkatan dalam prestasi belajar. Padahal dua hal ini berkaitan, perilaku agresif dapat menyebabkan anak terbatas dalam konsentrasi, jika perilaku ini bisa ditangani dengan baik maka tidak menutup kemungkinan prestasi belajar anak akan meningkat.

Bentuk kerjasama yang dijalin oleh sekolah dan orangtua hanya sebatas memanggil orangtua ke sekolah saat anak membuat masalah dan mendiskusikan permasalahan yang terjadi serta upaya untuk mengantisipasi perilaku agresif anak.

Meskipun demikian, guru dan orangtua memandang kerjasama yang telah dijalin akan lebih efektif, bila orang tua juga ikut berpartisipasi aktif, karena waktu anak di rumah jauh lebih banyak daripada waktu anak di sekolah.

 

Agresivitas Anak Usia Dini

Apa Pendapatmu?

Check Also

Patah Hati Bukan Berarti Dunia Berhenti

Mungkin hampir semua orang pernah merasakan sakitnya patah hati, sama dengan kenyataan bah…